Aroma Kopi (Tak Terlalu) Pahit

“Every story is a love story,” kata Deepak Chopra.

(Sambil membaca tulisan rancak ini, klik link-nya untuk menyimak lagu-lagu di sini)

“The Winner Is”

 

DALAM LEMBARAN undangan pernikahan seorang teman, ada kutipan yang dicomot dari Kitab Jawa Kuno di lembar keduanya. Bunyinya:

Asmarandhana

Gegaraning wong akrami, Dudu brana dudu rupo,

Amung ati pawitane luput pisan kena pisan.

Lamun gampang luwih gampang.

Lamun angel, angel kelangkung, tan kena tinumbas arta.

Pegangan orang berumah tangga, Bukan harta dan penampilan

Hanya kemantapan hati modalnya,

Jodoh digariskan sekali seumur hidup,

Bila telah ditakdirkan, Semua akan mudah, mudah dan lancar

Namun bila belum ditakdirkan, sangat sukar terlaksana

Bahkan tak terbeli dengan harta.

 

PONSEL DIA BERBUNYI. Ada panggilan telepon masuk dari sahabatnya. “Nggak ngaruh gua nonton (500) Days of Summer ternyata. Balik-balik lagi gua sama ke dia, kontak lagi,” ungkapnya.

Mendengar pengakuan itu, dalam hati dia menarik napas panjang, tapi fisiknya malah ingin bergelak tawa. Bukan untuk menertawakan sahabatnya, namun justru karena akhirnya terbukti dengan sendirinya bahwa rasio kerap takluk dan tak berkutik di bawah ketiak “kehendak”—yang di dalamnya bercampur aduk hasrat, insting, nafsu, dan pemikiran. Apa yang dirasakan dan dilakukan oleh sahabatnya itu jelas bukan sebuah kesalahan, karena dasar pemikirannya untuk bertindak tidak pernah bebas nilai. Semua manusia, yang ditimpa masalah, pernah melakukan hal yang sama.

Pembicaraan via telepon itu tidak lama. “Nanti kalau ketemuan gua ceritain lebih banyak,” katanya.

“Jangan Kau Lepas”

 

TOM HANSEN keluar dari pintu apartemennya di pagi hari yang bahagia, baginya. Wajahnya bersinar. Sunggingan senyumannya tak henti-henti mengalir sepanjang perjalanan kakinya ke kantor. Gerakan tubuhnya yang lincah menebarkan pesona. Orang-orang di jalan yang melihatnya pun seolah ikut bahagia. Mereka lalu menari-nari seirama dengan lagu.

“You Make My Dreams”

Betul. Tom sedang dimabuk cinta. Summer Finn dilihat oleh hatinya sebagai ‘the one’ yang akan membahagiakan dirinya sampai akhir hayat. Summer diyakini Tom sebagai pasangan abadinya. Indah memang. Dan, perasaan ataupun perilaku sosok fiktif Tom sejujurnya mewakili siapa saja yang pernah atau sedang merasa jatuh cinta.

Bunga-bunga bermekaran. Cit-cit-cuit merdu koor puluhan burung gereja di pagi hari. Matahari yang bersinar cerah. Gundukan awan cantik yang meliarkan imajinasi. Begitulah wajah dunia yang merekah demi para penghuninya yang sedang mencinta. Malu untuk diakui, tapi jatuh cinta memang terkadang membuat seseorang bisa lupa diri dan berlaku hiperbolik.

Namun, kita tahu, dunia sedang dilanda perubahan iklim yang mendekati titik terekstrimnya. Awan mendung, angin ribut, dan hujan deras sering hadir melanggar jadwal musim. Persis seperti perubahan emosi dan persoalan patah hati yang sukar diprediksi.

Tom jelaslah bukan cenayang. Dia, sekali lagi, cuma sedang mabuk. Dan layaknya orang mabuk, tentu dia tidak sadar kalau sedang dikerjai oleh nasib, takdir, atau momen-momen penuh kebetulan. Jadi, amat mungkin perasaan jatuh cintanya Tom hanya ‘mimpi’ belaka yang semu. Halusinasi. Atau, jangan-jangan delusi.

