Pertaruhan Karakter dalam Harry Potter and the Deathly Hallows

Steve Kloves, penulis skenario Harry Potter and the Deathly Hallows, ingat betul J.K. Rowling kerap berkata kepadanya, “Saya tahu film-filmnya akan sangat berbeda dari novelnya, dan saya memang tidak ingin film-film itu persis sama seperti novelnya. Yang terpenting bagi saya adalah Anda setia pada karakter-karakternya.”

Pesan yang berulang kali disampaikan Rowling saat Kloves menulis skenario adaptasi seri keenam Harry Potter and the Half-Blood Prince itu rupanya tertanam dalam di benaknya. Tak pelak, ia merasa harus menjaga semua karakter dalam seri Harry Potter agar tidak keluar dari pakem yang termaktub di novel. Namun, sebetulnya bukan hanya dua skenario seri terakhir itu saja yang ditulis Kloves, tetapi juga empat seri pertama, kecuali seri kelima Harry Potter and the Order of the Phoenix yang diambil alih oleh Michael Goldenberg.

Sejak pertama kali ditawari Warner Bros Studio mengadaptasi seri pertama novel Rowling itu, Kolves memang juga langsung jatuh hati pada setiap karakternya. Kolves sadar bahwa karakter-karakter itulah yang menghidupkan seluruh jalinan cerita filmnya kelak. “Tentu saja perlu plot, tetapi daya tarik filmnya terletak pada anak-anak ini,” ungkap Kloves, yang pernah menerima nominasi kategori skenario terbaik Golden Globe dan Academy Award tahun 2000 untuk film Wonder Boys (Curtis Hanson).

Pada akhirnya, apa yang dikatakan Rowling maupun Kloves agaknya terbukti benar. Dalam kisah epik fantasi-imajinatif yang sudah menemani kita dan memeriahkan sinema dunia selama nyaris sembilan tahun ini, tidak berlebihan apabila karakter para tokohnya sudah melembaga secara disadari maupun tidak di benak para penonton seri Harry Potter, walaupun mereka tidak membaca seluruh novelnya.

Hasilnya, tidak sedikit para penonton yang mengidentifikasikan dirinya dengan karakter Harry, Ron, atau Hermione. Pun tidak usah heran jika pamor para karakter dalam seri film Harry Potter ini dianggap telah menyamai tokoh Luke Skywalker, Han Solo, atau Princess Leia di dalam opera epik luar angkasa Star Wars milik George Lucas.

Bisa dibilang, ini semua bisa diraih berkat visi dan kesadaran tentang krusialnya posisi dan peran karakter tersebut, sehingga Kloves sukses membuat publik untuk selalu menantikan seri film Harry Potter. Apalagi kebetulan, Kloves juga merupakan tipe penulis yang meyakini bahwa berinteraksi dengan para aktor-aktrisnya saat sebelum shooting dapat memastikan kalau karakter ciptaannya tidak akan keluar jalur dari visi awalnya.

Dalam buku Screenplay (1979), Syd Field, pakar skenario ternama dari Hollywood, pun tak pernah bosan bilang bahwa untuk membuat skenario yang bagus dibutuhkan karakter yang kuat. Menurut Field, karakter adalah perilaku, yakni bagaimana menciptakan sebuah situasi emosional yang membuat tokoh bereaksi terhadapnya. Dan di pertengahan November ini, saat Harry Potter and the Deathly Hallows bagian pertama dirilis, akan menjadi momen pembuktian soal ampuh dan bagaimana kekuatan karakter dapat menyihir jutaan penonton selama ini. Seri ketujuh ini sendiri memang dipecah menjadi dua, yang bagian terakhirnya akan tayang Juli 2011.

