Wanted

Perkenalkan jagoan baru Hollywood, Wesley Gibson (James McAvoy). Hati-hati, ia mampu menembakkan senjata api sehingga membuat laju pelurunya melengkung. Wesley, seperti halnya Neo, dianugerahi kemampuan untuk merekayasa laju peluru.

Karena itu, Wesley adalah manusia terpilih. Ia ditakdirkan untuk menjadi anggota Fraternity, kelompok pembunuh elit, yang bertugas menjaga keseimbangan dunia. Fraternity berhak membinasakan nyawa manusia-manusia yang berprospek membahayakan kehidupan masyarakat. Fraternity hampir mirip dengan divisi Pre-Crime dalam Minority Report (2004). Sedikit bedanya, Pre-Crime tidak diwajibkan membunuh targetnya.

Nah, kalau divisi Pre-Crime memanfaatkan kekuatan indera keenam si jenius kembar tiga (pre-cogs) untuk memutuskan siapa yang menjadi kriminilnya. Maka Fraternity mengandalkan sebuah mesin penenun nan ajaib dan penuh daya magis. Kenapa? Karena pada kain tenunannya itulah terdapat kode tersembunyi, yang jika ditafsirkan dengan binary code akan keluar nama-nama manusia yang harus dibunuh.

Saya tak habis pikir dengan pencapaian kelompok penenun di zaman dahulu yang sukses menemukan kode-kode tersembunyi itu. Saya pikir ini adalah invention yang penuh keisengan, kalau tidak mau dikatakan menggelikan.

Tak heran jika Wesley sempat ragu pada takdir pilihannya dan tugas perdananya. Ia bertanya-tanya kenapa harus membunuh manusia tanpa perlu mengetahui alasannya. Mendengar itu, maka sang mentor, Fox (Angelina Jolie), bercerita tentang kisah hidupnya yang tragis. Dan satu cerita nyata itu rupanya lebih dari cukup untuk membuat Wesley akhirnya percaya akan takdir dan tugasnya.

Kini ia tahu mengapa ia harus membunuh: karena memang ia tidak perlu tahu alasannya. Cocoklah dengan ucapan dingin pimpinan Fraternity, Sloan (Morgan Freeman), “Saya yang menafsirkan, kamu yang membunuh.”

Wesley pun mulai membunuhi targetnya, tentu dengan aksi penuh gaya. Mulai dari membelokkan peluru, menembak sambil menjungkirbalikkan mobilnya, hingga menembak target dari jarak sangat jauh dan kelewat sulit untuk ditempuh peluru—tugas yang sebetulnya lebih cocok diserahkan kepada rudal kendali saja.

Yah, semoga para fisikawan yang menonton film ini mahfum, karena di sini gaya lebih penting. Jadi, beragam aksi yang sebetulnya hampir mustahil dilakukan ini tak perlu dipikirkan terlalu serius dengan nalar. Cerita sudah kalah bersaing di sini.

Saat film kelar, saya coba membandingkan Wanted dengan The Matrix. Bagi saya, aksi-aksi dalam The Matrix lebih inovatif dan tampil agak revolusioner. Meski juga sedikit mustahil, tetapi cerita mengenai mesin dengan artificial intelligence-nya, yang menjadikan manusia tak ubahnya seperti batere Energizer, terasa lebih visioner dan membuat aksi-aksi Neo lebih memungkinkan terjadi.

Sedangkan Wanted, bagi saya, tak menawarkan aksi-aksi yang baru, kecuali soal gaya, yakni terutama peluru yang bisa dibelokkan itu. Atau, seperti opini teman saya tentang film ini, “Kayak film action Hongkong.” Entah film apa yang dimaksudnya.

Akhirnya, andaikan saja saya wajib memilih satu takdir dari dua alternatif yang teramat sulit: hidup di dunia yang dikendalikan mesin-mesin pintar sebagai sumber energinya, atau hidup sebagai hitman yang membunuh karena sehelai kain tenun telah menitahkannya. Maka, dengan berat hati, saya lebih rela memilih kehidupan yang pertama saja.

 

PS: Ditulis pada Juli 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s