A Part Time Utopian

Challenge. Itulah salah satu kata yang terlontar dari mulut Sigi Wimala dalam wawancara sekaligus menjadi kata yang paling tepat untuk menggambarkan karakter dirinya secara ringkas. Semua hal yang dilakukannya dan kesuksesan yang kini direngguknya boleh dibilang bermula dari kesanggupan Sigi dalam menerima tantangan.

Karier wanita kelahiran 21 Juni 1983 ini mulai menanjak ketika dia menjadi juara Gadis Sampul pada tahun 1999. Selepas ajang tersebut, ia terjun ke dunia modeling dan akting. Kemudian, meskipun setelah bermain di film pertamanya, Tentang Dia (2005), Sigi sempat merasa kapok berakting, tapi toh akhirnya Sigi tak bisa lepas dari dunia film. Ada beberapa judul film layar lebar lain yang dibintanginya, seperti Kalau Cinta Jangan Cengeng (2009), Krazy Cracy Krezy (2009), Rumah Dara (2010), dan Affair (2010).

“Waktu itu merasa kapok main film, karena Rudy Soedjarwo (sutradara Tentang Dia) sangat galak dan keras,” kenangnya sambil tertawa. Namun justru berkat kemampuan akting dan arahan Rudy, Sigi mendapat nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005. Sekarang, kakak Agni Pratistha ini malah menjadi filmmaker, profesi yang ternyata sudah lama dimimpikannya.

Saya bertemu dengan Sigi pada Februari lalu. Sambil di-make up, kami mengobrol. Gayanya cuek, dan sesekali mengangkat kakinya ke kursi. Selama bercakap-cakap, saya berusaha sok akrab dengan memanggilnya ‘elo’, dan Sigi membalas dengan menyebut dirinya ‘saya’, ‘aku’, atau ‘gue’. Simak petikan obrolan saya dengan ibu dari Maxine Sara, yang baru berusia 10 bulan, berikut ini:

Selain sibuk mengurus anak, apa saja kesibukan elo sekarang?

Sedang menjadi juri di program televisi Just Dance, menjadi Duta Kanker Serviks, ibu rumah tangga, mengurus anak, dan menulis skenario film pendek.

Bagaimana ceritanya elo bisa ditunjuk menjadi juri di Just Dance?

Itu karena aku pernah menyutradarai music video. Tugasku di acara itu untuk menilai penampilan dan konsep dance para peserta dari perspektif produksi music video. Jadi bukan karena aku suka nge-dance. Nggak deh, memalukan. Pernah sekali nge-dance untuk malam penobatan Gadis Sampul dulu, habis itu kapok. Hehe.

Lalu selama menjadi Duta Kanker Serviks apa saja tugas elo?

Umumnya untuk mengedukasi para wanita tentang cara mencegah dan bahayanya kanker serviks. Karena sampai kini pun masih banyak wanita yang belum aware dengan penyakit ini. Akhirnya saya membantu Yayasan Kanker Indonesia untuk mengkampanyekan bahaya kanker serviks ini. Responnya positif. Sekarang sudah banyak wanita yang peduli dengan penyakit kanker ini, terutama anak-anak muda.

Nama anak elo unik, Maxine Sara. Boleh tahu apa artinya?

Hehe. Jadi, sewaktu hamil aku suka banget nonton film horor. Saat itu baru rilis film The Orphan. Di dalam film itu ada anak kecil yang baik, rambutnya keriting dan nggak bisa bicara, namanya Maxine. Jadi nama anakku diambil dari situ, hehe. Kalau ‘Sara’, itu nama baptis.

Maxine diurus sendiri?

Iya, ngurus sendiri. Selama bisa dikerjain sendiri, why not? Anaknya juga masih kecil kan, lebih baik nempel sama kita daripada sama baby sister. Kalaupun sudah nggak kepegang sama aku atau suami (Timo Tjahjanto, sutradara Rumah Dara, pen), kita titipkan ke orangtua atau kakak ipar.

Perubahan apa saja yang dirasakan setelah menikah dan memiliki anak?

Yang pasti makin bijaksana dalam hal finansial dan tanggung jawab. Tadinya nggak hehe. Sekarang lebih fokus dalam mengerjakan sesuatu, karena sudah ada tujuan aku kerja untuk apa dan siapa.  Soal mengatur waktu juga kini nggak bisa egois, tapi lebih mementingkan keluarga dan lebih teratur. Kalau dulu kan menjalani hidup sehari-hari seperti life for today. Sekarang lebih banyak menabung dan investasi.

Apa karakter diri elo yang tidak berubah sampai sekarang?