Di seri pamungkas petualangan the chosen one dari Hogwarts melawan Lord Voldemort ini, David Yates kembali dipercayai duduk di bangku sutradara. Sebelumnya, Yates jugalah yang mengarahkan Harry Potter and the Order of the Phoenix dan Harry Potter and the Half-Blood Prince. Sutradara Inggris ini ternyata dianggap berhasil menerjemahkan cerita dunia sihir khayalan Rowling lewat pita seluloid. Para fans, kritikus, dan pihak studio menyukai hasil kerja Yates.

Awalnya, filmografi Yates lebih banyak di dunia televisi. Ia menelurkan drama mini seri bernuansa politik State of Play (2003) dan Sex Traffic (2004) yang penuh terobosan, sebelum akhirnya menyutradarai film drama komedi romantis Girl in the Café (2005) yang membuatnya mengantongi nominasi sutradara terbaik di ajang Emmy Award tahun 2006.

Di mata produser David Heyman, Yates dinilai memiliki sensitivitas dalam menangkap realitas politik dan menerjemahkan ke dalam gaya visual yang kuat. Keunggulan Yates ini, menurut Heyman, dapat memperkaya bobot dramatika yang penting dalam kisah seri Harry Potter. Kompetensi seperti inilah yang diperlukan untuk menerjemahkan kisah pamungkas Harry Potter yang semakin kompleks, kelam dan mengancam maut.

Tak jauh berbeda dengan dua seri sebelumnya yang ditanganinya, dalam Harry Potter and the Deathly Hallows bagian pertama ini Yates mengaku dibebaskan untuk bereksperimen, sehingga bakal ada penambahan adegan dan sekuens baru yang tidak pernah ada di novelnya. Meskipun begitu, “Saya tetap melayani cerita yang ada. Itulah yang selalu saya coba lakukan,” ujarnya.

Menurut Yates, kisah bagian pertama ini juga akan sedikit terasa lebih kasar dan realistis. Gayanya pun lebih kontemporer layaknya film bergenre road movie, tetapi tetap tampil modern. Selain itu, sinematografi juga akan lebih sering menerapkan kerja kamera hand-held. “Saya melakukan apa yang saya pikir diperlukan oleh cerita,” kata Yates.

Senada dengan Kolves, Yates pun memandang krusial peran karakter. Itu sebabnya, Yates merasa senang mengarahkan akting trio Gryffindor Daniel Radcliffe (Harry Potter), Emma Watson (Hermione Granger), dan Rupert Grint (Ron Weasley). “Kualitas akting mereka stabil,” ucap Yates. ”Dan saya kembali terkesan karena kemauan mereka yang besar untuk menantang diri sendiri dan mencoba teknik-teknik akting yang baru demi mengeluarkan karakter yang diharapkan.”

Sah-sah saja apabila dalam kisah seri Harry Potter ini karakter lebih dikedepankan ketimbang  plot. Sebab tidak ada pula rumus storytelling yang memastikan mana sebenarnya dari dua hal itu yang lebih penting. “Karakter adalah struktur, begitu pun sebaliknya. Keduanya sama, dan tidak bisa serta-merta menjadi lebih penting dari lainnya,” tulis Robert McKee dalam buku mashyurnya, Story (1997).

McKee juga mengatakan bahwa karakter itu terkuak melalui pilihan-pilihan yang dibuat tokoh di dalam tekanan hidup. Semakin besar tekanan itu, maka semakin dalam pula karakter yang terkuak. Dan di dalam Harry Potter and the Deathly Hallows bagian pertama ini, kita akan melihat beratnya pilihan yang akan dibuat oleh Harry Potter, karena bukan tidak mungkin situasinya terkait dengan persoalan kematian.

Sejak awal Rowling sudah mewanti-wanti bahwa tema utama seri kisah ini sebenarnya adalah kematian, “Cerita dibuka dengan kematian orangtua Harry. Lalu ada obsesi Voldemort untuk menaklukkan kematian dan pencarian hidup abadi dengan kekuatan sihir. Saya sangat mengerti kenapa Voldemort ingin menaklukkan kematian, karena kita semua memang takut pada kematian.”

Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat edisi 31 Oktober 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s