Sadis.

 

AWAL DESEMBER lalu, tenggat waktu sudah terlewat satu hari. Tiga minggu sudah diberikan untuk berpikir dan menentukan jawaban. Tapi tampaknya sia-sia. Dia masih belum yakin juga. Malahan dia kembali ke watak aslinya: cuek dan menganggap ajakan pacarnya untuk bertunangan seperti tidak pernah terucap.

“It Means Nothing”

“Gua capek. Dia begitu lagi, udah sering banget,” keluhnya. “Ibarat kata. Kadang dia terbang tinggi supaya gua nggak bisa menangkapnya. Terus kalau lagi bosan terbang, dia turun dan ngajak gua jalan-jalan. Tapi nanti dia tiba-tiba terbang lagi tanpa woro-woro dulu. Dan sekarang gua nggak tahu dia lagi terbang atau jalan kaki di bumi.”

“Terus, elo mau nunggu jawaban dia sampai kapan?” sahabatnya penasaran.

“Ya, sampai dia jawab.”

“Kapan?”

“Mana gua tahu. Elo tanyalah sama hatinya?” jawabnya, kesal.

“Gua mau tanya sama hati elo aja.”

“Dalam gua sama dia, brur.”

Sahabatnya menghela napas panjang. Setiap ada kata ‘dalam’ di tiap topik obrolan ini, dia kehilangan kata-kata lanjutan. Sulit untuk memaksa ide dan saran kepada orang-orang yang sedang ditusuk panah dalam-dalam oleh si mungil keriting Cupid. Si sahabat paham, karena pernah mengalami yang sama.

“Apa sih yang nyebabin si calon tunangan elo itu nggak yakin sama elo?”

“Kemungkinan besar gara-gara masa depan.”

“Bukannya masa depan elo udah hampir bisa dipastiin: mapan.”

“Bukan soal itu aja, tapi masa depan hubungan kita nanti.”

“Apa bedanya? Emang elo nggak pernah ngeyakinin dia?”

“Ah, sampe capek. Malah, saking seringnya, virus nggak pede dia kayaknya mulai nular ke gua.”

“Lho, kok gitu.”

“Bukannya ketidakpastian ada di mana-mana. Kan elo sendiri yang pernah bilang begitu. Lupa?”

“Kalau ketidakpastian jadi alasannya, mendingan kalian mundur aja lah. Untuk melakuin semua hal butuh keberanian, hal kecil atau gede.”

Dia terhenyak mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Sori kalau gua omong kasar,” si sahabat melanjutkan. “Tapi manusia diciptain untuk tinggal di dunia ini untuk berbuat dosa, besar atau kecil. Waktu Tuhan mengirim Adam dan Hawa ke bumi, Doi tahu betul potensi manusia untuk berbuat dosa itu gede. Tapi Dia tetap melakuin itu supaya manusia belajar dari kesalahannya. Tuhan aja berani ambil resiko, kenapa kalian nggak? Lagipula, berbuat dosa itu seperti mikirin ketidakpastian. Elo nggak bakal tahu kapan berbuat dosa, kecuali elo tahu lagi berada di jalur untuk berbuat dosa. Dan gua yakin kalau yang elo jalanin sekarang bukan jalur yang jelek.”

Si sahabat itu terus mengoceh.

“Dunia nggak akan pernah jadi sempurna. Jadi kalau elo, dan juga dia, berharap ketidakpastian bisa jadi pasti, berarti sama aja kalian sudah mengingkari kodrat bahwa surga itu tidak ada. Karena yang sempurna cuma ada di surga. Elo paham kan arah omongan gua?”

“Iya.”

“Percaya diri aja lah untuk melangkah. Yakinin calon elo itu lah. Tapi kalau dia nggak yakin juga, ya sudah, berarti jawabannya udah mulai kelihatan kan. Nggak usah elo paksain, nggak demokratis kan.”

