JIFFest Ke-12: Belum Waktunya untuk Sekarat

*Ini versi panjang dari artikel yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 12 Desember 2010.

“Kalau dalam malam pembukaan JIFFest kemarin, Lalu Roisamri mengatakan ‘we are waiting for Superman untuk masa depan JIFFest,’ kini izinkan saya berkata, ‘now you can sit beautifully here to enjoy our closing film,” ungkap Nauval Yazid sambil tersenyum di depan para undangan yang memenuhi Auditorium 1 Blitzmegaplex, Pacific Place, Jakarta pada penutupan 12th Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2010. Setelah dibuka dengan film dokumenter Waiting for “Superman” arahan Davis Guggenheim pada 25 November, pada malam 5 Desember itu JIFFest ditutup dengan pemutaran Biutiful karya Alejandro González Iñarritu.

Wajar saja jika Nauval tampak sumringah, sebab penyelenggaraan JIFFest 2010 memang cukup dramatis dan—mengutip ucapan Nauval—bak roller coaster. Membuat ketar-ketir jantung Lalu dan Nauval, yang menjabat sebagai Festival Director. Bagaimana tidak? Festival film internasional terbesar di Indonesia tersebut nyaris gagal terlaksana gara-gara kendala dana. Sekitar sebulan sebelum hari H, panitia baru mengantongi Rp 1 milyar dari Rp 2,5 milyar biaya total yang dibutuhkan. Penyebabnya, organisasi asal Belanda Hivos memutuskan berhenti menjadi sponsor utama. Organisasi asal Belanda ini memang menyokong penuh JIFFest sejak pertama kali diadakan pada tahun 1999.

Namun akhirnya festival tetap bisa sukses berjalan berkat dukungan sponsor lain dan donasi publik yang digalang sejak konferensi pers “Mari Selamatkan JIFFest!” pada 14 Oktober silam. Kabar baik juga datang di awal November, Nokia sepakat menjadi sponsor utama. JIFFest ke-12 pun dinyatakan resmi akan terselenggara kembali. Dukungan masyarakat yang mengalir deras lewat situs jejaring sosial pun tidak bisa dianggap remeh peranannya. Beberapa hari menjelang hari pembukaan festival, total donasi yang terkumpul sekitar Rp 204 juta dari 180 donatur. Maka sebagai penghormatan, nama-nama para donatur dicantumkan di dalam buku panduan dan penghujung official trailer Jiffest ke-12 yang diikuti kalimat: you made this happen.

Dari pihak pemerintah, partisipasi datang dari Kementerian Perdagangan yang sedang menggalakkan pertumbuhan industri kreatif. Partisipasi ini sebagai bentuk dukungan terhadap film yang merupakan subsektor dari ekonomi kreatif. Adakah peran serta Pemerintah DKI Jakarta dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar)?

Pemerintah DKI Jakarta, kata Lalu, sejak awal sudah menyatakan bahwa prioritas dukungan dana untuk kegiatan budayanya tertuju pada revitalisasi Kota Tua dan promosi Jakarta ke luar negeri. “Proposal ke Kemenbudpar sudah diajukan. Cuma saya tidak mengerti kenapa tidak ada dukungan dana dari mereka. Saya menduga anggaran film untuk tahun ini terbatas, tapi kami akan coba ajukan lagi tahun depan,” ungkap Lalu.

Minimnya dukungan pemerintah tak serta-merta membuat JIFFest urung terlaksana. “Kita sempat diterpa krisis, tapi kita justru mendapat banyak dukungan dari para pembuat film. Mereka mau membantu JIFFest dalam pengadaan film-filmnya, baik distributor maupun produser dari dalam dan luar negeri. Hingga akhirnya kami bisa memutar 91 judul film dari 33 negara selama 11 hari festival,” ujar Nauval.

