Mimpi Aku Jadi Guru

Racauan panjang ini adalah apresiasi untuk guru-guru saya, teman-teman saya yang menjadi guru, dan siapa saja yang memedulikan pendidikan.

 

PLAK! TIBA-TIBA saja pantat saya terasa panas bersamaan dengan munculnya bunyi keras itu. Rupanya sebuah penggaris panjang kayu untuk papan tulis telah dihantamkan ke bagian tubuh saya tersebut.

“Begitu saja nggak bisa! Sana duduk!” bentak guru matematika saya. Tangannya kanannya masih memegang penggaris panjang itu.

Siang itu, awal tahun 1998, rasanya saya ingin ditelan bumi saja. Di depan teman-teman sekelas, saya dipermalukan oleh guru saya: Pak Darisan. Tapi saya akui, saya memang pantas diperlakukan seperti itu. Diperintah maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika, yang terjadi saya cuma bisa diam di muka papan tulis. Tidak konsentrasi, rumus tidak hapal, dan agak tegang, hasilnya adalah bermenit-menit di depan papan tulis tanpa menuliskan satu angka pun.

Padahal saat itu, Pak Darisan sudah berusaha membantu saya dalam menjawab soal tersebut. Ia perlahan-lahan menuntun saya menerapkan rumus kuncinya. Namun mungkin karena otak sedang bebal, saya sama sekali tidak mengerti penjelasannya. Beliau pun kesal, dan penggaris terkutuk itu dilayangkan ke pantat saya. Di rumah saya baru sadar kalau ternyata soal itu sebetulnya tidak sulit. Bodoh betul sih, pikir saya.

Saya dan teman sebangku saya cukup kaget dengan tindakan Pak Darisan siang itu. Bukan apa-apa. Ini karena guru kami itu jarang sekali marah. Pembawaannya pun menenangkan dan membuat jam pelajaran matematika pada tahun ketiga di SMP 41 Jakarta, saat itu menjadi menyenangkan. Bahkan kadang-kadang ia melucu sambil menjelaskan rumus matematika. Di tangan beliau, matematika menjadi gampang dimengerti.

Namun ternyata takdir telah menitahkan saya, siswa yang membenci matematika dan tidak banyak omong di kelas, untuk membuat kesabaran Pak Darisan pecah.

Seminggu setelahnya, pada pagi hari ketika seharusnya Pak Darisan mengajar di jam pertama, beliau tidak kunjung masuk kelas. Tak lama, malah wali kelas kami lah yang masuk dan langsung memberitahukan kabar duka, “Innalillahi wa innailaihi roji’un. Pak Darisan telah meninggal tadi pagi.”

Kami kaget, karena sehari sebelumnya ia masih mengajar, dan tidak ada tanda-tanda atau kabar mengenai sakitnya beliau. Hari itu kami mengetahui, Pak Darisan terkena serangan jantung.

Pagi itu seisi kelas terdiam, bahkan teman-teman yang paling bengal sekali pun.

Malam harinya, ketika saya sedang mengerjakan LKS Bahasa Indonesia di kamar, tiba-tiba saya teringat beliau, dan mendadak saya merasa sedih sekali. Itulah untuk pertama kalinya saya menangisi orang yang tidak saya kenal secara personal, orang yang bukan termasuk kerabat saya, orang yang baru saya kenal selama hampir lima bulan terakhir, itupun lewat pertemuan cuma beberapa jam setiap minggunya.

Saya melirik ke ruang makan di sebelah. Tidak ada orang. Buru-buru langsung saya tutup pintu kamar.

 

GERIMIS MASIH saja betah turun ketika saya dan ibu saya tiba di depan gerbang sekolah pada pagi itu. Kami pun setengah berlari masuk ke arah gedung karena lupa membawa payung.

Di depan ruang pendaftaran ulang siswa-siswi baru, ibu saya lalu menyalami seorang pria. Dari keriput di wajah dan helai-helai rambut putih di kepalanya, saya tebak usia pria itu sudah menginjak angka 50.

“Sana salaman. Cium tangannya. Itu guru mama juga,” kata ibu saya.

Pada suatu pagi di medio Agustus 1998 itu, saya mendaftar ulang di SMU 28 Jakarta. Saya berhasil masuk ke salah satu sekolah idaman itu. Di ruang pendaftaran ulang itu, kami disambut beberapa guru. Salah satunya adalah Pak Achmad, guru bahasa Indonesia—yang kemudian saya cium tangannya itu.

Di mata saya, jelas terlihat ada kebanggaan pada diri ibu saya ketika tahu saya berhasil masuk ke sekolah itu, mengikuti jejaknya dan kakak saya setahun sebelumnya. Ibu saya juga alumnus SMU 28. Di akhir tahun ’70an, ketika ibu saya menjadi siswa baru, Pak Achmad terhitung masih berstatus guru muda di sekolah tersebut. Ternyata sejarah berulang. Kini Pak Achmad rupanya menjadi wali kelas saya.

“Berarti Pak Achmad bisa disebut ‘kakek guru‘ tuh dek,” canda ibu saya di perjalanan pulang.

Pak Achmad bisa dibilang tipe guru pendiam. Tidak banyak omong dan basa-basi. Orangnya kalem dan tidak mudah marah. Seingat saya, tidak pernah sekalipun beliau membentak anak muridnya. Pada tahun ketiga, Pak Achmad menjadi wali kelas saya kembali. Bedanya, di kelas III itu, beliau harus rela menjadi bapak bagi sekelompok siswa-siswa yang tergolong paling susah diatur di angkatan kami.

Dengan karakternya yang cukup cool itu, Pak Achmad harus menjinakkan kami, kelas III IPS 2, yang memang termasuk kelas chaos. Banyak biang kerok angkatan bersemayam di kelas ini.

