Selamat Datang Dunia Mambang?

Setiap di depan cermin, dilema itu mulai kerap menimpa saya. Memilih satu dari tiga pilihan: kertas tisu, mesin pengering tangan, atau keluar dari toilet dengan telapak tangan yang basah. Akhirnya, demi sebuah mimpi untuk menjadikan bumi yang lebih sehat, pilihan terakhir saya lakukan lebih sering. Saya lupa sejak kapan tepatnya dilema itu muncul. Yang pasti tahun 2008.

Di alam bawah sadar saya rupanya sudah tertanam pesan dampak negatif dari isu lingkungan paling panas tahun lalu: global warming. Film An Inconvenient Truth saya pikir cukup berperan menanamkan pesan tersebut. Atau, bisa juga dari film epik dokumenter Earth, yang membuat saya merasa sebagai anggota segerombolan makhluk paling egois yang pernah hidup di muka bumi: manusia.

Manusia, saya yakin, diciptakan Yang Maha Kuasa untuk memperindah kehidupan dunia. Tapi tuntutan dunia fana yang kita tinggali ini tidak sejalan dengan kemauan-Nya. Terlalu banyak godaan demi memperindah diri sendiri dan memudahkan proses hidup, tidak peduli kalau jalan yang diambil itu dapat merusak apa yang sudah dianugerahkan kepada umat. Godaan itu seringkali mendosakan juga membuat rakus manusia.

Bicara mengenai tuntutan dunia, ada satu pengakuan untukmu kawan, yakni saya tidak mampu mengendarai sepeda motor. Saya tidak bangga tapi juga tidak menyesalinya. Entah kenapa saya malas sekali belajar mengendarai sepeda motor, meski saya bisa mengendarai sepeda. Padahal kata orang-orang, “Kalau kamu bisa naik sepeda, pasti bisa naik motor.”

Belakangan saya menemukan justifikasi mengenai ketidakmampuan saya yang satu ini. Yaitu, dengan tidak bisa mengendarai sepeda motor, paling tidak saya tidak tergoda untuk menggunakannya di jalan raya. Dengan begitu, paling tidak saya bisa menyumbang asap polusi dan menghemat konsumsi bahan bakar minyak. Dengan begitu, paling tidak saya tidak ikut memacetkan jalan raya. Saya lebih rela berdempetan berdiri di bus-bus ibukota yang sesak itu. Semua ini demimu, bumi.

“Ah, mulia sekali niatanmu Angga,” puji alternate ego saya. Saya tahu ia menyindir.

Tapi tunggu dulu, ada satu pengakuan lagi, yakni di tahun 2008 saya mulai tergoda untuk membeli sepeda motor. Sangat tergoda. Saya mulai lelah dengan kota yang tidak bersahabat dengan makhluk pejalan kaki seperti saya. Saya mulai merasa menjadi manusia paling bodoh. Terutama ketika melihat manusia pintar lainnya menggunakan mesin untuk bertahan hidup di kota ini, sedangkan saya masih saja menggunakan otot.

Godaan itu masih saya pikirkan dengan masak-masak. Entah sampai kapan. Saya masih bimbang, juga dalam posisi yang dilematis. Antara memimpikan bumi yang lebih sehat, dengan kenyataan hidup yang semakin keras. Karena itu, akhir-akhir ini, untuk sekedar menyenangkan hati, saya dengan sombong mencoba memprediksi tentang apa yang akan terjadi di masa depan terhadap bumi dan manusia-manusia yang ada hidup di dalamnya.

Namun, tiba-tiba saya ingat esensi dari salah satu buah pikiran Keynes: manusia tidak mengetahui banyak tentang perjalanan hidupnya sendiri. Yang pasti tentang kelak, kata Keynes, adalah bahwa kita semua akan mati. Hidup dan sejarah terdiri dari proses jangka pendek, short runs.

Sekejap, saya pun berhenti sombong memprediksi. Saya malu.

“Angga, sudahlah! Tak usahlah berpikir yang belum pasti! Hidup sekarang saja sudah mulai susah, selesaikan masalah yang ada saja dulu. Jangan sok-sok jadi cenayang bagi kebaikan umat manusia! Kamu tuh kebanyakan baca artikel koran tentang Keynes, nggak mampu kamu berpikir seperti beliau!” sindir si alternate ego saya.

John Maynard Keynes memang sedang dipuja kembali beberapa bulan terakhir ini. “Tangan yang Tak Tampak”-nya Adam Smith yang mengatur permintaan dan penawaran di pasar melemah peranannya setelah dua dasawarsa berjaya di dunia. Goenawan Mohamad menulis begini dalam Catatan Pinggir-nya, “Kini tampaknya sejarah jadi jera. Krisis yang sekarang melanda dunia mengingatkan orang pada Keynes lagi dan bahwa ada keyakinan yang aus—terutama di tengah penderitaan manusia.”