“Cinta pun perlu demokratis yah?

“Dari kamu, oleh kamu, untuk kamu.”

Mereka berdua tertawa.

 

ATAP GEDUNG di Jalan Salihara pada Oktober tahun lalu. Dia sendirian. Temannya sudah balik pulang. Ketika itu, dalam beberapa minggu terakhir, entah bagaimana, telah tumbuh rasa aneh dalam dirinya. Ada keasyikan yang tak tertandingi yang muncul saat menyepi di tengah kerumunan orang-orang. Makanya, dia memilih bertahan di tepi gedung. Memojok di belakang.

Orang-orang pun makin banyak yang berdatangan. Satu-persatu beberapa wajah yang terlihat di atap itu dia kenali dari tulisan-tulisannya.

Sudah jam 10 malam, dan suasana makin temaram, makin ramai, tapi tak terlalu berisik. Sedang ada acara di situ: pertunjukan musik akustik dan pembacaan puisi. Musisi diminta untuk merespon puisi dalam bentuk komposisi musik. Selain itu, juga ada poetry slam. Di sesi ini, siapa saja yang mau menunjukkan kebolehan sebagai penyair dipersilahkan tampil ke depan membacakan puisi.

Satu penyair tampil. Dia pernah membaca cerita pendeknya dan bersapa-sapa singkat dengannya saat masih berkuliah dulu. Malam itu, di atap, penyair itu benar-benar membanting puisi, mengucap beberapa kata bermakna kasar dan kotor, sambil menggoyangkan area alat kelaminnya. Mungkin tingkahnya itu mesti ditelan bulat-bulat karena alasan kebebasan berekspresi. Tapi mungkin ada orang lain di atap itu yang jengah. Yang pasti, sekitar seminggu kemudian, majalah berita terbesar di negeri ini menyayangkan ‘kecelakaan’ dalam poetry slam tersebut.

Dia pun, jujur saja, lebih menunggu musisi yang didaulat tampil malam itu: TIKA and The Dissidents. Dia menunggu mereka naik panggung lagi. Sebelumnya, sudah dua lagu, “Polpot” dan “Uh Ah Lelah”, dinyanyikan band itu. Kini, mereka sedang rehat sebentar, karena seorang mahasiswi dari Universitas Udayana sedang ‘membanting’ puisi dengan suara berat dan penuh penghayatan.

Sehabis itu, Tika kembali mengambil alih atensi kerumunan, dan menyanyikan lagu “Waltz Muram” yang membuat dia agak tertegun, tersenyum kecut, menikmati irama dan liriknya sampai dalam ke hati.

“Waltz Muram”

Ada satu cuplikan bunyi lirik lagu yang cukup menarik, mengundang otak dan hatinya berkolaborasi untuk menafsirkannya: “Ku dilanda badai rindu oh logika lindungi aku/Beri aku amnesia ku tak mau ingat dia.”

Rindu, bukankah perasaan ini bekerja dari bahan bakar yang bernama emosi? Sedangkan emosi, bukankah kadangkala ia menjadi musuh bebuyutan logika? Mana yang menang jika keduanya saling adu jotos? Jawaban yang tepat sepertinya tak pernah ada. Barangkali keduanya memang diciptakan dengan kedudukan setara; bersifat komplementer yang mesti diterima manusia; satu paket yang sesekali menciptakan kegalauan, keresahan, dan kegundahan.

Lalu ini, amnesia. Yang tertimpa mendadak kutukan makhluk satu ini mungkin layak disebut kesialan. Tapi ketika makhluk ini sengaja diinginkan, ia ibarat jalur pelarian. Si peminta sudah putus asa, mungkin. Atau, itu merupakan jalan satu-satunya yang terbaik, mungkin. Entah meminta lupa itu bijak atau tidak. Yang jelas, dia percaya lupa itu tidak ada. Manusia saja yang malas mengingat. Kenangan itu bisa dibangkitkan kembali dengan secuil pemicu.

