Sama Rata, Sama Rasa

SUATU SIANG, awal tahun ini, isi bus Transjakarta kebetulan tidak terlalu penuh. Beberapa penumpang berdiri, termasuk saya. Pramudinya saat itu wanita dan satgasnya pria. Dalam perjalanan dari halte Ragunan hingga masuk kawasan Kuningan, saya bisa menyimpulkan bahwa si ibu pramudi berwatak keras dan galak. Soalnya, ia kerap menutup dan mengusir kendaraan lain yang masuk ke jalur busway sambil mengomel.

Namun ibu pramudi mungkin melupakan fakta bahwa Jakarta adalah sebuah hutan rimba modern. Maka satu kendaraan keluar, tak lama kemudian dua kendaraan lain masuk lagi ke jalur busway. Mati satu, tumbuh seribu. Ibu pramudi capek sendiri, tetapi ia tidak juga jera.

Selepas Halte Kuningan Madya, kekesalan ibu pramudi memuncak. Ternyata masih ada dua mobil pribadi yang menguntit bus Transjakarta. Ia pun memberhentikan bus, lalu meminta satgasnya keluar untuk menyuruh dua mobil pribadi itu minggat dari jalur busway. “Bilang aja busnya mogok. Biar (mereka) pada mundur. Bisa kebiasaan mereka soalnya kalo dibiarin!” perintah ibu pramudi dengan kesal.

Sayangnya, si satgas ternyata berwatak lebih kalem, kalah galak dibandingkan dengan pramudinya. Maka satgas pun emoh keluar. “Ntar juga mereka keluar sendiri,” kata satgas sambil senyum-senyum.

Mendengar jawaban itu, ibu pramudi jadi tambah kesal dan menggerutu. Tanpa buang waktu, ia sendiri yang keluar dan menyuruh dua mobil pribadi keluar dari jalur. Galak dan tegas. Pelan-pelan mereka mundur. Kembali ke dalam bus, ibu pramudi tak langsung menginjak gas. Ia menunggu dua mobil itu keluar jalur busway dahulu. Lalu bus berjalan kembali.

Tepat di belakang kursi pramudi, duduklah seorang nenek. Bertubuh kurus. Wajahnya agak tirus. Rambutnya sebahu dan agak lurus. Mungkin usianya berada di akhir 50 atau awal 60 tahun. Tiba-tiba si nenek bilang, “Harusnya dibiarin aja masuk, kan sama-sama pengguna jalan.”

“Ya nggak bisa begitu Bu, kan sebenarnya ada peraturannya,” jawab si pramudi.

“Ya nggak apa-apa. Orang sama-sama bayar pajak kok. Sama-sama berhak.”

“Bukan begitu Bu, nanti mereka kebiasaan. Kan emang nggak ada yang boleh masuk jalur busway selain bus Transjakarta.”

“Ya harusnya dibiarin aja. Kenapa nggak boleh? Orang sama-sama bayar pajak kok. Sama rata, sama rasa.”

Ibu pramudi terdiam sejenak. Ia pasti kesal.

“Ibu kalo nggak suka turun saja di halte berikutnya. Atau telpon saja ke pengaduan busway. Itu kan ada nomor telponnya di atas ibu!” kata si pramudi dengan ketus.

Si nenek diam saja. Di halte berikutnya, ia tetap duduk dengan manis. Tebakan saya yang paling sederhana: si nenek kemungkinan besar adalah pengguna kendaraan pribadi yang merasa kerap dirugikan oleh kehadiran busway. Tak heran ia membela dua pengendara mobil pribadi itu.

Mendengar percakapan dua orang beda generasi itu, saya tertawa dalam hati. Apalagi sewaktu si nenek mengucapkan ‘sama rata, sama rasa’, saya teringat saat guru saya sedang membahas soal paham sosialis dan (atau) komunis semasa SMA dulu.

 

SORE HARI, beberapa bulan yang lalu. Saat itu jam pulang kantor. Ruas jalan Jakarta tentu kembali sibuk. Para pengendara kendaraan tak sabar ingin cepat sampai di rumah. Sayangnya laju kendaraan tak bisa dipaksakan mengebut. Semua kendaraan merayap dengan kecepatan yang sama seperti seekor kukang menyeret tubuhnya di atas tanah. Termasuk bus Transjakarta yang saya tumpangi saat itu. Meskipun melaju di jalur khususnya dan dianugerahi privilege, bus Transjakarta terpaksa harus merasakan macet seperti yang dialami kendaraan lain.

Sore itu, saya ingat ucapan si nenek anonim beberapa minggu yang lalu: sama rata, sama rasa.

Ketika itu bus Transjakarta yang saya naiki sudah penuh sesak oleh penumpang. Kebetulan saya duduk sendirian di tangga pintu kiri depan bus. Menjelang tiba di Halte Mampang Prapatan, bus terjebak antrian panjang, di antara deretan panjang mobil pribadi. Di samping kiri kanan bus berseliweran puluhan motor. Mereka melaju memanfaatkan celah yang tersisa.

