Sang Pemimpi

“Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.”

Sambil duduk di pantai Belitong dan menatap lautan, Arai (Rendy Ahmad) menyemangati Ikal (Vikri Septiawan) yang semangatnya sudah hancur lebur. Dan dengan menguping lewat buih-buih ombak, Dewa Neptunus sepertinya menangkap semangat penuh optimisme dari kedua remaja miskin itu. Bertahun-tahun kemudian, dengan diimbangi upaya keras, mimpi terbesar mereka akhirnya terwujud. Arai dan Ikal menjadi mahasiswa di Universite de Paris, Sorbonne. Mereka merasakan langsung hujan salju pertamanya di tanah Eropa, dan tak lagi mengkhayalkan jatuhnya kapas sebagai butiran salju.

Selamat datang di dunia nyata Sang Pemimpi. Arai dan Ikal adalah si pemimpi tulennya. Dilahirkan sebagai warga miskin di bumi yang menjanjikan kemakmuran, bisa dibilang hanya mimpi yang menjadi harta terbesar mereka. Tapi jangan remehkan dan samakan impian-impian mereka dengan bualan. Dua remaja ini tak sekadar menaruh impian di langit lapis ketujuh, apalagi berkhayal, tapi mereka juga merencanakan langkah-langkah sistematis untuk mewujudkan mimpinya. Peta dunia mereka tempelkan di dinding kayu kamar kontrakan yang reot sebagai sumber motivasi. Mereka tetap rajin berdoa dan belajar. Mereka berupaya untuk selalu menjadi siswa garda depan di sekolahnya. Mereka bekerja serabutan di pelabuhan. Mereka menabung untuk melanjutkan studi di Jakarta.

Namun, mereka jugalah remaja laki-laki dengan berbagai momen gejolak masa muda yang hampir kita semua pernah merasakannya: jatuh cinta, dimulainya proses pencarian jati diri—yang sejatinya tak akan pernah selesai, menonton film dewasa yang mengundang birahi, mengecewakan orangtua, kebandelan yang membuat murka guru-guru di sekolah, patah semangat, dan sebagainya. Lalu ibarat bonus pahit, Arai dan Ikal diberikan satu kondisi merana lainnya, yakni kemiskinan yang sebetulnya bisa membuat impian mereka tak beranjak dari sebatas untaian kata-kata saja.

Bagaimana pun, Arai dan Ikal tetap berlari, berlari cepat, untuk mengejar mimpi-mimpinya, bertolak belakang dengan tempo filmnya yang melaju cukup lambat.

Tempo yang lambat, inilah yang sangat terasa dari Sang Pemimpi. Lagi-lagi Riri Riza memakainya. Sebelumnya di Laskar Pelangi, tempo yang lambat ini juga dipakai Riri. Menurut sutradara ini—saya kutip dari artikel di Rolling Stone Indonesia, sebenarnya bukan tipikal tempo film yang akan sukses, point of attack-nya tak bergerak dengan cepat. Dalam artikel itu tertulis, Riri sadar bahwa di setiap lima menit dalam Laskar Pelangi selalu ada puncak emosi yang kecil-kecil. Namun ternyata di situlah kekuatan film ini, yang membawa kita sebagai penonton terhanyut masuk ke dramanya, kita menjadi intim dengan karakter-karakternya. Lagipula menurut Andrea Hirata, film Laskar Pelangi berhasil menampilkan gambar yang tempo dan cara bertuturnya mewakili cara berkomunikasi orang Melayu.

Saya sendiri tak terlalu bermasalah dengan tempo yang lambat ini. Mungkin karena saya selalu ingat ucapan Riri yang terkenal, “Bikin yang kita suka aja dulu, jangan mikirin yang orang suka.” Nadanya memang terkesan arogan, apalagi jika dikaitkan bahwa rumusan cerita yang disukai industri film. Tapi lagi-lagi saya ingat perkataan Riri lainnya—saya kutip dari sebuah buklet, “The making of these films are very intimate processes of portraying the culture and people that I love and I am very proud of.”

Dari perkataan yang terakhir itu terlihat, ia memang tak asal buat dalam menyutradarai film-filmnya. Kebosanan sebagai resiko yang berpotensi kuat menimpa penonton akibat dari lambatnya tempo, rela ia ambil demi menyesuaikan dengan masyarakat dan budaya di dalamnya. Maka tak usah heran jika Andrea menilai Riri berhasil mengadaptasi cerita novelnya.

Nah, lalu bagaimana dengan Sang Pemimpi? Terlepas dari niatannya untuk mewakili pola tutur komunikasi orang Melayu, dari tempo yang lambat inilah saya juga menyadari bahwa Riri Riza sedang menyuguhi realita yang lebih nyata secara lebih intim kepada kita. Realita yang muatannya tak terlalu mengikuti pakem cerita berstruktur tiga babak—yang memiliki satu puncak dramatik tertinggi—tapi justru ibarat mozaik kehidupan yang berwarna-warni dan puncak-puncak dramatiknya menyebar di sepanjang film. Seperti yang ia lakukan dalam Laskar Pelangi, hanya saja kali ini puncak-puncak itu lebih banyak dan tersebar merata.