Dan, yang pasti, dia juga meyakini bahwa keresahan atau apa pun yang membuat suasana hidupnya tidak selalu tenteram justru membuat dirinya lebih hidup dan punya makna. Baginya, ini lebih bernilai ketimbang menikmati hidup semata dengan cara tidur sepanjang hari di waktu libur.

Memori dia kemudian berkelana ke waktu yang lalu, saat menonton Eternal Sunshine of the Spotless Mind untuk pertama kalinya. Dikisahkan di film itu, walaupun Joel dan Clementine sudah mati-matian menghapus memori indah mereka demi saling berpisah tanpa bekas, tapi… ya, pertemuan mereka terulang lagi. Sebuah de javu raksasa, karena adakalanya perasaan tak akan pernah bisa musnah oleh sebab apa pun, tak terkecuali oleh kematian sekali pun.

Tiba-tiba saja tubuhnya tak mampu digerakkan, terhimpit ruang sempit dan hitam. Kepalanya masih dapat digerakkan. Dia coba tengadahkan ke atas, tampak lingkaran langit. Lalu, bum. Suara keras memekakkan isi telinganya, dan dia sudah ada di udara. Melesat tinggi dengan kecepatan yang membuat sulit untuk bernapas. Yang terang pun lambat-laun menjadi gelap. Tapi dia senang dengan gelap yang paripurna itu. Menutup mata dan mengistirahatkan otak sejenak boleh jadi pilihan yang bijak.

Saat gelap itu, satu kalimat lawas dari GM terbesit di pikirannya, “Sebab semua masyarakat dan zaman adalah detail yang akan lewat.”

 

MEREKA BERLARI. TERUS BERLARI. Sewaktu pagi yang dingin dan kabut masih malas naik ke langit, mereka berlari mengitari kampus Unpad yang berbukit-bukit itu. Tidak cepat, santai saja. Kecepatan lari tak jauh selepas dari garis start memang jangan diumbar terlalu bernafsu. Soalnya, mereka bukan berlari demi torehan waktu tercepat, atau berlari dari masalah. Mereka, berempat, berlari demi kebersamaan dan kesepahaman mengenai sebuah impian: menikmati dan melewati masa sekitar lima tahun dengan sebaik-baiknya, lalu menerapkan ilmu dengan sebaik-baiknya di belantara hutan modern.

Makanya mereka berlari, seminggu tiga sampai empat kali, demi tubuh yang bugar. Berlari supaya waktu melintas dengan cepat.

Kemudian datanglah pagi itu. Masih pukul 6. Masih musim hujan. Aspal masih basah. Matahari masih tampil malu-malu. Gunung masih diselimuti kabut. Langit pun abu-abu. Warna sendu pagi itu bukanlah dukungan yang bagus untuk memulai hari dengan berlari. Tapi mereka memaksa turun ke gelanggang demi mewujudkan impian itu. Keluar dari gerbang rumah kos dengan mulut masing-masing terkunci.

Untuk menuju lintasan lari, mereka harus terlebih dahulu berjalan pelan melewati jembatan Cincin—jembatan tua yang masih berdiri kokoh dan dulu di zaman kemerdekaan merupakan jalur kereta api. Entah kenapa dinamakan Jembatan Cincin, tapi yang jelas bangunan ini punya cerita tragis yang berhubungan dengan masalah cinta.

Beberapa tahun yang lalu, di tengah jembatan itu pernah menjadi titik lepas landas satu orang warga yang bunuh diri akibat patah hati. Tubuhnya ditemukan sudah terhempas di atas kali kecil di bawah jembatan. Di bawah, tak jauh dari jembatan, ada kompleks makam desa yang tak terlalu luas. Dan tubuh warga yang bunuh diri itu dikuburkan di sana. Jadi, ya, suasana di atas jembatan maupun di kolong jembatan memang cukup menyeramkan saat malam.