Ada satu cerita. Suatu siang di hari-hari menjelang kelulusan, kami membuat foto kelas untuk buku tahunan. Semuanya diharuskan mengenakan pakaian formal, tampil lebih dewasa. Tak disangka, sesi pemotretan yang diadakan di salah satu rumah teman ini memakan waktu lama, telat hampir dua jam dari jadwal. Penyebabnya utamanya adalah dandan, terutama bagi teman-teman cewek. Tapi Pak Achmad dengan sabar menunggu kami hingga siap dipotret. Tanpa mengeluh sedikit pun.

“Nggak apa-apa kok,” ucap beliau ketika kami memohon maaf atas molornya jadwal.

Tengah tahun 2001, hasil Ebtanas keluar. Kami semua lulus. Kalau saya tidak salah ingat, kelas kami mencetak nilai rata-rata tertinggi di kategori IPS, bahkan juga termasuk yang tertinggi di angkatan. Pak Achmad dengan kalem menerima fakta itu. Tapi saya yakin beliau pasti bangga dengan prestasi anak didiknya ini.

Beberapa hari setelah pengumuman hasil UMPTN, saya bersalaman dengannya sekaligus pamitan dan mengucapkan terima kasih. Mungkin, di antara semua siswa di angkatan kami, hanya saya saja yang setiap kali bersalaman dengan Pak Achmad selalu diikuti mencium tangannya.

Dua minggu setelah salaman itu saya meninggalkan Jakarta, tapi bukan untuk selamanya. Dan, selamat datang Jatinangor, ‘kota’ kecil yang terik sinar mataharinya sangat menyengat dan hawa dingin malamnya begitu mengigit kulit.

Bulan-bulan awal di pinggiran Sumedang itu pun terlewati begitu saja tanpa banyak tantangan. Penyebabnya, jadwal kuliah yang masih amat longgar dan minimnya kegiatan mahasiswa yang saya ikuti. Mungkin satu-satunya hiburan pada semester pertama itu adalah rutinitas di malam minggu: kumpul bersama para lelaki jomblo dan melihat kelakuan aneh seorang teman yang gemar me-missed call mahasiswi-mahasiswi cantik di angkatan kami.

Hingga kemudian datang suatu hari di awal tahun 2002. Pagi itu, sebuah pesan pendek masuk ke ponsel saya. Isinya kabar duka. Pak Achmad telah berpulang. Dari informasi yang saya dapatkan beberapa hari setelahnya, katanya beliau meninggal ketika dalam perjalanan pulang di atas KRL karena serangan jantung.

Pagi itu, kabar duka tersebut langsung saya sampaikan ke ibu saya. Pagi itu pula, saya ingat salaman terakhir saya dengan beliau.

 

CIGANJUR, 2 Juli 2006, sekitar pukul 5 sore, sepasang pria dan wanita bertandang ke rumah saya.

“Assalamu’alaikum,” ucap si pria.

Saya yang pertama kali mendengar salam itu, langsung keluar. Kaget sekali rasanya ketika tahu yang mengucapkan salam itu ternyata adalah Pak Surmadi dan istrinya.

Pak Surmadi adalah guru SD saya. Guru SD kakak saya juga. Kakak saya dan saya memang selalu masuk sekolah yang sama, dari SD hingga SMU, hanya ketika kuliah saja kami berpisah. Singkat kata, guru kakak saya ya guru saya juga. Namun Pak Surmadi bisa dibilang spesial bagi kami, tepatnya bagi keluarga kami. Karena beliau lah satu-satunya guru yang dekat dengan bapak dan ibu saya, bahkan kakek dan almarhumah nenek saya. Dia lah yang berjasa penting membuat kakak saya dan saya, terutama, mampu lancar mengenal aksara.

Minggu sore itu, kami sekeluarga besar memang baru saja selesai mengadakan hajatan besar. Kakak saya menikah. Kami saat itu mengundang Pak Surmadi dan keluarga untuk datang ke resepsi pernikahan. Tapi beliau berhalangan hadir. Maka ia pun datang ke rumah kami sambil membawa sekotak kaleng biskuit Khong Guan.

“Maaf yah bapak tadi siang nggak bisa dateng. Dari pagi soalnya sibuk pindahin arsip-arsip dan perabotan sekolah,” jelas Pak Surmadi. Bangunan lama sekolah kami ternyata akan direnovasi besar-besaran. Para guru dan staf pun kerja bakti.

Pak Surmadi adalah guru yang multi-talenta pada eranya. Selama enam tahun di setiap jenjang, ia mengajar mata pelajaran yang berbeda-beda. Dari matematika, bahasa Indonesia, PMP, hingga PKK. Ia beberapa kali menjadi wali kelas saya. Gaya mengajarnya santai, sering kali dengan sisipan humor, tapi sering juga sambil marah-marah. Yang jelas ia memberikan perhatian kepada anak didiknya.

Pernah suatu hari di kelas IV, ia meminta kami untuk menyebutkan pekerjaan ayah masing-masing sambil mengabsensi. Ketika seharusnya sampai di giliran salah seorang teman untuk menyebutkan pekerjaan ayahnya, ia melewatkannya. Kami sekelas tahu persis kalau pekerjaan ayah teman kami itu adalah seorang loper koran. Pak Surmadi jelas tetap ingin menjaga perasaan salah seorang muridnya.

Ada lagi yang membedakan Pak Surmadi dengan guru lain, setidaknya di mata saya, yakni kesederhanaan.

Di lingkungan sekolah, untuk menambah penghasilan bulanan mereka, istri beliau membuka warung jajanan untuk para murid. Jadi setiap pagi, sebelum jam masuk sekolah, guru saya itu bolak-balik dengan mengendarai sepeda motor bebek berwarna merah keluaran awal tahun ’90an dari rumahnya ke sekolah untuk membawa barang dagangan. Istrinya memang selalu mulai membuka warungnya sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Rumahnya sendiri berjarak sekitar dua kilometer dari sekolah.

Saya dan teman-teman, yang satu hari dalam seminggu harus datang pagi-pagi ke sekolah karena piket kebersihan kelas, pasti kerap menjumpai Pak Surmadi datang tergopoh-gopoh bersama istrinya membawa barang dagangan dengan hanya mengenakan kaos, celana pendek, dan sendal jepit.

