Dan Kematian Makin Akrab

HEY, mari bersenandung terlebih dahulu sebelum saya ajak masuk ke alam mimpi saya.

—–

Now My Feet Won’t Touch The Ground

Coldplay

Let me go, boys, let me go
Push my boat from the highest cliff to the sea below
Rocks are waiting, boys, rocks await
Swim down from the sky and catch me like a bird of prey

Now my feet won’t touch the ground
Now my head won’t stop
You wait a lifetime to be found
Now my feet won’t touch the ground

Singing, now my feet won’t touch the ground
Now my head won’t stop
You wait a lifetime to be found
Now my feet won’t touch the ground
Now my feet won’t touch the ground

—–

DUA PULUH ENAM TAHUN. Sudah lewat seperempat abad. Angka yang cukup melampaui batas prediksi awal saya, sebenarnya. Karena dahulu, ketika masih belajar menuliskan abjad dengan tinta, saya kira bumi akan luluh-lantak saat saya sedang berjuang menghapal deret unsur kimiawi. Otak saya yang tidak tahu diri saat itu dengan sok menerawang jauh demi memastikan masa depan dunia.

Hidup saya tidak akan lama, bisik saya dalam hati ketika itu.

Nyatanya, yang terjadi beberapa tahun selanjutnya adalah saya hanya bisa terkekeh. Karena pada hari yang diteropong oleh para ahli nujum akan menjadi hari pembalasan, dan kemudian ramalan itu disebarkan secara invasif oleh media massa, yakni pada hari kesembilan, bulan kesembilan, dan tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, ternyata kesialan semata yang menghampiri saya. Jatuh dari motor yang saya tumpangi saat pagi hari, di tengah kesumpekan jalan raya.

Sakit tidak didulang tubuh memang, tetapi malu sudah tentu dibenamkan dalam-dalam di memori. Seumur hidup.

Dua tahun lalu berjalan lambat, dan saya dipertemukan dengan kehidupan sunyi di atas bukit, yang dingin dan sepi ketika gelap datang. Di situ, saya juga diperkenalkan dengan kehidupan sederhana dari sebuah keluarga yang bersahaja. Dan yang paling ajaib, di atas bukit itu, melalui sebuah buku tua yang saya temui di rak penuh debu milik sebuah kios, saya juga dapat menjiwai rasa kesendirian dan kesepian seseorang yang hidupnya berpuluh-puluh tahun lebih dulu daripada saya: Soe Hok Gie.

Entah bagaimana prosesnya, catatan harian selama Gie hidup itu bisa terbangun intim dalam diri saya. Mungkin inilah dampak kehebatan dari untaian kata-kata yang sukar tergantikan oleh paduan gambar. Ada salah satu tulisannya yang saya paling ingat.

“Saya tak tahu mengapa, saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tetapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.”

Kalimat-kalimat itu meluapkan gabungan rasa kesepian yang tak bertepi, yang kemudian menerobos jauh ke lubuk hati saya. Hingga sekarang, imaji yang disuguhkan dari kalimat Gie itu hampir selalu muncul ketika saya sedang merapat ke tepi jendela buskota tanpa pendingin yang melaju pelan pada malam hari. Terutama belakangan hari ini, ketika kesepian dan kesendirian itu begitu dominan menguasai emosi saya.

Beberapa hari setelah menulis catatan itu, Gie wafat di atas Semeru, puncak tertinggi Pulau Jawa. Napas terakhir Gie dihembuskannya dua hari menjelang ulang tahunnya yang ke-27. Pemuda itu meninggalkan dunia dengan warna putih yang menyelimuti dirinya. Seperti yang telah dikatakannya, hanya di puncak gunung aku merasa bersih.

Gie akhirnya pulang ke rumah abadinya di usia muda. Dan di firdaus sana, ia mungkin tengah menangis bahagia, karena ia pernah berujar, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Kekuatan teramat besar di luar sana seolah sedang mengingatkan saya sesuatu hal yang pasti dan mustahil untuk dikelabui: kematian.

Betulkah yang mati muda akan bahagia? Bisa ya, bisa juga tidak. Saya tidak tahu. Bukankah ukuran kebahagiaan pada setiap insan sendiri selalu goyah, tidak kukuh? Apapun jawabannya, tetapi yang jelas, saya sendiri belum tentu bahagia jika harus mati muda. Masih banyak pekerjaan yang belum terlaksana. Masih banyak hutang kehidupan yang belum terbayarkan. Masih banyak mimpi yang belum terwujud.

Tanggal dua puluh di bulan kesembilan itu kemudian menghampiri saya lagi. Namun kedatangannya kali ini terasa ada yang berbeda. Ada semacam kepalan semu yang meninju batin saya. Ada wujud tanpa bayang yang menampar pipi kanan dengan lembut sambil bertutur halus, “Ingatlah, kamu keturunan makhluk yang ‘diusir’ dari surga.”

