Galau dan Muram

SEJARAH kelam pernah terpatri di simpul keramaian dekat jalan melengkung dan berbelok-belok itu. Di atas aspalnya, dahulu darah pernah berceceran dengan mengerikan. Dan nyawa teman-teman ditarik dengan paksa dibarengi oleh letusan api dan hantaman rotan. Isak tangis yang meraja-rela dari kerabat dan sahabat terdekatnya lalu menemani dengan setia kepergian abadi mereka.

Tetapi tahun sudah berganti pelan-pelan, seperti agak malas. Serupa dengan wajah kota yang terus bersolek dengan rajin. Sekarang, tak jauh dari aspal yang pernah dilukis dengan darah itu, tepatnya di bangunan yang kerap disesaki oleh raut wajah-wajah senang dan hati yang berbunga-bunga, tragis yang lampau mulai tergantikan dengan sukacita, terutama ketika malam minggu datang. Di atap itu, ratusan orang, pria dan wanita, dari segala latar belakang dan beragam kiblat mode yang dianutnya, tak mau kalah untuk meramaikan malam.

Senyum-senyum dan tawa terbahak-bahak pun saling salip-menyalip seolah tak rela menyisakan ruang kosong dalam putaran waktu. “Dari luar mereka terlihat bahagia, padahal belum tentu juga begitu di dalamnya,” kata tatapan sepasang mata yang berhati sinis.

Lalu terlihat ada kepala yang mengangguk tak sampai sedetik setelahnya. Anggukan yang mungkin menandakan persetujuan, mungkin juga mewakili ketidakpahaman, mungkin bisa pula mengeluarkan arti ketidakpedulian, atau mungkin malah bermakna, “Saya juga tergolong manusia-manusia itu, Bung.” Dan yang terakhir ini mungkin yang paling paripurna.

Manusia, kita, memang kerap mengenakan topeng berbalut jutaan ekspresi, sadar maupun tak sadar. Wajah-wajah manis yang ditutupi persona untuk mengecoh lawan bicaranya. Paras yang belum mau mengungkapkan kejujuran. Karena pada awalnya, berupaya untuk jujur bukanlah persoalan berani atau takut, tetapi demi bertoleransi terhadap keadaan. Namun garis batas itu tetaplah ada. Entah di mana dan kapan kita akan menemuinya, tidak tahu kepastiannya.

“Sabar saja yah,” kata orang muda yang berusaha bijak.

Mendengar rayuan itu, ingin rasanya terjun bebas saja, atau menjadi meteor yang melesat indah menerabas malam bersahabatkan bintang-bintang.

—-

SUDAHLAH, ketimbang merasa gundah gulana tiada henti, lebih baik menghayatinya dengan menari dan bernyanyi saja, bagaimana?

Waltz Muram

Oleh TIKA and The Dissidents

Jangan kau lupakan aku, ku takkan kembali lagi
Sentuhlah garis wajahku hafalkanlah lekuk tubuhku
Menghilang di balik kabut, takkan ku menoleh lagi
Masuklah dan tutup pintu
Menangislah sehari saja
Kan kuanggap dirimu tak pernah terlahir dan hidup
Bertahan dalam penyangkalan
Wajah yang tertawa, hati terkulai
Sendiri bertopang dagu ingat masa bercengkrama
Ku dilanda badai rindu oh logika lindungi aku
Beri aku amnesia ku tak mau ingat dia

 


PS: Ditulis pada Oktober 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s