Kawan Lama Datang Bercerita

“A real friends is one who walks in when the rest of the world walks out.” – Walter Winchell

Susan bilang begini pada malam itu, “Nggak usah banyak omong deh Ple. Langsung dilakuin aja. Nggak usah banyak direncanain. Ntar malah nggak jadi lagi. Gue tunggu pokoknya!” Nada suaranya terdengar setengah kesal.

Dalam pertemuan yang tidak disangka-sangka di dalam buskota itu, saya memberi janji lagi untuk bertemu dan mengobrol panjang dengannya, berdua saja. “Lo tuh, emang nggak kangen apa sama gue? Ngobrol-ngobrol berdua aja kayak dulu,” celotehnya.

“Percaya deh San, gue juga kangen sama lo,” kata saya. Dan sabtu sore lalu, saya tepati janji itu setelah janji-janji sebelumnya tak pernah terlaksana.

Dua sahabat karib yang sudah lama tidak bercengkerama, maka ketika kesempatan itu datang apalah yang dibahas selain masalah mengenai percintaan, pernikahan, pekerjaan, masa depan, dan gosip. Diskusi panas itu berlanjut hingga larut malam, melintasi batas geografis kota Jakarta. Bosan berada di barat Jakarta, lalu pindah ke selatan untuk bergabung bersama kawan lainnya: Iyun, Tina, Nina, dan Nito. Malam hari, kembali lagi ke barat.

Sebelumnya kenalkan sahabat karib saya, namanya Amalia Susanti. Sahabat-sahabat seangkatan di Fikom Unpad punya panggilan sayang untuknya: Cucun. Sepintas, nickname itu memang tidak enak didengar, tetapi itulah suratan nasib yang harus diterima Susan, dan mungkin harus berlanjut hingga ia menua. Namun karena sifatnya yang cukup periang, ia terima panggilan itu dengan hati yang senang.

Belakangan, saya baru tahu, sahabat saya ini sedang cemas. Hatinya tidak tenang. Kekasihnya sudah seminggu lebih berada di medan konflik. Sabtu sekitar pukul 9 malam, saat kami berada di restoran pasta di bilangan Kemang, sebuah pesan teks masuk ke ponselnya: Mas mau menuju border. Siang tadi baru dapat clearance. Berangkat naik mobil sewaan sama driver yang bisa bahasa Arab.

Beda waktu antara Jakarta dan tanah konflik itu sekitar lima jam. Seketika Susan mengajak pulang, “Ayo Ple, jangan malem-malem. Masa cowok gue di sana lagi bahayain dirinya sendiri, gue malah hedon-hedon begini.” Syukurlah, ia memiliki sifat periang juga sedikit centil, sehingga ia masih bisa tersenyum, walaupun hatinya sedang pahit.

Dalam perjalanan pulang, obrolan berlanjut. Pertanyaan dan jawaban dari soal yang remeh hingga yang pelik bermunculan. Misalnya pertanyaan, entahlah ini termasuk remeh atau pelik, seperti, “Kalau udah kita udah berkeluarga dan punya anak, masih bisa ngobrol dan kumpul-kumpul begini nggak yah?” Jawabannya, “Nggak, susah. Prioritasnya udah beda kan.”

Pertanyaan dan jawaban yang sebenarnya klise, tetapi tetaplah penting untuk diajukan, karena yang menanyakan dan menjawabnya adalah dua manusia yang memasuki fase kedewasaan. Gara-gara pertanyaan dan jawaban soal keluarga dan anak itu saya pun jadi berpikir mengenai ‘persahabatan’.

Sahabat, saya percaya bahwa anak-anakmu dan anak-anakku kelak adalah perwujudan karakter yang bukan dari turunan genetik saja, tetapi juga turunan sosial. Interaksi antar-individu yang pernah-sedang-akan mewujud dalam relasi persahabatan berpengaruh dalam pembentukan diri para keturunan dan keluarga kita. Bisa jadi ini adalah bentuk dari proses penularan sosial (social contagion), karena nanti secara sadar atau tidak, menurut Roby Muhamad (2003), keputusan yang diambil kita dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan tindakan yang diambil menjalarkan dan memperkuat efek yang ada secara kolektif.

Yang saya ingin katakan di sini adalah persahabatan tidak mengenal batas waktu dan jarak fisik. Baik, misalnya, saya dengan Susan maupun dengan sahabat lainnya nanti terpisah dalam waktu yang lama dan jarak fisik yang jauh, persahabatan kami akan tetap muncul bentuk dan rasa yang berbeda. Persahabatan mampu menurun layaknya gen. Siapa tahu anak-anakmu dan anak-anakku kelak akan bersahabat karib.

