Mahkota Diri

“Ngga, ada apa dengan rambut?”

Via, yang malam itu duduk persis di belakang saya, tiba-tiba saja bertanya.

“Pengen pendek aja,” ujarku pelan sambil sedikit tertawa. “Kenapa emangnya? Aneh? Cupu yah?”

“Nggak. Cuma biasanya kan gue liat lo gondrong.”

Pada malam menjelang pukul 9 itu, tepat sudah tiga hari usia rambut pendek saya, hasil potongan Mbak Sri, make up dan hair stylist langganan ibu saya. Ketika gunting Mbak Sri dengan elok menari-nari di atas kepala sambil memotong helai demi helai rambut saya, maka pada detik itu pula saya sudah bersiap diri untuk menerima beragam komentar aneh kelak. Saat itu pula, jantung berdegup lebih cepat daripada biasanya. Hati ini jadi was-was.

Dan, Via lah ternyata yang pertama kali buka suara. Komentarnya membuat saya teringat masa kejayaan sekaligus masa jahiliyah ‘mahkota’ saya ini dulu, semasa kuliah di pinggiran Kabupaten Sumedang: Jatinangor. Salah satu kecamatan tersibuk di republik ini, dan memiliki iklim layaknya wilayah padang pasir. Panas menyegat ketika siang, dan dingin menggigit di kala malam. Empat tahun berdomisili di “kota” kecil tersebut ternyata mampu menempa keyakinan saya terhadap kualitas setiap helai rambut ini.

Tanpa berniat untuk melebih-lebihkan, merendahkan diri, mawas diri, narsis, eksis, atau malah menghina diri sendiri, tetapi memang rambut di kepala saya ini bisa dibilang adalah satu-satunya elemen yang telihat bagus dari sudut pandang mana pun. Kata beberapa teman, jenis rambut saya disebut-sebut sebagai rambut idaman wanita. Lurus, hitam legam, dan tebal.

Ah, mungkin Narcisius sedang tersenyum kepadaku di akhirat sana. Ia mengacungkan dua jempolnya sambil berkata, “Bagus, bagus, Nak. Ayo terus kagumi dirimu sendiri. Ikuti jejakku. Rambutmu itu memang indah tiada tara.”

Namun, perlu saya beritahukan kepada kalian bahwa nilai pujian untuk rambut ini memiliki tingkat kebenaran yang absolut hanya jikalau potongannya sedang gondrong. Paling tidak hingga setengah leher. Karena kalau sedang pendek, entah potongan cepak atau sebagainya, maka saya yakin Narcisius akan berucap lantang, “Menyesal aku memuji rambutmu!”

Setiap kali potong rambut dari gondrong ke pendek, sehabis itu pasti ada saja komentar yang keluar dari mulut teman-teman. Opini mereka bervariasi. Ada yang bernada positif (baca: memuji), tetapi lebih sering yang bernada negatif nan sumbang (baca: menghina). Membuat tidak percaya diri saja.

“Najis Ple. Kayak Kobo-Chan lo,” kata seorang teman terbahak-bahak ketika menatap potongan pendek rambut saya. Gelak tawanya keluar tak tertahankan bak melihat Ary Wibowo kembali berambut gondrong.

Saya lupa siapa persisnya yang mengeluarkan komentar sadis itu. Yang jelas jenis kelaminnya wanita, dan kandidatnya adalah Butet, Windy, Cucun, atau Ucha. Para wanita perkasa, bukan karena ototnya, tetapi karena profesi yang mereka jalani sekarang. Profesi yang masih menuntut para praktisinya agar bernyali gede pada beberapa negara: jurnalis.

Akhirnya, panggilan “Kobo” sempat menghampiri hidup saya selama beberapa minggu. Beruntung kecepatan tumbuh kembang rambut saya lumayan cepat. Jadi saya segera tak tampak seperti si Kobo yang lucu itu lagi. Sejak kejadian pada tahun 2004 itu hingga sekarang, saya takluk pada kenyataan bahwa batok kepala saya akan terlihat lebih elok jika ditumbuhi rambut panjang.

