Slumdog Millionaire: Euforia Eksotisme Timur dan Kemiskinan Dunia Ketiga?

Di atas rawa itu, di dalam jamban kotor itu, Jamal kecil (Ayush Mahesh) terkurung. Kakaknya, Salim (Azharuddin Mohammed Ismail), menguncinya dari luar. Padahal, di lapangan tak jauh dari rawa, Amitabh Bachan baru keluar dari helikopter. Warga kampung menyambutnya dengan sorak-ramai.

Jamal, si fans berat superstar Bollywood itu, tentu saja tak mau kehilangan momen itu. Pilihan berat pun diambilnya. Sambil mengangkat tinggi-tinggi foto Amitabh, Jamal loncat dari lubang pembuangan dan nyemplung ke kubangan tinja. Dengan sekujur tubuh yang kecoklatan dan bau najis, ia berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang idola demi secoret tanda tangannya. Di lapangan itu, Salim hanya bisa melongo melihat kenekatan juga keluguan adiknya.

Inilah adegan yang menjijikkan tapi tetap mampu terlihat jenaka. Adegan ini mengingatkan saya pada adegan dalam film Danny Boyle sebelumnya, Trainspotting (1996) ketika Mark Renton (Ewan McGregor), si pecandu akut, yang mengubek-ngubek toilet jorok itu untuk menemukan lagi heroinnya yang ‘terbuang’ tak sengaja. Kondisi sakaw diterjemahkan oleh Boyle dengan visual yang surealis: Renton yang menyelam di dalam air dan keluar dari lubang kloset. Asyiknya, penyajian bahasa visual seperti ini justru memperkuat imaji seorang pecandu yang nekat.

Di film Slumdog Millionaire, Boyle sadar bahwa realitas kehidupan semakin hari berjalan semakin kejam, apalagi di negeri yang masih lekat dengan imej dunia ketiga. Sekalipun India (bersama China) telah dinobatkan menjadi raksasa baru di Asia dan dunia, tapi tetaplah masih ada pemukiman kumuh di sana, masih ada aliran sungai yang penuh sampah, dan juga masih ada kemiskinan yang khas dengan aroma kesenjangan sosial. Di Mumbai, latar Slumdog, kita melihat itu semua.

Mumbai jelas berbeda dengan Edinburgh, latar film Trainspotting. Di negeri India inilah, di mana seekor sapi masih dapat berkeliaran dengan bebas di jalan raya tanpa ada orang yang berani mengusirnya, realitas tidak bisa disajikan dengan bergaya dan penuh makna, seperti visual yang surealis itu. Realitas ditampilkan apa adanya dengan kamera digital yang terus bergoyang saat merekam sudut-sudut kumuh kota Mumbai dan kehidupan yang bergerak di dalamnya, juga dengan sebagian aktor-aktris yang memang datang dari kalangan masyarakat kelas bawah. Inilah realisme (atau neo-realisme?) yang disuguhkan Boyle. Dengan pendekatan Boyle ini dan dukungan sinematografi yang memukau dari Anthony Dod Mantle serta penyuntingan yang sigap dari Chris Dickens, Slumdog Millionaire telah menasbihkan dirinya sebagai film yang komunikatif dengan zamannya.

Namun, Slumdog bukanlah Tribu (Jim Librian, 2007) atau City of God (Fernando Meirelles, 2002), yang sama-sama menampilkan imaji hampir serupa. Tidak seperti dalam Tribu dan City of God yang menampilkan kekerasan dengan begitu dekat, mengerikan, dan sebagai bagian tak terpisahkan dari cerita, nah, kekerasan dalam Slumdog adalah bumbu-bumbu cerita saja. Karena sejatinya Slumdog adalah dongeng kontemporer dengan melodrama sebagai menu utamanya. Ini adalah kisah cinta kesumat dari Jamal (Dev Patel) kepada Latika (Freida Pinto).

Permasalahan pun muncul, karena akhirnya kota Mumbai sebagai latar menjadi sia-sia. Mumbai beserta pojok-pojok pemukiman kumuhnya itu hanyalah panggung yang kaku. Boyle dan Simon Beaufoy, penulis skenario, luput menjadikan Mumbai sebagai pemain yang turut menghidupkan cerita. Kultur dan kondisi sosial masyarakat Mumbai di film ini tampil setengah hati dan seperlunya, layaknya ornamen. Hal ini tampak pada adegan kerusuhan anti-muslim pada tahun 1992-1993 yang menewaskan ibu Jamal dan Salim (Sanchita Choudary), dan akhirnya mengirimkan kakak-beradik plus Latika kecil (Rubina Ali) ini ke neraka jalanan. Atau contoh lain, yakni subplot tentang Salim dewasa (Madhur Mittal) yang bekerja sebagai hitman untuk bos mafia di Mumbai (Mahesh Manjrekar).

Sebuah pemaknaan kuat pun muncul tak terhindarkan dalam benak saya: masyarakat Barat, yang diwakili oleh industri film Hollywood dan penontonnya, terpikat dengan Slumdog karena kisah cinta antara Jamal dan Latika yang dibungkus oleh wajah kota Mumbai, yang tersajikan kumuh dan miskin—sebuah kemasan yang relatif baru bagi mereka. Masyarakat Barat sudah bosan dengan kisah cinta ala Benjamin Button yang nyeleneh itu, sehingga mereka mencari sesuatu yang fresh dan lebih nyata. Dan, yang nyata itu ada pada dunia Timur: Asia beserta eksotisme yang menjadi kekhasannya.

Apalagi sudah beberapa tahun terakhir pula, Hollywood dan penontonnya sedang terbius eksotisme dunia Timur. Setidaknya ini terlihat dari getolnya Hollywood me-remake film-film produksi negara Asia. Mumbai (baca: India) berikut kisah cinta Jamal dan Latika dengan senang hati ikutan memberikan eksotisme itu. Namun, sayangnya eksotisme timur di Slumdog disuguhkan secara semu dan agak wagu. Mungkin ini akibat kreator film ini kurang memahami konteks sosial di India dan Asia.

Oh ya, jangan abaikan pula asal-usul Jamal dan Salim yang muslim itu. Kita tahu bahwa semenjak tema komunisme beserta para kompradornya, seperti Uni Soviet/Rusia dan Kuba, sudah tidak melatahi lagi cerita patriotisme dalam film-film Hollywood, dan digantikan dengan Islam yang dikaitkan dengan isu terorisme, dunia muslim telah dilirik sebagai area bermain baru untuk cerita film-film Hollywood. Dan, harus diakui bahwa kini film-film yang menempeli kisahnya dengan ke-Islam-an memang kerap menarik perhatian audiens dan kritikus di negeri Barat.

Menimbang semua itu, walhasil setengah diri saya agak tidak setuju dengan Oscar Film Terbaik yang diterima film ini. Saya khawatir ini adalah bentuk dari euforia atas kisah dongeng cinta yang dibumbui eksotisme Timur dan realitas kemiskinan dunia ketiga. Dengan Mumbai, dengan eksotisme Asia, juga dengan muslimnya Jamal dan Salim, Slumdog Millionaire seharusnya dapat memberikan cerita yang lebih mendalam lagi. Jadi, tidak semata berlenggak-lenggok seperti unsur melodramatik di film ini, yang sebenarnya mudah kita temui dalam film-film produk negara lain di belahan dunia mana pun.

 

PS: Ditulis pada Maret 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s