Selain Waiting for “Superman” dan Biutiful, JIFFest tahun ini juga memutar film-film dari negara lain yang sudah tak sudah diragukan lagi kualitasnya, antara lain Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives dari Thailand (Film Terbaik Cannes Film Festival 2010), Honey dari Turki (Film Terbaik Berlin International Film Festival 2010), When We Leave dari Jerman (Film Terbaik Tribeca Film Festival), serta film-film yang didaftarkan oleh negara masing-masing untuk berkompetisi di kategori Film Berbahasa Asing Terbaik di ajang Academy Award 2011, seperti Incendies dari Kanada, Son of Babylon dari Irak, Soul Boy dari Kenya, dan Outrage dari Jepang. Sedangkan dari dalam negeri, ada enam film Indonesia terbaru yang diputar premiere di JIFFest, seperti Jakarta Maghrib, Belki Bolang, Working Girls, Di Ujung Jalan, Hiphopdiningrat, dan Mengejar Impian.

Berbincang soal kualitas memang masuk ke ranah subjektivitas. Namun bagi JIFFest, 91 film itulah yang menggambarkan apa yang telah terjadi di dunia selama setahun terakhir. Itulah sebabnya JIFFest selalu diadakan di akhir tahun, karena ingin merangkum hasil-hasil terbaik dari percaturan film internasional. Meskipun dampak dari dana yang terbatas pada tahun ini adalah berkurangnya program, “Tapi dengan program yang sangat sedikit kita justru melakukan seleksi yang sangat ketat terhadap kualitas film yang diputar di JIFFest,” tambah Lalu.

Panitia JIFFest memang memilih film berdasarkan isu yang diangkat film, mutu artistik, serta ukuran kesuksesan secara komersil di negara asalnya. Menengok sejarahnya, JIFFest sendiri lahir pasca jatuhnya rezim Orde Baru. Tak pelak, film-film JIFFest pun berperan penting dalam mempromosikan berbagai isu dan nilai yang penting untuk didiskusikan, seperti demokrasi, multikultur, seks, gender, dan agama. Inilah pentingnya keberadaan dan peranan festival film. Ia menjadi ruang bagi para penonton dan pembuat film supaya bisa berdiskusi, sehingga terjadi pertukaran gagasan.

“Kami ingin membuka ruang diskusi semacam itu di dalam JIFFest,” ujar Lalu.

Dalam penyelenggaraan JIFFest kemarin, selain pemutaran film, diadakan pula rangkaian acara diskusi, seminar dan workshop di Binus International University, seperti Film Financing Forum, peluncuran katalog online film Indonesia dan buku Asian Cinema Journal (special edition: Indonesian Cinema).

Tahun ini, JIFFest juga menggelar Indonesian Feature Film Competition (IFFC) untuk kelima kalinya guna memilih Film Indonesia Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Film Favorit. Para jurinya, yaitu Gabrielle Kelly (produser dari Amerika Serikat), Nguyen Thi Bao Mai (produser dari Vietnam) dan Ji Hoon Jo (programmer festival dari Korea Selatan). Ada delapan film yang masuk kompetisi, yaitu 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Alangkah Lucunya Negeri Ini, Emak Ingin Naik Haji, Minggu Pagi di Victoria Park, Rumah Dara, Sang Pemimpi, Sang Pencerah, dan Tanah Air Beta.

Mengenai IFFC, Nauval punya catatan penting bahwa ternyata selama satu tahun terakhir, kualitas film Indonesia berada di titik yang mengkhawatirkan. Tolak ukur yang dipakai Nauval adalah karena tidak ada film Indonesia yang berkompetisi di festival film terkemuka, seperti di Pusan International Film Festival atau bahkan di Berlinale. Ditilik dari segi tema pun, ternyata banyak tema yang seragam dan diulang-ulang. Padahal IFFC menginginkan tema yang cukup mewakili konteks ke-Indonesia-an di mata dunia internasional. Dengan kondisi itu, Nauval dan timnya kesulitan menilai 78 film Indonesia yang masuk seleksi. Sewaktu memilih film pun, selain menempatkan diri sebagai film programmer, Nauval dan timnya juga menempatkan diri sebagai penonton. Jadi ketika memilih film, mereka bertanya kepada diri sendiri apakah film ini layak untuk ditonton penonton lain.

“Akhirnya kita hanya memilih delapan film, karena film-film inilah yang mencerminkan a good quality of storytelling and filmmaking. Sedangkan pada IFFC tahun lalu ada 15 film Indonesia yang lolos seleksi. Bagaimana pun, kompetisi ini bertujuan untuk menilai kualitas film Indonesia yang layak diputar, baik sebagai bagian dari festival internasional maupun secara komersial,” ungkapnya.

