Romansa Pasangan Kulit Putih Pucat

Kulit Bella Swan (Kristen Stewart) berwarna putih pucat. Padahal remaja ini sudah belasan tahun tinggal di Arizona, wilayah bercuaca terik dan pohon kaktus tumbuh subur di sana. Mungkin Bella tidak sepenuhnya sadar mengenai anomali tubuhnya ini. Hingga akhirnya, pada suatu waktu ketika seorang teman di sekolah barunya bertanya dengan heran, ”Bukankah seharusnya kulitmu berwarna coklat?” Bella menjawab dengan datar dan sambil berlelucon, ”Ya mungkin karena itu saya diusir dari sana.”

Bella memang baru saja pindah dari Arizona ke Forks, Washington, kota kecil yang selalu mendung dan hujan. Di awal masa SMA-nya itu, ia harus ikut hidup dengan ayah kandungnya, Charlie (Billy Burke), kepala polisi di Forks, karena ibu kandung dan ayah tirinya harus sementara waktu berpergian. Bella yang terakhir tinggal bersama ayahnya ketika masih berusia empat tahun pun pesimis mampu tinggal di kota basah itu. Namun, ia ternyata malah mulai betah, apalagi penyebabnya kalau bukan karena seorang cowok.

Ia adalah Edward Cullen, si ganteng misterius yang dikagumi siswi-siswi satu sekolahan; anak dari keluarga Cullen yang semua anggotanya juga misterius, introvert, berwarna kulit putih pucat melebihi Bella juga warga kota lainnya, dan selalu menghilang ketika matahari bersinar cerah di langit Forks. Penyebabnya, karena keluarga Cullen ingin menutupi identitas asli mereka: vampir.

Sejak interaksi pertama mereka, mungkin selain karena sama-sama berkulit putih pucat, ada semacam aroma adiktif dari tubuh Bella yang menggoda nafsu dan keyakinannya untuk pertama kalinya. Edward tergoda untuk mencicipi darah Bella, dan kondisi ini telah berpuluh-puluh tahun dinanti-nantinya. Namun godaan itu rupanya memercikkan perasaan lain. Baginya, inilah wujud dari rasa jatuh cinta. Jadi Edward pun merasa perlu bersikap protektif terhadap Bella sembari melawan hawa nafsunya. Bella, yang kemudian tahu jati diri Edward, akhirnya menjalin cinta terlarang dengannya.

Meski terlarang, Bella tidak ambil pusing, karena baginya, juga bagi remaja lainnya yang sedang dimabuk asmara, cinta mereka harus dibela tanpa syarat, tak peduli resikonya. Bahkan Bella bersedia menjadi vampir demi hidup bersama Edward. Inilah bentuk kenaifan pikiran remaja yang produksi hormonnya sedang meluap. Sedangkan Edward, yang sebetulnya sudah berusia lebih dari 100 tahun itu, khawatir mengenai hubungan mereka. Ia sadar bahwa bahaya bisa datang terlalu cepat mengancam hidup mereka. Dan, ya, bahaya yang ditakutkan itu pun tiba.

Drama romance mengenai dunia remaja kerap jatuh pada kisah yang tipikal. Twilight tak jauh berbeda, walaupun bertema cinta terlarang antara manusia dan vampir, yang sebenarnya tidak baru-baru amat. Nyaris tidak ada tawaran eksplorasi baru dalam cerita maupun penuturannya, kecuali inovasi dan eksperimentasi dalam kultur dan mitos mengenai kaum vampir: meminum darah hewan, tidak alergi terhadap bawang, dan berkilauan kulitnya ketika diterpa sinar matahari—mungkin inilah yang disebut vampir era posmodern.

Hukum kausalitas yang bekerja dalam cerita film ini pun ikutan menjadi tipikal. Kebaikan tidak akan eksis tanpa ada rivalnya, keburukan, sehingga hadirlah karakter antagonis di sini untuk memantapkan kekuatan cinta Bella dan Edward. Dan, modal kuat film ini mengenai pertentangan antara hawa nafsu dan cinta dalam diri Edward vis-a-vis ketulusan cinta Bella yang sudah dipaparkan di setengah awal durasi menjadi sia-sia, tak ada pendalaman. Twilight pun tampak serba tanggung, dan ini membuat duo tokoh utamanya tampil serba ragu.

Toh, film ini tetap laris. Kenapa? Saya pikir karena Twilight bersandar pada dua hal. Pertama, sosok Edward Cullen yang menjelma dalam tubuh Robert Pattinson. Sudah ganteng, protektif, kuat pula, tetapi tetap misterius, remaja putri di alam nyata mana yang tidak suka? Sosok Edward tampak dijadikan sebagai komoditas utama. Ini terlihat jelas dari gerak kamera saat menyasar bagian tubuh Edward/Robert secara amat dekat, seperti wajah, bibir, dan bola matanya. Dengan disyut seperti ini, jelas sudah siapa target penonton film Twilight bukan?

Kedua, terletak pada dramatisasi kisah fiksi cinta terlarang ini. Dalam Reading the Romance (1987), Janice Radway pernah menjelaskan bahwa fantasi romantik merupakan suatu keinginan untuk diperhatikan, dicintai dan dikuatkan dengan cara-cara tertentu. Ini adalah fantasi tentang hubungan timbal-balik, keinginan untuk percaya bahwa laki-laki dapat memberikan kasih sayang dan perhatian, sementara perempuan mengharapkan hal yang juga sama pada laki-laki. Ya, kisah Bella dan Edward yang sedang dimabuk asmara jelas mengejawantahkan eksplanasi Radway di atas. Tidak heran, selesai menonton saya mendengar gerombolan remaja putri berbicara, “Mau dong punya pacar vampir kayak Edward.”

Agaknya film Twilight hanya mampu menghasilkan celetukan semacam ini. Semoga di sekuelnya nanti tidak begini.

 

PS: Ditulis pada Januari 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s