Dug! Bunyi itu tiba-tiba terdengar dari arah samping. Rupanya salah satu motor menyenggol badan bus bagian kanan depan dan langsung ‘kabur’. Bapak pramudi langsung menarik tuas rem dan keluar. Saya pikir ia bakal naik lagi ke bus, tetapi ternyata ia agak lama di luar. Entah apa yang dilakukannya. Saya baru sadar kalau ternyata bapak pramudi sedang bersitegang dengan seorang pengendara motor. Dua-dua lelaki ini saling bentak dengan nada yang semakin keras.

Pokok persoalannya, pramudi tidak memperbolehkan si pengendara motor lewat karena celah yang ada tidak muat untuk diselipi motor. Pramudi tak mau busnya disenggol dan lecet lagi. Namun, si pengendara motor malah bersikeras kalau celah itu muat untuk motornya. Dua-duanya tak mau kalah. Ia menunjukkan bekas senggolan motor sebelumnya. Tidak berpengaruh, si pengendara motor tetap keras kepala. Mengalahkan keras kulit helmnya mungkin.

“Ukur aja, ukur kalo nggak percaya. Bisa lewat kok!” teriak si pengendara motor.

“Ini tadi kesenggol Pak. Ini jelas kelihatan lecetnya!” balas pramudi dengan agak galak.

“Ya saya kan bisa lewat pelan-pelan, jadi nggak akan kesenggol lagi!”

“Nggak bisa Pak. Emang nggak muat kok. Jangan maksa masuk!”

“Tapi kan yang jelas motor sebelumnya tetap aja bisa lewat. Salah motor yang tadi kan kalo nyenggol. Kenapa saya yang nggak boleh lewat. Kenapa saya malah dihalang-halangi!”

“Loh kok Bapak malah yang ngotot. Kan Bapak yang lewat jalur busway. Sebenarnya kan nggak boleh masuk jalur busway!”

“Semua orang pada masuk kok. Biasanya juga pada masuk nggak apa-apa. Polisi di belakang juga nyuruh masuk jalur busway!”

“Ya kalo mau masuk jalur busway, ya jangan seenaknya sendiri dong!”

Si pengendara motor lalu turun dari motor. Ia berusaha menutup paksa pintu bus yang sengaja dari tadi dibiarkan terbuka oleh pramudi supaya motor terhalangi Dua pria ini saling berteriak. Posisi badan mereka sudah semakin berdekatan. Di belakang bunyi klakson motor dan mobil pribadi saling bersahutan, membantu untuk menaikkan hawa panas emosi.

“Bapak mau apa? Jangan maksa lewat!” bentak pramudi.

“Kamu mau pukul saya. Pukul aja saya. Ayo pukul aja!” gertak si pengendara motor sambil berteriak kencang.

Di dalam bus, para penumpang ikutan kesal dengan kelakuan si pengendara motor. Seorang bapak yang berdiri dekat pintu depan berteriak, “Udah pukul aja!”

Si pengendara motor terdiam.

“Heh monyet, udah salah ngotot lagi!” bentak bapak lainnya.

Di luar, dua bus Transjakarta dari arah yang berlawanan berhenti. Dua satgasnya keluar menengahi perselisihan. Seorang pengawas (atau mungkin komandan lapangan) bus Transjakarta yang kebetulan lewat juga turut campur. Si pengendara motor kekurangan suporter. Ia tahu diri karena sudah dikerubuti pihak lawan.

“Udah jalan aja, Pak,” perintah si pengawas kepada pramudi yang tampaknya masih kesal.

Bus Transjakarta yang saya tumpangi pun berjalan pelan. Si pramudi lalu menggerutu sendiri, “Saya sih bukan apa-apa. Kalo mereka nyenggol langsung kabur. Tapi kalo mereka yang kesenggol busway dan jatuh malah mereka yang marah-marah terus nuntut. Padahal salah mereka sendiri masuk jalur busway. Sering banget tuh kejadian kayak gitu.”

Penumpang yang tadi ikut membentak si pengendara motor hanya mengangguk-anggguk.

Kemudian si pramudi melanjutkan gerutuannya, “Saya sih nggak takut kalo nabrak motor. Busway itu punya banyak duit. Udah sering busway nabrak mati orang, tapi nggak ada tuh pengemudinya yang ditahan.”

Saya sedikit tertegun mendengar ucapan si pramudi.

Tepat keesokan harinya, sterilisasi jalur busway diberlakukan secara ketat. Di setiap persimpangan sepanjang koridor VI Ragunan-Dukuh Atas, dua orang satgas menjaga jalur busway di setiap jam-jam sibuk. Ditambah lagi dengan polisi dan petugas DLLAJR. Efektifkah?