Selepas jembatan, masuk jalan setapak, lalu keluar di seberang Fakultas Sastra. Garis start mereka berawal di sana. Tanpa aba-aba, mereka mulai berlari.

Ada yang aneh. Jika diperhatikan, kondisi pada Minggu pagi itu berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Tak seperti biasanya, lintasan lari mereka mati. Sepinya mengalahkan komplek makam paling angker. Bukan hanya itu. Kalau dulu mereka berlari sambil tertawa dan dengan gaya yang ekspresif, kini mereka dengan lebih banyak diam. Seolah berlarinya mereka pagi itu cuma untuk membunuh waktu dan menuaikan kewajiban.

Mereka saling tak peduli lagi satu sama lain. Bahkan mereka tidak mau berlari sambil bersebelahan. Berempat berlari saling salip-menyalip tanpa suara tawa. Tak mau kalah, sama-sama ingin berada terdepan. Tak ada yang membantu ketika salah satu jatuh terpeleset karena lintasan yang licin. Padahal mereka bersahabat karib sejak pertama kali duduk di bangku SMA.

Di depan Fakultas Psikologi, jarak antar mereka sudah jauh merenggang. Tiga yang terdepan sudah melesat. Sedangkan, satu yang paling belakang benar-benar sudah kehabisan napas. Pandangan matanya sudah berkunang-kunang. Kepalanya mulai pening. Keringat dingin menetes tanpa henti. Dia juga sudah tidak merasakan ada air ludah lagi yang tersisa di rongga mulutnya. Energinya hampir habis.

Memasuki wilayah di depan Fakultas Kedokteran, 100 meter menjelang garis finish, dia menyerah. Dia jatuh terjerembab. Lutut kanannya berdarah tergores kerikil aspal yang tajam. Dia terdiam, lalu membalikkan badan. Terlentang menghadap awan mendung. Hujan deras lalu turun. Tiga temannya yang lebih dulu menyentuh garis finish entah sudah di mana, hilang, seperti ikut tersapu air hujan.

Perlahan, di tengah guyuran air hujan, ingatan dia mundur ke dua bulan yang lalu. Saat dia baru saja putus cinta dari kekasihnya, wanita yang diyakini bakal menemaninya hingga akhir hayat dan akan membantu mewujudkan impian-impiannya. Tapi sayang, pada satu pagi yang cerah, wanita tersayang itu telah membuat keputusan. Ia tak melihat masa depan yang cerah dalam hubungan mereka.

“Sudahan saja yah. Mimpi kamu ketinggian. Sadar dong!” ucapnya, ketus.

Kata-kata pamungkas yang nyelekit dan membuat dia berpikir keras sepanjang malam selama berhari-hari, tak bisa tidur. Hatinya hancur. Begitu pula rasa percaya dirinya. Di otaknya sekarang mulai tertanam pemahaman bahwa impian hanyalah kata yang merujuk pada satu hal: omong kosong.

Di atas aspal yang basah, dengan perih masih terasa di lutut dan kepala yang pening, memori itu membuatnya sedih, karena jauh di lubuk hatinya, dia merasa impian itu masih punya jalan untuk mewujudkan eksistensinya ke dunia nyata. “Tapi, saya sendirian sekarang, tiga teman terbaik dan wanita tersayang sudah mengabaikan saya,” bisiknya pada diri sendiri.

Masihkah ada harapan?

“Dulu pun kamu sendirian, bukan?”

Ada suara tegas dan keras yang mengalahkan gemericik hujan. Suara yang tak ada wujudnya.

Lalu kata yang sama berulang-ulang terdengar. Karena takut, dia lalu memejamkan mata dan menutup telinga. Gagal. Suara yang sama itu malah terdengar makin nyaring. Dia ingin bangun dari aspal dan berlari, tapi tidak bisa, tubuhnya terasa berat. Yang ada, dia malah tak bisa melihat. Semuanya gelap total. Di kala itulah, dia mendengar suara lagi. Kali ini nadanya lebih halus, “Energimu akan kembali lagi seperti dulu, tiga tahun yang lalu. Berkelanalah.”

