Pahit

Sambungan cerita “Aroma Kopi (Tak Terlalu) Pahit” yang terpaksa dibuat.

“Could You Be The One?

 

SEMALAM, HAMPIR PAGI, dia kira kematian akan datang kepadanya. Tapi ternyata dugaannya meleset, karena dunia ini masih menyayanginya.

“Mobil gua menyenggol pembatas jalan. Sudah sedikit melompat ke ruas jalan sebelah. Dari arah depan, cuma ada sorot terang lampu mobil. Gua pikir, jangan-jangan ini jawabannya, ini waktunya, supaya semua bisa lepas, supaya semua bisa dapat yang lebih baik lagi daripada gua,” tuturnya sambil mencoleki taburan whipped cream di atas ice frappucino-nya.

Sahabatnya mendengar cerita itu dengan muka tenang, tapi hatinya dipenuhi rasa takjub sekaligus panik. Ia tak habis pikir kenapa isi pikiran dia bisa sefatalis itu.

“Belum, belum waktunya kau pergi meninggalkan dunia, Pak,” kata sahabatnya dengan wajah merengut. “Elo hanya diingatkan agar jangan lalai dan lupa. Lagipula, gua nggak sanggup menyampaikan wasiat konyol elo itu ke dia. Berat buat gua, kenal saja nggak dengannya.”

 

CIKINI, SEBULAN LALU. Malam itu, di dalam sebuah kafe dengan gaya interior bernuansa art deco, mereka bertemu. Hujan deras masih tak mau berhenti sejak sore tadi. Seorang pelayan lalu menghampiri, membawa secangkir cafe latte dan hot chocolate yang mampu menghangatkan tubuh. Uap terlihat agak mengepul.

“Besok gua akhirnya bertemu dia. Terakhir melihat dia empat bulan yang lalu,” ujarnya, tersenyum. Nada bicaranya pelan, tapi guratan wajahnya sesekali menyuarakan kebahagiaan.

Tangannya mengambil botol berisi gula, menuangkannya ke sendok teh, kemudian memasukkannya pelan-pelan ke dalam hot chocolate-nya. Tiga kali dia mengulang itu, dan mengaduknya. Matanya sesekali menatap ke luar jendela kaca, memerhatikan orang-orang yang berlari-lari kecil menghindari air hujan. Beberapa orang memilih meneduh di pinggir etalase luar kafe. Ada dua sejoli yang bergandengan tangan sambil tertawa-tawa kecil dan memainkan tetesan air hujan. Mereka tak sadar sedang diamati diperhatikan oleh dia, yang hatinya sedang setengah kalut.

Malam hari di Cikini, salah satu lanskap tua ibukota itu, apalagi di dalam bangunan lawas yang berbau khas orangtua, memang melepaskan hawa emosi yang terasa amat sempurna bagi orang-orang yang sedang malas menghadapi kemodernan kota dan ingin berhenti sejenak melawan masalah hidup. Uniknya, inilah cara yang disajikan keruwetan Jakarta untuk membuat betah para penghuninya. Bahkan mampu mengundang tamu dari kota lain bertandang demi melepaskan beban.

“Elo sudah siap? Nggak bakalan salah tingkah nanti? Selama ini kan tak ada kontak balasan dari dia,” tanyanya, penasaran.

“Semoga saja nggak. Tapi memang cukup takut juga sih.”

“Iya, gua tahu rasanya. Tapi untungnya kali ini nggak bertemu berdua saja kan, kali ini bersama keluarga besar kalian.”

“Ya, karena itu juga bikin takut. Takut dari keluarga dia masih nggak terima. Takut kesalahan yang dulu itu diungkit lagi. Tapi yang paling gua takuti, dia benar-benar menjauhi, bahkan di tengah-tengah keramaian acara keluarga seperti ini.”

“Dia nggak akan bertindak sebodoh itu lah. Manusia, apalagi perempuan, dianugerahi kemampuan menutupi emosi terjujurnya dengan amat lihai dan fasih lho,” ucapnya.

“Memang, betul-betul sok teu kau.” Dia tertawa.

Si sahabat tersenyum tak membalas. Dalam hati, ia berani berkata seperti itu karena tahu rasanya. Dulu ia pernah mengalami kondisi nyaris serupa, tapi ia sudah malas membahasnya. Kotak kecil masa lalu itu sudah dikuburkan dalam-dalam di balik tanah dekat bibir pantai di pelosok selatan Jawa Barat sana. Malam itu, adalah milik sahabat jauhnya untuk membuang beban dengan bercerita. Ia tak ingin mengganggu kesakralan malam itu.

