Kisah Ksatria Bhinneka dengan Puteri Ujung Berung

Dari Jatinangor menuju ke Ujung Berung, lalu kembali ke Jakarta. Secuil kisah perjalanan yang jauh dari kesan dan suasana romantis.


AGAK SULIT memastikan kapan dan di manakah titik awal kisah ini. Apakah pada tahun 2001 ketika kami mulai menjadi mahasiswa dan mahasiswi di kampus yang sama. Atau, ketika kami mulai selalu berkuliah di kelas yang sama sejak medio tahun 2003.

Tetapi sepertinya, momen-momen ketika kami terlibat sebagai panitia kegiatan Orientasi Jurnalistik (OJ) 2004 di Kampus Fikom Unpad, Jatinangor, Sumedang, dapat dijadikan penunjuk awal.

Alkisah, selama lima hari berturut-turut pada paruh awal bulan Maret 2004 itu, kami berulang kali masuk beriringan ke dalam kelas menjelang akhir sesi workshop. Atiek berperan sebagai si gadis pembawa plakat, dan saya bertugas menyerahkan plakat tersebut kepada pembicara workshop.

Mungkin itu pertanda awal kisah hubungan kami, yang ternyata memang terus berlanjut. Perlahan-lahan, tetapi menuju pasti, lazimnya proses pergantian status dua muda-mudi dari ‘single’ ke ‘in relationship’.

Hingga akhirnya sebuah tabloid kampus saat itu, Karung Goni (KG), menyebarluaskan kabar (baca: gosip) kedekatan kami ke seantero kampus lewat rubrik Cot Bacot.

Awak redaksi KG memang selalu haus gosip. Mata dan telinga mereka sudah amat terlatih untuk melayang ke segala penjuru, baik di dalam dan luar areal kampus, guna menemukan ‘cerita belum tentu benar’ lainnya. Mulut mereka pun tidak bisa diam sedikit ketika telah mengetahui ada temannya yang sedang serius melakukan pedekate ke calon pacar sambil malu-malu.

Dan saat itu, setelah puluhan pasangan lain sukses digosipkan oleh KG, giliran kabar kedekatan kami yang dijadikan konsumsi publik. Sumbernya adalah kesaksian dari beberapa awak redaksi KG yang kerap melihat saya mengantarkan pulang Atiek dari Jatinangor ke rumahnya di daerah Ujung Berung, Bandung, dengan menaiki bus antarkota jurusan Cirebon-Bandung.

Nama bus itu: Bhinneka.

Maka dimuatlah ‘berita’ pendek dalam rubrik KG tersebut dengan judul “Ksatria Bhinneka”.

Namun jikalau bisa, sejujurnya saya merasa bahwa kata ‘ksatria’ seharusnya diganti dengan sebutan lain yang saya nilai lebih cocok, yakni ‘cowok yang tidak romantis’. Sebab kami saling menyadari hal tersebut setelah menjalani minggu-minggu pertama bersama.

Ternyata, saya bukanlah tipe cowok yang romantis, sedangkan Atiek selalu mengharapkan kekasihnya untuk berlaku romantis, meski tidak memaksa.

Atiek pun kadang mengeluh sambil bercanda, “Kamu kok nggak bisa romantis sih?”

Mungkin juga akibat tidak bisa romantis, saya menjadi tidak terlalu suka berbasa-basi. Itu pula sebabnya saya tidak bisa lama-lama mengobrol di telepon.

Atiek kebalikannya. Ia doyan mengobrol berjam-jam di telepon hingga melewati batas hari, dan juga menyukai kejutan. Baginya, kejutan adalah pengejawantahan sisi romantis dari diri manusia. Namun sayangnya, saya jarang memberikan kejutan. Kalaupun akhirnya memberikan kejutan, justru sering berujung kegagalan.

“Maaf yah, jadi gagal lagi deh,” ucap saya, menyesal, entah untuk keberapa kalinya selama lima tahun terakhir.

Jangankan romantis atau kejutan, yang ada malah kekonyolan yang sempat membuat seluruh penumpang angkot berwarna pink di Bandung terkekeh.

