Perahu Kertas dan Persekongkolan Alam Semesta

Disclaimer:

Saya nekat memuat ulang tulisan lama ini. Tulisan yang saya buat pada September 2009 ini pernah saya taruh di Facebook dan Multiply, tapi belakangan akhirnya saya hapus.  Rupanya itu tindakan yang salah. “…sebab menghapus adalah juga menyisakan sesuatu,” kata seorang penulis belum lama ini. Benar juga. Lagipula, blog ini saya bikin sebagai refleksi hidup saya juga. Selain itu, ternyata menghapus tulisan sendiri sangat menyakitkan hati. Untung master file tulisan ini masih tersimpan. Sepenuhnya saya sadar bahwa yang sudah berlalu sejatinya tak akan pernah berlalu, dia selalu mengiringi, meskipun hanya berbentuk bayangan.


—-


Sebuah dongeng singkat tentang mimpi dan perpisahan.

 

PAGI ITU SAYA TERPAKU. Duduk di lantai kamar sambil memeluk kedua lutut. Mata saya menatap kosong. Pikiran saya melayang ke awal tahun ini, ketika saya sedang cemas luar biasa. Kecemasan yang meluap karena saya mengalami rentetan mimpi aneh dengan subjek selalu sama dan hadir selama delapan hari berturut-turut.

Subjek itu: seseorang.

Selama delapan hari itu, selalu muncul rasa penasaran dalam diri saya. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar tanpa ada akhir. Umumnya berkutat di topik yang sama. Apa maksudnya? Kenapa harus saya yang mengalaminya? Di antara yakin dan tidak, saya merasa mimpi itu akan mewujud di dunia nyata dalam bentuk yang tidak terduga dan tidak bisa saya antisipasi.

Malam hari yang kesembilan pun datang, saya memilih untuk tidak tidur. Lalu saya menulis:

Apabila mimpi saya ini nanti menjadi nyata, apapun bentuknya, maka tahun 2009 akan menjadi tahun yang aneh….Karena kalau begitu, mungkin bisa dibilang bahwa kebenaran datang dari dunia mambang.

Selepas saya menulis itu, ketidakpastian semakin menjadi-jadi. Bergerak ke sana-ke mari tanpa arah yang pasti.

 

DI DEPAN SAYA, tergeletak sebuah novel dengan gambar sampul yang mirip dengan buku-buku dongeng. Saya benar-benar tidak menyangka, justru lewat novel inilah saya diberikan jawaban atas segala pertanyaan yang muncul di awal tahun ini. Tak pernah sekalipun terbesit di pikiran bahwa saya akan mengalami suatu titik balik dalam hidup hanya gara-gara sebuah novel.

Cukup dengan menumpangi Perahu Kertas, pagi itu saya bisa siuman dari tidur yang panjang. Entah kenapa, lewat kisah Perahu Kertas, saya temukan apa yang saya cari selama setahun terakhir ini; apa yang menjadi penyebab ketidakpastian; dan masalah saya yang hadir belakangan ini. Lucu memang mendengarnya. Terkesan tidak waras. Namun Tuhan memang selalu bekerja dengan caranya yang aneh dan tidak disangka-sangka bukan?

Di tengah-tengah keheningan itu, saya lalu mencoba menelaah segala detail hidup selama setahun terakhir. Mimpi-mimpi, sahabat-sahabat, pekerjaan baru, buku-buku, kuliah, segala komitmen, fragmen-fragmen hidup, curahan hati, rasa cinta, masalah hidup, berbagai khayalan tingkat tinggi, tulisan-tulisan hasil meracau, Perahu Kertas, rupanya semuanya mengarah pada satu titik. Semuanya bersekutu. Dengan jalan penuh liku dan memakan waktu, sejatinya alam semesta sedang bersekongkol demi mewujudkan sesuatu yang tidak terprediksi sekaligus memberikan pelajaran hidup untuk saya, dan kamu, walaupun caranya pahit dan melelahkan hati.

Masih sambil memeluk lutut, barulah saya paham bahwa inilah ujung kecemasan awal tahun itu. Mungkin inilah kebenaran pahit yang harus saya telan bulat-bulat. Bukan lagi dunia mambang, tapi dunia nyata. Tahun yang aneh ternyata benar-benar terjadi.