Kelebatan-kelebatan segala memori itu, indah maupun tidak, lalu silih-berganti menerobos benak. Membuat saya termenung panjang.

Di malam pertama memasuki tahun ke-26 itu, seketika saya hanya bisa memandang langit bersih di pelosok tengah Jawa. Mencermati bintang-bintang yang letaknya nun jauh di sana. Mengagumi titik-titik putih di atas kanvas hitam buatan alam. Sebuah titik yang mewakili kemisteriusan. Sedangkan titik lain menyuarakan kesunyian, karena gegap-gempita kehidupan yang tak terelakkan masih berdiri tegap di atas setiap jengkal tanah bumi ini—sebuah arena pertaruhan dan permainan umat manusia.

Tak disangka-sangka, imaji serupa yang kerap hadir ketika saya sedang duduk melamun di pinggir jendela buskota sekonyong-konyong mengetuk pintu. Ia meminta izin untuk menemani saya. Belum apa-apa, tahun ke-27 pun terasa amat dekat. Dan tersadarlah bahwa saya belum mencipta ‘sesuatu’ apapun dalam rentang hidup selama ini.

Pertanyaan penting lalu menyeruak. Apa jadinya kalau sebelum tibanya tahun ke-27 sepasang telapak kaki saya ternyata tak lagi mampu menjejak tanah, tetapi justru malah terkuburkan?

Hanya sahut-sahutan bunyi jangkrik yang seolah menjawabnya. Sisanya lagi-lagi sepi.

Sehari setelah malam itu, saya menemukan kalimat menarik dari seorang bijak, yang mungkin dapat membuat sedikit terang situasi. “Some said, synchronicity is served as a sign that we’re on the right path.”

Sewaktu berbagai kebetulan dan beragam kesamaan kemudian menyerbu masuk jalur kehidupan saya belakangan ini, bisa jadi mereka sebetulnya sedang berperan sebagai penanda atau penunjuk arah. Namun yang rumit, saya sendiri (dan juga mungkin kamu) tidak tahu apakah dan ke manakah ‘right path’ bermaksud. Saya sendiri sadar bahwa ‘right path’ itu sendiri masih sangat misterius dan tidak pasti. Semisterius isi galaksi-galaksi di luar angkasa yang tak berbatas di atas sana dan setidak pasti isi kejiwaan manusia.

Tetapi, konon katanya hal yang pasti di dunia ini hanyalah angka-angka. Karena itu, di atas meja kotak, di antara santapan makan malam di tengah keramaian kota, deretan angka hingga bilangan ribuan telah diresmikan. Batu pondasi pertama telah ditanam. Mulai saat itu, saya akan berpatokan pada angka ribuan tersebut. Saya akan patuh dan setia kepadanya, hingga yang menjadi akhir menyambangi.

Di bawah langit malam yang kusam, di atas beton bangunan bertingkat berlapis kaca, angka ribuan itu tak ubahnya seperti bunyi sumpah sambil diiringi satu doa, “Semoga perwujudan nyata ribuan angka ini kelak dapat membuat bangga si malaikat kecil saya dan kamu.”

Catatan: Judul tulisan ini dicomot dari judul sajak karangan Subagio Sastrowardoyo yang berbunyi sama.


—–

Dan Kematian Makin Akrab
(sebuah rekwin)

Oleh Subagio Sastrowardoyo

Di muka pintu masih
bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak
mengerti—mengapa ia tinggal diam
waktu berpisah. Bahkan tak
ada kesan kesedihan
pada muka
dan mata itu, yang terus
memandang, seakan mau bilang
dengan bangga:–Matiku muda—
Ada baiknya
mati muda dan mengikut
mereka yang gugur sebelum waktu
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit
tua, melainkan dia
yang berdiri menentang angin
di atas bukit atau dekap pantai
di mana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam
di gigir gunung atau di taman-taman
di kota
tempat anak-anak main
layang-layang. Di jamlarut
daun ketapang makin lebat berguguran
diluar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan
berkelakar
yang mengajak
tertawa—itu bahasa
semesta yang dimengerti
Berhadapan muka,
seperti lewat kaca
bening
Masih dikenal raut muka,
bahkan kelihatan bekas luka
dekat kening
Ia menggapai tangan
di jari melekat cincin.
—Lihat, tak ada batas
antara kita. Aku masih
terikat kepada dunia
karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput
gagasan yang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam
perpisahan, semua
pulih,
juga angan-angan dan selera
keisengan—
Di ujung musim
dinding batas bertumbangan
dan
kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah
cilik tak lagi
sedih karena layang-layangnya
robek atau hilang
—Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri
dengan sayap
ke langit—

 

 

 

PS: Ditulis pada Oktober 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s