Ceritanya begini. Pada suatu hari yang terik, saya dan Atiek menaiki angkot dari Gede Bage menuju Ujung Berung. Kami duduk di bangku depan di samping pengemudi. Saya di pinggir kiri, Atiek di tengah-tengah. Bermenit-menit menyusuri jalanan dengan lalu-lintas yang awut-awutan, akhirnya terlihat juga mulut gang yang dituju.

“Kiri ya, Aa’!” seru saya.

Angkot pink itu pun meminggir pelan-pelan, lalu berhenti. Atiek membayar ongkos dengan uang pas berbarengan dengan saya yang sedang membuka pintu. Kemudian, saya pun turun dari angkot, dan langsung membanting daun pintu dengan sadis.

“Aduh!” teriak Atiek sambil mengelus-ngelus lutut kirinya yang baru saja dihantam pintu mobil.

“Ya ampun, maaf lupa,” tukas saya, senyam-senyum.

Di dalam angkot, pengemudi dan beberapa penumpang terlihat tertawa.

“Kamu gimana sih? Jangan ngelamun aja makanya!” ujar Atiek, ketus.

“Hehe, maaf.”

Atiek cemberut, dan saya hanya bisa cengengesan.

Yah begitulah. Tidak romantis bukan?

Bahkan, ketika kami memutuskan untuk menikah, tidak ada prosesi bernuansa romantis nan khidmat. Tidak ada penyematan cincin sambil berlutut. Tidak ada pembacaan puisi atau sajak. Tidak ada pula terdengar lagu-lagu romantis yang mengiringi, apalagi menyanyikan lagu. Adegan seperti saat Adam Sandler menyanyikan tembang “Forgetful Lucy” untuk Drew Barrymore di film 50 First Dates—salah satu film romantis yang disukai kami—mustahil terjadi di sini.

Sama sekali tidak ada kejutan. Semua terjadi begitu saja, seperti memang sudah waktunya untuk berlangsung seperti itu.

Seorang teman dekat bertanya kepada Atiek, “Kayak gimana cara Angga ngelamar lo? Romantis nggak?”

“Waduh gue juga lupa tepatnya gimana. Terjadi gitu aja deh kayaknya. Romantis? Boro-boro, dia mana bisa,” jawab Atiek, tertawa kecil.

 

SUATU MALAM yang dingin dan sepi di salah satu pelosok Jatinangor. Kondisi yang membuat para penghuni daerah itu lebih memilih berbaring tidur. Tetapi tidak bagi saya. Sudah berjam-jam dihabiskannya untuk menonton serial Taken secara maraton. Tidak ada jadwal pacaran pada malam itu. Atiek sedang mudik ke Kudus, Jawa Tengah, untuk mengunjungi kerabatnya yang tiba-tiba sakit.

Di episode-episode akhir serial itu, si gadis kecil lucu yang diperani Dakota Fanning itu sering mengucapkan sebaris kalimat kepada ibundanya, begitu pula sebaliknya. Kalimat itu terasa sangat dalam maknanya. Saya langsung jatuh hati ketika pertama kali mendengar lantunan kalimat itu. Detik itu juga, sebuah teks pesan singkat berisi kalimat yang sama langsung saya kirimkan ke ponsel Atiek.

Atiek suka sekali dengan kalimat ini.

Kalimat yang hingga kini selalu menjadi jurus pamungkas untuk mengakhiri perselisihan. Kalimat yang selalu mampu mengubah rasa marah menjadi senang. Kalimat yang diucapkan untuk menjaga supaya rasa sayang tetap hinggap di dalam diri kami. Baik diucapkan lewat teks pesan singkat maupun secara langsung, kalimat ini mampu menghiasi hari-hari kami sehingga lebih berwarna:

I love you everyday and twice on Sunday.

 

 

PS: Tulisan ini saya bikin seminggu menjelang pernikahan saya dengan Atiek pada Juni 2009.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Ksatria Bhinneka dengan Puteri Ujung Berung

  1. tetep terharu kalo baca tulisan lu ini..
    gak pernah nyangka bakalan happy ending seperti sekarang, semoga selalu begitu ya atiek dan kuple :*
    dan sekarang ladya menambah kebahagiaan itu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s