Kusut

Kembali lagi di momen ini, terulang dalam waktu yang cukup lama. Menatap lembaran kosong putih, sambil menerawangkan pikiran ke mana-mana. Tanpa tujuan. Tanpa arah. Benar-benar melayang. Aneh. Dengan nol gravitasi, pikiran semestinya bebas meliarkan diri, bukan malah memerangkapkan di dalam imajinasi yang nyata-nyata telah dijinakkan oleh emosi.

Detik. Menit. Jam. Satu-persatu berlalu. Sudah dua jam, ternyata. Waktu berjalan tanpa menoleh sedikit saja ke belakang. Mendadak, ada yang mencolek kesunyian. Si pencolek kukuh bertukas, “Sebenarnya ada yang kamu pikirkan. Hanya kamu membenamkannya terlalu dalam, sangat dalam malah. Kamu terlalu meruwetkan diri. Coba pejamkan mata, bagikan kisahmu pada dunia.”

Warna lalu gelap sementara. Ketika terang-benderang datang, selembar kaca di depan mata langsung menembuskan kesenduan. Di luar rupanya kelabu sedang mengungkung sempurna. Langit yang murung itu berbisik pelan, “Alam sedang menangisi dunia yang kerap berlaku tidak adil kepadanya. Sadarkah kamu?”

Ingin rasanya berteriak, meneruskan bisikan langit agar seisi dunia tahu. Tapi daya itu sedang jatuh berantakan. Lonjakan tenaga itu mati sementara. Karena adakalanya hati diberikan kesempatan oleh semesta raya untuk menendang kencang-kencang logika. Sepertinya, senja sore ini melukiskan suasana itu. Jika sudah begini, berpasrah diri mungkin menjadi tindakan bijak untuk menyikapinya.

Bisikan langit yang berbunyi sama terdengar lagi menumpang hembusan udara dingin. Kali ini, mengenai kulit yang hangat.

“Ya, langit. Saya sadar betul tentang ketidakadilan ini. Cukup sekali saja kamu terpa tubuh saya dengan hawa dingin menusuk itu. Sekali lebih dari cukup. Saya bukan orang yang bebal.”

Langit, tahukah kamu bahwa ketidakadilan bukan hanya menimpa dunia, tapi juga diri manusia. Ketidakadilan yang mewujud karena adanya serigala berbulu domba yang menghuni pelosok terdalam jiwa dan pikiran manusia, yang menjelmakan nafsu hewaninya ke dalam perilaku manusia. Memakan sebagian diri, untuk memenangkan sebagian yang lain. Diri yang awam melihatnya sebagai domba, padahal ia serigala yang kelaparan. Maka hati-hatilah.

Dan, ya, adil adalah kata yang sukar dipahami, apalagi untuk diterapkan. Sejarah telah membuktikannya, sejak nabi-nabi masih menghirup udara bersih berabad-abad lampau. Jadi jangan menyuapi saya melulu tentang ketidakadilan. Ia akan terus langgeng dalam kehidupan. Melengkapi yang adil. Dunia akan terus membutuhkannya. Karena dunia adalah jejaring. Saya, kamu, kita, ada di dalamnya, sebagai simpul-simpulnya, yang kadang berperan sebagai benang kusut juga, dan harus diurai.

Si pencolek datang lagi sambil berjinjit, tak ingin langkah-langkahnya terdengar. “Lalu, jika kamu yang menyebabkan sebuah kekusutan, apakah kamu rela memperbaikinya?” tanyanya dengan pandangan yang tajam.

“Tidak adil. Bukan hanya saya yang menyebabkan kekusutan ini terjadi.”

Sayup-sayup, terbesit nada sendu dalam jawaban itu.

Catatan: Saya bukanlah saya, tapi siapa pun yang merasa.

Jakarta, 08/10/09, yang tengah dihimpit sore penuh sendu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s