Ketika saya sudah duduk di bangku SMP dan pagi-pagi sedang menunggu mikrolet di depan gang, saya sering berpaspasan dengan Pak Surmadi yang sedang mengendarai pelan motornya dengan setelan pakaian rumahan. Baik dengan motor dipenuhi barang dagangan, ataupun tidak. Kadang saya menyapanya, kadang juga beliau duluan yang menyapa saya. Tergantung siapa yang melihat lebih dulu.

Kondisi ini menjadi semacam rutinitas pagi hari, bahkan hingga saya sudah di tahun terakhir sekolah menengah atas. Dan, beliau masih saja mengendarai sepeda motor tua warna merah itu.

“Nggaaa,” sapa Pak Surmadi sambil lewat dan tersenyum di pagi hari itu. Sapaan yang sangat khas.

“Selamet yah. Semoga jadi keluarga yang sakinah,” doa beliau sore itu kepada kakak saya dan istrinya.

Obrol sana-sini, kunjungan Pak Surmadi dan istri ke rumah kami pun berlangsung singkat. Mereka pamit pulang. Kami sekeluarga mengantar mereka ke tempat sepeda motornya diparkir. Kali ini sepeda motornya sudah bukan warna merah lagi, tapi hitam. Motor bebek produksi akhir tahun ’90an.

Untuk ukuran tahun 2006, di mana dengan uang setengah juta sebuah motor keluaran terbaru sudah bisa dibawa pulang oleh seorang remaja, kuda besi milik guru saya itu tetap ketinggalan zaman. Beliau tidak juga berubah.

 

BIOSKOP 21 SLIPI JAYA. 26 September 2008. Pukul 21.30 film Laskar Pelangi diputar. Di hari kedua pemutaran film itu tidak ada kursi kosong yang tersisa. Saya sendiri duduk di empat baris terdepan.

Tempo film berjalan lambat di awal film. Pendekatan yang tepat karena ritme pelan itu mampu membangun emosi dengan pasti. Membuat saya menilai bahwa Laskar Pelangi adalah a feel good movie yang hebat. Hasilnya, di pertengahan durasi, saat tubuh dingin Pak Harfan tergeletak di meja kerjanya yang diikuti dengan tangisan Ibu Muslimah, saya tiba-tiba teringat tiga guru saya: almarhum Pak Darisan dan Pak Achmad, juga Pak Surmadi.

Seperti halnya suasana bioskop yang malam itu mendadak terdengar banyak suara terisak, meninggalnya Pak Harfan juga menghilangkan keceriaan yang selalu muncul dari ruang kelas yang reot itu. Sosok yang tak pernah lelah menyuntikkan semangat supaya selalu berani bercita-cita tinggi walaupun dihadang badai masalah itu tidak ada lagi. Matahari kembar yang selalu menyiramkan cahaya terang untuk memupuk rasa optimisme di dalam diri para murid SD Muhammadiyah yang miskin itu tidak lengkap lagi.

Ibu Muslimah lalu larut dalam kesedihan berhari-hari. Kegiatan belajar-mengajar pun tidak berjalan.

Di tengah kemurungan itu, yang mampu membahagiakan hati adalah menyaksikan anak-anak miskin Belitong itu tetap semangat belajar secara mandiri, membuktikan bahwa keyakinan Pak Harfan terhadap mereka tidak salah: anak-anak karunia Tuhan.

Di dalam pikiran dan sanubari anak-anak ini rupanya sudah tertanam makna pesan terakhir Pak Harfan, “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.”

Pak Harfan juga memercayai dan menerapkan idealismenya bahwa SD Muhammadiyah adalah sekolah yang menempatkan pendidikan agama dan budi pekerti di posisi yang terhormat, jadi bukan sekedar pelengkap kurikulum.

“Kecerdasan dilihat bukan sekedar dari nilai-nilai, bukan dari angka-angka itu, bukan, tapi dari hati,” tutur Pak Harfan suatu saat.

Pak Harfan dan Ibu Muslimah selama ini memang mengajar dengan memakai hatinya. Begitu pula anak-anak muridnya, yang juga belajar dengan hatinya. Tak urung, ketika Ibu Muslimah datang ke kelas reot itu yang langsung disambut pelukan haru anak-anaknya, dalam hati saya bertanya-tanya, apakah kini masih ada hubungan antara guru dan murid seperti ini terjadi di dunia nyata, di Indonesia?

Saya rasa masih ada dan mungkin tidak sedikit jumlahnya, tapi masihkah dinilai signifikan peranan relasi seperti ini, baik di kalangan pendidik sendiri maupun di kalangan masyarakat?

Yang pasti saya percaya bahwa aktivitas mengajar dan belajar yang baik tidak cukup jika hanya bersandar pada pilar-pilar profesionalisme. Hati juga merupakan kata kunci. Interaksi antara tokoh Pak Harfan dan Ibu Muslimah dengan anak-anak anggota Laskar Pelangi itu telah membuktikannya. Bukti keefektifan lainnya yang paling kentara terlihat dari bagaimana orang-orang yang mengaku telah terpacu semangatnya setelah membaca novel Laskar Pelangi.

Cara mengajar dua guru yang sangat khas ini juga telah menyadarkan saya mengenai adanya satu pilar penting dalam proses belajar-mengajar yang selama ini mungkin sudah dilupakan oleh kita: budaya.

Kebijakan pendidikan memang perlu beradaptasi dengan gerak maju dan semangat zaman terkini yang selalu menuntut dilahirkannya manusia-manusia berkualitas. Ukuran-ukuran internasional memang patut diadopsi dengan sistem pendidikan nasional supaya manusia-manusia negeri ini tidak termasuk di barisan belakang daftar negara-negara yang dicap tertinggal. Tapi budaya bangsa yang telah terbentuk sekaligus menuntun kita, warga nusantara, hingga bisa melewati berabad-abad ini tidak bisa dianggap remeh dan dilupakan begitu saja, apalagi dianggap tidak krusial peranannya.

