Putri Salju dari Pangkal Pinang

Ini hasil wawancara caur saya dengan Sandra Dewi, sebelum ia tenar seperti sekarang.

“Penampilan Sandra Dewi sebagai pendatang baru mendatangkan empati,” tulis seorang awak redaksi (saya lupa namanya) dari Soap Magazine di poster film Quickie Express. Lalu, dari kanan, arah pandangan mata saya pindah ke kiri lembaran poster. Di situ tertulis: Introducing Sandra Dewi.

Siapa gerangan Sandra Dewi? Sumpah, saya belum pernah dengar nama itu sebelumnya. Wajahnya seperti apa juga tak terbayang oleh saya. Tapi saya penasaran. Kenapa?

Soalnya, yang memproduksi Quickie Express adalah Kalyana Shira Film. Dan, Kalyana selalu sukses mengorbitkan aktor-aktris baru dalam berbagai filmnya. Contohnya, Tora Sudiro (Arisan!), Mariana Renata (Janji Joni), atau Dominique dan Atiqah Sarumpaet (Berbagi Suami).

Makanya, mengingat prestasi Kalyana yang satu ini, saya jadi ingin cepat-cepat melihat seperti apa penampilan dan perawakan si Sandra Dewi ini. Apa istimewanya dia. Karena tentu, Kalyana, dalam hal ini Nia Dinata, sudah melihat potensi besar dalam diri Sandra.

Akhirnya, menjelang tengah malam di bioskop 21 Cilandak Town Squares pada 10 November 2007 lalu, saya menonton Quickie Express. Adegan demi adegan muncul, dan hadirlah si Sandra ini.

“Oow, ini toh Sandra Dewi. Manis juga plus chubby. Lucu,” pikir saya saat itu.

Hingga, terucaplah dari mulut Lila, “Nggak bisa yah. Seedih deeh.”

Langsung bersuaralah seisi bioskop dengan serentak, “Oouuhh.”

Sabtu pagi, 1 Desember 2007, saya ngobrol-ngobrol dengan Sandra Dewi. Dia sekaligus akan melakukan sesi pemotretan. Tapi ternyata dia telat. Sekitar pukul 9.40, barulah Sandra tiba ditemani adiknya, Tika. Sandra kelihatan lebih kurus. Tak seperti Lila yang agak berisi.

***

Suatu siang pada tahun 2006, Sandra sedang melamun di kantornya, sebuah advertising agency. Saat teman-teman pergi makan siang, Sandra berdiam di kantor sambil menyantap bekal makanan yang dibawanya dari rumah. Lalu, iseng-iseng ia menulis beberapa target hidupnya untuk tahun 2007 di secarik kertas.

“Pertama, ikut kontes kecantikan. Dua, pengen ketemu Nia Dinata terus minta casting. Tiga, main film Nia Dinata,” ujar Sandra, yang memang sangat mengidolakan Nia Dinata. Karena baginya, film-film pemilik rumah produksi Kalyana Shira Film itu selalu berbeda dan smart.

Meskipun cuma iseng saja, tapi dalam hati gadis berdarah campuran Palembang, Tionghoa, Sunda, dan Belanda ini tetap berharap. “Cuma kan nggak berani mimpi lah yah. Orang aku dari daerah, biasa aja,” kata gadis kelahiran Pangkal Pinang, 8 Agustus 1983 ini.

Lalu, Sandra mengikuti kontes kecantikan dari Majalah Cosmopolitan, Fun Fearless Female 2006. Tak disangka, salah satu jurinya adalah Nia Dinata. Akhirnya, saat malam final 17 November 2006, Sandra berhasil menyabet gelar WRP Fun Fearless Female 2006.

“Malam itu niatku, kalo Nia nyelamatin aku, aku mau bilang kalo aku mau casting peran apa kek. Peran yang lewat-lewat doang juga nggak apa-apa,” ucap Sandra, yang bernama lengkap Monica Nichole Sandra Dewi Gunawan ini.

Belum sempat mengutarakan niatnya itu, ternyata malah Nia Dinata duluan yang mengajak Sandra untuk ikut casting di film terbarunya, Quickie Express.

