Pak Harto, Anak SD, Matoa, dan Ciganjur

SIANG (27/1) lalu, tiba-tiba kakak saya berkata, “Pak Harto meninggal tuh.”

“Oh ya,” jawab saya.

Kabar itu saya terima setengah jamnya sesudahnya. Maklum saat itu saya lagi sibuk bengong di kamar. Jujur, saya menanggapi berita itu biasa saja. Sampai ketika semua stasiun televisi ramai-ramai memberitakan soal kisah hidupnya, saya jadi ingat masa-masa saat masih di sekolah dasar dulu.

Sekolah saya di SDN Pagi 01 Cipedak, Jakarta Selatan, yang berbatasan beberapa langkah saja dengan wilayah Kota Depok. Tidak jauh di sebelah selatan sekolah, ada jalan yang mengarah ke areal perkampungan warga. Kita, yang tinggal di daerah Ciganjur, kerap menyebut daerah itu ‘AURI’. Itulah ujung selatan daerah Ciganjur.

Disebut ‘AURI’ karena di dalamnya terdapat tanah milik TNI Angkatan Udara yang cukup luas, hingga mampu memuat beberapa lapangan bola. Dulu anak-anak kampung dan teman-teman sekolah saya sering ‘ngadu bola’ di salah satu lapangan bertanah merah itu—yang ujung-ujungnya diakhiri dengan adu jotos ala anak kecil haha…

Sampai akhirnya, kalau tidak salah ingat, saat saya kelas 4 pada tahun 1992 atau 1993, areal ‘AURI’ itu mulai dibangun lapangan golf. Saya sempat kesal gara-gara itu. “Kenapa sih harus dibangun lapangan golf. Olahraga orang kaya. Kita jadi nggak bisa main bola lagi di situ,” ucap Si Angga Kecil dan teman-teman saat itu.

Apalagi, pembangunan lapangan golf itu turut menggusur tanah perkebunan warga, termasuk milik kakek saya yang seluas dua hektar. Sebal sekali rasanya. Saya punya banyak memori masa kecil yang indah di kebun luas kakek saya itu. Mulai dari ikut mengantar nenek (alm) yang membawa rantang makan siang untuk kakek saya setiap harinya, menemukan ular di sepanjang jalan setapak, dipatuk si ayam betina karena saya menendang anak-anaknya, digigit-gigit nyamuk kebon yang super besar, naik traktor dari rumah kakek saya ke kebun, hingga ikut memanen hasil kebun.

Nah, singkat cerita, jadilah lapangan golf yang dibangun oleh Bob Hasan itu. Namanya MATOA. Mulai saat itu, terjadi perubahan signifikan di Ciganjur. Banyak warga sekitar yang bekerja di lapangan itu. Dari menjadi caddy hingga staf kantor. Paman saya termasuk salah satu yang bekerja di kantor administrasinya. Perubahan lainnya, Jalan Moch. Kahfi I—satu-satunya akses jalan raya beraspal ke daerah Ciganjur yang menembus ke Kota Depok—dipoles. Kontur aspalnya diperhalus. Lubang-lubang ditambal. Lebar jalan agak diperbesar. Mengapa?

Karena Pak Harto mulai sering bermain golf di MATOA saban Sabtu pagi. Dalam sebulan, bisa dua kali ia menyambangi lapangan golf itu. Tidak sulit untuk mengetahui jadi tidaknya Pak Harto bermain golf. Jika ia akan datang, sejak pukul enam pagi biasanya bapak-bapak polisi sudah mejeng di pinggir Jalan Moch. Kahfi I. Termasuk di depan sekolah saya. Biasanya rombongan mobil ‘Ncang Ato’—begitu saya dan teman-teman menyebut Pak Harto—melewati sekolah kami menjelang pukul tujuh. Pernah juga ia datang pukul enam lewat sedikit.

Kondisi itu membuat saya dan teman-teman sering menunggu-nunggu tibanya Sabtu pagi. Namanya juga anak kecil, maka kalau Pak Harto akan datang, murid-murid sekolah saya sering nongkrong di pinggir jalan. Ketika masih di awal-awal Pak Harto mulai bermain golf di MATOA, begitu rombongannya lewat, kami pun melambaikan tangan. Tetapi ketika sudah begitu sering, lambaian tangan mulai berkurang. Mungkin karena sudah bosan dan Pak Harto jarang membuka kaca jendela mobilnya.

