Kenapa Ada Tendangan dari Langit?

Determinisme menolak segala momen ‘kebetulan’. Paham ini meyakini segala kejadian di dunia ini diawali oleh sebab yang selanjutnya akan mendulang akibat. Tidak ada peristiwa yang terjadi secara acak dan tanpa alasan (randomness). Ada alasan dan tujuan, baik tersembunyi maupun sudah kentara, di dalam setiap peristiwa di dunia ini. Rumusan ini berlaku di pelosok manapun di bumi, tak terkecuali lereng Gunung Bromo. Hukum sebab-akibat atas dasar paham determinisme ini dipercayai beroperasi di dalam realita. Kondisi serupa juga terjadi dalam dunia drama fiksi selama berabad-abad, terutama sejak Aristoteles menulis bukunya yang terkenal, The Poetics.

Wahyu (Yosie Kristanto) merupakan subjek dalam pola determinisme cerita fiksi ini. Kehadiran Wahyu di tanah kelahirannya Desa Langitan, lereng Gunung Bromo, Jawa Timur bukan tanpa alasan. Eksistensi pemuda berusia 16 tahun ini terbentuk sekaligus mewujud dalam sepak bola. Teman-teman sekolahnya Purnomo (Joshua Suherman) dan Mitro (Jordi Onsu), terutama Indah (Maudy Ayunda) yang menaksir Wahyu—begitu juga sebaliknya, dan warga desa mengelu-elukannya setiap berhasil mencetak gol. Otomatis citra diri Wahyu semakin lekat dengan sepak bola seiring dengan semakin populer nama desanya.

Wahyu memang jatuh cinta pada sepak bola dan fans berat Persema Malang, meskipun ayahnya, Darto (Sujiwo Tejo), sudah kerap melarang dan mendampratnya habis-habisan agar tidak bermain bola. Namun ia tak kapok, malah makin menjadi-jadi dan percaya diri. Motif tersembunyi Wahyu bermain bola sebetulnya sederhana: ingin menyenangkan hati ayahnya.

Saat ayahnya susah payah berjualan minuman hangat di kawasan wisata di Bromo, Wahyu malah sibuk bermain sebagai pemain bayaran tim kesebelasan desanya ataupun desa lain. Untungnya ada Hasan (Agus Kuncoro), pamannya yang mencium bakat Wahyu sejak lama, yang tak pernah berhenti menyemangati dan memberikan keponakannya itu laga-laga pertandingan dengan upah yang menggiurkan, walaupun sebenarnya ia juga punya motif tersembunyi. Sampai akhirnya datang momen dramatis itu, saat Wahyu kaget karena mengetahui rahasia tentang kenapa ayahnya benci setengah mati pada sepak bola. Dalam emosi dan sikap Darto terhadap sepak bola ini tampak hukum kausalitas cerita. Wahyu lalu tunduk pada kemauan ayahnya.

Sejak saat itu, raut wajah Darto mulai riang. Hubungan Wahyu dengan Indah pun semakin dekat. Subplot kisah asmara muda-mudi ini menginterupsi cerita sembari terus memberi bahan bakar terhadap plot utamanya: perjuangan Wahyu untuk bermain bola. Akibat jatuh cinta pada Indah, Wahyu kemudian pergi ke kota Malang dan secara tidak sengaja bertandang ke rumah Coach Timo, pelatih Persema Malang. Perkenalan ini lalu membawa kembali mimpi Wahyu untuk bermain bola. Apalagi perlahan sikap Darto berubah dan mengizinkan anaknya untuk kembali menggocek bola, meskipun sebagai ganjarannya, Wahyu harus dicampakkan oleh Indah.

Momen ‘kebetulan’ lalu muncul di lereng Bromo: Coach Timo dan Matias, fisioterapi Persema, menyaksikan kelihaian Wahyu menggiring bola. Tawaran try out masuk Persema Malang lalu diterima Wahyu. Tapi memang ada kalanya nasib tak selalu berpihak pada orang-orang yang tulus dan berupaya keras dalam mewujudkan mimpi. Wahyu mesti menerima kenyataan pahit yang membuat impiannya untuk bermain bersama Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan berantakan, ayahnya pun kembali murka. Di sinilah dramatic tension terjadi, ketika keinginan Wahyu dipertaruhkan dengan realita yang tak terelakkan. Mana yang menang?