Menjelang akhir tahun 2008, kita tahu, umat manusia di dunia sedang menderita karena tekanan ekonomi. Industri yang berbasiskan ekspor mulai keok, angka pengangguran mulai membengkak, dan daya beli masyarakat pun berangsur lemah. Di Indonesia, kondisi krisisnya diyakini tidak akan separah di negara lain, kata pengelola negara dan para pakar. Ada pendapat yang mengatakan bahwa justru krisis ekonomi global berpeluang menjadikan ekonomi negara membaik.

Apa pun prediksinya, bagaimanapun kondisinya nanti, saya pikir lebih baik kita selalu waspada. Karena Keynes pernah menulis, “Kenyataan yang sangat menonjol adalah sangat guyah-lemahnya basis pengetahuan yang mendasari perkiraan yang harus dibuat tentang hasil yang prospektif.” Dengan berwaspada, kita akan selalu siap.

“Alternate egoku sayang, boleh kan saya mengutarakan pendapat dengan mengutip lagi pikiran Keynes?” tanya saya.

Alternate ego saya diam saja, mungkin pertanda setuju.

Umat manusia sedang menderita hidupnya, dan penderitaan itu seringkali diperparah oleh pemberitaan di media massa. Pemberitaan yang membodohi lebih tepatnya. Di bulan Desember 2008, saya membaca sebuah koran ibukota terbitan perusahaan media raksasa menurunkan headline tentang ramalan tahun 2009 dari seorang cenayang terkenal. Isi ramalannya rupa-rupa, dari pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, bidang politik dan keamanan, kehidupan sosial, bencana alam, hingga kematian dan perceraian para selebritas lokal.

Saya sebal bukan main dengan “jurnalisme” macam ini. Bukankah kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran? Sejak kapan ramalan dianggap kebenaran? Headline seperti ini dibaca oleh masyarakat kita yang masih banyak percaya pada mistis, tentulah sangat mungkin membuat mereka ketar-ketir. Teringat ucapan si alternate ego, “Tak usahlah berpikir yang belum pasti!” saya pun cuma bisa menghela nafas, kali ini agak panjang.

Kawan, umat manusia sedang menderita, bukan saja karena tekanan ekonomi, tapi juga tekanan fisik, seperti yang sedang terjadi di Jalur Gaza sana. Beberapa hari yang lalu, saya beribadah di sebuah mesjid. Di raka’at terakhir sebelum sujud, sang imam tiba-tiba memanjatkan doa, para jamaah pun mengikuti. Di tengah lantunan “Amien..amien” dari para jamaah, lafal “Mujahiddin” dan “Palestina” terdengar dari mulut sang imam. Tiba-tiba saja dada saya sesak, dan kedua bola mata saya menghangat, bahkan saat saya menulis alinea ini. Saya sangat membenci perang.

Melihat ini semua, ingin sekali saya berhibernasi dan mimpi indah tentang bumi yang hijau, lalu bangun di saat bumi benar-benar sudah bersih dari “sampah-sampah” manusia, juga “sampah” saya.

“Nggak bisa. Lu harus hadapin semua itu sob. Bangun dari mimpi!” ujar seorang sahabat.

Kepada sahabat saya itu, saya membuat satu pengakuan, yakni saya terkadang bermimpi aneh. Biasanya saya baru sadar kalau mimpi itu aneh ketika bagian-bagian dari cerita dalam mimpi itu mewujud dalam dunia nyata. Namun, kurang lebih seminggu terakhir ini, saya dibombardir dengan jenis mimpi yang belum pernah saya alami seumur hidup. Dan, saya cukup yakin menyebutnya mimpi yang aneh, meskipun belum tentu akan mewujud dalam dunia nyata. Keyakinan ini saya dapatkan, karena satu sebab: subjek mimpi saya itu selalu sama dan hadir selama delapan hari berturut-turut!

Menghadapi kenyataan hidup, seperti kerusakan lingkungan, godaan, penderitaan manusia, saya yakin bisa menjalaninya. Tapi menghadapi mimpi aneh yang datang dari alam bawah sadar, saya bingung menghadapinya. Agaknya ini sebabnya saya lebih memilih begadang untuk menyelesaikan tulisan ini ketimbang tidur dan kemudian memimpikan subjek itu lagi. Ya, saya memang cukup cemas dengan mimpi itu.

Bagi saya pribadi, apabila mimpi saya ini nanti menjadi nyata, apa pun bentuknya, maka tahun 2009 akan menjadi tahun yang aneh. Begitu juga jika ramalan rupa-rupa cenayang di sebuah koran ibukota itu menjadi nyata, maka tahun 2009 akan menjadi tahun yang sangat aneh bagi umat manusia. Karena kalau begitu, mungkin bisa dibilang bahwa kebenaran datang dari dunia mambang.***

Catatan: Hal-hal yang berkaitan dengan John Maynard Keynes dalam tulisan ini terinspirasi dan beberapa mengutip dari Catatan Pinggir Goenawan Mohamad berjudul “Di Zaman yang Meleset”.

PS: Ditulis pada malam menjelang tahun baru 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s