Karakter dari dulu ambisius, aku suka challenge. Nggak bisa menahan diri kalau ditantang orang. Jadi gampang terpancing untuk ikutan suatu tantangan. Semangatnya menggebu-gebu. Meski aku sadar terkadang itu nggak bagus. Seharusnya kan aku sudah tahu limit-nya. Tapi sekarang aku sudah tahu apa yang harus diprioritaskan. Kalau dulu kan langsung terima tantangan begitu saja, maklum dulu gayanya preman, soalnya teman-temanku laki-laki semua. Hehe.

Sebagai aktris, peran mana yang menurut elo paling menantang?

Saat main di Rumah Dara, karena selain harus memerankan ibu hamil, konsep film yang bergenre slasher itu termasuk berani untuk diproduksi di Indonesia. Selama ini kalau kita melihat ‘darah-darahan’ dalam film horor di Indonesia kan jelek banget, efek visualnya juga cupu. Ternyata pas mereka (para pembuat film Rumah Dara, pen) yang kerjain bisa looks good. Yang paling berkesan adalah semangat filmmaker-nya untuk membuat film yang bagus. Saat kita dipresentasikan film pendek Dara oleh mereka, itu kan gila banget untuk ukuran film pendek. Siapa pun yang ditunjukkan film pendek itu, lalu diajak oleh filmmaker-nya untuk gabung main di versi layar lebarnya, ya pasti mau dong. Akhirnya aku dan pemeran lainnya semangat dan total dalam berakting, bukan karena sudah dibayar.

Pasti banyak shot atau adegan yang dipotong sensor?

Banyak abis. Syutingnya itu lama. Banyak adegan yang sudah susah-susah kita bikin, akhirnya nggak ditampilin. Kalau bagian kepala yang ngegelinding udah lihat kan? Ada beberapa shot yang muncul. Ada yang tulang tangannya Mike benar-benar keluar, akhirnya cuma keluar sedikit. Kebanyakan sih adegan-adegan pemain lain yang lagi disiksa.

Pas gue nonton bareng istri, dia lagi hamil delapan bulan. Jadi pas banget hehe.

Iya? Haha. Dia nggak apa-apa? Dia bisa nonton sampai selesai?

Bisa, cuma bayi gue di dalam bergejolak terus..

Iya. Temen gue aja muntah lagi hamil. Karena di dalam Rumah Dara kan ada tokoh yang lagi hamil, jadi pasti ngilu. Gue juga lagi hamil sih saat nonton film itu pas dirilis di bioskop, hehe.

Apa proyek film terbarunya Timo dan Kimo?

Judulnya The Killers. Itu ceritanya lebih dalam lagi, psychological thriller gitu dan film ini lebih banyak unsur Jepangnya, karena ada produsernya yang dari Jepang. Cerita film ini lebih mikir.

Kini elo beralih menjadi sutradara dan rajin menulis skenario. Apakah ini termasuk tantangan yang harus ditaklukkan?

Yang pasti aku benar-benar manfaatkan kesempatan dalam membuat film pertamaku yang berjudul Boy Crush itu secara maksimal. Tapi aku juga nggak ingin aji mumpung. Aku malah berpikir kalau ini kesempatan untuk bikin portofolio. Karena dari dulu kan ingin sekali bikin film, dan aku memang ditantang untuk memproduksi film dengan budjet yang terbatas. Dari film pendek pertamaku itu, sekarang banyak yang tawaran untuk membikin iklan atau mengembangkan skenario.

Lebih enak mana, menyutradarai atau menulis skenario?

Lebih enak menyutradarai skenario yang kita tulis, karena kalau kita yang menulis kita tahu direction-nya mau ke mana. Jadi tahu juga feel, treatment, karakternya mau dibawa ke mana. Kalau kita yang menulis skenario tapi di-direct orang lain, kita nggak tahu itu cerita mau divisualisasikan seperti apa, feel dan taste-nya bisa berbeda dengan yang kita mau kan.

Elo termasuk kreator yang idealis ya?

Dibilang idealis sih sebenarnya sudah nggak zamannya lagi. Sudah ketuaan untuk jadi idealis. Sekarang begitu sudah masuk dunia kerja, kita sudah tahu kenyataannya, sehingga menjadi more realistic. Setidaknya kita harus bisa menyeimbangkan antara yang realistis dan idealis. Karena kalau nggak nanti kita bisa terbawa arus industri begitu saja, dan kita jadi nggak tahu diri kita dan apa yang kita mau. Dengan masih adanya unsur idealis, paling tidak kita masih bisa menunjukkan treadmark dalam karya-karya kita.

Dari mana dukungan terbesar yang elo dapatkan untuk menjadi sutradara?

