Yang Tercecer di Jiffest 2009

Dari pemutaran enam film pendek karya para sineas muda di seksi S-Express Indonesia bisa menjadi bukti bahwa perfilman negeri ini masih punya masa depan yang lebih baik.

 

La Promesse
Sutradara: Joko Anwar
Indonesia. 2009. 5 min. French (with English subtitles).

Kalimat Paulo Coelho, “When you really want something, the universe will conspire to make it happen”, dijungkirbalikkan dan tak ubahnya semacam lelucon dalam cerita film ini. La Promesse mengisahkan seorang pria yang tak menepati janji pada kekasihnya dan berkelit dengan seribu alasan; seolah-olah seisi jagat raya bersekongkol untuk menggagalkan si pria dalam menepati janjinya. Tapi dari beragam alasan yang dilontarkan si pria, kita sedang melihat jelas adanya rangkaian kamuflase kebohongan.

Joko sadar cerita dan karakter-karakter yang disuguhkannya itu sebetulnya klise. Namun justru di area inilah dia bisa leluasa mempermainkan patron bahasa film yang sudah lazim: realitas asli yang sedang terjadi ditampilkan dengan warna hitam-putih, sedangkan yang dikhayalkan (baca: kebohongan) muncul dalam warna-warni. Seakan-akan kebohongan lebih menarik untuk diyakini ketimbang kenyataan. Apa yang hendak dinyatakan Joko?

Menyaksikan ending-nya—yang sebenarnya sudah gampang ditebak, seolah menampar sekaligus mengingatkan bahwa tanpa sadar sebenarnya kita mencintai kemunafikan, dan anehnya (atau tragisnya?), itulah yang membuat hidup kita lebih berwarna.

 

CINtA
Sutradara: Steven Facius Winata
Indonesia, 2009. 28 min. Indonesian (with English subtitles).

Barangkali tepat jika dikatakan bahwa tahun 2009 adalah tahun perayaan cinta. Ah, jangan keburu mellow dulu. Soalnya, dua film, CINtA dan Cin(T)a, yang melandasi pernyataan saya ini, bukanlah sebuah drama romantis yang picisan. Dua film ini hadir mendiskusikan kiprah cinta dalam ‘kutukan’ keberagaman yang bersemayam di kehidupan masyarakat kita.

Dan, dua film ini sama-sama menukikkan pesannya soal harmonisasi kehidupan masyarakat—atau lebih jauh lagi tentang pluralisme—secara menyentuh, dalam, juga indah. Hanya saja poin pantas diberikan kepada CINtA, karena dialog-dialognya yang tajam tapi sederhana dan lebih membumi, sehingga mampu menyentil tanpa malu-malu para pemeluk (dan pemuka) agama di negeri ini yang masih gemar bersikap tidak toleran.

Semua orang yang di dalam bioskop sore itu pun akhirnya mau tak mau terpaksa mahfum menelan alasan kenapa A Su (Verdy Sulaiman) dan Siti (Titi Sjuman) tak akan pernah bisa bersatu; walaupun A Su telah bersusah payah mengucap keras-keras kalimat syahadat di depan orangtua Siti—inilah adegan yang bisa mengiris hati siapa saja, tak terkecuali yang bukan muslim sekalipun. Lalu bagi kita yang muslim, siap-siaplah hati akan remuk ketika Siti mengungkapkan ‘beban’ dari nama lengkapnya yang ia panggul dengan ikhlas selama ini dan mungkin sampai mati. Tepuk tangan meriah untuk film ini dan Steven Facius Winata.

 

Menunggu Sepi (A Silent Wait)
Sutradara: Nurman Hakim
Indonesia. 2009. 24 min. Indonesian (with English subtitles).

Di salah satu pelosok Jawa, dua orang ini sebenarnya bertetangga: suami yang ditinggal kabur istri dan istri yang ditinggal kabur suaminya. Dihantam kondisi seperti itu, mereka masih tetap setia menanti pasangannya pulang, hingga memakan waktu tahunan. Sepi pun datang, walau bukan dalam wujud literal, tapi cukup menekan batin—yang diantarkan lewat gambar-gambar statis, tingkat pencahayaan yang rendah, akting pemainnya yang nyaris tanpa bicara, dan lingkungan sosial yang sengaja dibuat ‘mati’. Jadilah ini film yang murung dan penuh ironi, apalagi si pasangan masing-masing yang kabur ternyata saling mencintai dan berselingkuh.