Pada malam penutupan JIFFest ke-12 lalu, diumumkanlah hasil IFFC. Alangkah Lucunya Negeri Ini meraih gelar Film Indonesia Terbaik, Lola Amaria menjadi Sutradara Terbaik lewat Minggu Pagi di Victoria Park, dan Rumah Dara didampuk sebagai Film Favorit. Menurut Lalu, para juri IFFC biasanya menilai kategori Film Terbaik berdasarkan tolak ukur eksplorasi cerita dan kemampuan bersaingnya di pentas film internasional. Sedangkan pada kategori Sutradara Terbaik dinilai dari pendekatan artistik yang dilakukan sutradara. “Jadi mudah-mudahan dua kategori tersebut dapat merefleksikan industri film Indonesia saat ini,” kata Lalu.

Lisabona Rahman juga punya pendapat penting soal IFFC. Bagi manajer Kineforum, yang menjadi supporting venue JIFFest ini, “Melalui IFFC film-film Indonesia tak hanya diawasi oleh mata orang Indonesia saja, tapi juga mata dunia.” Jadi, JIFFest bukan hanya berupaya memperkenalkan penonton Indonesia ke film-film dunia yang berpengaruh, tapi juga menarik pandangan mata dunia ke film Indonesia.

Dari penjelasan Lalu, Nauval, dan Lisa tersebut, wajah JIFFest sekarang bisa terlihat. Namun layaknya manusia yang baru memasuki usia remaja, festival film ini belum dapat dikatakan telah memiliki jati diri. Ia masih mencari bentuk aslinya. Bibit karakternya memang sudah ada, dan jika diasuh dengan cara yang tepat di lingkungan yang penuh kehangatan, festival ini berpeluang untuk menjadi akbar.

Bukan tidak mungkin di masa depan, JIFFest bisa berdiri sejajar dengan Berlin International Film Festival, misalnya, yang kerap dilihat oleh para kritikus film untuk memetakan beragam penemuan dan kecenderungan baru dalam sinema dunia. Festival film yang sudah berusia 59 tahun ini merepresentasikan kekuatan film-film baru asal Eropa, Hollywood, Amerika Latin, Asia, serta Timur Tengah. Atau, mampu menyamai peran Festival Film Rotterdam, yang biasa dijadikan titik tolak untuk mengukur karya-karya sineas muda yang umumnya berusia di bawah 35 tahun dan berkarya tak lebih dari tiga film.

Berharap bukanlah pekerjaan yang sulit, mewujudkan harapanlah yang tidak mudah. Dan merawat sekaligus menjaga JIFFest hingga nanti berusia matang sehingga dapat hidup mandiri di negeri, yang dikelola oleh tangan-tangan pemerintah yang belum bisa bersikap hangat pada para pelaku dan kegiatan seni, jelaslah merupakan tantangan besar. Saya teringat kisah Uxbal (diperankan oleh Javier Bardem) dalam Biutiful yang meskipun sedang sekarat, namun masih berusaha menunaikan tanggung jawab sebagai seorang ayah. Tokoh Uxbal ini akhirnya pasti dijemput ajal. Tapi di alam baka yang terhampar salju maha luas, Uxbal bertemu dengan kakeknya, sosok yang sejak lama ia ingin ditemuinya. Mereka mengobrol akrab, lalu berjalan menjauh. Gambaran sebuah ujung (atau awal mula?) kehidupan yang indah sebetulnya.

JIFFest tentu tidak boleh mati seperti Uxbal, tapi harus tetap mengisi tahun-tahun indah kehidupannya melalui bercengkerama dengan masyarakat—entitas yang kelak ikut membesarkan dan dibesarkan JIFFest. Sebab seperti yang pernah diucapkan oleh Werner Herzog kepada Kidlat Tahimik, “We must develop our audience.” Koneksi inilah yang semestinya dikekalkan demi kemaslahatan bersama, dengan kontribusi pemerintah atau pun tidak.

Advertisements

2 thoughts on “JIFFest Ke-12: Belum Waktunya untuk Sekarat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s