Berikut petikan obrolan bersamanya:

Bagaimana pengalaman casting pertama kamu?

Pas di Kalyana aku dikasih tau akan di-casting untuk peran Lila. Aku lihat para kandidatnya yang dateng. Mereka udah punya nama, malah ada pemenang Piala Citra 2006 segala. Jadi aku mikir, “Mendingan gue pulang deh”. Tapi jauh bo, dari Cipete (letak kantor Kalyana Shira Film) ke rumahku di Kedoya, jadi ongkosnya udah mahal hehe…Ya udahlah, siapa tahu ada peran yang lain yang cocok, nggak usah peran utama nggak apa-apa.

Terus?

Setelah sebulan, baru dihubungin kalau aku lolos untuk casting tahap kedua. Waktu itu ada aku sama satu kandidat lain. Aku dites sama Tora Sudiro, reading gitu. Dilihat chemistry-nya bagaimana. Waktu itu, Dimas Djay sama Tora milihnya aku. Kalo teh Nia ternyata emang dari awal udah milih aku.

Jadi hari itu juga langsung diumumkan hasilnya?

Nggak. Jadi pas pulang, di rumah aku bawa terus tuh HP, mau mandi pun aku bawa. Aku berdoa juga, puasa juga. Puasa baru sehari, ternyata ditelpon pas aku lagi mandi, katanya aku dapat peran itu. Teriak-teriak lah aku. Gila. Mimpi aja aku nggak bisa seindah itu, pokoknya bersyukur banget deh.

Kesulitan apa yang kamu alami saat syuting?

Syuting hari pertama aku stres banget, karena nggak percaya diri dan mikir, “Bener nggak sih gue bisa?” Apalagi lawan mainnya udah pengalaman. Aku sampe sakit tenggorokan nggak bisa ngomong.

Reaksi orang-orang Kalyana bagaimana?

Teh Nia ngajak aku keluar (lokasi syuting), terus ngomong ke aku, “Kita tuh percaya sama kamu, kamu harus percaya diri. Kamu lakukan semaksimal mungkin, akting natural aja.” Aku akhirnya sembuh dan syuting.

Kalau adegan favorit kamu yang mana?

Pas dance. Karena, si mantan pacar aku di film itu, DJ Paul, latihannya satu bulan. Sedangkan aku sama Tora harus kompak dan bagus dance-nya. Tapi karena Tora itu sibuk banget kita nggak punya waktu untuk latihan. Jadi pas syuting itu on the spot.

Sama sekali nggak ada koreografi?

Nggak ada koreografi. Tora nari dengan gayanya sendiri, terus aku yang jadi bingung gitu.

Kata Dimas Djay apa?

Aku nanya ke dia, “Kita nggak latihan dulu?” “Udah spontan aja,” kata Dimas Djay. “Aduh bagaimana bisa bagus kalo spontan.” Tapi ternyata, malah yang spontan itu Dimas suka. Ternyata, lucu juga ya kalo spontan. Makanya, aku nari kayak bebek aja di situ hehe…

Kabarnya Dimas Djay galak kalo lagi direct?

Nggak. Orang-orang bilang Dimas Djay galak, padahal nggak. Aku bersyukur di-direct sama Dimas karena dia pinter, detil banget. Bahkan dari bentuk rambutku, kostum, make up kayak warna lipstik, eye shadow, itu semua dia yang ngatur. Karena dia detail banget kasih taunya, jadi aku sangat terbantu.

Ngomong-ngomong soal lucunya film ini, waktu nonton keseluruhan, penonton ada yang ketawa, tapi ada juga yang nggak lho.

Film ini memang bertujuan untuk menghibur aja. Dan kita pesennya cuma satu, kalo nonton film ini santai aja, nggak usah dibawa serius, karena tujuan film ini memang cuma menghibur santai, ketawa-ketawa doang. Jadi bukan film yang serius.

Saat gue nonton, ucapan lo yang, “Yah, sedih deeh..” bikin banyak penonton ketawa loh, malah mungkin bikin gemes.

