Nothing But the Truth

Menonton film ini, saya jadi teringat dua momen. Pertama, masa inisiasi ketika kuliah dulu. Sewaktu kami, satu angkatan, menonton All The President’s Men (Alan J. Pakula, 1976)—sebuah film bertema serius yang mungkin dinilai membosankan bagi sebagian teman—bersama-sama sebelum ‘digojlok’. Kedua, sewaktu saya menonton State of Play (Kevin Macdonald, 2009) medio tahun lalu. Dua film itu bercerita tentang dunia jurnalisme, tapi kalau bisa disempitkan lagi, mereka mengulik soal relasi yang terjadi antara si wartawan dengan narasumber.

Kita tahu All The President’s Men adalah kisah nyata mengenai pengungkapan skandal Watergate yang masyhur itu oleh duo wartawan The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein. Sedangkan State of Play adalah sebuah kisah thriller fiktif yang menyerempet isu-isu politik dengan dua tokoh utamanya, Cal McAffrey (wartawan The Washington Globe) dan sahabatnya Stephen Collins (anggota kongres), yang juga sekaligus menjadi narasumber pentingnya kasus kotor ini.

Woodward dan Bernstein berhasil merahasiakan identitas Deep Throat selama 33 tahun, hingga akhirnya Mark Felt, bekas Wakil Direktur FBI, mengakuinya sendiri pada tahun 2005. Berbeda halnya dengan McAffrey yang memanfaatkan Collins untuk mencari fakta, dan tanpa disangka Collins pun ternyata memanfaatkan balik McAffrey. Jika relasi Felt dengan Woodward dan Bernstein saat pengungkapan skandal ini murni, ya katakanlah, profesional karena tak dibarengi dan didahului oleh emosional persahabatan, tapi tidak begitu halnya dengan McAffrey dan Collins—mereka teman sekamar di asrama kuliah dan punya masalah pribadi yang melibatkan perempuan.

Dua film ini berhasil menampilkan keintiman antara dua pihak yang saling membutuhkan sesuai kadarnya demi tuntutan plot cerita, tentu disertai embel-embelnya, seperti nuansa kemisteriusan yang memang seharusnya menempel pada frase ‘narasumber rahasia’.

Oh, maaf, saya malah melantur. Mohon dimaklumi, ini disebabkan penutup Nothing But the Truth yang bikin saya membayangkan jika diri saya lah yang berada di posisi Rachel Armstrong (Kate Beckinsale): seorang wartawan yang mati-matian menutupi identitas asli narasumbernya demi prinsip yang diyakininya.

Dikisahkan telah terjadi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat. Sang presiden terluka. Tak lama kemudian, laporan intelijen menuduh pemerintahan Venezuela sebagai dalangnya. Negeri itu pun diserang militer Amerika. Namun, berkat bocoran dari dua narasumber rahasianya, Rachel memiliki informasi yang membuktikan laporan intelijen itu tak akurat. Dalam beritanya itu, ia lalu turut membongkar identitas agen CIA Erica Van Doren (Vera Farmiga) untuk membuktikan bahwa negaranya lagi-lagi telah bertindak serampangan terhadap negeri lain. Tak disangka olehnya, setelah beritanya dimuat, Rachel malah dipaksa oleh kekuatan hukum untuk menyebut siapa gerangan narasumbernya—yang diduga kuat pengkhianat dalam tubuh institusi intelijen.

Ditekan sana-sini, wartawati cerdas ini tetap bungkam, meski ia harus dibui lebih dari setahun, terpisah dari buah hatinya, bahkan berimbas pada keambrukan rumah tangganya. Satu pertanyaan yang mengusik pikiran saya pun muncul: siapkah kita hancur demi mempertahankan sebuah pendirian yang kita yakini benar?

Jawaban itu diberikan oleh akting Beckinsale. Ia mampu menampilkan sosok wartawati yang begitu percaya diri layaknya harimau yang menakuti mangsanya saat menguak fakta dari narasumber, lalu terlihat gentar saat diancam oleh jaksa Patton Dubois (diperankan oleh Matt Dillon dengan akting yang membuat kita sebal padanya sekaligus memaklumi tindakannya) dan dibentak-bentak oleh konsultan hukum surat kabarnya, kemudian mulai panik ketika hukum telah menjebloskannya ke balik jeruji. Yang terjadi berikutnya adalah isi hati Rachel sebagai seorang ibu sekaligus istri tercerai-berai karena teralienasi dari anaknya dan diselingkuhi suaminya.

Taklukkah Rachel akibat kondisi buruk yang menghantamnya itu? Tidak. Ia memilih tetap teguh walaupun dengan bola mata yang sembab akibat gabungan kesedihan dan amarah. Pilihan sikap yang membuat rasa heran pengacaranya, Albert Burnside (Alan Alda), berubah jadi kagum dan menaruh empati kepada dirinya. Di sinilah poin yang paling menonjol dalam Nothing But the Truth: kesuksesannya menyelami lebih dalam tentang persoalan relasi antara wartawan dan narasumber.