Seseorang dalam mimpi itu kini benar-benar mewujud. Dari sebuah lingkaran dia keluar. Dia gelombang yang mengombang-ambingkan laju perahu saya, tapi anehnya dia juga mampu menyemangatkan salah satu bagian penting hidup saya. Membuat alam pikiran saya tergantung kepadanya karena motivasi dan kepercayaannya yang diberikan kepada saya. Menyebabkan saya pernah berjanji pada diri saya sendiri dan dirinya untuk menulis apa saja dan memublikasikannya di dunia maya setiap awal minggu. Membuat rasa kantuk saya hilang di setiap Senin dini hari demi menuntaskan tulisan dan supaya dibaca olehnya.

Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya bahwa ternyata dialah bintang saya, sumber inspirasi saya.

Meskipun semua itu sepertinya sudah telat dan perahu saya sudah punya tujuan, tapi saya terlanjur terbiasa dengan goncangan dari gelombang itu. Akibatnya mungkin bisa dibilang fatal. Ketika saya harus pergi dari lingkaran itu dan menjauh dari segala kedekatan tersebut, saya merasa ada yang hilang. Dan rasa kehilangan itu menjelma sebagai hantu tanpa nama yang bertugas mengobrak-abrik daya imajinasi saya. Hasilnya, hampir enam bulan terakhir ini pikiran saya terasa buntu. Selama itu pula saya menganggap kalau kebuntuan tersebut merupakan dampak dari hal-hal sepele, semisal kesibukan lain, perubahan pola hidup, atau waktu yang makin sempit.

Tapi ternyata saya salah mengira. Kisah Perahu Kertas memberitahukan penyebab kebuntuan saya ini.

Seketika pada pagi itu juga, setelah menyadari segalanya, ingin sekali rasanya saya pergi saja ke negeri dongeng, tinggal di sana. Tapi saya tahu itu hanya sebuah pelarian. Hidup itu harus dihadapi. Karena kisah hidup saya, dan kamu, adalah dongeng yang kita ciptakan sendiri.

Mendadak, napas saya pun menjadi tak beraturan. Saya berusaha menahan. Sudah, sudah. Sebuah keputusan berat akan saya ambil demi sebuah kebaikan, termasuk kamu.

Saya pikir, lebih baik saya benar-benar menjauh darinya, mulai saat ini. Tidak ada pilihan lain. Mustahil bagi saya untuk memelihara bintang saya yang satu ini di hati saya. Walaupun saya juga tidak tahu, mampukah saya menyibak langit untuk menemukan bintang saya yang baru.

Berat, sungguh berat rasanya.

 

KUGY DAN KEENAN memiliki sifat dan karakter yang sesungguhnya serupa juga saling melengkapi. Sebutan-sebutan mulai dari aneh, nggak jelas, pemimpi, pelamun, tukang mengkhayal, penyendiri, melekat erat di diri mereka. Mereka pun sama-sama berzodiak Aquarius, yang bersimbol air.

Kugy, si juru dongeng yang jatuh cinta pada Keenan, punya khayalan yang ia bangun semenjak kecil. Ia menganggap dirinya agen rahasia Dewa Neptunus yang diutus tinggal di daratan. Layaknya mata-mata, Kugy pun kerap melaporkan ke markas besar tentang apa saja yang terjadi pada hidupnya dengan mengapungkan perahu kertas di aliran air yang menuju ke lautan. Sampai dewasa, Kugy masih melakukan kebiasaan itu. Menulis surat untuk Neptunus.

Keenan, si pelukis langit yang jatuh cinta pada Kugy, pun mengajukan diri menjadi agen rahasia untuk kerajaan Neptunus. Dia diterima. Namun meski sama-sama agen, jalannya dongeng cinta mereka tidak mulus. Mereka menjalani jalan panjang dan berat yang penuh rintangan untuk mewujudkan mimpinya yang paling indah. Mereka saling membutuhkan untuk menciptakan karya. Keenan tidak bisa melukis tanpa kehadiran dongeng-dongeng Kugy. Begitu pun sebaliknya.

Saya jatuh hati pada karakter Kugy dan Keenan, pada interaksi mereka, pada proses penciptaan karya-karya mereka, pada beragam momen penuh kebetulan yang sebenarnya mengarahkan hidup mereka, pada ‘Radar Neptunus’ di kepala mereka yang membuat keduanya seperti terhubungkan meskipun terpisahkan oleh jarak dan waktu, pada berbagai ornamen kehidupan yang sebetulnya bersekongkol untuk mengungkap misteri hidup mereka.