Hehe..Iya, setiap kali promo atau nonton bareng, semua orang ketawa. Aku mikir lucunya di mana. Temen-temenku juga bilang gitu, “Lo tuh ngomongnya lucu banget.” Cuma aku nggak ngerasa itu lucunya di mana. Dari Kalyana, teteh juga bilang kalo itu bagus karena bisa bikin orang waah hehe…

Ada nggak persamaan atau perbedaan antara karakter kamu dengan Lila?

Kalo Lila kan suka senyum terus, aku memang juga begitu. Terus aku memang selalu positive thinking sama orang lain, karena bagiku setiap orang itu punya sisi negatif dan positif. Tapi kalo Lila nggak begitu, makanya dia nangis aja pas tahu Jojo itu gigolo…Oh iya Ngga, sebenernya cerita aslinya, Jojo sama Lila baikan loh. Malah sampe menikah. Cuma sama Dimas Djay diubah.

Kalau pacar kamu seorang gigolo bagaimana?

(Sambil tertawa kecil)..aku nggak mau. Pasti aku tinggalin.

Walaupun pacarmu itu pengen tobat dan mencintai kamu banget, kayak Jojo gitu?

Nggak, kalau Sandra Dewi nggak mau. Tetep nggak hehe..

Kamu juga agak gemuk di film itu, emangnya naik berapa kilo?

Iya aku kan di film itu harus tampak lucu, jadi makan terus dan jadi gemuk banget. Naik dari 48 ke 54. Enam kilo.

Sengaja dibuat gemuk biar sesuai style retro filmnya yah?

Iya, karena selain memang Lila itu lucu, Dimas Djay nggak mau tampak sosok model dalam film itu. Jadi pengennya bener-bener cewek tahun 1960-an, kayak Eva Arnaz  gitu.

Lo sendiri suka dengan style retro nggak?

Gue sama sekali nggak retro. Gue bener-bener yang casual banget. Pake kaos sama celana jins. Tapi sekarang aku lagi suka pake batik.

Kenapa batik?

Gara-gara teh Nia nih. Jadi pas di Jogya, waktu promo film, teteh bilang, “Kamu tahu nggak, kamu pasti cantik banget kalo pakai batik.” Terus dia beliin aku baju atasan, rok batik, kain batik untuk bikin gaun, gaun batiknya juga. Sampe dua kantong.

Malah, pas malam premiere, dia pinjemin aku baju Edward Hutabarat. Aku bilang “Teteh ini bagus banget, tapi mahal banget. Enam setengah juta, mahal banget.” Aku belum pantes kan pake baju semahal itu. Terus teh Nia bilang, “Udah santai aja, pake aja, kita kan disponsorin.”

Terus beberapa hari yang lalu, dia bilang, “Sandra, teteh beliin kamu baju Edward Hutabarat.” Aku kaget gitu, “My God.” “Udah deh, anggap aja ini bonus karena kamu main bagus di Quickie Express. Teteh seneng, teteh beliin kamu ini.”

Baik banget yah..

Iya, ya ampun aku bingung mesti gimana ngebales dia. Kalo orang udah banyak duit kan susah mau kasih apa kan, orang udah punya semua. Di mana lagi aku dapet produser yang seperti itu, udah kayak keluarga sendiri. Kalyana, teh Nia itu, produser yang sangat memperhatikan kesejahteraan kita.

Kesejahteraan kayak apa aja?

Sama Kalyana itu, kalo kita minta atau nyebut apa itu langsung ada. Makan, mobil, pokoknya fasilitas Kalyana sampe honor untuk artis pun dibayar oke. Udah jalan-jalan, seneng-seneng, dibelanjaain, dapet duit lagi. Bahkan Tora bilang, “Lo tu sama kayak gue, karena kita mengawali karir di Kalyana. Kita bersyukur karena bisa kenal Kalyana, Nia Dinata itu oke banget.”

Makin ngefans lah yah sama Nia?

Pokoknya, Nia Dinata tuh orang yang paling berpengaruh besar dalam karir aku. Dia yang menemuin aku di dunia film. Ngajarin aku aktingnya. Dandanin aku juga. Pas teh Nia ke India dan Paris, dia juga beliin aku baju-baju dari sana. Kayak baju yang aku pake sekarang nih dari India.