Jika beruntung, sesekali kami hanya bisa melihat bayangannya saja dari dalam mobil karena laju rombongan mobil kepresidenan itu memelan ketika melewati sekolah. Soalnya, beberapa meter kemudian deretan kendaraan itu belok kanan ke arah barat dan masuk ke gerbang lapangan golf MATOA. Sepanjang saya ikut bertengger di depan sekolah, sepertinya hanya sekali saya melihat langsung sekelebat wajahnya saat kaca jendela mobilnya diturunkan.

Di malam harinya, saat siaran Dunia Dalam Berita TVRI, berita tentangnya yang sedang bermain golf tiap Sabtu pasti disiarkan. Dari layar televisi, Bob Hasan terlihat selalu mendampinginya. Bukan hanya gambar ia sedang bermain golf yang ditampilkan, tetapi juga saat sedang menjaring ikan-ikan gurame—mujair atau nila ya? ah saya bingung.

Memang, di lapangan golf itu, pengelolanya juga memelihara ikan-ikan di beberapa kolam yang ada di sana. Dari layar televisi itu pula, saya kerap melihat Pak Harto tertawa lepas saat sedang mendekap ikan hasil jeratannya, yang besarnya betul-betul ukuran jumbo. Pernah suatu kali, ketika menonton tayangan itu, ayah saya berceletuk, “Ah paling baru kemarin ikannya dimasukin ke kolam hehe…”

Ketika sudah menginjak bangku SMP, rombongan Pak Harto menuju MATOA masih saya jumpai, walaupun tidak begitu sering lagi. Hingga akhirnya rombongan itu benar-benar berhenti melewati Jalan Moch. Kahfi I lagi sejak penghujung akhir tahun 1998.

Dan secara berangsur-angsur saya pun mulai melek soal sepak terjang pemerintahan Pak Harto. Baik segala prestasi dan peran positifnya maupun kebijakan-kebijakan kontroversialnya.

 

AWAL Januari lalu, Pak Harto sakit parah dan dirawat intensif. Stasiun televisi pun mulai ramai memberitakannya. Tayangan beritanya malah berkembang seiring dengan perubahan kondisi Pak Harto, yang rata-rata isinya menunjukkan seolah-olah Pak Harto pasti atau sudah meninggal (tentu sudah banyak yang ngeh soal ini bukan). Bagaimana pengaruhnya? Dari dalam ruang-ruang keluarga di rumah, ayah dan ibu saya terkena imbasnya. Setidaknya omongan orangtua saya merefleksikannya.

Dua hari setelah Pak Harto dirawat, ayah saya lebih kerajingan lagi menonton berita sore. Setiap jeda iklan, langsunglah ia sibuk menggonta-ganti saluran lainnya. Mencari berita lain tentang Pak Harto.

“Nonton berita De, lihat Pak Harto,” begitu kata ayah saya setiap menjelang waktu siaran berita.

Hari ketiga dan keempat masih sama ucapannya. Hari kelima, giliran saya yang berkomentar sebelum berita dimulai.

“Udah meninggal belum Pak Harto?”

“Hush, sembarangan aja,” jawab ayah saya.

“Ups hehe…”

Esoknya, komentar ayah saya lain lagi.

“Jangan-jangan dia pake susuk, jadi susah meninggalnya.”

“Loh kok,” balas saya, bingung.

“Iya, kasihan kan kalo bener.”

Besoknya, ibu saya yang ikutan komentar.

“De, beli buku-buku tentang Pak Harto, kan banyak tuh,” katanya, tiba-tiba.

Hari-hari berikutnya, omongan-omongan semacam itu sudah tak muncul lagi di dalam rumah, sampai akhir hayat The Smiling General itu datang.

“Bagaimanapun jasanya udah banyak,” kata ayah saya.

“Banyak juga yang simpati,” ucap ibu saya, sambil melihat tayangan televisi.

Turut berduka cita. Semoga amalan perbuatannya diterima di sisi-Nya dan diampuni segala kesalahannya oleh Allah SWT. Amien.

 

PS: Ditulis sehari setelah Pak Harto meninggal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s