Warna-Warni Pelangi di Panggung Musikal

*Seperti yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 2 Januari 2011.

Ibunda yang kusayangi, yang kuhormati
Aku mohon diri
Sahabat Laskar Pelangi yang aku kasihi
Janganlah berhenti bermimpi
Doaku menyertai
Simpan aku dalam hati
Bila Tuhan kehendaki kita akan berjumpa lagi

Lintang (Hilmi Faturrahman) menyanyikan libretto atau lirik tersebut di depan ibu guru Muslimah (Dira Sugandi) dan sembilan sahabat terkaribnya: Ikal, Mahar, Kucai, Borek, Sahara, Syahdan, A Kiong, Harun dan Trapani. Tak masuk sekolah berhari-hari tanpa ada kabar setelah mengantarkan SD Muhammadiyah menang di Lomba Cerdas Cermat, ia lalu pamit mengucapkan salam perpisahan. Semenjak sang ayah yang dijuluki Si Cemara Angin meninggal ketika sedang melaut, tak ada pilihan lain baginya. Kini, giliran Lintang lah yang bertugas menghidupi dua adik perempuannya.

Si anak pesisir nan jenius, murid pertama Ibu Muslimah yang selalu tiba di sekolah lebih pagi walaupun harus menempuh perjalanan selama empat jam, ternyata harus pergi lebih cepat. Hari itu, ia mengayuh pulang sepedanya, tak menoleh lagi ke arah sekolah yang reot dan sahabat-sahabatnya, meski Ikal (Ivant Septiawarman) sudah berteriak keras memanggil namanya. Inilah puncak dramatik dalam pertunjukan Musikal Laskar Pelangi. Seperti dalam film Laskar Pelangi (dan juga novelnya), mendekati akhir pertunjukan, adegan ini tersaji dengan sendu dan menguras emosi. Tak ayal, Musikal Laskar Pelangi pun menutup tahun 2010 ini dengan manis.

2010 sendiri boleh dikatakan sebagai tahunnya pertunjukan musikal. Sebelumnya, sudah lebih dulu tampil ke publik, seperti Diana: Rahasia Hatiku, Dreamgirls (The Musical), Gita Cinta The Musical, dan Onrop! Musikal. Semuanya diselenggarakan dengan skala yang besar dan cukup menyedot atensi publik, terutama yang berada di Jakarta. Namun, kehadiran Musikal Laskar Pelangi menjadi agak istimewa dibandingkan dengan empat pertunjukan lainnya, karena sumber material cerita yang dikandungnya.

Sejarah dunia mencatat bahwa tak sedikit pertunjukan musikal yang merupakan hasil adaptasi, baik dari legenda (Camelot), kejadian nyata (Evita), novel (Wicked), maupun film (The Producers). Ada juga pertunjukan musikal yang kemudian diadaptasi menjadi film musikal, semisal The Sound of Music, West Side Story, My Fair Lady, Chicago, atau Dreamgirls. Jadi, tak berlebihan apabila novel laris Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata disebut sebagai karya yang lengkap. Bagaimana tidak? Setelah sukses diadaptasi menjadi film yang hits sepanjang masa di Indonesia (ditonton oleh 4,6 juta penonton) dengan kualitas di atas rata-rata, di penghujung tahun ini hadirlah pertunjukan musikalnya dari tangan-tangan dingin sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana—duo kreator berintegritas tinggi yang sama dengan yang melahirkan filmnya.

Bertolak dari kondisi tersebut, mau tidak mau Musikal Laskar Pelangi menyimpan masalah yang dapat berpotensi mengganggu kenikmatan menonton, yakni pengulangan kisah. Penonton sangat mungkin menjadi bosan akibat disuguhi jalinan cerita yang itu-itu lagi dan sudah diketahui bersama mau ke mana arahnya. Namun juga tak bisa disangkal, pakem kisah inspiratif Laskar Pelangi sudah terbentuk secara nyaris sempurna dalam skenario filmnya, yang jika diamati dengan seksama memiliki tempo dan point of attack yang bergerak lambat. Mira Lesmana sebagai penulis skenario dan seluruh lirik pertunjukan musikal ini agaknya menyadari di situlah letak kekuatan dramatik film Laskar Pelangi, yang mampu menciptakan letupan-letupan emosi selama kisah mengalir. Maka, plot yang dipakai Musikal Laskar Pelangi pun tak berbeda dengan filmnya. Lalu, apa yang membuatnya istimewa?

Sudah menjadi kodrat pertunjukan musikal bahwa kisah berikut dramatikanya dirangkai oleh lagu dan gerak tari. Nah, di sinilah letak keistimewaannya: score dari lirik bikinan Mira dan musik ciptaan Erwin Gutawa, sebagai music director, yang mampu meniupkan nafas pertunjukan ini. Nuansa kolosal dan letupan-letupan emosi dalam cerita—entah itu cinta, humor, atau kemarahan—sukses dimunculkan secara menggugah lewat scoring ini, sesuatu yang tidak didapatkan dari narasi filmnya. Melalui musiknya pula, pathos pun terbentuk, sehingga menarik simpati serta imajinasi para penonton kepada para karakter dan cerita. Seperti juga yang diungkap oleh Ian Conrich dan Estella Tincknell (2006), musik dapat menjadi kekuatan integral yang koheren dengan teks, sehingga mampu mengartikulasikan nilai-nilai dalam cara yang baru. Mira dan Erwin berhasil menampilkan hal itu lewat scoring-nya. Angkat topi untuk mereka.

Selain bakat-bakat baru dari para aktor dan aktrisnya, imajinasi Jay Subyakto juga layak dipuji. Set panggung hasil kreasinya benar-benar berhasil membawa suasana nyata Kampong Gantong dan alam Belitong ke dalam Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Di atas panggung, didukung oleh tata cahaya dari Sonny Soemarsono dan Iwan Hutapea, Jay menampilkan beragam set yang mengundang decak kagum, antara lain bangunan SD Muhammadiyah yang miring, areal pabrik PN Timah saat masih berjaya, Toko Sinar Harapan, bahkan derasnya air hujan, dan tentu saja pelangi.

Ya, kawan, warna-warni pelangi yang membakar semangat 10 anak Laskar Pelangi untuk menari dan bernyanyi.

Kami anak-anak pecinta pelangi
Pak ketipak ketipung, mejikuhibiniu
Kami ke sekolah diantar pelangi
Pak ketipak ketipung, mejikuhibiniu

Kami memang anak miskin, tapi penuh mimpi
Walau tak bersepatu dan hanya berbuku satu
Kami selalu yakini cita-cita akan teraih
Pak ketipak ketipung, mejikuhibiniu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s