Ada rencana main film layar lebar lagi?

Ada tiga judul film sih yang nawarin aku main baru-baru ini. Cuma mungkin nggak sebagus Quickie Express yah.

Selektif juga yah?

Kalo film aku selektif. Karena kita udah main di film yang oke, pengennya main film yang oke juga. Sayang aja. At least kalo kita main film lagi, orang menungggu-nunggu dan penasaran, “Wah, dia main film apa lagi yah..” Gitu.

Pelajaran akting apa yang kamu dapet dari Quickie Express?

Jadi aku main di film ini nggak boleh mikir harus cantik. Nggak bole mikir, “Aduh ntar kalo gue jelek gimana yah?” Santai aja, yang penting penonton ketawa. Kalo aku keliatan jelek di layar, tapi bisa bikin orang lain ketawa lihat aktingku, itu baru luar biasa. Puas banget rasanya.

Bagaimana sih awalnya kamu bisa suka akting?

Awalnya aku mikir, kalo kerjaannya akting enak juga yah. Soalnya, kalo orang lain terhibur dengan tontonan yang kita berikan itu kayaknya mulia banget. Bisa dapet pahala juga. Aku sangat mencintai akting, karena tantangannya itu luar biasa banget dan nggak ngebosenin. Sekarang, aku nggak bisa kalau sehari nggak syuting.

Tapi, kenapa kamu kelihatannya kurang pede?

Mungkin, karena aku dari daerah kali yah, jadi kurang pede dibandingkan anak-anak Jakarta.

Sampai sekarang, sesudah main Quickie Express dan sedang main di serial Cinta Indah, juga masih merasa kurang pede?

Iya, sampai sekarang. Aku tetep nggak percaya diri, aku kan masih baru.

Seorang kritikus film dalam tulisannya menilai penampilan kamu di film Quickie Express seperti ini, “Sandra Dewi, yang manis sekali seperti donat Dunkin isi srikaya.” Bagaimana pendapat kamu?

Aduuh…Bener aku baru tahu sekarang loh…(terdiam dan senyum)…Print-in dong tulisannya. Print-in yah. Aku bener nggak nyangka sih. Kayak di posternya kan ditulis: Penampilan Sandra Dewi sebagai pendatang baru mendatangkan empati. Tapi aku tetep nggak percaya diri. Aku bener-bener bersyukur. Tuhan, terimakasih aku udah dikasih anugrah kalau sampai banyak yang memuji. Mereka nggak bilang jelek juga udah cukup bagus buatku. Kita masih baru, tapi dipuji kayak gitu kan luar biasa banget.

Kelihatannya kamu tipe orang yang religius juga yah?

Iya sih. Aku percaya kalau semua kesempatan akting, rezeki yang nggak putus-putus dari Quickie tuh dikasih sama Tuhan. Aku percaya kalau rezeki udah ada yang ngatur dan ditetapin Tuhan, dapetnya apa dan pasti sesuai dengan kebutuhan kita. Tuhan tahulah apa yang terbaik buat kita.

Untuk Hari Natal tahun ini, apa rencana kamu?

Natal tahun ini aku ada syuting kejar tayang tiap hari, cuma nanti aku minta libur satu hari. Pas malam natal kumpul-kumpul sama keluarga, makan-makan, ke gereja. (Terdiam sejenak)..Tapi habis itu keluargaku pergi holiday…Udah pada beli tiketnya semua, dan aku sendirian di rumah.

Sedih dong?

Ya sedih sih. Cuma aku pikir aku suka kerja, ya jadi nggak masalah juga.

Hikmah apa yang kamu dapat dari Hari Natal?

Setiap Natal aku dapet rezeki yang beda. Tahun lalu menang WRP Fun Fearless Female 2006 dari Cosmopolitan, aduh rezeki sekali. Tahun ini film sama serial, terus banyak tawaran iklan. Tahun ini tuh rezekinya kayaknya 100 kali lipat deh.

Apa arti keluarga buat kamu?