“Keluarga elo sendiri sampai sekarang tahu nggak tentang masalah dalam hubungan kalian ini?” tanyanya untuk mengalihkan pikiran, sambil menuangkan sedikit gula ke dalam cangkir cafe latte langsung dari botolnya.

“Sedikit banget gulanya. Mana kerasa,” sergah si sahabat jauh, heran melihat pemandangan itu.

“Kopi itu enakan kalau rasanya agak pahit, lebih sehat juga.”

“Sejak kapan elo suka yang pahit-pahit?”

Ia kaget mendengar pertanyaan itu. Ternyata dia menyadari perubahan kebiasaannya. Tak ada niat menjawab, ia kembalikan bola panas yang liar ke tangan sahabat jauhnya.

“Eh, udah deh, elo belum jawab pertanyaan gua. Keluarga elo sudah tahu belum?”

“Belum. Nggak. Ah biar deh, terserah ntar akhirnya mereka tahu atau nggak. Yang jelas, gua kayaknya masih berharap sedikit, dan celah kemungkinan itu masih ada kan.”

“Selalu ada celah kemungkinan. Tapi bagaimana pun, celah itu sempit, jadi amat mungkin juga elo cuma bisa melewati celah itu setengah badan, atau jangan-jangan malah melukain tubuh elo.”

Si sahabat jauh membuang pandangannya ke luar jendela, ke arah dua sejoli yang masih asyik berteduh.

“Maksud elo?”

Matanya masih menatap erat ke dua sejoli yang dari tadi berdiri membelakangi. Lebih tepatnya, matanya fokus ke tangan mereka sedang bergandengan.

“Gua cuma ingin elo realistis. Pahit-pahitan lah. Nggak usah dipaksain atau berharap lebih lagi, kalau memang nggak bisa. Kasihan dia kan, apalagi dia sudah susah payah melupakan elo dengan cara mengacuhkan yang kasar itu.”

“Tapi elo sendiri kan yang bilang, kalau lupa itu nggak ada. Yang ada itu, manusia yang malas mengingat. Elo juga yang bilang kenangan itu bisa dibangkitkan lagi cuma dengan secuil pemicu,” katanya, nadanya setengah protes.

“Dan elo harus berhenti menjadi pemicunya!”

Dia membanting pelan tubuhnya ke belakang, menyender ke bantalan kursi, mengambil hot chocolate-nya, dan menyeruputnya cepat-cepat, tak memedulikan suhunya yang masih panas. Sedangkan hujan masih saja turun dengan deras di luar. Sisi dalam kaca jendela mulai berembun. Suhu alami di luar telah mengalahkan dingin menggigitnya hembusan pendingin udara di dalam kafe.

Ia melanjutkan ceramah kecilnya. “Buat apa elo terus-terusan jadi pemicu? Ingat Pak, bukankah elo punya banyak utang janji yang belum dilunasin. Pundak kau masih berat dengan janji. Dan orang-orang menaruh harapan besar sama elo.”

Mendengar itu, dia menarik napas panjang. Tangan kanannya memutar-mutar cangkirnya. Telapak tangan kirinya berusaha mengusap-ngusap embun di kaca demi melihat dua sejoli. Tak ada. Ternyata mereka sudah pergi dari situ, memilih menerabas derasnya hujan ketimbang menunggu berhenti yang tak jelas kapan. Dua sejoli itu mengambil resiko terserang flu daripada menanti yang tidak pasti.

“Kok susah banget yah merelakannya. Gua ingin paksakan rela, tapi sulit. Hati kecil gua bilang, gua masih ada harapan,” ujarnya, sambil mengambil ponselnya, membuka kotak pesan, dan mencari satu pesan yang tersimpan di deretan paling bawah dengan susah payah. Ketemu. Dia membacanya, dan tersenyum-senyum sendirian.

“Belum elo hapus juga sms-sms dia itu?”

“Gua masih ingin ingat.”

“Kalau diingat tanpa diresapi dalam-dalam sih nggak apa-apa.”

Dia tersenyum kecut. “Terus gua harus bagaimana?”

“Pelan-pelan alihkan pikiran elo dari dia.”