Suara itu dia simak seperti menerima belaian tangan ibunda yang paling mulia dan bajik ke rambut anaknya.

“Across the Universe”

 

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN ini sempat bersahabat dekat, cuma dua bulan.

Mereka ini dulu tak bisa dipisahkan, sebenarnya. Tanpa disadari oleh mereka, rasa saling membutuhkan sebetulnya hadir di dalam diri masing-masing. Hanya saja mereka kerap kali menyangkal. Letak persoalannya adalah kondisi penuh kecanggungan: si laki-laki sudah memiliki calon partner hidup sehidup semati, sedangkan si perempuan baru mengakhiri hubungannya dengan tunangannya.

Dua bulan yang menentukan, kalau kata si laki-laki. Dua bulan yang membuat rancangan masa depannya terancam. Dia bimbang. Tiba-tiba dia merasa dan memprediksi soal kebahagiaan lebih yang akan didapat jika bersama dengan si perempuan. “Memang dengan calonmu istrimu sekarang nggak akan bahagia?” tanya sahabatnya.

Dia menggeleng.

“Jadi bisa bahagia juga toh sebenarnya?”

Menggeleng lagi.

Dua gerak tubuh yang memastikan hatinya telah terbelah dua. Masalahnya, dia sendiri belum bisa memastikan siapakah yang berhak memiliki belahan porsi hatinya yang terbesar. Selama dua bulan itu, dia berupaya mencari tahu. Tapi belum ada jawaban yang pasti. Bahkan sampai sekarang, ketika dua bulan yang mengakrabkan mereka itu telah berlalu.

Di hari ke-61, si perempuan sadar tak ada masa depan dalam hubungannya ini. Si laki-laki pun tersadar, walaupun belum merelakan karena dia masih menaruh harapan, tapi di sisi lain dia juga tak ingin mengecewakan. Yang ada, sekarang dia setengah hati dalam merancang hidup dengan calon istrinya karena diselingi kelebatan bayangan kenangan dari dua bulan itu. Apalagi, kini si perempuan benar-benar mengacuhkan dirinya, seolah memaksa untuk hilang dari dunia dengan cara yang kasar.

Si laki-laki kecewa dengan pengacuhan itu.

“Sweet Disposition”

“Kamu harus terus maju dengan calon istrimu, bukankah sudah tujuh tahun kalian pacaran,” ujar sahabatnya. “Cinta itu perlu mengambil resiko.”

“Walaupun resiko itu nanti buruk dan bisa menghancurkan rumah tangga?”

“Resiko tak pernah baik, tapi setidaknya kamu berjalan sesuai rencana dan yang pasti harus selalu optimis.”

Si sahabat sebetulnya mengambil resiko ketika mengucapkan itu, karena dia sendiri belum pernah berada di posisi yang sama. Dengan kata lain, dia sadar mungkin telah sok tahu. Tapi dia pikir itu lebih baik ketimbang menyarankan untuk melakukan pengkhianatan. Lagipula, dia yakin kalaupun sahabatnya itu batal menikah, yang mungkin terjadi adalah keterpurukan, apalagi si perempuan sudah betul-betul mengabaikannya. Dia tahu betul karakter sahabatnya itu. Namun alasan yang pamungkas sebenarnya adalah hitung-hitungan peluang atas dasar investasi waktu. Sederhana saja. Keakraban selama dua bulan melawan tujuh tahun waktu pacaran, di mata dia, jelas sudah terlihat siapa yang bakal menang.

“Kalau nanti tidak bahagia dengannya bagaimana?”

“Memangnya kamu tahu cara mencari kebahagiaan yang paling jitu?”

Kedua sahabat itu terdiam, cukup lama.

