The Curious Case of Benjamin Button

Di dalam lobi stasiun, mereka yang menantikan peresmian jam besar itu terkaget-kaget ketika tirai penutupnya disingkap. Penyebabnya, jarum jam yang bergerak mundur. Sang kreator jam, pria buta paruh baya, ternyata sengaja membuatnya demikian. Ia punya alasan personal yang kuat, tapi terdengar filosofis dan menusuk hati: supaya anak lelaki kesayangannya, juga anak muda lain di kota itu, tidak kembali dari medan perang di dalam peti mati.

Ia ingin segala kekinian itu batal terjadi, turn back the clock.

Lalu, Perang Dunia I diceritakan usai. Malam itu, masyarakat New Orleans dengan sukacita merayakannya. Tapi tidak bagi Thomas Button (Jason Flemyng). Istrinya meninggal saat melahirkan anak laki-laki pertamanya. Sebelum berpulang, kepada Thomas ia berpesan untuk berjanji merawat anak mereka. Thomas menyanggupinya. Namun setelah melihat kondisi fisik jabang bayi yang tidak lazim, ia berubah pikiran. Tak peduli pada janjinya, ia pun menaruh bayi yang masih merah itu di anak tangga sebuah rumah panti jompo.

Queenie, pegawai panti keturunan Afro-Amerika, menemukannya. Dari pemeriksaan dokter panti diketahui bahwa bayi itu terlahir dengan kondisi fisik seperti manusia renta berusia 80 tahun. Secara medis, prediksi menyatakan bahwa hidup si bayi tak akan lama lagi. Meski begitu, rasa iba dan naluri keibuan menyuruh Queenie merawatnya. Dinamakannya bayi itu: Benjamin.

(Inilah komentar sosial yang cukup mengena dan kontekstual, mengingat saat film ini dirilis di Amerika Utara, Obama telah memenangi Pilpres. Apalagi dengan setting kota New Orleans yang pernah porak-poranda karena disapu badai Katrina, sehingga memunculkan tudingan rasialis pada pemerintahan Bush).

Bagi Queenie, Benjamin (Brad Pitt) dengan kondisi fisiknya itu adalah titipan dan mukjizat dari Tuhan yang harus dijaga. Maka ia tak putus asa dan penuh keyakinan membesarkan Benjamin. Dan layaknya kerja mukjizat, Benjamin mampu bertahan hidup lebih lama dari usia yang diperkirakan. Lambat laun terkuak kalau perubahan fisik Benjamin rupanya bergerak mundur, dari tua ke muda, bertolak belakang dengan laju kodrat usianya. Inilah pemaknaan nyata dari gerak mundur jarum jam di stasiun.

Di panti jompo itu, Benjamin belajar banyak hal sejak kecil karena bergaul dengan para opa-oma. Benjamin pun tak hanya terperangkap di tubuh yang renta, tapi juga lingkungan yang polahnya sudah uzur. Kehendak Tuhan memang tak bisa dielakkan. Queenie maupun Benjamin lalu sadar bahwa hasrat muda dan rasa penasaran anak muda terhadap dunia luar tidak bisa dicegah.

Petualangan hidup Benjamin pun dimulai, dari fall in love at the first sight (yang membuat saya semakin yakin kalau jatuh cinta jenis ini benar-benar ada), seks, persahabatan karib, kematian demi kematian, pencarian identitas, pembuktian diri, cinta yang tulus, dan tentunya, pengorbanan. Melalui kehidupan Benjamin dan hubungan cintanya dengan Daisy (Cate Blanchett), saya menyaksikan drama yang menuntun kita pada sebuah esensi sejati kisah cinta: ketulusan cinta yang tanpa pamrih dan juga tak ragu untuk berkorban.

Ah, kalau kalimat saya tadi terdengar picisan oleh Anda, mungkin ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, karakter Virgo saya yang bermain terlalu dominan. Atau, kedua, (maaf jika saya berkata begini) mungkin hati Anda yang terlalu kaku. Yang jelas, bagi saya, film The Curious Case of Benjamin Button ini memuaskan dahaga. Apalagi, belakangan saya pikir tidak banyak film drama cinta yang menuturkan kisahnya dengan halus dan indah tapi tetap emosional, seperti yang ditampilkan film ini.

