Persimpangan

Hidup yang tidak dikaji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi – Socrates

SEBUAH INTERPRETASI yang liar dari lagu dan lirik untuk siapa saja yang sedang berada di persimpangan jalan.

——

Dosakah Aku

Nidji

Dosakah aku mencintaimu
Mendampingimu, menginginkanmu
Aku menjadi diri sendiri
Tak peduli apa kata dunia

Ku menanti hari ketika
Cinta datang,
cinta menang
Jadi sayangku bertahanlah
Bila terkadang
mulutnya kejam

Peluklah aku…
Jangan menyerah
Mereka bukan
hakim kita

Bintang yang mempertemukan kita
Cinta yang mempertahankan kita
Oh Tuhan dengarkan doa
Dari cinta yang terlarang

Rasa yang mempersatukan kita
Cinta yang mempertahankan kita
Oh Tuhan
dengarkanlah doa
Dari cinta yang terlarang
Cinta dan rasa
bersatu di doa
Berharap cinta
Kita yang kan menang
Berharap cinta
Kita yang kan menang

——

BERADA DI PERSIMPANGAN JALAN itu melelahkan. Apalagi jika jalan itu bercabang lebih dari tiga. Begitu pula ketika menatap kilau warna lampu merah-kuning-hijau di atas persimpangan. Ditambah lagi apabila kamu berada di bawah sang triwarna tersebut ketika malam sedang tanpa purnama, atau sewaktu hujan deras mengguyur ditemani oleh tiupan angin yang marah, atau saat kabut dingin yang pekat turun dari atap gunung dengan membabi-buta.

Dalam situasi seperti itulah sang triwarna sebetulnya mampu menentukan arah hidupmu, sadar atau tidak sadar. Tetapi kamu (seharusnya) takjub. Karena mereka, si benda mati buatan sang manusia setengah dewa, diserahi tugas maha berat yang dirimu sendiri belum tentu mampu menjalaninya dengan keteguhan yang mapan.

Di atas kertas putih, yang sampai sekarang kamu pun pasti belum pernah melihatnya, perintah dari manusia setengah dewa itulah termaktub. Perintah yang terkesan arogan dan penuh kuasa, tetapi kamu sendiri tidak punya kuasa untuk tidak mematuhinya—terkecuali jika kamu adalah penguasa manusia setengah dewa. Begitulah warisan kesepakatan sosial dari para kakek-nenek moyang pendiri peradaban modern ini yang kamu harus taati. Karena kamu adalah manusia yang mau dan mesti berlaku tertib, suka atau tidak suka.

Bunyi perintah yang dibebankan kepada sang triwarna itu menyuruh kamu untuk maju atau berhenti, dengan diselipi sepersekian detik untuk pikir-pikir terlebih dahulu.

Di tengah keruwetan, kepadatan, keriuhan deru mesin, dan desakan para manusia terburu-buru di sekelilingmu—dengan jutaan masalah di dalam dirinya, niscaya waktu sepersekian detik itu tidak akan pernah cukup bagi otakmu untuk meluangkan sel-selnya agar bekerja dengan baik demi memutuskan secara jernih semua masalah yang ada. Tidak, tidak akan cukup. Bahkan sebenarnya, waktu tahunan pun tidak akan cukup. Segala timbang-menimbang tentang akar persoalan dan pencarian solusi tidak akan kelar dengan ringkas dan gampang ketika rasio turut bermain.

Seorang sahabat pernah bingung atas masalah-masalahnya. Lalu dia berkata, “Tetapi harus rasio lah yang berkuasa.”

Bagaimana kalau kamu? Mana yang lebih diprioritaskan untuk digunakan dalam mencapai solusi? Rasio, rasa, atau emosi?

Sulit disanggah, jika menengok hidupmu ke belakang dan bertanya dengan jujur kepada hati, rasa dan emosi itu tentu lebih memesona dan menggoda untuk diterapkan ketimbang rasio. Padahal pada awalnya, kadang mulut menganggap mudah penggunaan rasio. Barulah ketika dilakukan tahap berikutnya tampaklah wujud asli rasio yang ternyata sukar diterapkan.

Jika kesukaran itu muncul, mungkin disebabkan karena ruang eksplorasi rasio terlalu disempitkan di wilayah yang realis saja. Karena seperti yang pernah dibilang seorang intelektual negeri ini dalam esainya, operasi rasio sebenarnya tidak harus berpijak dari realitas. Rasio juga bisa berkeliling di wilayah-wilayah yang abstrak. Dengan kata lain, rasio pada hakikatnya adalah imajinasi, tetapi yang rasional dan memiliki disiplin. Imajinasi berdisiplin yang oleh budaya Yunani disebut logic of discovery.