Dengan menerapkan tempo yang lambat ini juga membuat Riri leluasa dalam mengenalkan dan mengembangkan karakter-karakternya. Lihatlah bagaimana ia memakai alur flashback berkali-kali saat menuturkan kisah hidup Arai, Ikal, dan Jimbron (Aswir Fitrianto). Mereka, para pembuat film Sang Pemimpi, memilih pola ini karena sadar betul bahwa setiap tokoh di film ini mempunyai karakter yang kuat dan unik. Kita pun melihat film yang didorong oleh kekuatan karakter (character-driven).

Dari lambatnya tempo terlihat juga bahwa Riri sebagai sutradara—juga Salman Aristo dan Mira Lesmana sebagai penulis skenario—jadi mampu mengeksplorasi ruang dan waktu serta menguasai ritme cerita. Perhatikan cara Riri mengantarkan kita ke salah satu puncak dramatik film ini, yakni saat Ikal mengejar ayahnya, Selan (Mathias Muchus), untuk meminta maaf dengan sebelumnya menyelipkan adegan flashback yang menceritakan kenapa Ikal tak memercayai tukang pos. Hasilnya, selain mata kita yang menghangat dan teringat pada ayah kita, coba tanyakan ini ke hati dan jawablah dengan jujur, “Sudahkah kita membuat orangtua bangga pada diri kita?”

Cara dan semangat Riri dalam menyuguhkan realisme di Sang Pemimpi juga agak mengingatkan saya pada ELIana, eliANA. Ada dua hal yang membuat saya terpikir seperti itu: subplot dan adegan-adegan kecil di dalamnya yang mendukung kuat garis utama ceritanya, yakni tentang mewujudkan mimpi.

Cobalah tengok, melalui subplot, seperti Jimbron yang berusaha menaklukkan hati Laksmi dan kecintaannya kepada kuda; bagaimana Arai berupaya mati-matian membuat Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda) supaya terpikat kepada dirinya; cara tiga remaja ini untuk menonton film dewasa; atau, tentang dipecatnya ayah Ikal dan hancurnya PN Timah; semua subplot inilah yang sebetulnya memberikan dimensionalitas kepada sebuah film, begitu kata Linda Seger, seorang pakar skenario. Dimensi-dimensi ini menjadi penting karena membuat elemen pembentuk realitas film ini semakin kaya.

Perhatikan juga adegan ketika Arai berjalan mengikuti Zakiah dari seberang sisi jalan dan mengucapkan pantun, tiba-tiba sebuah sepeda motor lewat sehingga membuyarkan semuanya; atau, lihatlah bagaimana Pak Mustar (Landung Simatupang) bernapas ketika berbicara, yang seperti berhidung mampet itu. Itulah adegan dan hal-hal kecil, yang tampak tidak penting, tapi terjadi di dunia nyata. Itulah realita yang mewujudkan dunia penuh mimpi dalam film ini tampil utuh.

Bagi saya, gabungan subplot dan berbagai adegan kecil inilah yang membuat film ini menjadi hidup dan mampu berbicara soal optimisme secara lebih riil. Meski memang, apabila dibandingkan dengan Laskar Pelangi yang di dalamnya membaurkan optimisme dengan aura keceriaan secara dominan, maka dalam Sang Pemimpi optimisme itu dibalut dengan wajah muram dan pikiran pesimis, sehingga terkesan film ini mengajak kita untuk bermurung. Apalagi, Riri sesekali memakai kemuraman itu untuk bermain-main dengan bentuk surealisme, misalnya saat adegan Ikal membayangkan kehidupannya di masa depan ketika ia sudah hampir frustasi.

Namun, justru di sinilah Riri berhasil memberikan nyawa pada cerita Sang Pemimpi, bahkan bisa dibilang melebihi apa yang ia suguhkan di Laskar Pelangi. Dengan kata lain, inilah wujud realitas yang lebih membumi bagi para remaja miskin, seperti tokoh Arai dan Ikal. Inilah wujud realitas yang tidak hanya menawarkan optimisme yang semu, tapi optimisme yang logis. Inilah realitas yang mampu berjalan beriringan dengan dunia mimpi—yang kerap kali maksud dan penafsirannya bersinggungan dengan persoalan absurditas dan tak logis.

Lewat dunia Arai, Ikal, dan Jimbron ini hadir ke permukaan bahwa sebetulnya impian dan realitas memiliki relasi kokoh yang seringnya tertutupi oleh kemisteriusan jalan hidup, dan tugas kodrati kitalah untuk menyingkapnya. Dari semua ini, saya bisa berkata bahwa esensi dan puncak dramatik tertinggi Sang Pemimpi yang sebetulnya bukan berada di dalam bangunan cerita filmnya, tapi di dalam diri kita masing-masing dalam bentuk pertanyaan, Sudahkah kita berusaha mewujudkan impian-impian kita?

 

PS: Ditulis pada Desember 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s