Atas nama cinta dan harapan menyebabkan dua tokoh ini amat betah menantikan ketidakpastian. Namun di sinilah saya malah merasakan pesimisme, karena dengan begitu cerita dan karakter dalam film ini tampil terlalu naif. Seolah kehidupan tak ada gunanya dan tak bergerak maju, apalagi Nurman tak juga memuat letupan dramatik dalam film ini. Yang ada hanyalah pergelutan masalah pribadi, sedangkan dinamika sosial yang seharusnya menjadi area bermain bagi identitas dan karakter diri seakan musnah. Hasilnya, tokoh-tokohnya di sini benar-benar meratapi diri.

Namun, ketika dua tokoh utama ini (akhirnya) berpaspasan di jalan kampung dan cuma bisa melengos, lewat penyutradaraannya yang kalem dan sederhana, terlihat Nurman agaknya ingin menguak problem sosial yang lebih luas bahwa dalam masyarakat desa yang hangat dan guyub memendam sebuah bom waktu untuk menghancurkan segalanya: ketidakacuhan.

 

Facebooked
Sutradara: Siti Nurul Aniza
Indonesia. 2009. 15 min. Indonesian (with English subtitles).

Inilah film dengan ide segar yang lahir dari tangan-tangan para generasi digital yang sudah mengakrabi lingkungan web 2.0. Tak ada wujud fisik si aktor/aktris di sini. Sepanjang durasi, layar melulu menampilkan interface dari facebook account milik para tokoh. Alkisah, Rezky, murid SMA, yang dendam pada Sarjono, guru Kewarganegaraan, karena telah menghukumnya, dan dia membalas lewat Facebook.

Di film ini, Facebook account berperan sebagai persona (topeng) yang memungkinkan para tokohnya saling berinteraksi tanpa malu-malu. Walaupun emosi tak terlalu kentara, namun Siti mampu memadukan dengan lincah segala aplikasi di Facebook, mulai dari chat, status, wall post, video, hingga comment, seperti merangkai kepingan-kepingan menjadi mozaik.

Dari situ maka lahirlah wujud representasi realitas sosial terkini, termasuk kedinamisan perilaku dan interaksi masyarakat di dalamnya yang terlihat dari interaksi para Facebook user/tokoh di film ini, yang hampir meruntuhkan segala batasan sosial (lihatlah bagaimana persoalan privasi sengaja diumbar tapi juga bisa dihancurkan dengan mudah di dalam Facebook), namun tetap samar-samar dalam urusan personalitas.

Ya, meskipun Facebook account adalah persona yang paling mutakhir, tapi persona tetaplah artifisial dan bukan wajah kita yang otentik. Jadi, saat penghujung cerita itu keluar, sebenarnya itu bukanlah sebuah antiklimaks, tapi bukti bahwa berinteraksi lewat Facebook atau situs jejaring sosial lain punya resiko. Dia adalah wajah bertopeng yang penuh tipu muslihat, yang membuat kita sulit membedakan mana wajahnya yang asli dan palsu. Dan, film ini memperlihatkan bahwa kita kadang tak memedulikan perbedaan tersebut.

 

Anak-Anak Lumpur (Children of Mud)
Sutradara: Danial Rifki
Indonesia. 2009. 20 min. Indonesian (with English subtitles).

Di sebuah wilayah bencana selalu ada anak-anak kecil yang merespon kondisi lingkungannya itu dengan jujur. Tapi semburan lumpur panas di Sidoarjo tak tepat disebut sebagai bencana, melainkan buah kelalaian manusia. Dan, lewat mata anak-anak yang dulunya tinggal sekitaran desa Renokenongo, Porong, film ini menampilkan dengan intim bagaimana semburan lumpur panas ini telah menghancurkan masa kecil dan hati mereka.