Pola hubungan kausalitas dalam penceritaan Tendangan Dari Langit sebetulnya lazim ditemui pada film-film yang bertemakan olahraga. Struktur cerita yang disajikan film garapan sutradara Hanung Bramantyo ini tak jauh berbeda, misalnya, dengan Goal! The Dream Begins (Danny Cannon, 2005). Asal-muasal konflik yang dialami tokoh utama dalam dua film ini nyaris sama, yakni pada ayah dan diri sendiri. Atau amati The Fighter (David O. Russel, 2010), yang juga memposisikan keluarga sebagai konflik atau hambatan utama bagi si tokoh untuk bisa berjaya di atas ring tinju. Perbandingan ini semata ingin menunjukkan bahwa kisah (fiktif maupun kenyataan) tentang seseorang yang ingin mewujudkan mimpi memang kerap kali harus menaklukkan terlebih dahulu hambatan yang muncul dari ego dan lingkaran terdekatnya.

Hanya saja, progresi plot dalam Tendangan Dari Langit memang tak terlalu mulus. Salah satu contohnya adalah pada adegan Coach Timo menyaksikan tanpa sengaja seorang pemuda (saat itu ia belum tahu bahwa Wahyu lah yang sedang dilihatnya) sedang berlatih di lereng Bromo yang berpasir dari jarak jauh, lalu bersambung pada adegan Coach Timo mendatangi rumah Wahyu untuk menawari try out bersama Persema. Rangkaian adegan tersebur tampak tergesa-gesa dan menyisakan pertanyaan: bagaimana si pelatih tersebut mengetahui dan memastikan bahwa memang Wahyu yang sewaktu itu dilihatnya sedang berlatih? Ada logika dasar cerita yang luput di sini.

Meletakkan rangkaian adegan tersebut dalam bangunan cerita yang berpatokan pada hubungan kausalitas, pada akhirnya memang memperlihatkan ada semacam jembatan yang hilang. Tapi kejadian atau peristiwa tersebut bisa segera dianggap sebagai momen ‘kebetulan’. Toh, dengan sudah melesakkan berbagai momen ‘kebetulan’ dalam naratif film ini dan dibingkainya dengan, katakanlah, paham determinisme dapat membuat kita memakluminya. Namun jika sudah sulit berharap pada kreativitas dalam mendesain cerita, harapan memang lalu digantungkan kepada keterampilan sutradara dalam menuturkannya secara visual.

Di film ini, Hanung sekali lagi membuktikan keterampilan teknisnya, seperti yang ditunjukkannya dalam Sang Pencerah (2010) dan “?” Tanda Tanya (2011). Selain mengarahkan sudut pengambilan gambar dan ritme editing yang bertujuan menciptakan efek dramatis, Hanung juga tekun dalam mengatur unsur-unsur mise-en-scène (lighting, decoration, property, costume, actor). Hasilnya, tampilan lereng Bromo beserta detail isinya tampak alami dan menyatu dengan cerita.

Kuatnya unsur mise-en-scène ini semakin dipertajam dengan kemampuan Faozan Rizal dalam mengarahkan sinematografi. Sajian Pao, begitu sinematografer langganan Hanung ini kerap dipanggil, yang paling mencolok di film ini adalah dipakainya format anamorphic dalam shot-shot yang menampilkan tokoh di tengah latar lereng Bromo yang penuh pasir. Lihatlah adegan Wahyu bermain bola di tengah hamparan dan tebaran pasir lereng Bromo yang berterbangan di udara, serta ketika ia mengobrol dengan Hasan di awal film. Dengan memakai teknik ini, Pao bukan hanya menyuguhkan keindahan, tapi juga menciptakan keintiman antara penonton dengan karakter para tokohnya dan pengalaman sinematik yang tak terlupakan.

Namun yang membuat Tendangan Dari Langit berbeda adalah Darto yang selalu menjejali soal hambatan ‘kultural’ sepak bola di negeri ini yang harus diterabas Wahyu. Karakter sang ayah yang menyimpan pengalaman buruk di masa lalunya ini meyakini bahwa pilihan menjadi atlet sepak bola tak akan dihargai oleh pemerintah, bahkan justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Ya, penulis skenario Fajar Nugros menyisipkan kritik terhadap sistem dan pengelolaan sepak bola di Indonesia. Tentu sisipan kritik ini sudah direncanakan, bukan kebetulan semata.

 

*Artikel ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi 4 September 2011 dengan judul yang diubah menjadi Pembuktian Kapasitas Hanung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s