Metamorfosa Cut Mini Theo

Aktris ini menunjukkan bahwa dirinya merupakan wujud perpaduan antara sifat ceria, keibuan, pendidik dengan kedewasaan berpikir.

 

RONA KESEDIHAN dan kekecewaan mendadak tampil jadi satu di paras wanita itu. Ia berusaha supaya tak menitikkan air mata, tapi gagal. Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sambil membetulkan kerudung birunya, ia meraih tas tangan cokelat miliknya di rak, lalu melangkah keluar dari ruang kantor guru yang reot itu, meninggalkan Pak Harfan dan Bakri berdua saja di dalamnya.

Pak Harfan keluar mengejar Muslimah, wanita itu. “Mus, tenanglah dulu. Jangan marah,” kata Pak Harfan, menenangkan.

Muslimah, yang sedang menuntun sepedanya menuju ke jalan raya, pun menghentikan langkahnya. “Ndak, Pak. Aku nggak marah. Aku ngerasa ada benarnya apa yang disebut Bakri. Tak ada orang yang peduli dengan sekolah kita, Pak. Semua orang tak percaya bahwa anak-anak miskin pun punya hak untuk belajar,” jawab Muslimah. Bola matanya sudah basah.

Muslimah sedih karena baru saja tersadarkan bahwa selama ini ia terlalu tinggi berharap pada sekolah tempat ia mengajar: SD Muhammadiyah. Selama ini ia meyakini bahwa sekolah itu masih punya masa depan cerah. Argumen ibu guru muda ini sederhana saja. “Ini sekolah Islam satu-satunya yang ada di Belitong,” ujar Muslimah, bersikukuh. Lagipula, Muslimah merasa masih memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan ke anak-anak yang tak mampu.

Namun, harapan dan keyakinannya itu mulai goyah karena mendengar ucapan Bakri yang tajam dan pahit.

“Pernah kau berpikir kenapa cuma satu-satunya, Mus? Karena nggak ada lagi yang peduli. Sudah lima tahun sekolah ini nggak bisa membuka kelas baru, karena apa, Mus? Nggak ada murid. Apa yang lagi bisa dibanggakan, selain namanya itu SD Muhammadiyah. Apa prestasi sekolah ini, Mus?” ungkap Bakri. Di mata Bakri, para warga Belitong tidak ada lagi yang mau menyekolahkan anak-anaknya di SD Muhammadiyah, karena mereka berpikir lebih baik anaknya menjadi kuli timah untuk menafkahi keluarganya ketimbang menuntut ilmu di bangku sekolah.

 

ITULAH sekelumit gambaran adegan nomor 68 dalam film Laskar Pelangi garapan sutradara Riri Riza. Adegan yang paling menguras emosi dan tak bisa dilupakan oleh Cut Mini Theo, 36 tahun, selama proses syuting film fenomenal itu. Di Laskar Pelangi, Mini—begitu ia biasa dipanggil—berperan sebagai Muslimah, Pak Harfan diperankan Ikranegara, dan Bakri oleh Teuku Rifkana.

“Kenapa sulit dilupakan?” tanya saya.

“Karena emosi yang saya keluarkan harus sama, baik saat saya di dalam ruang guru maupun di luar sekolah. Padahal scene 68 itu harus di-reschedule sampai tiga kali. Ada saja halangannya, mulai dari emosi saya yang sudah ketinggian, kendala teknis, hingga faktor cuaca,” tutur Mini, mengenang.

Ia mengaku, akibat ditunda-tundanya pengambilan adegan itu membuat hatinya tak tenang, dan merasa was-was karena takut berakting jelek. Sampai akhirnya adegan ini kelar di-shoot dan Riri pun sudah merasa puas, Mini masih saja belum yakin telah menunjukkan performa akting terbaiknya di situ.

Lewat ceritanya tentang scene 68, saya melihat upaya Mini untuk mencapai kualitas akting yang mendekati titik kesempurnaan. Dari cara menuturkan pengalamannya itu, saya juga menangkap adanya gabungan antara sifat ekspresif dan sikap yang santun—ia selalu menatap lekat-lekat ke mata saya ketika saya berbicara, yang menunjukkan bahwa ia menyimak dan menghargai lawan bicaranya. Begitu pula jika mendengarkan cara Mini berbicara. Siapapun yang berada di dekatnya akan menengok kepadanya paling tidak sedetik saja. Bukan karena nada bicara yang berapi-api, bukan pula karena bergaya bak orator atau teatrikal saat berucap, tapi disebabkan oleh intonasi suaranya yang merepresentasikan aura keceriaan dengan wajah yang selalu berbinar-binar. Seakan-akan suasana penuh keriangan malas pergi dari sekitar dirinya.

First impression dari orang-orang yang tidak kenal sering bilang kalau saya jutek,” ucap Mini, berusaha membongkar watak dan kebiasaannya sendiri. “Padahal sih saya orangnya bawel. Saya tidak suka basa-basi dan tidak suka dibikin pusing oleh hidup. Saya menjalani hidup dengan apa adanya, jadi saya pun bisa berteman dengan siapa saja. Saya juga tidak suka hidup terlalu terkungkung dan tidak senang berada di satu tempat terlalu lama.”

