Otomatis Romantis

Ada yang menarik perhatian saya sebelum menonton film ini di Mall Kelapa Gading beberapa minggu lalu. Di dalam satu rangkaian bangunan mall yang besar ini, Otomatis Romantis diputar di tiga bioskop berbeda, yakni La Piazza 21, Gading 21 dan Gading XXI. Sepengetahuan saya, jarang ada film nasional bisa diputar serentak di tiga bioskop ini.Dari sini bisa tampak kalau film komedi romantis ini ingin menyasar para penonton dari kelas ekonomi yang berbeda. Setidaknya asumsi saya ini berdasarkan fakta bahwa harga tiket di tiga bioskop itu yang menanjak. Termurah di Gading 21, sedang-sedang saja di La Piazza, dan termahal di Gading XXI tentunya.

Maka yang diserahi tugas untuk menggaet animo para penonton adalah Tora Sudiro dan Tukul Arwana. Monica Hariyanto dan Monty Tiwa, si produser, agaknya mempercayai kalau duo ToTu (Tora-Tukul) inilah resep mujarab untuk meraih rupiah. Dugaan saya, Tora, yang ganteng dan maskulin, cocok disuguhkan untuk penonton Gading XXI. Sedangkan Tukul, yang perawakannya jauh dari keidealan Tora, diperkenankan untuk ditertawai oleh penonton Gading 21. Dan di La Piazza 21, duo ToTu mungkin mendapatkan penonton kelas campuran. Apabila boleh diibaratkan, (mungkin) karakternya seperti adonan dari para penonton tayangan televisi Extravaganza—yang ke-kota-kota-an—dengan 4 Mata—yang ke-ndeso-ndeso-an.

Dan, meskipun masing-masing sebenarnya mempunyai gaya humor yang khas dalam menciptakan kelucuan, tetapi toh akhirnya duo ToTu bernasib serupa di film ini. Mereka ikhlas menjadi dan dijadikan objek tertawaan untuk para penonton yang memiliki selera humor ala 4 Mata. Kelucuan yang hulunya berasal dari sifat naluriah manusia untuk menertawakan kebodohan dan kekurangan orang lain. Ramuan komedi macam ini sedang nge-tren di negara ini bukan. Namun, produser film ini sepertinya sadar kalau tidak semua orang Indonesia punya urat lucu tipe ini. Karena itu, selain dipasangnya Tora di film ini, diciptakan pula berbagai karakter dan isi cerita yang komikal sebagai syarat wajib untuk menarik urat tawa yang variatif itu.

Wajah komikal ini terpampang pada duo ToTu dengan mengorbankan Tora. Karena lewat sosok Bambang, ia harus rela berlagak katro plus ndeso layaknya citra khalayak televisi terhadap Tukul. Sedangkan Tukul, tetaplah Tukul hanya saja berganti nama menjadi Dave. Sebuah nama yang sangat cover boy sekali, pas dengan klaim Tukul selama ini.

Kalau sudah begitu, kini giliran ceritanya yang berperan dengan isi kisah yang membenturkan dua dunia berlawanan. Monty Tiwa rupanya masih mempercayai bahwa ide jalinan cinta antarkelas sosial di dalam kehidupan urban mampu menciptakan gelak tawa. Tidak heran, orang-orang pun ramai menyebut film ini sebagai Ujang Pantry versi layar lebar. Miripkah dengan Ujang Pantry?

Nadia (Marsha Timothy) adalah pemimpin redaksi sebuah majalah wanita modern yang belum juga menikah. Ayahnya (Tarzan) terus mendesaknya untuk mencari pasangan, karena meyakini primbon. Lalu datang Bambang, karyawan administrasi di kantornya, yang perlahan memikat hati Nadia. Pemuda desa ini tulus, jujur dan lugu, tetapi berada di bawah kasta Nadia yang tentu gengsi untuk menyatakan cinta.

Tidak seperti Ujang yang berani menyatakan sayang, di sini Bambang malu-malu, sehingga Nadia lah yang harus inisiatif bertindak duluan dengan mengikuti tips-tips cinta dari majalahnya. Selanjutnya mudah ditebak di mana kelucuan-kelucuannya. Ditambah lagi komedi yang muncul dari sub-plot tentang kisruh rumah tangga Nabila (Wulan Guritno), kakak Nadia, dengan suaminya, Dave.

Skenario Otomatis Romantis tidak sebagus Ujang Pantry memang, apalagi mendekati kualitas sekuelnya. Jika dua jilid Ujang Pantry melucu dengan cerdas dan apa adanya, maka Otomatis Romantis melucu dengan komedi yang terasa lebih dibuat-buat. Ujang Pantry terlihat lebih lugas bercerita atas nama modernitas tanpa perlu menabrakkannya dengan nilai-nilai tradisional. Nah, kalau Otomatis Romantis berpola sebaliknya demi membuat penonton tertawa.

Itu sebabnya, Monty di film ini perlu menabrakkan karakter manusia modern dengan nilai-nilai tradisional itu. Pola ini muncul paling kentara saat Nadia mengemukakan alasan kenapa ia belum juga mau mencari pasangan. Karena ternyata, ia takut terkena kutukan yang diyakininya, yakni semua perempuan di keluarganya selalu mendapatkan laki-laki yang berperawakan buruk, (maaf) mirip dengan ciri hewan. Maka Nana (Poppy Sovia) pun, adik Nadia, harus ikhlas pacarnya dikatakan mirip beruk dan Dave berwajah lele dumbo. Untung saja Bambang masih terbilang lumayan, tidak ada wajah hewan yang mirip dengannya, hanya saja ia ndeso.

Bagi Monty, dengan cara seperti ini, komedi akan tercipta. Penonton yang awalnya tidak mengerti kenapa Nadia belum juga menikah, tiba-tiba disodori alasan yang terbilang kuno dan tidak masuk akal. Ujung-ujungnya, komedi yang timbul memang khas lawakan Tukul dan tidak menawarkan humor yang fresh. Adanya Tukul dan Tora yang ditugaskan membuat tawa, menjadikan film ini bergantung sepenuhnya pada unsur komedi, sehingga penuturan kisah cinta yang beda kasta itu tercecer. Sutradara Guntur Soeharjanto tampak terlena pada penciptaan berbagai kelucuan itu. Hasilnya, saya pun lupa kalau sedang menonton film yang juga ingin romantis, belum lagi ditambah dengan chemistry antara Nadia dengan Bambang yang tidak terasa.

Awalnya saya ragu komedi di film ini bisa diterima publik, mengingat tidak semua orang bisa mencerna lawakan khas Tukul dengan lapang dada. Namun ternyata tak bisa dipungkiri banyak orang yang terhibur dengan gaya ini. Saya sendiri tidak begitu sreg. Kadang bisa ikut tertawa, kadang juga hanya bisa diam saat menonton lawakan ala Tukul. Jika sudah terlalu sering menonton 4 Mata, susah bagi saya untuk terus bisa tertawa. Kebosanan melanda. Untung saat menonton Otomatis Romantis, saya sudah lama tidak menonton Tukul beraksi, sehingga kelucuan beberapa adegan bisa saya maklumi.

Itu saya. Bagaimana dengan animo penonton lain? Mungkin di Gading XXI bisa ditemukan jawabannya. Soalnya, hingga akhir Januari, Otomatis Romantis masih bertahan di bioskop itu.

PS: Ditulis pada Februari 2008.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s