Kisah adaptasi dari cerpen F. Scott Fitzgerald ini lalu menjadi epik, bukan dari ukuran production value-nya, tapi dari muatan tema dan moralitas yang diangkat dalam skenario bikinan Eric Roth. Ia menceritakan perjalanan hidup Benjamin dengan jalinan dialog yang memikat. Roth memakai pendekatan yang sama dengan apa yang dilakukannya dalam Forrest Gump (Robert Zemeckis, 1994). Narasi oleh Caroline (Julia Ormond) kepada ibunya, Daisy tua yang terbaring sekarat di rumah sakit, kemudian mengingatkan kita kepada Forrest, yang dengan lugunya bercerita soal pengalaman hidupnya kepada orang-orang di bangku halte.

Skenario Roth ini dieksekusi dengan tepat oleh David Fincher. Perlu diingat, sutradara satu ini punya kekhasan, yakni selalu memberikan nuansa ‘dark’ pada cerita ataupun karakter dalam film-filmnya (Alien 3, Se7en, Fight Club, The Game, Panic Room, dan Zodiac). Signature-nya itu yang tetap ditampakkan Fincher dalam banyak adegan rupanya turut mendorong plot film ini dengan bersahaja dan, ya, agak puitis.

Ketelatenan Fincher dalam mengenalkan karakter-karakternya, terutama Benjamin, berbuah manis: kita merasa amat intim dengannya. Juga lewat storytelling-nya yang sabar, absurditas cerita film ini berhasil diubah Fincher menjadi alat untuk melemahkan sekaligus menguatkan hati. Emosi diaduk-aduk. Antara senang melihat Benjamin yang semakin muda dan prima fisiknya, tapi di sisi lain merasa sedih. Maka ketika kondisi yang penuh ironi dan kontradiktif itu tampil—Daisy yang semakin menua sedangkan Benjamin yang semakin memuda—hati kecil kita pun merasa tak tega; dan berkata miris, ugh kisah ini rupanya akan berjalan tragis.

Namun kata ‘tragis’ di sini tidak berjalan dengan lenggang sendirian seenaknya. Tetaplah ada poin baik yang ingin disampaikan bahwa cinta yang tulus mampu membuat pelakunya menjalani hidup lebih optimis dan mendamaikan hati. Poin ini seperti ingin menegur kita, masyarakat dunia yang kehidupannya semakin sulit lepas dari lilitan godaan maut bernama ‘materi’.

Yang paling menonjol tentulah Brad Pitt. Aktingnya yang elegan dan bersahaja itu bekerja luar biasa dalam menampilkan transformasi diri Benjamin. Bisa dibilang Pitt lah yang menghidupkan film ini, karena ia mampu menunjukkan kegalauan, ketulusan, dan pengorbanan atas ‘harta yang paling penting dalam hidupnya’ demi sebuah optimisme Benjamin yang tidak mau menyerah pada nasib. Ia tidak ingin berbuat seperti ayahnya dulu. Akting Pitt di film ini seperti menolak dengan halus pernyataan nobelis asal Turki, Orhan Parmuk, “Cinta bahkan bisa melahirkan pesimisme.”

Performa Pitt juga menguatkan keintiman yang sudah dibangun oleh Fincher. Pitt begitu melekat dengan karakter Benjamin Button. Menjelang penghujung film, saya pun sulit untuk tidak merasa kehilangan ketika bola mata jernih milik bayi yang sedang dipangku Daisy itu menatap dalam-dalam kepadanya, lalu pelan-pelan menutup, dan tak pernah membuka lagi.

Queenie (yang diperankan oleh Taraji P. Henson) benar. Benjamin Button, si bayi renta yang tergeletak di anak tangga itu, adalah mukjizat. Bukan untuk Queenie saja, tapi juga dunia. Karena seperti kodrat tugasnya, mukjizat datang untuk menyadarkan umat manusia dari kesalahan; atau tentang sesuatu yang baik, tapi terlupakan. Kali ini, melalui kisah absurd ini—persis seperti ciri mukjizat: kejadian di luar akal manusia—mungkin dunia dapat belajar banyak darinya.

 

 

PS: Ditulis pada Februari 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s