Lost in Love

Setelah Eiffel I’m in Love (Nasri Cheppy, 2003), kini Tita dan Adit meneruskan kisah cintanya di Paris. Memaksa kota ini menjadi panggung belaka bagi romantika mereka. Memberi peran kepada Paris sebagai penonton petualangan asmara dua anak muda dari Jakarta.

Lebih lebar lagi, kota mode pun menjadi bulan-bulanan kaum elite Indonesia dalam menunjukkan kehidupan kosmopolitan ala Jakarta. Lihatlah para tokoh muda Indonesia di film ini misalnya. Mereka lebih suka naik mobil pribadi daripada moda transportasi publik di Paris, yang sebetulnya amat nyaman dan lebih efisien dibandingkan busway di Jakarta.

Salah satu poin dari film ini pun terbesit: pajak dan biaya hidup yang mahal di sana tak menyurutkan keluarga elit dari negeri yang sedang dirundung murung ini untuk bermewah-mewahan. Tetapi, saya memakluminya loh. Betul. Soalnya, dalam kisah Eiffel, keluarga Tita dan Adit memang dari sono-nya sudah kaya, dan hei ingat, ini adalah film cinta-cintaan ala Indonesia!

Berikut ini adalah rumus kisah cinta muda-mudi kita yang sedang dimabuk asmara.

Akibat ditinggal sang kakak yang ingin asyik bergaul dengan teman-teman seumurannya dari KBRI, dicueki mama papa yang sibuk menjamu rekan bisnis di restoran Padang milik keluarganya, dan dijuteki Adit (Richard Kevin) si tunangan yang kaku plus ketus, Tita (Pevita Pearce) pun bosan dan kesal. Ia pergi ke café dan keliru memesan bercangkir-cangkir kopi.

Masih di café itu, Tita bertemu dengan Alex (Arifin Putra). Namun karena bakat cerobohnya dan malu yang tak terkira, ia malah lari dari Alex. Tita asal naik bus trayek ke mana saja dan tersesat. Keawamannya dengan lekuk Paris, kenyataan bahwa orang Perancis lebih mampu berbahasa ibunya daripada bahasa Inggris, dan ego remajanya yang besar, membuat Tita jauh dari rumah.

Untung ada Alex yang membantu Tita menemukan jalan pulang. Kontribusi Alex tak cuma sampai situ. Di sini, ia adalah pelaku dalam fenomena dunia kecil.

Di sudut lain kota Paris, Adit dan keluarga Tita pontang-panting mencari Tita. Dalam hati, Adit mengutuki diri sendiri karena kekakuannya yang menyebabkan Tita hilang. Sedangkan Tita yang sadar kalau dirinya telah membuat keluarga juga tunangannya kelabakan, malah asyik curhat menelpon teman-temannya di Jakarta. Inilah pengejewantahan kekesalan Tita yang masih remaja tanggung itu.

Sederhananya, Tita dan Adit tidak sinkron dalam memandang cinta yang seharusnya. Ditambah faktor ego yang sama-sama tinggi, membuat mereka lost in love. Kedewasaan kedua insan ini pada akhirnya diuji.

Kemudian, bangkitlah keheranan saya terhadap film ini (sama seperti ketika saya menonton Eiffel lima tahun yang lalu), yakni mengenai benturan antara nilai modern dengan tradisional di dalam ceritanya. Setidaknya, model benturan ini tampak dari masalah perjodohan dan karakter Tita dan Adit.

Dalam Eiffel, diam-diam rupanya Tita dan Adit dijodohkan oleh orangtuanya. Tita dan Adit yang memang saling suka kemudian bertunangan, juga dengan diam-diam. Bicara soal perjodohan, roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli layak disebut. Bedanya, perjodohan pada era Siti Nurbaya bersifat memaksa karena tuntutan adat Minangkabau kala itu. Sedangkan, perjodohan Tita dan Adit dilakukan secara sukarela dalam lingkungan masyarakat urban produk modernitas Jakarta era kiwari.

Sampai sekarang praktik perjodohan memang masih terjadi dalam beragam versinya, dan mungkin saja perjodohan sukarela Tita dan Adit termasuk salah satunya. Namun, lingkungan dimana keluarga Tita dan Adit hidup berada dalam lingkaran masyarakat elite ibukota yang berpendidikan tinggi dan berpandangan modern. Ini menjadikan perjodohan, pertunangan, dan akhirnya kisah cinta Tita dan Adit berjalan penuh benturan antara modern-tradisional yang—sayangnya—tidak logis.

Ketidaklogisan ini bersambung ke soal karakter. Lihatlah Adit, yang masih kuliah, tetapi mengajak Tita, yang belum lulus SMU, bertunangan. Ini menunjukkan adanya perbedaan nilai yang dianut Adit dengan umumnya para anak muda (cowok) generasi iPod.

Tita juga sama. Ia mau bertunangan dengan Adit tanpa berpikir matang dan berembuk dulu dengan orangtuanya. Kenekatan Tita ini bukanlah menunjukkan kedewasaan berpikir dan bersikap, tetapi malah menampakkan perilaku tipikal remaja, yang umumnya beremosi masih labil. Seperti sukacita spontan remaja terhadap hawa romantis sambil bersenandung, “Ooh so sweet.”

Karakter Tita dan Adit ini bertolakbelakang dengan nilai-nilai kehidupan anak muda Jakarta sekarang yang sedang diterpa dan dibentuk oleh arus modernisasi (juga westernisasi). Misal, bekerja yang mapan dulu baru menikah; meraih karir yang bagus dulu baru menikah; atau, malah hidup bersama tanpa ikatan nikah itu tidak apa-apa.

Karakter Tita dan Adit ini juga menjadi tidak logis karena tidak sejalan dengan kebiasaan para penghuni puncak strata ekonomi dan sosial masyarakat kota yang modern. Apalagi keluarga mereka yang bercokol di puncak piramida ini juga jauh dari pengaruh nilai religius dan adat yang kolot. Kelemahan ini bertambah parah saja karena film ini menyajikan karakter-karakternya begitu saja, tanpa pengembangan lebih dalam.

Dengan begitu, Lost in Love hanya tampak ingin merayakan kemodernan semu. Gagasan Rachmania Arunita (penulis skenario dan sutradara) pun terasa mundur dari zamannya. Kalah dengan gagasan Marah Rusli yang terasa mendahului zamannya, bahkan terus relevan hingga sekarang. Roman Siti Nurbaya, yang menjadi counter-culture pada eranya, melangkahi kemodernan kisah Lost in Love.

Akhirnya, saya pun memaklumi kebingungan Tita saat harus memilih jalan pada pertengahan film. Ketimbang memilih cara yang lebih berguna, seperti meminta tolong kepada polisi setempat untuk menunjukkan letak KBRI, Tita malah menebak-nebak jalan sekenanya sambil merem.

Ya, cara berpikir yang tidak dewasa dan modern yang menjangkiti tokoh-tokoh dalam film ini rupanya ditularkan dari para pembuat filmnya. Lagi-lagi saya maklumi saja lah. Mengingat lagi ini kan film cinta-cintaan ala Indonesia!

 

PS: Ditulis pada Juni 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s