“Caranya?”

“Yang paling efektif, itu cuma elo yang tahu. Cara gua nggak akan pas diterapin di elo.”

“Cara gua pasti lama prosesnya.”

“Tapi proses lama itu membuat elo belajar.”

“Jangan-jangan malah bikin gua makin jatuh,” timpalnya, pesimis. “Dan besok mau nggak mau gua pasti interaksi sama dia.”

“Bersikap wajar saja. Dia pasti juga begitu. Meski isi hati kalian pasti melawan, jangan pedulikan. Rencana masa depan yang sudah elo bikin jauh-jauh hari jangan sampai hancur gara-gara acara keluarga kalian besok.”

Dia tak mengangguk, juga tak menggeleng. Diam sejenak, lalu berkata, “Omong-omong yah, kadang gua pikir salah satu jalan keluar dari masalah ini, gua dipanggil pulang sama Yang Maha Kuasa.”

“Hah. Serius elo mikir begitu? Memang elo nggak takut kalau ternyata surga atau neraka itu nggak ada. Rugi nanti elo,” timpalnya, sambil tertawa.

“Ya paling akhirnya gua kecewa lagi, iya nggak?”

“Setahun itu berisi 365 kekecewaan. Kata siapa yah itu, gua lupa.”

“Kalau tahunnya tahun kabisat?”

“Ya berarti bonus satu hari kebahagiaan. Bisalah dianggap seperti itu.”

“Semoga besok pas ketemu dia, jadi hari bonus itu.”

“Sorry, tapi tahun 2010 bukan tahun kabisat, Pak,” katanya, menyengir.

“Sialan. Tapi kalau nanti terjadi begitu, gua dipanggil, wasiat gua tolong ntar bilangin ke dia yah soal semua yang gua rasakan ke dia.” Mungkin dia bercanda saat mengucapkan itu.

“Elo lebih baik cari pengacara,” ucapnya, serius.

 

DAVID MAMET, peraih Pulitzer itu, dalam satu esainya mengatakan bahwa keajaiban wanita nomor empat adalah keterbukaan mereka. Menurutnya, pada umumnya pria adalah makhluk-makhluk yang menghindar, menunda, dan menyedihkan. “Kami tidak mengatasi kehilangan, sukses, atau perubahan dengan baik. Wanita tampaknya menghadapi hal-hal ini dengan lebih efektif,” tulisnya.

Jangan-jangan David benar.

“Apa istimewanya dia sih? Lagian, dia itu masih kerabat dekat elo kan.” Ia ingat pernah mengajukan pertanyaan ini sekitar tiga bulan lalu.

“Paling nggak, bersama dia gua nggak pernah merasa ‘kosong’.”

“Kalian dekat hanya dua bulan.”

“Itu sudah lebih dari cukup.”

“Lebih cukup mana kalau dibandingkan sama tujuh tahun pacaran?”

“Nggak semua bisa diukur pakai angka.”

“Tunangan elo masih sayang sama kau.”

“Gua juga masih sayang.”

“Sama siapa, yang pasti?”

Dia terdiam saja.

“Tahu nggak,” ia melanjutkan, “Tapi kalau elo masih percaya agama, Quraish Shihab pernah menulis, ‘Tidak ada di dalam hati dua cinta, sebagaimana tidak ada dalam wujud ini dua Tuhan.’ Silahkan elo tafsirkan sendiri.”

Dia masih juga terdiam. Dan sampai sekarang belum ada jawaban final darinya.

 

—–

 

Every little thing you do is magic lately

Every single thing that you do is cool

Every little thing you do is tragically hip

Even when you tend to play the fool

 

When you open up your tired eyes

And take a look at what’s inside

The mirror on your wall tells you the truth

You’re exactly where you wanna be

There is no room for streams of tears

The sun is shining down the clouds have cleared

 

Could you be the one for me?

Could you be the one for me?

Could you be the one for me?

Could you be the one?

 

Every single thing you do is magic baby

Every little thing that you do is cool

Every little thing you do is fashionably hip

Even when you’re mixing greens with blues

When you open up your paint stained eyes

From the night before when you were high

The smile upon your face tells you the truth

 

You’re exactly where you wanna be

There ain’t no fear of misery

The sun is shining down the clouds have cleared

 

Could you be the one for me?

Could you be the one for me?

Could you be the one for me?

Could you be the one?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s