Namun kenyataan itu berasa pahit karena bagaimana pun fakta yang saya dapat selama ini menunjukkan bahwa potongan rambut gondrong ternyata tak begitu disukai oleh para job interviewer, narasumber penting, para sesepuh, bahkan bakal calon mertua!

Wahai orang-orang yang beranggapan bahwa potongan rambut pendek itu lebih baik, dengarkanlah cerita saya ini. Secuil kisah hidup yang mampu memanjangkan rasa pahit yang saya rasakan itu tanpa henti karena berkolaborasi dengan ironi. Sepenggal pengalaman yang (semoga) membuat para penganut ortodoks memaklumi perihal rambut gondrong ini jika membacanya.

Alkisah, demi menancapkan citra positif diri saya di mata para sesepuh dan handai taulan, maka saat menjelang lebaran tahun 2004 dipangkaslah rambut panjang saya itu. Setelah melalui beberapa pertimbangan, coba-coba, hingga salah potong, maka model rambut ala duri landak mengkilaplah yang menjadi pemenangnya. Dan, belakangan saya menyesalinya keputusan untuk menerapkan model rambut ini, karena yang terjadi kemudian adalah bencana.

Sore itu, di dekat perempatan Coca-Cola, tak jauh dari ITC Cempaka Mas, saya menunggu bus yang mengarah ke Blok M. Sebelumnya sudah belasan kali saya berdiri di situ demi tujuan yang sama. Selain saya ada beberapa orang yang juga menunggu bus. Tak lama, muncul sekelompok laki-laki yang gelagatnya mencurigakan. Mata para laki-laki ini bak mata cheetah yang bersiap memilih seekor rusa secara acak untuk dijadikan santapan di hamparan luas padang savana.

Sejenak saya langsung tahu mereka adalah gerombolan Kapak Merah. Perempatan Coca-Cola dan Kapak Merah adalah identik. Ladang berburu dan pemburunya. Siapa warga Jakarta yang tak tahu sepak terjang mereka di kawasan itu. Sudah berkali-kali pula saya diingatkan agar berhati-hati. Namun, karena tidak pernah terjadi tindak kriminal pada diri saya selama ini saat berada di situ, rasa khawatir saya pun berkurang drastis. Apalagi saya juga ingat pernah melihat salah satu dari anggota gerombolan itu sebelumnya di lokasi ini.

Bus dinanti tiba. Saat tapak kaki kanan saya menjejak anak tangga pertama pintu depan bus, hal berikutnya yang terjadi berlangsung cepat. Saya ditarik turun secara paksa dari bus. Di bahu jalan, delapan laki-laki mengerumuni saya. Alarm tanda bahaya berbunyi di dalam kepala. Digerakkan oleh insting, tangan saya langsung menutup celah dua kantong celana jinsku. Saya tak sudi membiarkan dompet dan ponsel lenyap oleh para cecunguk itu. Atau, sesial-sialnya saya tak rela dirampok tanpa melawan.

Maka melawan dengan cara mendorong mereka dan bergerak sekuat tenaga ke segala arah tak keruan adalah perlawanan sekaligus pertahanan terbaik bagi saya. Ingin rasanya berteriak minta tolong. Tetapi beberapa orang yang berada di sekitar situ hanya berani melihat. Mereka, seperti halnya saya, sadar sedang berperan sebagai rusa yang singgah ke kandang cheetah, sengaja atau tidak.

Rupanya pola defensif itu membuat saya bertahan cukup lama dari gempuran para Wiro Sableng antagonis itu.

“Anjing! Susah banget nih orang,” maki Wiro pertama sambil berusaha membuka celah kantong yang saya tutupi dengan susah payah.

Tiba-tiba gerombolan itu bubar jalan. Mereka berpencar. Sebagian masuk ke perkampungan kumuh di sekitar situ. Sebagian lagi menjauh ke arah Pulogadung. Saya terbengong-bengong. Dalam hati saya merasa menang karena menganggap mereka gagal merampok saya. Ketika bus selanjutnya lewat, saya pun langsung menaikinya. Cepat kabur dari “Tempat Kejadian Perkara”.

