Pintu Terlarang: Bersembunyinya Jiwa yang Sakit

Dunia kreasi Sekar Ayu Asmara tidak pernah manis. Sekar seperti selalu memandang dunia dengan miris, getir, perih, dan bahkan lebih seringnya kejam. Mungkin karena baginya, kehidupan di dunia selalu disesaki manusia-manusia dengan jiwa yang bermasalah. Deretan filmnya, mulai dari Biola Tak Berdawai, Belahan Jiwa, hingga Pesan dari Surga, telah merefleksikan pandangannya perihal sakitnya jiwa manusia tersebut. Tak jauh berbeda, Pintu Terlarang, yang aslinya adalah novel Sekar, juga bermaterikan cerita yang sarat problem kejiwaan.

Seperti sudah dijodohkan, Joko Anwar lalu datang untuk mengadaptasi novel ini menjadi skenario sekaligus menyutradarainya. Hasilnya, Pintu Terlarang menjelma menjadi film dengan kekuatan dahsyat yang mampu melewati batas rasa ngeri manusia. Film ini menyampaikan poin penting: jiwa yang sakit dan mendendam mampu mengubah pemiliknya menjadi, katakanlah, semacam iblis berwujud manusia.

Pusaran utama film ini adalah Gambir (Fachri Albar), pembuat patung yang sukses. Hadir di sekelilingnya adalah orang-orang terbaiknya, antara lain seorang istri yang jelita, Talyda (Marsha Timothy); ibu yang penuh pengertian, Menik Sasongko (Henidar Amroe); dua sahabat dekat, Dandung (Ario Bayu) dan Rio (Otto Djauhari); dan pemilik galeri yang seperti sudah dianggap seperti ayah sendiri oleh Gambir, Koh Jimmy (Tio Pakusadewo).

Saat di puncak karirnya ini, keanehan lalu mulai menghampiri hidupnya. Ia menerima pesan-pesan misterius berbunyi sama: tolong saya. Pelan-pelan diketahui bahwa si pengirim pesan adalah seorang anak kecil yang kerap disiksa oleh orangtuanya. Lewat sosok anak kecil ini, Gambir merasakan keterikatan emosi yang begitu dalam dengannya. Rasa empati ini kelak menjerumuskan Gambir kepada rangkaian kejadian yang mengerikan. Ketika itu pula, di rumahnya yang megah, Gambir baru tahu ada sebuah pintu yang selama ini tersembunyi.

Apa kaitan antara anak kecil dan pintu itu?

Jika Anda belum menontonnya, jangan keburu menyimpulkan jawabannya secara simpel, karena Joko Anwar tidak menuturkan kisah ini hingga bisa dengan mudah ditebak. Storytelling yang baik dan berdaya kejut tinggi memang menjadi kekuatan Joko dalam setiap film yang disutradarai maupun skenario buatannya. Di Pintu Terlarang, seperti halnya Kala, Joko mengantarkan pengalaman menonton yang intens dan jalinan kisah yang menegangkan kepada kita. Bedanya, Pintu Terlarang memiliki penceritaan yang lebih kompleks dan muatan tema yang lebih berat, tapi tidak terlalu bermain-main dengan bentuk seperti dalam Kala.

Bukan hanya Joko yang membuat film ini enak diikuti. Akting Fachri Albar mampu meyakinkan kita bahwa manusia selemah apapun tidak bisa diremehkan. Ia mampu berbuat di luar batas kewajaran manusia. Mengerikan. Maka ketika jamuan christmas dinner di meja makan itu tampil di mata kita, Fachri telah menjadikan adegan itu sebagai puncak performa aktingnya. Menyaksikan adegan itu, saya takjub sekaligus takut, bahkan melebihi kadar ketakutan saya saat menonton film hantu. Sebutlah saya lebay, tapi mungkin adegan di meja makan itu adalah salah satu adegan penting dan bersejarah dalam sinema Indonesia.

Begitu pula Henidar Amroe yang menampilkan akting sederhana dan pendek, apalagi saat di penghujung film, tapi luar biasa efektif dalam menyatakan bahwa ada sifat keji dan ada yang tidak beres pada jiwanya. “Pemain lain” yang membuat film ini begitu hidup adalah alunan musik ciptaan tim tata musik langganan Joko Anwar: Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro, yang sarat aura misterius dan membius kita dengan unsur ketegangan.

Menuturkan cerita thriller psikologis memang tidak pernah mudah. Namun di tangan Joko, Pintu Terlarang menjadi pengecualian. Alhasil, ketika twist ending—yang merupakan ciri khas Joko dalam film-filmnya—itu hadir, sulit untuk tidak mengatakan bahwa salah satu film terbaik telah hadir di negeri ini.

 

PS: Ditulis pada Januari 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s