“Untungnya terjunnya ke dunia kreatif yah, dunia akting,” timpal saya.

Mini membalasnya dengan tawanya yang renyah.

Tapi bukan sifat-sifat itu saja yang dominan menguasai dirinya. Bagaimanapun, Mini tetaplah seorang wanita yang sensitif. Adakalanya kesedihan begitu kuat membekap dirinya, sehingga ia tak mampu melupakannya. Salah satu momen yang mampu memancing keluar air matanya adalah saat adegan Lintang (tokoh anak jenius di Laskar Pelangi) yang harus berhenti sekolah demi menghidupi adik-adiknya.

“Itu juga adegan terberat. Saat Lintang meninggalkan sekolah, kita semua menangis betulan, jadi bukan berakting lagi. Saya seperti ditinggal oleh anak saya sendiri. Bahkan saat saya menonton adegan itu lagi sekarang, saya kadang masih saja menangis,” ungkap Mini, yang tiba-tiba tak ceria lagi dan ada nada sendu ketika ia menceritakan kepergian Lintang.

“Saat menceritakan sekarang pun masih keluar rasa sedih itu?” tanya saya.

“Mudah-mudahan sih tidak. Jangan sampai.”

Mini menjawab pelan sambil tersenyum kepada saya, sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke dadanya. Meskipun mulutnya menyangkal, tapi kedua bola matanya tampak agak berkaca-kaca, dan ia menarik napas agak panjang. Muncul keheningan sesaat dalam pembicaraan kami. Rupanya, ketika mengisahkan momen kepergian Lintang saat itu, waktu seolah berhenti berputar; dan mengembalikan Mini ke tanah Belitong sebagai Muslimah, guru kesayangan murid-muridnya; ke perkarangan SD Muhammadiyah, di mana ia dan 10 anak muridnya hanya bisa merelakan kepergian Lintang dengan isak-tangis.

 

CUT MINI THEO diwarisi darah Aceh dari orangtuanya, almarhum T. Usman Abdullah dan Cut Dermawan. Aktris kelahiran Jakarta, 30 Desember 1973, ini mengaku tak pernah menyangka akan terjun dan sukses menyelami dunia akting. Awal karier Mini dimulai di usia 15 tahun, ketika ia menjadi model sebuah majalah remaja. Setelah itu, ia masuk ke dunia akting lewat sinetron Catatan Si Boy dan namanya mulai tenar saat menjadi model video klip penyanyi Andre Hehanusa.

Sukses di Indonesia, membawa dirinya diajak berkarier di negeri tetangga. Dikontrak sembilan bulan oleh sebuah rumah produksi yang bekerja sama dengan TV3 Malaysia, Mini didaulat berakting di beberapa serial drama televisi. Ia pun beradu akting dengan para aktor dan aktris dari beberapa negara, seperti Malaysia, Brunei, India, Singapura, dan Vietnam.

Balik ke Indonesia, Mini akrab dengan kelompok P-Project. Ia mempelajari komedi dari kelompok asal Bandung itu. Ujung-ujungnya, Mini ditawari untuk ikut berpartisipasi dalam produksi program televisi acara komedi Sang Prabu dengan memerankan orang Melayu. Dan program acara itulah yang membuat dirinya lekat dengan imej seorang comedian.

“Imej itulah yang akhirnya keluar. Jadi, selain mengajarkan hingga saya ketagihan berkomedi ria, P-Project lah yang menghancurkan hidup saya,” kata pemilik postur setinggi 165 cm ini sambil tertawa terbahak-bahak.

Meskipun memang sudah kadung jatuh cinta dengan komedi, Mini sadar bahwa hal itu mampu membuatnya kesulitan ketika ia harus menanggalkan imejnya sebagai aktris yang berspesialisasi memancing tawa. Komentar sinis orang-orang yang berbunyi, “Lho, Mini itu kan cuma bisa akting komedi, orangnya nggak bisa serius,” pun harus ditelannya dengan ikhlas saat publik tahu bahwa peran Muslimah berhasil ia dapatkan.

Mini menganggap komentar itu wajar-wajar saja, soalnya ia pun menilai bahwa sosok Muslimah sudah memiliki fans tersendiri. Lagipula, menurut Mini, “Mungkin hampir seluruh penduduk Indonesia mencintai Ibu Muslimah.”

Itulah sebabnya mengapa ia sangat terbebani ketika memerankan Ibu Muslimah, sehingga membuatnya sulit merasuk ke dalam karakter tersebut. Dan ketika ia sudah berhasil menjiwai karakternya, ia pun merasa sulit lagi melepaskan bayang-bayang ibu guru itu. Publik sudah terlanjur mengidentikkan Mini dengan sosok Muslimah. Namun, Mini tetap mensyukuri berkah yang ia terima dari perannya sebagai Muslimah.