Bukankah dengan semakin luasnya ruang eksplorasi rasio itu berarti semakin dinamis lah gerakan rasiomu dalam menyusuri lajur kehidupan dan menerabas tantangan untuk mengurai masalah? Bukan mustahil, apabila rasio yang juga bertumpu pada imajinasi akan menjadi obat mujarab.

Yah bagaimana pun, rasio apapun yang dipakai, inilah seni menyiasati hidup. Inilah sisi manisnya kehidupan di tengah sodokan keras rasa getir. Gerak kehidupan yang secepat kilat ini mewajibkanmu untuk merespon segala sinyal yang ada dengan gesit, lalu segera bertindak. Di tengah himpitan waktu dan rongrongan masalah yang bertubi-tubi, kamu harus berjibaku demi memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar. Karena kalau tidak, mungkin kamu bisa jatuh hancur dikalahkan keadaan, atau mati karena ada yang menikammu dengan belati dari belakang, atau…memang kamu memutuskan untuk menyerah saja.

Jika yang terakhir ini yang terjadi (baca: kamu pilih), semoga saja sudah melewati pergulatan panjang dan diskusif. Menyerah bukanlah aib, itu bisa saja merupakan keputusan yang bijaksana. Makna menyerah pun tidak bernada serupa dengan kekalahan, bukan pula sebuah akhir. Karena di persimpangan jalan yang dilengkapi dengan sang triwarna, kamu hanya dipersilahkan berhenti sejenak. Selanjutnya kamu harus terus melaju dan maju. Entah lurus, ke kanan, ke kiri, atau berhenti menepi. Tetapi tidak ada kata mundur. Kamu juga tidak boleh menjadi orang eskapistik.

Di persimpangan jalan itulah kamu belajar untuk mengkaji hidupmu dalam rentang waktu yang singkat. Kamu dituntut dan dipaksa supaya lebih pandai menyikapi persoalan, tidak peduli seperti apa level kerumitan situasinya. Karena seperti yang dimaksudkan oleh Socrates di pembuka, hidupmu menjadi layak dihidupi ketika kamu sudah mengkajinya. Dan sebuah pengkajian dapat mengambil tempat dan waktu di mana saja.

——

SEORANG SAHABAT tanpa identitas dengan raut yang suntuk lalu menyembul dari keheningan. Dia bercerita tentang mimpinya yang absurd. Dia takut karena mimpinya yang seolah nyata.

“Hawa panas begitu menyengat saat itu. Matahari persis di atas ubun-ubun dan amat terik. Warna biru di seantero langit. Tidak ada hembusan angin sedikit saja. Sendirian aku berada di tengah gurun tanpa tuan dan nama. Pandanganku memutar dan yang tampak hanya hamparan pasir. Aku tidak sedang berdiri di atas jalan aspal yang bercabang tiga atau empat. Tidak ada pula lampu tiga warna. Aku tundukkan pandangan, ternyata setengah betisku sudah tenggelam dalam cengkeraman pasir. Tidak ada penunjuk jalan. Aku ingin berteriak minta tolong, tetapi tenggorokanku kering kerontang. Sakit sekali jika bersuara. Tetapi aku bertekad tidak boleh mati sebelum berjuang.”

Dia menarik napas panjang-panjang, terdiam sebentar.

“Jadi aku memulai melangkah dengan susah payah dengan penuh kebimbangan dan keraguan. Tidak tahu mau ke mana. Tidak tahu kuat sampai berapa langkah. Tiba-tiba semua gelap. Kupikir sudah malam, tetapi ternyata belum. Ketika aku membuka mata, aku melihat dokter-dokter. Aku tiba-tiba ada di kamar rumah sakit. Kata mereka, aku sakit parah. Tidak mungkin sembuh. Penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuhku, tanyaku. Belum tahu, jawab salah satu dokter. Di pojok ruangan seseorang bersuara. ‘Mungkin kamu memang tidak punya penyakit, tetapi jangan-jangan malah kamu yang menciptakan sakitmu,’ kata seorang berjubah putih.”

Kemudian dia bertanya, mungkinkah mimpiku itu menjadi kenyataan?

——

Tak Terjamah

Nidji

Perjumpaan itu mengapa terjadi
Saat ku tak bisa memiliki dirimu
Perjumpaan itu
telah lama terjadi
Dan aku pun masih menginginkan dirimu

Bimbang hati ini
untuk memilih
Namun ku tak bisa
melepas dirinya

Engkau datang
di saat aku milikinya
Dan ku berkata
Cintamu takkan
pernah terjamah
Engkau datang
dan aku sudah milikinya
Dan ku berkata
Cintamu takkan terjamah

Engkau hadir
di saat aku tak berharap
Dan ku berkata cintamu
takkan terjamah
Cintaku takkan terjamah


PS: Ditulis pada November 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s