Buatku, Tuhan dan keluarga itu nomor satu. Aku tuh family girl banget, kumpul sama keluarga, berbuat sesuatu tuh untuk keluarga. Jadi, walaupun aku capek banget, tapi kalo mikir, “Wah apa yang aku perbuat ini bisa bikin keluargaku happy loh,” aku bisa langsung berenergi lagi.

Kalo prinsip hidup kamu sendiri apa?

Intinya, aku tuh nggak boleh iri sama orang lain. Semakin kita iri dengan orang lain, semakin kita nggak ada apa-apanya. Tuhan udah kasih kita rezeki masing-masing.

Dari kecil memang sudah ditanamin nilai-nilai seperti ini oleh keluarga kamu?

Iya. Orangtuaku bilang jangan pernah iri sama orang lain, karena kalo kita udah iri sama orang lain, sifat kita jadi nggak bagus semua. Aku percaya kalo setiap kita iri dengan orang lain, kita semakin terpuruk dan dia akan semakin tinggi.

Apa yang mendorong kamu untuk merantau ke Jakarta?

Kan aku besar sampai lulus SMA di Pangkal Pinang, lalu mutusin ke Jakarta untuk kuliah dan kerja. Karena, aku ingin punya nasib yang beda dengan orang-orang di daerahku. Kalo di daerahku, mereka tamat SMA, menikah, punya anak, dan hidupnya gitu-gitu aja. Yang namanya orang daerah kan mikirnya nggak macem-macem yah. Yang penting hidup, punya uang dan happy.

Bagaimana awalnya hidup sendiri dan jauh dari keluarga?

Kalo kita merantau, uang yang kita dapet kan belum tentu cukup kan sebulan. Jadi uang lima rupiah pun aku tulis, irit banget. Itu saking pengennya survive di Jakarta. Karena terbiasa begitu, aku jadi organize banget orangnya.

Apa kebiasaan hidup di daerah yang memengaruhi gaya hidup kamu sekarang di Jakarta?

Di daerahku, jam 9 malam udah pada tutup pintu. Bener-bener kota mati. Itu makanya aku nggak suka clubbing. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta, prinsip hidup aku jadinya keras dan akhirnya memang nggak terpengaruh juga. Misal, aku nggak bakalan pulang pagi atau pulang malam kecuali untuk urusan syuting.

Kalau begitu, apa hiburan kamu selama tinggal di Jakarta?

Aku seneng hiburannya tuh cuma ke mal, Dufan, dan Taman Safari. Itu aja. Jadi setiap ada waktu, bisa ke Dufan. Hehehe..

Kenapa?

Karena dulu kan cuma pas liburan panjang doang bisa ke Jakarta. Aku suka nostalgia. Jadi, aku sekarang udah tinggal di Jakarta, Dufan dan Taman Safari bukan tempat yang jauh lagi. Sekarang ayo nikmatin tempat-tempat yang dulu waktu kecil pengen didatengin.

Kabarnya udah lama menjomblo, kenapa?

Iya, aku jomblo sudah tiga tahunan, tapi aku nggak masalah karena ada teman-teman. Setiap hari juga ketemu teman baru, terus ada keluarga juga. Jadi aku nggak kesepian.

Selama ini tidak ada pria yang cocok?

Aku tuh tipe orang yang sulit jatuh cinta, susah. Tapi kalo udah suka ya suka. Dalem..

Kriteria pria kamu memangnya seperti apa?

Aku nggak punya kriteria loh. Kalau aku suka, kita cocok, ya udah aku pacaran. Tapi kalau nggak, ya nggak. Nggak punya kriteria mesti tinggi atau apalah, pokoknya ketemu suka, pacaran.

Harus seagama juga?

Oh nggak, karena di keluargaku dibebasin…

Gue baca di profile friendster lo, di situ tertulis pengen ketemu sama Keanu Reeves dan Adjie Massaid. Kenapa tuh?

Keanu Reeves, aku suka aja sama mukanya. Karena aku belum punya pacar, jadi kalau punya pacar pengennya mukanya kayak gini dong hehe…

Kalau Adjie Massaid?