Hidup adalah ramuan kebahagiaan dengan ketidakbahagian. Tidak pernah ada dalam sejarah peradaban umat manusia yang menyatakan bahwa ada satu manusia yang bahagia melulu, meski hampir semua manusia menghendaki kebahagiaan dalam hidupnya.

“Dia itu mendekati sempurna. Cara tertawanya, cara marahnya, ekspresi sedihnya, nasehat-nasehatnya,” katanya, memecahkan keheningan.

“Jadi karena itu bisa memberi kebahagiaan buat kamu?”

“Iya, tak salah kan.”

Si sahabat tersenyum sambil berkata pelan.

“Pernahkah kamu berpikir kalau kesempurnaan itu bisa membosankan? Yang kamu cari itu seharusnya little imperfections that makes she perfect for you.”

“Butuh waktu yang pasti.”

“Pelan-pelan saja.”

 

BODOH. TOLOL. Dia terus memaki-maki dirinya sendiri.

“Kenapa?” saya penasaran. Pesan singkat terkirim.

“Dia masih mikirin mantannya. Dia pikir sosok ideal ada di dalam diri mantannya itu.”

“Berarti sudah waktunya melangkah berbalik arah. Ini petunjuk besar buat elo.”

“Iya. Sudah saatnya tutup buku. Nggak ada lagi cerita-cerita tentang dia. Melanjutkan hidup tanpa dia.”

“Setidaknya elo nggak diam selama ini. Elo masih mau berusaha.”

“Iya, thank you yah.”

Itulah pesan singkat terakhir yang membahas subjek tersebut.

 

SUATU PERCAKAPAN DI KEDAI KOPI. Petang itu, ada perkara penting yang harus dibahas di antara dua sahabat itu.

“Gua batal nikah.” Raut wajahnya datar saja saat mengatakan kabar mengejutkan itu. Kenapa, tanya dia.

“Pertentangan keluarga gua dan keluarga dia. Beda karakter. Beda visi misi.”

Dia cuma bisa melongo. Visi misi? Keluarga memang tak ubahnya organisasi. Ada semacam tujuan, target, dan visi misi. Ada kultur kerja dan pola komunikasi yang khas di dalamnya. Ada organisasi yang bergerak dengan kaku, ada pula yang fleksibel. Ada organisasi yang lifecycle-nya merentang lama, ada juga yang pendek.

Tapi apakah detail maksud dari visi misi ini?

Dia menjawab pendek, “Materi, duit.”

“Emangnya nggak bisa dikompromiin lagi? Harta bisa dicari.”

“Nggak semua kisah cinta bisa dikompromiin, duit juga termasuk.”

“Kolot sekali.”

“Jangan naif gitu lah.”

“Jadi uang bisa beli kebahagiaan ya? Tragis amat.”

“Mungkin juga sih. Tahulah. Atau nggak, karena uang itu penghantar nafsu, jadi mungkin bagi keluarganya cinta itu juga nafsu kali.”

Mereka sama-sama tertawa getir.

“Tapi elu nggak apa-apa? Masih sehat mental kan?”

“Dari tadi gua nggak mewek kan?… Yang gua khawatirin tuh dia. Kayaknya dia yang kecewa banget. Soalnya dia merasa gagal yakinin keluarganya.”

Si sahabat tak membalas ucapan itu, belum tahu mau bicara apa. Di kepalanya sedang rumit mengaitkan titik-titik masa lalu sahabatnya itu untuk membuktikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini nyata. Dia masih belum percaya, pernikahan dua sahabatnya yang semestinya berlangsung empat bulan lagi gagal terlaksana.

“Dia pasti dapatin pasangan yang lebih baik lagi daripada gua, yang lebih sesuai untuk keluarganya,” ujarnya, tiba-tiba. Matanya menerawang.

“Dan elu juga pasti dapatin yang cocok, brur.”

“Kekal”

 

DUA SAHABAT itu akhirnya bertemu di dalam acara sebuah produsen kopi. Mereka meliput acara itu. Di tengah-tengah konferensi pers, mereka mengobrol tentang kehidupan pernikahan.