Budaya bangsa, seperti halnya kekuatan hati, adalah salah satu ukuran yang menetapkan kekhasan manusia Indonesia di ranah global. Budaya bangsa yang saya maksud di sini adalah budaya yang di dalamnya bersemayam pelajaran budi pekerti, norma-norma, dan nilai-nilai moralitas terbaik yang mampu memanusiakan manusia; budaya bangsa yang mampu membantu untuk menumbuhkan makhluk sosial agar dapat menjadi bagian integral masyarakat-bangsa, seperti yang diimplikasikan dari konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Dan jika kita perhatikan secara seksama, baik dalam novel maupun filmnya, Pak Harfan dan Ibu Muslimah tak lupa menyisipkan nilai-nilai budaya tersebut ketika mengajar anak-anaknya.

Dengan berpatokan bahwa pendidikan adalah proses (dan hasil) kebudayaan, masih mudahkah kita jumpai pilar budaya ini dalam proses belajar-mengajar di sekolah maupun perguruan tinggi?

Di tengah gempuran ragam tuntutan zaman dalam soal penerapan sistem pendidikan yang berkualitas standar global, terutama di Jakarta, nilai-nilai budaya ini perlahan-lahan semakin jauh dari tampak. Mungkin hanya guru-guru di tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas lah yang masih menyisipkan nilai-nilai budaya ini kepada anak didiknya. Itupun jangan-jangan, semoga saya salah, hanya di sekolah negeri dan ketika perayaan hari-hari besar saja, misalnya Hari Kartini.

Sedangkan, di sekolah swasta (atau sekolah berstandar internasional), jangankan materi pelajaran tentang budaya bangsa, perayaan seperti Hari Kartini atau upacara bendera pun mungkin luput dari kalender akademik mereka. Pengejawantahan nilai-nilai budaya seperti itu tidak dianggap vital.

Di tingkat lebih atas, mulai lebih sulit menemukan perguruan tinggi yang ramai-ramai memedulikan tentang nilai-nilai budaya bangsa dalam aktivitas akademis dan non-akademisnya.

Hanya di kampus-kampus yang memiliki jejak historis dalam proses pembentukan negara-bangsa Indonesia saja yang masih aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendiskusikan permasalahan nasional secara kritis—tanpa mengesampingkan perspektif budaya sebagai salah satu pisau analisisnya. Sedangkan di kampus-kampus yang tidak memiliki jejak seperti itu, apalagi ditambah dengan kultur berpikir kritis yang minim di jajaran sivitas akademika-nya, lebih menyukai menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dekat dengan berbagai nilai dan istilah ekonomi, dan maaf, bahkan tak jarang yang bermotifkan demi mendulang profit.

Saya prihatin dengan kampus-kampus yang saya sebut terakhir ini. Saya khawatir dosen (guru) dan mahasiswa di kampus-kampus ini bisa ikut terbawa arus yang salah. Daya pikir kritis mereka sama-sama tidak terbangun, atau malah yang paling menyedihkan, termatikan secara disengaja.

Saya selalu meyakini bahwa kampus atau universitas adalah pemasok para intelektual kritis yang bisa berkontribusi terhadap kemajuan bangsa lewat pemikiran maupun karya tanpa melupakan sejarah dan budaya bangsanya. Entah si mahasiswa kelak akan menjadi akademisi, politisi, birokrat, teknokrat, jurnalis, tukang kritik, atau pengusaha, yang pasti saya percaya kalau mereka harus ditanamkan dan dibiasakan berpikir secara kritis sejak di bangku sekolah, terutama di kampus.

Tanpa kemampuan dan kemauan untuk berpikir kritis, manusia sepintar apapun akan mudah terombang-ambing dan tidak memiliki pendirian yang kukuh. Tanpa kemampuan dan kemauan untuk berpikir kritis, akan datang kerugian, karena ketika godaan uang dan kekuasaan itu tiba menghampiri, manusia sepintar apapun akan dengan gampang langsung bertekuk lutut, tanpa mau mencoba untuk menelaah lebih dalam terlebih dahulu. Benar dan salah pun bercampur aduk.

Para siswa dan mahasiswa juga harus dibekali dengan nilai-nilai budaya dan sejarah bangsa. Jadi tidak hanya disuapi dengan ilmu manajerial, kepemimpinan, organisasi, atau pengetahuan teknis lainnya. Sudah cukup cerita tentang para entreprenuer yang sukses tapi sekaligus juga melakukan beragam perbuatan yang merugikan negara. Misalnya, penjualan pasir di negeri sendiri kepada pihak asing untuk menambah luas negara di seberang, penjualan artefak-artefak kesenian dan budaya yang dilindungi negara, hingga penjualan aset-aset berharga negara kepada pihak asing dalam balutan transaksi yang berbau kamuflatif dan manipulatif.

Sebutlah saya sotoy, tapi saya mulai meyakini kalau semua perbuatan tidak pantas itu disebabkan oleh salah satu hal: minim atau hilangnya kecintaan kepada budaya dan sejarah bangsa ini.

Sejarah dan budaya itu bertempelan erat, lekat. Mereka berkelindan. Mereka turut membentuk kita—saya yang sering menggunakan buskota dengan laju ugal-ugalan di tengah rimba lalu-lintas tidak teratur kota ini, sehingga kadang akhirnya saya menyerah dengan mengeluarkan kata-kata makian; dan kamu yang juga akhirnya harus meninggikan intonasi suara karena emosi memuncak ketika dipaksa berdesak-desakan penuh sesak dengan tidak manusiawi di dalam buskota yang reot.

Apa pun itu, sejarah dan budaya kita adalah identitas. Yang buruk disisihkan dan dijadikan pelajaran untuk memperbaiki. Yang sudah baik ditanam dalam-dalam di hati untuk kelak disemai dan disebarkan kepada sesama.