Entah kenapa, semua elemen dalam dongeng Kugy dan Keenan itu terasa dekat di diri saya. Saya merasa déjà vu. Sudah berbuku-buku saya baca, tapi inilah untuk pertama kalinya saya merasakan keintiman sebuah buku, sebuah novel. Bagi saya, sebuah karya yang baik selain mesti sukses menyampaikan pesannya juga harus mampu menciptakan rasa intim, dan kalau bisa hingga mengubah isi hati si penikmat karya itu.

Pesan, intim, isi hati. Empat kata itu pula yang membuat hati saya terenyuh sekaligus miris ketika membaca surat dari Kugy untuk Keenan:

Hari ini aku bermimpi.
Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.
Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat.
Belum pernah sedekat ini.
Hari ini aku juga bermimpi.
Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.
Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.
Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.
Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini.
Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Selamat Ulang Tahun.

 

—-

 

TIBA-TIBA pada pagi itu, saya juga tersadar kalau ternyata Perahu Kertas saya baca di bulan September. Bulan yang semestinya dijejali keceriaan dan introspeksi buat saya. Perahu Kertas ini sepertinya melengkapi upaya persekongkolan alam semesta yang ditujukan untuk diri saya, dan mungkin untuk dirinya juga.

Dee, terima kasih yah sudah memberi saya pencerahan. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan hatinya juga.

 

—-

 

Surat untuk Markas Besar


Hai Neptunus,

Ini surat pertama saya sekaligus yang terakhir. Pasti kamu belum kenal saya. Salam kenal yah. Saya ini agen non-Aquarius yang direkrut oleh agen senior di pulau Jawa karena objek yang saya mata-matai berzodiak Virgo. Kebetulan saya juga Virgo, dan dianggap cocok oleh si agen senior.

Nus, saya mau mengundurkan diri jadi agen kamu. Tugas ini saya sudahi saja. Sudah waktunya saya pergi dari dia, objek yang saya mata-matai. Kenapa? Karena mimpi itu terlampau jauh di sana. Mimpi itu benar-benar cuma mimpi. Mimpi yang dijalani agen Kugy dan Keenan sekarang sepertinya tidak mungkin terjadi pada saya. Lagian, kalau saya terus menjalani tugas saya ini, teramat mungkin merugikan banyak orang, bahkan mungkin termasuk dia sendiri. Berat sih, tapi kamu nggak usah pikirin, ini konsekuensi saya. Saya rela kok.

Nus, saya ada beberapa permintaan. Tolong banget dikabulkan yah. Dia ini wanita yang baik dan penting bagi saya, jadi tolong kirimkan agenmu yang terbaik yah. Dia layak untuk itu. Dan kalau dia jadi hijrah ke benua lain, tolong tetap tugaskan agen lokal saja untuk menjaganya. Soalnya dia pernah bilang ke saya kalau dia cinta produk lokal.

Satu lagi, Nus, saran saya, lebih baik kirimkan agen non-Aquarius lagi untuk dia. Sepertinya dia cocok sama agen yang zodiaknya Virgo.

Itu saja, Nus. Maafin yah kalau selama bertugas saya banyak kekurangan. Sekali lagi, tolong jagain dia baik-baik yah. Please.

Oh ya, titip salam untuk ikan paus yah. Saya salah satu penggemarnya. Salam juga untuk teman-teman di markas besar.

Cheers,
Agen Kuple Karmachameleon

PS: Sepertinya sudah saatnya markas besar memasang jaringan internet deh. Manfaatin aja kabel serat optik antarbenua yang ada di dasar lautan. Jadi komunikasi para agen ke markas bisa lebih cepat. Gimana? Saya cuma usul sih.

 

 

Hilang

By Homogenic

Kembali lagi diriku di sini
Harapkan arti yang tak lagi bersemi
Dan kini kau beri ku celah tuk berlari
Lalui waktu yang hilang kembali

Ratapmu satu, ku takkan berhenti
Hindari semua nyata yang terjadi kini
Akui, inilah hari yang kunanti
Lalui waktu yang hilang kembali

Tak lagi redup ku meragu
Letih hariku hindari bayangmu
Sepi melanda saat ku terjaga
Kan ku nikmati kesendirian ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s