Suamiku banyak banget mendukung aku selama aku menjadi sutradara. Sejak awal aku banyak belajar dari dia. Apalagi dia juga a good writer, film-filmnya kebanyakan dia yang menulis.

— Sigi menerima panggilan telepon, “Ini lagi wawancara di Kuningan. Maxine udah makan? … Ok.” —

Film pertama elo, Boy Crush, kan tema ceritanya tentang homoseksual. Ada treatment khusus ketika mengarahkan film ini?

Ide awalnya keren, karena banyak orang yang masih salah kaprah dengan menganggap kalau seorang gay pasti banci. Kebetulan background aku dunia fashion, dan di sana aku banyak gay, sehingga aku tahu perilaku asli dan perasaan mereka. Di Boy Crush, aku merasa harus menunjukkan kisah tentang gay ini in the romantic way. Jadi cowok sama cowok jatuh cinta, ya bisa saja, it’s all about feeling. Nggak dibuat vulgar, karena percintaan mereka tetap romantis. Tema ini dapat dieksplor lebih jauh lagi. Apalagi dengan latar belakang Indonesia yang plural. Bagiku lumayan menantang mendapatkan materi cerita seperti itu.

Memangnya, elo termasuk wanita yang romantis?

Aku nggak romantis sama sekali, jauh dari tipe wanita seperti itu, hehe. Timo juga bukan. Apalagi sudah punya anak. Honeymoon saja kita malas. Akhirnya waktu itu honeymoon-nya menonton INNAF (Indonesia Internasional Fantastic Film Festival, yang memutar film-film bergenre horor, thriller, fantasy, science-fiction dan anime, red) setiap hari. Kita memang sama-sama cuek.

Gue dengar, elo keranjingan berlari. Apa penyebabnya?

Awalnya cuma ingin bikin kurus badan. Tapi lalu aku pikir soal menurunkan berat badan hanya jangka pendek saja. Kalau sudah kurus mau apa, apa mau berhenti lari? Jadi sekarang challenge-nya aku adalah ikut lomba marathon di Singapura tahun ini.

Elo nggak pengen ikutan triathlon?

Nggak kuat gue, berenangnya kan mesti desak-desakan. Nggak deh, gue panikan kalau berenang hehe.

Sejauh apa elo berlari secara rutin?

Aku lari dua hari sekali, di rumah dan kadang-kadang di luar, seperti di Ragunan (Kebun Binatang Ragunan, red). Setelah melahirkan, rata-rata setiap aku berlari itu jaraknya 15 km, targetnya sih 20 km.

Dulu kan elo terkenal dengan gaya yang tomboy, apa sekarang gaya itu masih kental?

Masih ada kok unsur tomboynya. Itu juga sebabnya kenapa aku doyan lari, karena yang kebanyakan lari kan laki-laki. Mereka staminanya lebih kuat, speed-nya juga lebih cepat, daya tahannya lebih lama. Jadi dalam berlari, challenge untuk melawan laki-laki itu lumayan besar. Ada adrenalin rush yang aku senang rasakan.

Soal menantang laki-laki, memangnya bagaimana pandanganmu tentang  feminisme?

Sekarang wanita itu sudah diberikan kebebasan untuk berkarya dan mampu bersaing dengan para pria. Aku sendiri bukan seorang feminis yang keras atau radikal. Bagiku, bagaimana pun wanita harus dapat menempatkan diri. Secara profesi perempuan bisa maju, tapi kembali lagi seorang wanita pasti nanti menjadi seorang istri yang posisinya di bawah suami. Jadi kita harus bisa memposisikan diri dan beradaptasi.

Dalam profil di akun Twitter dirimu tertulis ‘a part time utopian’. Apa maknanya?

Utopian itu artinya kan mengkreasi sesuatu yang indah dan ideal bagi kita. Lagi pula sejak kecil kita sering bermimpi untuk memiliki our own city, or our own sanctuary. Jadi, bagiku maknanya lebih ke dalam berkarya sih. Aku ingin lebih lepas untuk berimajinasi.

Ke depannya, elo akan melanjutkan karier yang mana?

Lebih ke ingin di belakang layar saja. Sejak punya anak, sekarang aku sadar prioritasnya apa. Aku ingin anakku look-up ke orangtuanya. Aku ingin mempunyai karya. Karena bagiku, be someone itu karena make something. Aku tak ingin anakku hanya mengenalku sebagai model saja. I can do more than that.

Sekitar seminggu setelah kami bertemu, ponsel saya menerima SMS dari Sigi.

“Is, Maxine disuapin lagi ya.”

Oh, dia salah SMS ternyata.***

PS: Versi tulisan ini yang sudah di-edit dimuat di Majalah GoodLife edisi 08.

Advertisements

2 thoughts on “A Part Time Utopian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s