Maka, saya tidak habis pikir ketika mengetahui bahwa ada guru yang lalai dalam menyebarkan nilai-nilai budaya dan sejarah tersebut kepada anak didiknya. Ini menyedihkan, apalagi jika kelalaian itu diakibatkan sistem yang diterapkan oleh institusi di mana guru itu bernaung.

Meski begitu, saya sepenuhnya sadar dan paham kalau ini adalah tugas bersama—kita sebagai anggota keluarga sekaligus anggota masyarakat.

 

TAHUN 2001. Dua buku terbit di Singapura, yakni City of Forgetting (kumpulan cerita pendek Gopal Baratham) dan A History of Amnesia (antologi puisi Alfian Sa’at). Keduanya mengungkapkan adanya ketegangan hubungan negeri Singapura dengan masa lampau dan kenangannya. Keduanya sama-sama memberikan gambaran bangsa yang mementingkan kemajuan, selalu bergerak maju, tapi konsekuensinya mereka menambal-sulamkan perca-perca sejarah yang dianggap tidak pas dengan wajah kekinian.

Ben Slater mendeskripsikannya, “Sejarah” hanya boleh tampil dalam propaganda tonggak kemajuan sejarah, atau sebagai nostalgia berwarna cat air atau sefia tentang masa-masa yang lebih nyaman.

Tidak hanya buku, dari ulasan Ben Slater terhadap dua film dokumenter karya Tan Pin Pin, Singapore Gaga (2005) dan Invisible City (2007), terungkap masalah serupa: kecenderungan Singapura untuk melupakan atau mengabaikan unsur-unsur yang tak sesuai dengan kekinian urban negeri tersebut yang telah dibangun sempurna. Dalam film itu ditampilkan orang-orang yang dipinggirkan dari gelanggang sejarah bangsa, dan dikandangkan. Mereka dianggap sebagai semacam para pesakitan kebudayaan di negara kota yang serba teratur itu.

Penjelasan di atas saya dapatkan dari buku Kandang dan Gelanggang: Sinema Asia Tenggara Kontemporer (Kalam, 2007).

Dalam kondisi derasnya tuntutan adaptasi terhadap modernisasi di berbagai lini kehidupan, saya sadar kita tidak dapat mengelak darinya. Tapi muncul perasaan tidak rela di diri saya apabila Indonesia kelak menjadi negara yang melupakan sejarah dan budaya seperti negara tetangga kita itu. Apalagi, kini di Indonesia, dan di Jakarta terutama, telah muncul kecenderungan yang menuju kepada proses pelupaan atau pengabaian sejarah dan budaya tersebut, tak terkecuali dalam praksis pendidikan kita.

Sastrawan Radhar Panca Dahana pernah mengingatkan perihal pentingnya kebudayaan dalam artikelnya, Politik Tanpa Budaya (Kompas, 2009). Di artikel itu sebenarnya Radhar mempersoalkan tentang ketidakmatangan tradisi dan kultur politik, serta praktik demokrasi yang melenyapkan karakter kemanusiaan, baik sebagai individu maupun satuan kolektif. Namun buah pikirannya di ranah politik dan demokrasi ini, saya pikir bisa diadaptasi dan diterapkan pula untuk menelaah persoalan tentang mengapa terjadi kecenderungan proses pelupaan atau pengabaian sejarah dan budaya bangsa dalam praksis pendidikan kita.

Menurut Radhar, selama ini kita lalai pada proses pembangunan yang kini menjadi krisis, yaitu fundamen kebudayaan. Inilah fundamen yang mendaulat tujuan kerja produk-produk kebudayaan (termasuk pendidikan), yakni untuk, seperti kata Radhar, “Mempertahankan dan mengembangkan harkat dan kedaulatan manusia; garansi pada kemuliaan dan survive-nya spesies utama di bumi ini.”

Meskipun dorongan untuk menerapkan standar global di institusi pendidikan kita sangat kuat, kita seharusnya jangan gampang terlena dan tergoda dengan wangi harum budaya dari ‘luar sana’. Karena memang fundamen budaya untuk sistem pendidikan tidak selamanya harus diadopsi mentah-mentah dari latar historis dan sosiologis masyarakat di luar Indonesia.

Dengan bersandar pada realitas obyektif dari kondisi mental-psikologi masyarakat, menurut Radhar, fundamen budaya harus ditegakkan dari sejarah kebudayaan negeri ini sendiri. Modus yang semestinya terjadi adalah pendidikan mencocokkan diri dengan kebudayaan, bukan sebaliknya. Jangan sampai praksis pendidikan menampakkan gejala minor dan menuju ke arah yang negatif hanya akibat, “Ketidakmampuan kita dalam menghayati dan mewujudkan standar nilai, moral, dan etis yang ada dalam ruang kebudayaan kita.”

Saya jadi teringat artikel Radhar lainnya, Negeri Bebal Budaya (Kompas, 2008). Di dalamnya Radhar mengungkapkan realita mengenai besarnya potensi anak dan kaum muda di segala lapangan kehidupan yang akhirnya berhenti di usia dini.

Menurut Radhar, sistem, pola, gaya, dan infrastruktur pendidikan nasional tidak cukup berhasil dalam mengembangkan dan mengoptimalisasi bakat serta potensi kaum muda. Ada kesalahan dalam proses pematangan dan kedewasaan di tingkat kolektif juga individual dalam negeri ini. Tidak dapat berprestasi dan menjadi dewasa adalah persoalan jiwa, moralitas, karya hati, dan akhirnya adab atau budaya. Ketika ruh atau budaya yang memberinya nyawa tak ada atau rusak konstruksinya, dunia fisis akan membeku, mati, atau menjadi zombi.

“Maka manusia atau bangsa yang bebal budaya itu, sesungguhnya sudah mati secara adab. Negeri ini—seperti juga beberapa negeri berkembang lainnya di Asia, Afrika, juga Amerika Selatan—bisa masih berdiri, eksis, ada dalam proforma politik, bisnis, dan regulasi internasional. Tak terjadi apa yang disebut sebagai fail state. Tapi justru adabnyalah yang binasa (the death of civilization).”