Dari relasi tersebut, kesan profesionalisme memang begitu melekat pada diri Rachel karena bersikukuh tak mau menyebut nama narasumbernya. Dengan enteng, kita bisa saja mengaitkan pilihan sikap Rachel itu, misalnya, dengan dua prinsip jurnalisme rumusan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, yakni kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, dan loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga. Tapi ternyata tak semudah itu, karena manusia, khususnya seorang wartawati yang juga seorang ibu, adalah sebuah wujud kompleksitas dari beragam faktor.

Film ini kemudian dapat menghembuskan nafas humanisme yang lebih besar ketimbang film bertema jurnalisme lain. Penyebabnya bukan karena si wartawan lelah atau kalah bertarung dengan ‘lawan’ yang tidak menyukai isi beritanya; juga bukan karena ia terlibat hubungan emosional semacam api asmara atau persahabatan karib dengan narasumbernya; bukan pula disebabkan dari kehancuran kehidupan pribadinya; atau, karena konflik antara hitung-hitungan bisnis dengan idealisme yang dipegang erat selama ini; tapi justru karena ia berhadapan dengan naluri melindungi yang telah tertanam secara kodrati dalam dirinya sebagai seorang ibu.

Sebuah pertentangan maha sukar inilah yang menjadikan sebutan feminis terasa amat berat bebannya untuk dipanggul Rachel, yang sejak mula film bergulir padahal ditampilkan karakternya seperti wartawati yang liat dan berego besar. Namun sejauh-jauhnya Rachel melangkah ke pintu masuk untuk menjadi perempuan yang tangguh dan menolak tunduk dari kekuasaan dominan, ia tetap tak bisa menolak kerapuhannya yang terbangun secara alamiah. Dalam pay-off sepadan yang hadir di penghujung cerita itu, barangkali inilah penjabaran paling masuk akal dari prinsip jurnalisme—yang paling menentukan bagi saya—bahwa jurnalis memiliki kewajiban untuk mengikuti suara nurani mereka.

Sutradara Rod Lurie memang tak memusatkan cerita bikinannya ini ke domain kerja dunia jurnalisme untuk menuntaskan kasus kotor ini sampai ke akar-akarnya. Ketika melewati dari sepertiga durasi, secara halus ia memutarnya ke kisah drama yang menempatkan dunia jurnalistik hanya sebagai latar. Di sini pulalah tampil pergulatan dan konflik nurani dari berbagai karakternya, bahkan pada si antagonis sekalipun. Ah, saya ralat, karena sebetulnya di film ini tidak ada karakterisasi tipikal yang membuat salah satu tokohnya layak disematkan titel si antagonis secara penuh.

Mungkin, jika sewaktu Anda menonton film ini, dan mengidentikkan beberapa tokohnya sebagai sosok yang harus dicemberuti, itu lebih disebabkan karena konteks yang sedang hangat di balik latar kisah film ini, yakni ancaman penuduhan dan ‘penghukuman’ terhadap warganya secara gampangan dengan dalih demi keamanan nasional. Atau, konteks lain yang lebih mirip dan menyantol dengan cerita film ini, yakni dipenjaranya Judith Miller, wartawan New York Times, selama hampir tiga bulan karena tidak mau mengungkapkan identitas narasumbernya dalam berita mengenai kasus heboh Valerie Plame—agen CIA yang dibocorkan identitasnya oleh Wakil Presiden Dick Cheney saat itu.

Yang jelas, dari permainan akting aktor-aktrisnya yang di atas rata-rata mampu menunjukkan bahwa para tokoh di film ini hanyalah menjalani tuntutan profesi. Mereka adalah orang-orang yang akhirnya bertindak semata-mata untuk merespon rasa khawatir. Dan melalui dampak psikologis yang menimpa Rachel, di sinilah kritik pedas kepada pemerintahan Bush yang sedang dilanda paranoia itu muncul.

Bahkan dalam satu adegan dengan argumen cerdas dan orisinil, Lurie, yang diwakili akting Alda, menceramahi para hakim gaek di negerinya perihal berbahayanya jika pers dibungkam. Inilah kritik yang ditujukan kepada para penguasa yang sudah menihilkan peran pers sebagai pengawal proses demokratisasi; juga kepada pihak-pihak yang tak ingin aib busuknya tercium oleh orang lain, seperti halnya sampah yang harus dibakar secepatnya. Dan saya memimpikan film seperti Nothing But the Truth diproduksi di Indonesia untuk menelisik pergulatan nurani seseorang, sekaligus bonusnya, yaitu menyentil pihak-pihak yang emoh dikritisi oleh pers. Karena, bukankah sekarang di kalangan penguasa mulai mengidap sindrom ogah dikritik?

Nothing But the Truth. 2008. Sutradara: Rod Lurie. Pemain: Kate Beckinsale, Matt Dillon, Angela Bassett, Alan Alda, Vera Farmiga, David Schwimmer, Noah Wyle. Skenario: Rod Lurie. 108 menit. The Yari Film Group.

 

PS: Ditulis pada Februari 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s