“Sebelum film Laskar Pelangi, saya tidak pernah terpikir untuk menjadi bintang iklan atau untuk menjadi duta pendidikan. Berkah film itu sepertinya tidak akan pernah hilang,” tutur Mini, yang pernah berakting sebagai wanita karier dan ibu sosialista di film pertamanya, Arisan. Selain Laskar Pelangi, Mini juga turut ambil peran dalam Tri Mas Getir, Kawin Kontrak Lagi, dan terakhir mengisi suara seekor burung dalam film animasi Meraih Mimpi. Pada Januari 2010, Mini akan mulai syuting film Hafalan Shalat Delisa di Aceh, tanah leluhurnya, berperan sebagai single mother dari empat orang anak.

Dengan nada pelan yang menyiratkan sikap rendah hati, istri dari Muhamad Safril Sarwono ini melanjutkan ucapannya, “Semua yang saya kerjakan dan dapatkan ini sekarang, sebenarnya jauh dari pikiran dan prediksi awal saya.”

“Mungkin kesuksesan ini dipengaruhi dari masa kecil dulu?” Saya penasaran.

“Tidak juga sih sebenarnya. Masa kecil saya cukup bahagia dan biasa-biasa saja,” ucap si bungsu dari tujuh bersaudara ini, sambil terkekeh. “Saya memanjat pohon, saya bermain kelereng, yang anak-anak sekarang mungkin tidak pernah memainkannya lagi. Saya main galasin, saya main petak umpet. Segala macam permainan tradisional saya mainkan. Saya main layang-layang di atas rumah tetangga, sampai gentengnya bolong-bolong gara-gara saya.”

 

“ANGGAPLAH murid-murid itu sebagai anak kandung sendiri, bukan anak didik. Karena ketika mereka keluar dari rumah dan masuk ke sekolah, yang bertanggungjawab adalah guru. Dan guru adalah orangtua mereka di saat sekolah.”

Itulah jurus ampuh yang diajarkan oleh Muslimah kepada Mini sebelum mulai syuting hari pertama Laskar Pelangi, supaya ia mampu menyelami karakter guru yang dicintai murid-muridnya dengan baik. Dengan menganggap seperti anak sendiri, menurut Mini, pekerjaan sebagai guru akan menjadi lebih ringan, dan tak akan terjadi gap antara guru dengan murid. Singkat kata, harus ada kedekatan secara psikologis antara guru dan murid. Layaknya seorang ibu dengan anaknya. Lalu, bagaimana dengan sifat keibuan Mini?

“Saya cinta anak-anak kecil. Saya sendiri dekat dengan para keponakan saya berjumlah 25 orang,” ungkap Mini. “Saya senang mengumpulkan mereka dan enjoy saat pergi sama mereka. Saya bisa memandikan anak-anak kecil itu sampai bath up saya itu penuh. Umur tiga tahun sampai enam tahun saya cemplungin. Waktu saya belum menikah dan masih muda, saya sering memandikan anak- anak tetangga.”

Ada raut kebahagian ketika Mini menuturkan kedekatannya dengan anak-anak kecil. Sambil tertawa, ia bercerita dengan penuh semangat. Tapi kemudian, mendadak ia melanjutkan obrolan dengan nada yang tegas. Topik pembicaraan kami pun mulai masuk ke ranah yang jauh lebih serius.

“Kedekatan inilah yang sudah tidak tampak lagi di aktivitas pendidikan kita. Mungkin disebabkan oleh pola pikir yang serba modern dan egoisme yang besar,” ujar Mini, yang lulusan Jurusan Sastra Jepang ini.

“Mungkin pengajaran dan penerapan nilai budaya bangsa juga sudah mulai ditinggalkan dalam praktik pendidikan kita,” saya berpendapat.

Mini tampak berpikir sebentar. Wajahnya mengeluarkan raut yang serius, sebelum akhirnya membalas dengan kalimat yang panjang.

“Budaya itu tidak akan pernah hilang, ia sudah ada di sekitar dan di dalam diri kita sejak saat kita lahir, seperti halnya agama,” jelas Mini. “Pilihannya tinggal kita ingin mengenal dan mempelajari budaya itu apa tidak. Kenapa orang dari bangsa lain bisa lebih mengenal budaya Indonesia dibandingkan dengan orang Indonesia sendiri? Karena dia belajar dan meriset. Itulah mengapa sebaiknya pelajaran budaya dan kesenian harus sudah ditanamkan sejak tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.”

Dari jawabannya itu, saya dapat memastikan bahwa inilah sosok Cut Mini Theo sebenarnya, yang tak hanya identik dengan imej aktris berpolah ceria dan kocak semata, tapi juga perpaduan antara sifat keibuan, watak seorang pendidik, dengan kecerdasan dan kedewasaan berpikir.

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Best Life Indonesia.

Advertisements

2 thoughts on “Metamorfosa Cut Mini Theo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s