Kalimat selanjutnya dari sastrawan itu membuat miris hati saya, “Negara semacam itu tinggal jadi berhala, mumi yang dibalsam menjadi zombi. Merasa ada tapi tak berjiwa.”

 

SUATU MALAM pada bulan lalu, saya mengobrol dengan seorang teman dekat via telepon. Sudah berbulan-bulan kami tidak berjumpa dan bercakap-cakap. Padahal sebelumnya kami bisa bertemu empat hari dalam seminggu, pulang kuliah bareng.

Usianya setahun di bawah saya. Perempuan yang penuh perhatian, supel, dan cerdas. Selain kuliah, ia juga menjadi asisten dosen di kampusnya di Depok. Kalau saya tidak salah ingat, hingga tahun 2008, teman saya ini juga menjadi guru sebuah playgroup dekat rumahnya pada pagi hari.

“Seneng Ngga ngajar anak-anak kecil. Ketemu anak-anak kecil hehe,” ujar Tisa, beralasan.

Ia memang menyukai anak-anak kecil. Saya ingat saat mengobrol via telepon pada malam itu, keponakan saya yang berusia dua tahun sedang rewel, menangis melulu. Suara jeritan keponakan saya terdengar oleh Tisa di ujung telepon sana. “Kok ada suara anak kecil Ngga?”

“Iya, keponakan gue lagi rewel tuh.”

“Kenapa?”

“Lagi sakit flu udah tiga hari ini.”

“Duh kasihan. Gue suka nggak tega kalo lihat anak kecil sakit. Udah dibawa ke dokter?

“Udah kemarin Tis. Emang belum sembuh aja.”

Halus dan sabar memang. Dari pembawaannya itu, saya menerka-nerka, mungkin itu juga sebabnya mengapa ia suka mengajar. Ada dorongan kuat dari karakter-karakter itu yang mendukung aktivitas mengajarnya. Maka wajar jika ia disukai anak-anak di playgroup itu.

Suatu malam, Tisa bercerita kalau ia harus berhenti sementara mengajar di playgroup. Di pagi hari terakhir ia mengajar, seorang anak didiknya memberikannya hadiah perpisahan.

Saya penasaran, “Emang dikasih apaan Tis?”

“Handuk Ngga. Gambarnya lucu lagi,” katanya, terkekeh sambil memperlihatkan hadiah itu ke saya.

Suatu kali saya bertanya mengapa ia tidak mencari pekerjaan lain. Ia masih mencoba, katanya, “Tapi nggak tahu yah Ngga, masih enak aja ngajar begini. Ya meski uang yang didapat nggak seberapa besar sih hehe.”

Terakhir kami bertemu pada tahun lalu, Tisa sedang bekerja di satu institusi yang berafiliasi dengan PBB. Ia membantu pengerjaan sebuah proyek dari badan dunia tersebut. Gaji yang dibayarkan lumayan besar, katanya.

Malam ketika saya meneleponnya, Tisa bercerita kalau ia sudah tidak bekerja di institusi itu lagi, karena kontraknya sudah habis. “Katanya sih akan ada lagi (proyek) itu. Tapi gue belum tahu bakalan ikutan lagi atau nggak,” lanjutnya.

“Lho, kenapa?”

“Bingung Ngga. Agak bimbang. Yang gue rasa, kok gue kayak bantuin orang luar ngobok-ngobok negara kita yah.”

Saya tidak mengiyakan juga tidak membantah.

“Dan ternyata ada juga dosen gue yang mengeluhkan hal serupa. Mereka juga belum tahu mau gabung proyek itu lagi atau nggak,” lanjut Tisa.

Meskipun belum dapat dipastikan apakah perkiraan Tisa itu akan terbukti atau tidak, tapi dari situ sekilas tercium aroma idealisme. Ini mengingatkan saya pada kritik keras Donny Gahral Adian terhadap laku para akademisi yang menyusupkan intelektualitasnya keluar dari ruang-ruang akademik, kemudian malah diabdikan pada uang dan kedudukan. Padahal dahulu kala Plato sudah mengingatkan bahwa intelektualitas itu sebangun dengan kekuasaan, karena mampu menjadi komando bagi segala nafsu rendah (uang dan kedudukan). Ironis memang.

Dalam artikelnya Benteng Terakhir Intelektual Republik (Kompas, 2008) itu, Donny mempertanyakan letak tanggung jawab mereka sebagai sivitas akademika, komunitas akademik yang beralas pada kreasi bukan komodifikasi pengetahuan.

“Universitas adalah universum ilmu-ilmu, sebuah artes liberal yang membaktikan diri pada kreasi dan transfer pengetahuan. Para intelektual universitas adalah hulubalang tri darma perguruan tinggi. Pertama, meneliti untuk mencipta pengetahuan. Kedua, mengajarkan pengetahuan itu. Ketiga, memanfaatkan pengetahuan baru untuk kemaslahatan bersama.”

Universitas tidak memasok tukang, tapi pengetahuan. Namun pengetahuan bukanlah komoditas, sebab ia bertambah saat dibagikan dan berkembang lewat persentuhan. Watak pengetahuan ini sirna ketika pengetahuan dijual demi uang dan kedudukan. Kalau sudah begini, pengetahuan pun tak ubahnya seperti barang dagangan di toko kelontong.

“Watak nontransaksi dari pengetahuan harus dirawat universitas sebagai semesta ilmu-ilmu,” kata Donny.

Sebagai benteng terakhir asketisme intelektual, universitas harus menumbuhkan tangki-tangki pemikir (think-tank) yang mengabdi kepada kemaslahatan bersama, bukan pribadi atau golongan, apalagi demi uang dan kedudukan. Kecendekiawanan adalah sebuah panggilan jiwa untuk mengungkap rahasia alam semesta dan membagikannya demi kemaslahatan bersama.