“Elo suka berantem sama istri?’

“Iya, wajar lah. Elo juga kan?”

“He-eh. Lima bulan seperti udah setahun rasanya. Pas honeymoon aja gue berantem, cuma gara-gara persoalan sepele aja padahal.”

“Mungkin hal-hal kayak gitu nggak usah kita takutin. Kalau persoalan sepele aja ditakutin, gimana yang gede, iya nggak?”

“Sok wise ah,” balasnya, tertawa cekikikan. “Eh, dua teman kita yang bentar lagi nikah, kayaknya exciting banget tuh. Romantis banget status-statusnya di fesbuk. Ntar mereka pas udah nikah bakal berantem nggak yah?”

“Pastinya.”

“Padahal mereka udah bertahun-tahun pacaran. Gue cuma setahun pacaran sama suami gue. Harusnya yang udah pacaran lama mesti tahu dong kebiasaan masing-masing? Jadi nggak usah kaget lagi.”

“Orang-orang di masa pacaran nggak menjadi dirinya sendiri tahu? Iya. Justru pas udah nikah mereka jadi dirinya sendiri. Ngasih lihat baik-buruknya masing-masing tanpa malu-malu. Pengalaman kita nunjukkin itu kan.”

Keduanya tersenyum. Antara ingin tertawa dan tidak.

“Tapi dalam beberapa hal suami gue tambah care sih,” akunya.

“Bagus dong.”

“Iya. Eh, elo ambil kopi dong. Kita tes yang dibilang mereka itu bener nggak.”

“Lho, ibu hamil nggak boleh minum kopi.”

“Hehe dikit aja. Sana ambil secangkir aja.”

Secangkir kopi pun diseduh. Mereka menghirup aromanya, menyeruputnya bergantian, menghirup aromanya lagi.

“Sepertinya bener. Aroma kopinya masih kecium. Kalau versi yang lama nggak sekuat ini aromanya.”

“Oh ya. Gue nggak pernah minum kopi merek ini sih.”

“Iya, aromanya lebih kuat.”

Dalam acara itu, si produsen kopi meluncurkan produk terbarunya yang sudah menerapkan teknologi supaya aroma kopinya tetap tak berubah ketika sudah diseduh. Si produsen raksasa ini mengklaim aroma kopinya yang sudah diseduh tetap sama seperti ketika masih berbentuk biji kopi. Aromanya stagnan sampai berjam-jam.

Muncul bisikan dari hati, Bisakah rasa dan aroma cinta tetap stagnan dan abadi tanpa bantuan apa pun?

Dua pakar nutrisi yang menghadiri diskusi pendek dalam acara itu juga menyampaikan bahwa sampai saat ini pun belum ada bukti yang menunjukkan kopi bisa berdampak buruk bagi tubuh. Yang tidak menyehatkan itu jika kita menuangkan terlalu banyak gula dan krimer ke dalamnya, serta tergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi ketika kita meminum kopi.

Tanpa gula atau krimer, rasa kopi memang pahit, tapi justru ramuan seperti itulah yang menyimpan banyak manfaat positif untuk tubuh. Lagipula, demi kelezatan, sudah semestinya rasa kopi tidak terlalu manis, juga tak terlalu manis. Romansa kehidupan mungkin tak jauh berbeda dengan cara meramu dan rasa kopi.

Acara itu lalu usai. Kedua sahabat itu berpamitan, “Sampai ketemu lagi di pernikahan mereka ya.”

Meski mereka pulang berbeda arah, tapi meyakini ada satu tujuan yang sama dalam derap langkahnya ke masa depan. Keyakinan yang sama tanpa disadari mungkin juga dialami oleh orang-orang yang sedang ragu untuk melangkah maju.

“You’re My Star”

 

 

Catatan: Ditulis pada Februari 2009 sambil menyeruput berbagai jenis kopi, mulai dari yang pahit, agak pahit, agak manis, hingga sangat manis seperti kolak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s