Untuk Kamu

Hai kamu. Ya kamu. Jangan menoleh kiri-kanan. Jari telunjukku sedang menunjuk ke arahmu. Masa tidak sadar juga sih.

Saya tidak menuding kamu. Saya juga sedang tidak dibalut amarah kok. Saya hanya bingung dan penasaran tentang satu hal: cinta.

Saya menunjuk kamu hanya untuk memastikan, “Sudahkah kamu merasakan cinta?”

Oh, kurang tepat ya sepertinya. Mungkin pertanyaannya harus diganti begini, “Sudahkah tepat cintamu itu ditujukan kepadanya?”

Si pemberani berjiwa optimis angkat bicara. “Jika iya, harusnya kamu berani untuk menyatakannya. Kalau tidak berani juga, pikirkanlah ini: malam ini amat mungkin adalah malam terakhirmu.”

Ayolah. Gunakan tarikan dan hembusan napasmu demi sesuatu yang dapat membuatmu lebih ‘hidup’. Sebelum telat menghampiri dan penyesalan menjelma menjadi awan kelabu. Saya ikutan menimpali.

Ada yang mengetuk pintu dari luar yang gelap. Ternyata tiba seorang pria tinggi besar berjubah putih yang berbisik dengan malu, “Bagaimana kalau cintaku belum tepat menghujam jantungnya?”

Tancapkan lagi. Arahkan dengan pas. Ambil ancang-ancang dan amatilah dirinya dengan perhitungan yang presisi. Kata si manusia matematis di sebelah saya.

“Hai sobat. Tapi manusia tak dibangun oleh angka-angka! Ada nurani dan hati yang pekat oleh hasrat di situ!” Itulah teriakan lantang dari si perasa.

Si peragu lain lagi celotehannya. Alam berpikirnya tidak berpijak. “Mungkinkah ia salah memanah? Mungkin juga ia sudah tepat memanah sasarannya, tapi….”

Ia yang dimaksudnya jelas Cupid, si malaikat mungil-gempal berambut ikal yang bersayap dan bersenjatakan busur panah, biang keladi atas semua kekacauan cinta. Tapi jika cinta itu bersemi, Cupid lalu dielu-elukan sebagai maestro. Tepuk tangan dari pendukungnya membahana.

Tiba-tiba ada yang mendobrak masuk. Meretakkan daun pintu. Rupanya inilah kekuatan seorang wanita. Wajahnya tirus dipadu manis. Ia bertutur dengan lembut tapi sendu, “Aku sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. Bagiku, semua gerbang sudah tertutup. Hatinya sudah terbelah.”

Kami semua yang mendengarnya cuma bisa terdiam. Sambil menunduk lama.

—-

Melankolia

Tersungkur di sisa malam
Kosong dan rendah gairah

Puisi yang romantik
Menetes dari bibir

Murung itu sungguh indah
Melambatkan butir darah

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi

Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah hati

—-

Bla-bla-bla:
Niat hati mau menulis resensi film, tetapi kok idenya tidak muncul-muncul. Letih menunggu, yang hadir justru melankolia. Jadi inilah isinya. Lagi-lagi, tentang cinta. Gara-gara tadi siang berbincang dengan seorang kawan.

Ah, jadi terbayang suasana malam hari di perumahan yang sepi itu. Dua orang bercakap-cakap dengan syahdu.

“I love you. You… you complete me. And I just…”

“Shut up, just shut up. You had me at ‘hello’.”

 
PS: Ditulis pada pertengahan Agustus 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s