Meminjam sudut pandang anak-anak ini, Danial Rifki menyajikan cerita tentang anak-anak yang memperjuangkan sisa-sisa harta mereka, termasuk masa lalu dan cita-cita. Kamera berhasil menampilkan gambar-gambar daerah yang tersapu lumpur panas dengan indah, tapi sekaligus pedih. Dari tingkah laku tiga tokohnya yang tetap bermain layaknya anak kecil di danau lumpur, atau di hamparan tanah berdebu yang kering, kita diajak merasakan perihnya kehidupan mereka dan melihat penggalan realitas yang selama ini mungkin luput dari pengamatan kamera berita televisi.

Bagusnya, dengan bantuan cerita fiksi, film ini menjelma jadi kekuatan baru yang menggugah hati nurani dan menyatakan bahwa semburan lumpur tak hanya mencabut daya dukung sosial sampai ke akar-akarnya, tapi juga memori dan masa depan anak-anak ini. Ada kompleks makam yang tenggelam, ada bangunan rumah yang dilucuti oleh sekelompok orang, ada aktivitas demonstrasi, ada ancaman kesehatan yang siap menerkam siapa saja.

Kepolosan sikap anak-anak kecil itu dalam menyikapi berbagai kondisi tersebut lalu menjadi pintu masuk bagi kita, yang mengerti sebab-musabab semburan lumpur ini, untuk memandang secara jernih bahwa di sekitaran semburan lumpur tak hanya dilingkupi oleh persoalan kemanusiaan semata, tapi juga ‘jahatnya’ dampak dari tarik ulur kekuasaan.

Saya penasaran. Jika saja Bapak Presiden RI menonton film ini, apakah beliau akan menitikkan air mata seperti yang terjadi ketika dia menonton Serambi dan Ayat-Ayat Cinta. Hmm.

 

Fronteira (Tapal Batas)
Sutradara: Emil Heraldi
Indonesia. 2008. 26 min. Indonesian (with English subtitles).

Dua orang itu berlarian di dalam hutan. Yang mengejar tentara Indonesia dengan senjata lengkap. Yang dikejar anggota milisi yang juga menenteng senjata. Si tentara Indonesia sesekali yang menembakkan pelurunya ke si tentara milisi Fretilin, walau tak kena dan tak dibalas. Peluru di senapan si tentara milisi Fretilin telah habis rupanya. Hingga akhirnya, si tentara Indonesia sadar baru saja menginjak ranjau, dan tak bisa bergerak ke mana-mana lagi.

Menyaksikan itu, si anggota milisi Fretilin, bukannya langsung membunuh si musuh yang sudah mati kutu, tapi justru menunggu lawannya kelelahan dan berharap ranjau membinasakannya. Terjadikah? Yang ada, si tentara milisi Fretilin juga terjebak ranjau dengan cara yang lebih lucu. Dia terpeleset dan jatuh tengkurap di atas ranjau, hanya terpisahkan oleh jarak beberapa meter saja dari musuhnya. Kini keduanya sama-sama hanya bisa diam di tempatnya masing-masing. Mereka menunggu mati atau terselamatkan sembari mengobrol dan berbagi makanan.

Inilah kisah anekdotal yang mungkin dapat terjadi di tengah peperangan atau konflik bersenjata mana saja. Yang menarik disimak di sini bukan terletak pada konflik dua tentara itu—yang masing-masing mewakili nasionalismenya, tapi pada interaksi naluriah yang akhirnya tercipta di antara mereka, dan pada ujungnya menunjukkan bahwa mereka tetaplah manusia yang cuma dibedakan lewat tampilan fisik, asal-usul, juga ideologi. Selebihnya, ya, mereka tetap makhluk sosial yang tak bisa hidup seorang diri, meskipun lingkungan tak bersahabat dengannya. Musuh pun bisa menjadi malaikat bersahabat sebelum kematian datang menjemput.

 

Catatan:
S-Express adalah jaringan kerja pertukaran film pendek antar negara-negara Asia Tenggara. Sampai saat in, berkat kesinambungan pertukaran film-film pendeknya, S-Express tetap berperan penting dalam membuka jaringan kerja antar para pembuat film pendek di negara-negara anggotanya.


PS: Ditulis pada awal Januari 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s