Karena itu, lanjut Donny, bagi mereka yang berpisah jalan hanya ada satu pesan, “Kembalilah ke jalan yang benar, jalan kecendekiawanan, jalan artes liberal.”

Matahari bahkan masih belum juga menebarkan panas teriknya pada Rabu 17 September 2008 saat saya membaca opini yang menohok itu.

 

JUM’AT sore pada bulan puasa tahun 2007, di perjalanan berangkat ke kampus, Tisa bercerita dengan cukup detail tentang kisah anak-anak miskin di Belitong yang semangatnya tinggi untuk bersekolah, juga tentang Andrea Hirata. Tisa mengungkapkan kekagumannya terhadap kisah novel itu. Itulah awal perkenalan saya dengan novel Laskar Pelangi—yang secara otomatis lalu berlanjut ke Sang Pemimpi, dan Edensor.

Kisah Laskar Pelangi adalah bentuk apresiasi terhadap pendidikan, terutama peran guru yang sentral dalam menanamkan benih-benih kesuksesan dalam diri anak didiknya dan membentuk watak insan yang baik. Ibu Muslimah dan Pak Harfan merupakan perwujudan yang sesuai dari istilah guru.

Dalam bahasa Sanskerta, guru bukan hanya bermakna pengajar, tapi juga sebagai ahli, konselor, saga, sahabat, pendamping, dan pemimpin spiritual. Etimologi esoterik dari istilah guru, menurut Anita Lie, menggambarkan metafora peralihan dari kegelapan menjadi terang. Dapat dibilang bahwa guru bermakna seseorang yang membebaskan dari kegelapan karena ketidaktahuan dan ketidaksadaran.

Kata guru ini melayangkan memori saya ke pertengahan tahun 2004. Saat itu angkatan saya, 2001, harus menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa-desa sekitaran Jawa Barat. Saya kedapatan di salah satu desa di Sumedang, Jawa Barat. Dalam program kelompok KKN, kami ikut membantu mengajar di salah satu sekolah dasar negeri di sana. Saya juga sempat mengajar bahasa Inggris dalam beberapa sesi.

Namun sepertinya, pemaknaan guru sebagai seseorang yang membebaskan dari kegelapan karena ketidaktahuan dan ketidaksadaran masih jauh dari aktivitas mengajar yang saya lakukan saat itu. Jauh sekali.

Justru cerita yang agak memilukan hadir di sebuah desa di Malangbong, Garut, yang ditempati kelompok KKN teman saya. Tingkat perekonomian di desa itu lebih rendah ketimbang di desa kelompok saya. Akses masuk ke desa itu juga jauh lebih sulit. Letaknya di atas perbukitan, sehingga hawanya lumayan dingin. Sarana dan prasarana umum pun seadanya. Tentu ini mampu berimbas ke tingkat pendidikan di masyarakat. Mata pencarian masyarakat di desa itu umumnya adalah petani, lebih tepatnya buruh tani. Ladang buah strawberry bertebaran di desa itu.

Kelompok teman saya di desa itu pun aktif mengajar di salah satu sekolah dasar negeri di pagi hari. Di sore hari, sehabis waktu shalat Ashar, mereka juga mengadakan les privat untuk anak-anak kecil di sana, termasuk yang belum masuk usia sekolah.

Di hari-hari pertama les privat itu, teman saya kaget karena anak-anak yang datang bejibun. Teman saya dan para anggota kelompoknya mengaku kewalahan meladeni anak-anak desa itu, tapi mereka tetap bersemangat karena melihat antusiasme yang tinggi itu. Lebih kaget lagi saat mengetahui bahwa ternyata banyak anak-anak yang menurut usianya seharusnya sudah mampu baca-tulis, tapi ternyata belum bisa apa-apa. Mungkin ini akibat faktor sosioekonomis dan geografis juga. Namun, menurut cerita teman saya, ada pula beberapa anak yang belum masuk sekolah tapi justru menunjukkan perkembangan pesat dalam membaca dan berhitung.

Salah satu anak itu bernama Jun. Bocah laki-laki berusia empat tahun. Kulitnya agak cokelat gelap. Hidungnya selalu meler. Anaknya tidak banyak bicara. Tapi dia sangat antusias belajar dan selalu paling awal datang ke rumah pondokan kelompok KKN teman saya setiap sorenya. Saking rajin dan antusiasnya, bahkan ketika pada satu hari tidak diadakan les privat, Jun tetap datang. Tahu tidak ada les hari itu, “Mukanya keliatan banget kecewa. Kasihan ngelihatnya,” cerita teman saya.

Banyak kejadian lucu mengenai tingkah laku anak-anak itu, kata teman saya. Khasnya anak-anak yang lugu dan polos, dengan ditambah faktor karena tinggal jauh dari kehidupan perkotaan, mereka pun punya keinginan tahu yang lebih besar. Barang-barang elektronik bawaan para anggota kelompok jadi pusat perhatian.

Bagi anak-anak ini, kakak-kakak mahasiswa ibarat oase pengetahuan. Setiap sore hari itu, mereka berebutan bertanya banyak hal. Mulai dari yang sepele seperti pertanyaan tentang operasi hitung-hitungan, hingga yang berat seperti pertanyaan Jun ini, “Kok gigi kakak ada besinya?”

Teman saya itu memang memakai behel. Di awal-awal pertemuan Jun dengan teman saya, pandangan mata Jun memang selalu dalam-dalam menatap ke gigi teman saya. Kawat gigi adalah benda asing bagi Jun, dan juga bagi anak kecil lainnya.

Selama hampir dua bulan tinggal di desa itu, teman saya akrab dengan Jun.

Sehari sebelum teman saya dan kelompoknya meninggalkan desa itu, diadakan perpisahan. Jun menghampiri teman saya dan berkata, “Kak, Jun mau ikut kakak aja yah?”

Teman saya langsung terharu. Bola matanya berkaca-kaca.