Pada suatu pagi belum lama ini, dua orang tertabrak bus Transjakarta di dekat Jalan Halimun. Mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berboncengan motor. Si pria yang mengemudi motor selamat, tetapi pacarnya tidak. Ia terlindas bus dan mengalami luka parah di bagian kepala. Sebuah koran memberitakan, si pria mengaku masuk ke jalur busway karena diburu waktu. Seorang saksi mengatakan bahwa bus Transjakarta sedang melaju pelan saat itu.

Jalan raya dan kehidupan kota kembali mengambil nyawa warganya, dan kali itu giliran warga pendatang.

 

BAPAK ITU SUDAH RENTA, tetapi semangatnya masih kuat. Ia selalu berjalan kaki dari rumahnya di daerah Ciganjur ke Cilandak setiap selesai subuh. Rutinitas itu dilakukannya demi segepok rupiah. Tanpa alas kaki, ia meniti jalan aspal sejauh lebih kurang 10 kilometer sambil memanggul dua keranjang berisi buah-buah. Lapak kecil di suatu pinggir Jalan Ampera Raya adalah tujuan perjalanan paginya.

Bapak tua itu adalah tetangga saya. Rumahnya berjarak sekitar 100 meter dari rumah saya. Tujuh tahun yang lalu, ketika setiap pagi saya berangkat ke sekolah saya di daerah Pasar Minggu, saya sering melihatnya. Saya duduk di dalam angkot, sedangkan ia berjalan kaki tergopoh-gopoh. Ayah dan ibu saya bercerita, bapak tua itu sudah berjalan kaki setiap pagi sejak Ciganjur masih dipenuhi oleh pohon-pohon karet dan jalan masih bertanah merah, sekitar awal tahun 1970.

Bapak tua itu orang Betawi asli. Buah-buahan yang dipikulnya adalah hasil kebun miliknya. Dulu kebun seperti milik si bapak tua masih luas dan bertebaran di sekitar rumah saya. Maklum, para tetangga saya banyak yang keturunan Betawi asli, dan orang Betawi identik dengan juragan tanah. Namun kini, sejak semua jalan dilapisi aspal dan kendaraan makin berjubel, tanah-tanah kebun itu telah ditanam dengan pondasi rumah. Dibeli oleh keluarga-keluarga mapan pindahan dari pusat keramaian Jakarta. Sedangkan berhektar-hektar lagi, tanah merah sudah terlapisi oleh rerumputan hijau-halus yang indah, tetapi sering tercabik-cabik karena terkena hantaman tongkat besi demi melontarkan sebutir bola putih ke arah langit.

Tujuh tahun yang lalu adalah terakhir kalinya saya melihat perjalanan pagi bapak tua. Karena selepas SMA, saya hijrah ke Jatinangor dan Bandung. Hingga kembali tinggal tetap di Jakarta sejak dua tahun silam, tak pernah lagi saya melihatnya. Maraknya minimarket yang juga menjual buah-buahan, usianya yang makin tua, jalan raya yang makin diskriminatif terhadap pejalan kaki, dan kelakuan pengendara kendaraan bermotor yang makin kejam terhadap pejalan kaki, membuat bapak tua tinggal di rumah selepas shalat subuh.

Jalan raya sudah tidak bersahabat lagi untuk si bapak tua.

Pak Hasan, bapak tua itu, dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sekitar setahun yang lalu. Tepat di hari Jum’at.

 

KEMARIN, saya membaca kritik F. Engels tentang jalan dalam Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang (Kusumawijaya, 2004). Ia menulis :

“Ada yang menjijikkan mengenai ketergesaan di jalan-jalan, sesuatu yang memalukan harkat manusia itu sendiri. Ratusan ribu orang dari semua kelas dan tingkatan masyarakat saling berdesakan melewati yang lain; apakah mereka ini semua bukan manusia dengan hakikat dan potensi yang sama, yang sama-sama berkepentingan mengejar kebahagiaan?…Tetapi mereka tergesa-gesa melewati satu sama lain seolah-olah mereka tidak memiliki kesamaan sama sekali atau tidak berhubungan satu sama lain dalam hal apapun…”

Saya, kamu, dan orang-orang yang hidup di kota tua ini semua serba tergesa. Ketergesaan itu kadang menjadikan warganya sebagai tumbal. Nyawa-nyawa yang melayang begitu saja di jalan. Tak peduli tua ataupun muda. Lagi-lagi saya teringat ucapan si nenek anonim berwajah agak tirus: sama rata, sama rasa.

 

 

PS: Ini tulisan lama. Saya buat pada Juli 2008. Tulisan ini untuk kamu dan kamu, yang setiap hari berjibaku di atas aspal demi menyulap impian menjadi kenyataan; juga demi melawan proses pelucutan elemen kemanusiaan dalam diri kita yang kerap terjadi di jalan raya tanpa kita sadari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s