Menurut aku karena dia cowok Indonesia yang ganteng. Beda aja. Tapi sekarang udah ganti, jadi Tora Sudiro hehe…Kalau ada Tora Sudiro kedua, yang nggak punya istri dan anak, aku mau deh. Yang masih single pokoknya hehe…

Memang apanya yang menarik dari Tora?

Aku tuh lihat KTP-nya zaman dulu, dia ganteng banget tau, masih kurus, masih muda. Ganteng. Tora itu juga baik. Walau kita belum kenal, tapi dia itu bisa memperlakukan kita tuh kayak udah kenal lama. Jadi baru kenal aja bisa langsung bisa nyaman, orang kayak gitu enak banget kan.

Oh ya, gue denger ada adegan ciuman sama Tora. Adegan yang mana harusnya? Kok gue nggak lihat, apa dipotong?

Itu di skenario emang nggak ada. Cuma pas syuting dibilangin sama Dimas, “Sandra harus ada adegan ciuman yah. Film itu harus ada adegan ciuman.”

Terus adegan yang mana?

Nggak ada, jadi nggak diambil.

Ooh, nggak jadi adegan ciumannya?

Ciuman, tapi adegan itu nggak dimasukkin ke dalam film. Jadi dikerjain sama Dimas dan Tora hehe..

Iseng amat. Emang lama ciumannya?

Nggak. Cuma cuup..gitu.

Bagaimana tuh rasanya mencium idola kamu? hehe

Deg-degan juga walaupun seneng hehe..Tapi deg-degan soalnya kan aku kenal istrinya dan anaknya. Nggak enak kan suami orang. Cuma ini kan film, harus profesional. Istrinya juga nggak masalah.

Hobi kamu apa saja ya San?

Shopping, jalan-jalan, nyanyi, akting, makan-makan. Aku tuh tukang makan, dan emang orangnya suka makan.

Kamu emang jago nyanyi?

Kalau di gereja aku memang jadi koor. Tapi kan di gereja nyanyi untuk muji Tuhan, jadi aku nggak peduli mau suara jelek atau bagus kek bodo amat. Yang penting aku muji Tuhan nggak mentingin suara. Lagian suaraku kan ketutup, soalnya suaranya kan jelek hehe…

Sampai sekarang, kenapa belum juga punya manajer atau ikut manajemen artis?

Karena belum ketemu yang cocok aja kali yah. Cuma, aku kan pengennya sama wartawan atau siapa pun berhubungan baik. Takutnya, kadang-kadang kalau manajer itu merekanya yang sombong. Bukan artisnya yang sombong. Jadi untuk sementara ngurusin sendiri saja.

Banyak yang bilang kalau kamu mirip Dian Sastro. Bagaimana rasanya dibanding-bandingin sama Dian?

Ah nggak ah… Dian cantik banget. Dan aku nggak secantik itu. Dia aktingnya bagus, aku nggak, aku masih baru.

Kenapa sih pernah dijuluki Putri Salju?

Zaman dulu, pas ikut Fun Fearless Female, dipanggil sama anak-anak putri salju karena sebelum ikut kontes itu, aku kan di kantor melulu. Jadi udah dasar kulitnya putih, jadi makin putih kan. Apalagi, aku memang sukanya nggak make up. Yang penting kasih pelembab aja, itu udah alami banget.

Nggak ada perawatan tubuh lainnya?

Mandi cuci muka aja hehehe…Aku anak daerah jadi nggak terlalu ngerti yang begitu-begituan.

Spa atau apa gitu masa nggak pernah?

Yah kalo spa palingan aku dapet dari sponsor-sponsor. Tapi, mendingan aku tabung aja deh duitnya. Aku suka sih merawat diri, cuma dulu di kampung mana ada sih spa-spa gitu. Yang ada malah berjemur tiap hari hehe.

By the way, gue add ya friendster lo?

Hehe..tau nggak Ngga. Itu Winky lagi yang bikinin friendster.

Winky Wiryawan?

He eh..

Kok bisa dia yang bikin, emang kenal?

Dia kan artis Kalyana juga.

Tapi isi profile-nya bener tentang kamu?

Itunya sih bener.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s