Namun dari berbagai cerita yang lucu dan menyenangkan dari anak-anak itu, yang menyayat hati adalah kejadian pagi hari di sekolah dasar negeri. Ketika itu teman saya menanyakan ke murid-murid di kelas V, “Apa cita-cita kalian kalau sudah besar nanti?”

Murid-murid berebutan menunjuk tangan. Satu persatu diberikan giliran menjawab. Anak-anak itu menjawab dengan suara lantang. Yang selanjutnya terjadi, mendengarkan jawaban murid-murid itu malah membuat hati terenyuh.

“Mau ngojek kak!”

“Jadi supir angkot!”

“Pengen sekolah lagi, sampe SMA!”

“Pengen jadi juragan strawberry!”

Itu bukan jawaban yang sebetulnya diharapkan oleh teman saya dan anggota kelompok KKN lainnya. Mungkin juga oleh kita. Namun itu tetaplah jawaban-jawaban jujur dari anak-anak desa yang polos dan lugu. Jawaban yang mencerminkan gambaran bagaimana sederhananya kehidupan mereka sehari-hari. Tidak sedikit dari anak-anak di desa ini yang merasa cukup bersekolah dengan mengantongi ijazah SD atau SMP, dan kemudian bekerja sebagai buruh tani.

Tidak ada yang menjawab ingin menjadi astronot, seperti lazimnya jawaban anak-anak yang tinggal di perkotaan. Astronot adalah kata asing untuk didengar telinga anak-anak desa di pelosok Garut ini. Semacam benda elektronik canggih berharga supermahal, sehingga memimpikan untuk memilikinya pun anak-anak itu tidak berani.

Ada dua anak perempuan yang duduk di baris terdepan diam saja dari tadi. Teman saya lalu bertanya kepada dua anak itu.

“Mau jadi dokter Kak,” katanya, pelan.

Tak disangka, teman-temannya menertawakan jawaban itu. “Mana bisa?” celetuk seorang anak.

“Kok diketawain? Nggak boleh gitu yah,” bela teman saya.

“Kalau kamu mau jadi apa?” tanya salah satu anggota kelompok KKN kepada anak yang satu lagi.

Anak itu diam sebentar, sebelum akhirnya menjawab suara yang lembut tapi jelas.

“Aku mau jadi guru kak. Kayak ibu guru dan kakak.”

Ruang kelas mendadak agak sunyi. Tidak ada suara tertawa kali ini.

 

DINDING KAYU yang lapisan catnya mengelupas. Atap seng yang pecah-pecah. Perabotan meja dan kursi berwarna kusam. Tumpukan buku-buku. Rak yang berisi deretan berkas-berkas yang penuh debu. Sebuah ruangan guru yang sangat sederhana. Pak Harfan dan Ibu Muslimah duduk berhadap-hadapan dengan dipisahkan sebuah meja.

“Tak ada yang bisa kita perbuat Mus,” ucap Pak Harfan sambil melipat secarik kertas.

Siang itu telah datang surat pemberitahuan yang isinya memerintahkan murid-murid SD Muhammadiyah untuk mengikuti ujian bergabung dengan SD PN Timah. Ibu Muslimah pun resah. Beliau tahu bagaimana perasaan anak-anak didiknya nanti ketika ujian bersama anak-anak yang berpakaian rapih dan di dalam bangunan sekolah yang jauh lebih mewah.

Ibu Muslimah hanya bisa pasrah. Siang itu, tepat sudah dua bulan beliau belum menerima gajinya.

“Mus, kau tuh masih muda, cantik pula. Kenapa kau tolak lamaran anak Haji Mahdun? Telah jadi istri saudagar kau di tanah Jawa,” tanya Pak Harfan.

Sambil tersenyum, Ibu Muslimah malah balik bertanya, “Lalu meninggalkan bapak berdua saja dengan Bakri?”

“Mimpi aku ini bukan jadi istri saudagar pak. Mimpi aku jadi guru. Dan bapak adalah orang yang langsung percaya bahwa aku bisa jadi guru.”

 

 

Ah, seperti biasa. Si alter ego tidak bisa tutup mulut.

“Ingat nggak kau waktu pelajaran Tata Negara Ibu Eliza dulu pas hari Senin, waktu kelas kita berdebat soal penting tidaknya upacara bendera setiap Senin pagi?”

“Mmmh. Iya ingat. Waktu itu Ibu Eliza nanya ke kita mana bagian penting dan tidak penting dari upacara bendera. Kalau nggak salah itu gara-gara Ibu Eliza kesal melihat kita suka nggak serius melakukan upacara.”

Ya, di tengah hari bolong yang membuat kantuk semakin menjadi-jadi itu, pertanyaan Ibu Eliza tersebut ternyata mampu menaikkan kepala-kepala yang tertunduk lesu. Teman-teman saya, dari yang paling kuat melawan hawa malas hingga yang paling sering tertidur di kelas setiap harinya, ganti-gantian menjawabnya. Beberapa saling mendebat satu sama lain. Argumen-argumen yang dilontarkan pun cukup menarik.

Ada yang bersikukuh bahwa pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 itu tidak penting. Ada yang meragukan keefektifan pembacaan teks Janji Siswa terhadap sikap dan perilaku para siswa. Ada yang mengeluhkan sesi menyanyikan lagu nasional. Namun untungnya, patut disyukuri tidak ada satu pun teman saya yang mempermasalahkan pembacaan doa.

Akhirnya, debat itu selesai tanpa disangka-sangka dengan jawaban pamungkas dari Dana—salah satu siswa pentolan di kelas kami dalam bidang ‘kerusuhan’, tapi juga cerdas dan kreatif.

Jawaban Dana ini membuat Ibu Eliza manggut-manggut dan seisi kelas lainnya tersenyum manis.

“Menurut saya bu, justru yang paling penting dan bermakna adalah saat bendera merah putih dikibarkan, dan tangan kita hormat kepadanya. Itu bu yang paling membanggakan di hati.”

 

 

PS : Dear Rachmi Abdul, terima kasih untuk editannya.

Esai ini saya tulis bulan Mei 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s