So If You Love Me, Why’d You Let Me Go?

 

Prolog

CINTA yang kurasakan terhadap Naoko sangat tenang, lembut, dan murni, sedangkan terhadap Midori samasekali berbeda. Cinta itu seperti hidup; berdiri, berjalan, dan bernapas. Dan itu membuatku gelisah. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, dan aku merasa gundah…

Di atas adalah sepenggal isi surat Watanabe kepada Reiko-san. Naoko adalah cinta pertamanya. Naoko juga adalah kekasih almarhum Kizuki, sahabat karibnya. Semenjak Kizuki meninggal bunuh diri di garasi dengan sengaja menghirup gas karbondioksida yang dibuang dari mobilnya, Naoko dan Watanabe menjadi dekat. Hubungan emosional yang sulit dimengerti hadir di antara mereka. Mereka saling membutuhkan untuk saling menguatkan.

Puncaknya, Naoko akhirnya harus tinggal di pondok rehabilitasi jiwa. Psikisnya rupanya terganggu karena ditinggal Kizuki. Jiwanya labil. Reiko-san lah, si wanita paruh baya teman sekamar Naoko di pondok itu, yang setia merawat Naoko. Padahal keduanya sama-sama berjiwa labil, meski penyebabnya lain.

Midori, gadis ekspresif dan agak badung itu, adalah teman sekampus Watanabe. Mereka selalu bersama. Belakangan, baru disadari bahwa Watanabe menyayangi Midori, begitu juga sebaliknya. Surat di atas ditulis Watanabe untuk menjelaskan hubungannya dengan Midori. Ia ingin Naoko, melalui Reiko-san, mengetahui soal hubungannya ini. Baik Watanabe, Naoko, maupun Reiko-san sebetulnya sama-sama sadar bahwa tak ada masa depan jika antara Watanabe dan Naoko menjalin cinta.

Di satu kesempatan, ketika kondisi kejiwaan Naoko sedang labil-labilnya. Terjadi percakapan ini:

“Kau betul-betul tak akan melupakan aku selamanya?” tanya Naoko dengan suara pelan seolah berbisik.

“Sampai kapanpun aku tak akan melupakanmu,” kata Watanabe. “Tak mungkin aku dapat melupakanmu.”

Naoko tahu pasti bahwa nanti kenangan Watanabe terhadapnya akan memudar. Karena itulah ia harus memohon kepada Watanabe seperti itu. “Sampai kapanpun jangan lupakan aku. Ingatlah selalu keberadaanku.”

Memikirkan hal itu, Watanabe merasa nelangsa, “Karena Naoko tidak mencintaiku samasekali.”

Tak lama setelah itu, Naoko ditemukan tewas bunuh diri. Kepedihannya akibat ditinggal kekasih ternyata tidak bisa disembuhkan. Naoko memilih Kizuki dengan cara menggantung diri di dalam hutan yang gelap segelap hatinya.

 

CUPLIKAN kisah di atas adalah dari Noruwei no Mori alias Norwegian Wood (Haruki Murakami, 1987), salah satu novel favorit saya. Kisahnya penuh gelora khas anak muda sekaligus dipenuhi keganjilan. Membacanya, sangat terasa adanya rasa hampa yang muncul dari kekebebasan gaya hidup yang dilakukan tokoh-tokoh di kisah ini. Mengutip kata sebuah review terhadap novel ini, “Tenang-tenang menghanyutkan dan akhirnya mengharukan.”

Kisah Norwegian Wood yang pahit ini kerap muncul di benak saya beberapa hari terakhir. Penyebabnya karena selama setahun terakhir, saya dihajar bertubi-tubi oleh kisah-kisah nyata mengharukan yang dialami sahabat-sahabat saya. Tetapi kisah-kisah yang paling menohok malah muncul dalam tiga bulan belakangan. Ada tiga kisah. Semuanya nyata dialami tiga sahabat terdekat saya. Tiga sahabat yang memiliki raut wajah menenangkan, tetapi ternyata menyimpan pengalaman hidup yang menyedihkan. Mendengarkan curhatan hati dari kisah mereka, saya jadi bingung dan kepikiran.

“Jangan terlalu dipikirin Ngga. Apa yang gue alamin jadiin pelajaran aja buat lo,” kata sahabat saya.

Medio Maret ini, terbesit di benak saya untuk menulis tiga kisah tersebut. Daripada dipendam sendiri dan saya saja yang mendapatkan pelajaran, maka saya putuskan untuk meminta izin dari para sahabat si empunya cerita.

Sahabat saya tertawa kecil. “Tulis aja. Biar jadi pelajaran buat orang lain.” Dua sahabat lagi juga memperbolehkan. Dan, mulailah saya menguras emosi dan imajinasi untuk menuliskannya kembali.

Rencananya, rentang sebulan ke depan atau mungkin bisa lebih cepat, tiga kisah ini akan saya rilis secara terpisah. Panjang tulisan setiap kisah mungkin akan berbeda-beda. Nama para sahabat saya dan tokoh lainnya di setiap kisah ini, demi kenyamanan mereka, akan saya samarkan.

Sebutlah saya sok tahu, narsis, atau sudah terkena gejala eksibisionisme karena menulis di jejaring sosial ini. Tidak apa-apa. Saya dan para sahabat hanya ingin berbagi cerita dan hikmah. Siapa tahu bisa bermanfaat bagi yang membaca.

Tidak ada pretensi negatif dalam muatan tiga kisah ini. Tidak ada niatan pembentukan atau penguatan stereotipe di sini. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekkan salah satu pihak di dalam kisah ini. Tidak ada pula niatan untuk menggagalkan atau membimbangkan atas apa yang sudah direncanakan. Sejatinya, tujuan saya di sini hanya ingin menyampaikan bahwa cinta itu merumitkan. Ya, tiga kisah ini memang berhubungan erat dengan cinta; tema yang paling sering dirayakan umat manusia di dunia, tetapi belum tentu mudah dipahami oleh manusia.

Sebelumnya saya perlu mengingatkan bahwa apa yang akan tertulis dalam tiga kisah ini tidak menawarkan banyak kebahagiaan, tetapi lebih banyak yang memilukan. Mungkin kata ‘kelam’ dan ‘pahit’ cocok disematkan di tiga kisah ini. Jadi kalau seri tulisan ini nantinya dianggap tidak mencerahkan dan membuat tidak enak hati, silahkan lewatkan saja. Meski begitu, tetapi saya bukanlah orang yang pesimistis, sehingga tetaplah ada harapan dari tiga kisah ini.

Sampai kini saya mencoba meyakini bahwa cinta tak hanya mampu berperan sebagai perekat, tetapi juga pemisah sendi-sendi sosial relasi antar manusia. Ibarat dua sisi mata uang. Namun, mungkin justru karena dua peranan itu pula, kita manusia dapat hidup dengan penuh makna.

-Bersambung-

 

Catatan:

Judul tulisan ini diambil dari lirik lagu Violet Hill-nya Coldplay. Alter ego saya langsung nyerocos, “Tulisannya bahasa Indonesia kok judulnya pakai bahasa Inggris, kenapa, emangnya nyambung?”

“Tunggu saja, nanti juga kamu tahu.”

 

 

PS: Ditulis pada Maret 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s