Sekitar satu kilometer bus berjalan, saya baru sadar kalau ternyata ponsel keluaran merek sejuta umat telah raih dari kantong celana kanan. Sial! Misi gerombolan Wiro Sableng palsu itu ternyata sukses. Mereka memilih ponsel daripada dompet saya.

Teman, ingin saya beritahukan dari saripati cerita ini adalah apabila kau sedang menunggu atau sedang di dalam angkutan umum di kawasan ‘merah’ Jakarta, janganlah berpotongan model rambut ala duri landak mengkilap. Duri landak itu bukannya menakutkan si calon pemangsa, tetapi malah menggodanya untuk menghampirimu. Hati-hati. Untuk para orangtua, melihat kasus saya, sekiranya sudah bisa disimpukan bahwa berambut gondrong punya keuntungan juga. Tak selalu merugikan atau bercitrakan negatif.

Apakah dalam persoalan rambut ini saya berlebihan? Semoga tidak. Namun jika dinilai berlebihan, tengoklah catatan sejarah negeri ini.

Mengutip Yudhistira (Kunci, 2007), ternyata lewat citra kekuatan, kekuasaan, dan kewibawaan yang tertanam pada rambut mampu membuat bala tentara di era kerajaan-kerajaan nusantara masa lampau memenangkan peperangan. Sedikit banyak, perihal rambut pun mengiringi penyebaran ajaran Islam secara luas di bumi pertiwi ini. Di zaman kemerdekaan, rambut gondrong menjelma sebagai simbol perjuangan revolusioner. Menjadi salah satu pembakar semangat untuk memekikkan ‘Merdeka atau Mati’.

Pasca tahun 1945 lalu menjadi paradoks bagi rambut gondrong. Karena almarhum Soekarno saat itu menyatakan bahwa para pemuda berambut gondrong adalah simbol kontra-revolusioner, penghambat revolusi Indonesia, pendukung Nekolim, dan penggemar musik ngak-ngik-ngok.

Di era rezim almarhum Soeharto, situasi yang sama tak menguntungkannya dialami oleh para pemuda berambut gondrong. Mereka dianggap cerminan dari sifat ketidakacuhan pemuda terhadap program pembangunan. Dituduh sebagai orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap masa depan bangsa. Disterotipkan tak jauh berbeda dengan para kriminil. Dirazia aparat keamanan. Jika sudah begitu, protes pun merebak. Semangat masa muda akhirnya meluapkan amarah. Maka tragedi yang sudah lama mengintai di ambang mata meletup.

Pada 6 Oktober 1970, terjadi bentrokan mahasiswa ITB dengan para taruna Akademi Kepolisian dan Brimob. Satu nyawa mahasiswa melayang. Rene Coenraad tewas tertembak pistol milik taruna polisi (Bah! Kebanyakan menonton film koboi tampaknya para calon polisi bau kencur itu).

Dari kilasan rekam sejarah ini, jelas bahwa persoalan rambut gondrong yang di permukaan tampak remeh temeh ini rupanya ikut membentuk, meminjam perkataan kritikus film Eric Sasono, “Proyek bernama Indonesia yang belum kelar ini.”

Bukan cuma memengaruhi Indonesia malah. Bagi masyarakat Asia Tenggara, rambut adalah lambang dan petunjuk diri yang sangat menentukan. Simbol kekuatan dan kewibawaan seseorang. Begitu ungkap sejarawan Anthony Reid.

Begitulah sekelumit cerita rambut saya berikut pembelaannya. Mesti diakui bahwa apa yang dikatakan orang lain rupanya membentuk diri saya. Perkataan orangtua, teman-teman, atau para kerabat menyuguhkanku pemahaman tentang diri saya. Para significant others itu membuat saya termakan teori konsep-diri.

Bagaimana pun, di abad pencitraan ini, bagi saya rambut sebagai mahkota diri itu penting.

Paling tidak untuk identitas. Nah teman, bagaimana cerita rambutmu? Ah, tagline iklan shampoo sekali yah.

Masih pada malam yang sama ketika Via beropini soal rambut saya, satu orang teman lagi berkomentar dengan biadab, “Ngga. Duh belahan rambut lo kok kayak belahan pan**t sih hahaha.”

.

PS: Ditulis pada Juni 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s