Terjalinnya persahabatan dapat pula terbantukan akibat adanya ruang jaringan (network space) yang tercontohkan dalam fenomena dunia kecil (small world phenomenon)—yang saya yakini fenomena ini sering dialami oleh semua orang, termasuk saya. Di kantor, saya baru mengetahui kalau seorang sahabat, Amee, ternyata pernah sekelas semasa SMU dengan sahabat saya lainnya, “Ooh lo tuh temennya Kahar toh.” Atau, Tina yang pernah sekantor dengan sahabat saya lainnya, Via.

Ketidaksengajaan dan prasangka pun sangat mungkin menyebabkan terjadi relasi persahabatan. Mungkin, untuk penyebab ini Yang Maha Kuasa memainkan perannya. Tuhan memang bekerja dengan cara-Nya yang aneh, kata sebuah ungkapan. Setidaknya inilah yang saya alami ketika mulai bersahabat karib dengan Susan.

Saya dan Susan lupa persisnya kapan dan mengapa bisa menjadi bersahabat karib. Malah pada awalnya saya tidak menyangka akan bisa bersahabat dengannya. Dulu, di awal-awal semester kuliah, mata awam saya melihatnya sebagai cewek populer di angkatan kami. Sedangkan, saya, ugh, hanyalah pengisi bangku belakang ruang kuliah bersama yang sering telat tetapi ingin selalu cepat pulang. Dan, boleh percaya atau tidak, dahulu saya adalah cowok pemalu, apalagi terhadap cewek.

“Gara-gara apa ya San kita jadi deket?” tanya saya. “Kayaknya gara-gara pas masuk Jurnal Ple, tahun 2003,” kata Susan mengingatkan, “Terus gara-gara jadi panitia OJ, gue jadi sekretaris lo.”

Saya ingat momen-momen itu. “Eh iya, kenapa ya lo milih gue jadi sekretaris waktu itu?” Saya jawab sambil terkekeh, “Karena lo yang punya printer HP.” Susan tertawa.

Saat sama-sama menjadi panitia OJ (Orientasi Jurnalistik) 2004 itu, saya punya panggilan nyeleneh untuk Susan: Si Koboi Cinta. Bermula dari salah satu rapat para konseptor OJ yang berlangsung sampai tengah malam di dalam kamar kos sempit beraroma rupa-rupa obat, beberapa dari kami melanjutkannya dengan sesi curhat dadakan.

Tiga cowok, satu cewek. Tiga cinta, satu konsultan—yang saat itu sambil mengenakan topi koboi. Sialnya, masalah cinta saya, yang semestinya serius dan diniatkan sebagai tearjerker, malah menjadi bahan ledekan malam itu. Mungkin karena di mata mereka, romance melodrama saya paling cupu di antara lainnya. Sudah saya katakan kan kalau dahulu saya adalah cowok pemalu? Sungguh, itu adalah salah satu malam yang saya sesali.

‘Si Koboi Cinta’, bagaimanapun, adalah panggilan semata, bukan konsultan betulan. Seperti manusia lainnya, Susan tetaplah tidak sempurna dan kadangkala butuh pula konsultasi tentang romance melodrama-nya, tentang masalah-masalah hidupnya. Mengenai masalah-masalahmu San, satu kalimat dari Pramoedya ini mungkin bisa menenangkan hati:

Tidak ada kebahagiaan tanpa melewati suatu ujian.

“Masalah-masalah hidup kayak gitu bener-bener ada ya Ple. Gue nggak nyangka lo juga ngalamin itu,” katanya mengomentari curhatan mengenai masalah hidup saya. Dalam hidup, kita memang pasti mendapati masalah. Karena masalah membuat kita belajar. Kata seorang yang sudah sepuh, today solution is your tommorow problem.

Pertemuan dengan sahabat, seperti Susan atau dengan sahabat lainnya, sambil bertukar pikiran tentang masalah masing-masing, bagi saya seperti memompa energi. Karena kita tahu, setiap manusia bergantung kepada manusia lainnya.

Seminggu yang lalu, saya membaca lagi Catatan Pinggir Goenawan Muhamad. Ada lantunan kalimatnya yang menarik:

Tapi kita tahu, ”nasib” adalah sebuah cerita yang senantiasa datang terlambat. Kita baru dapat menyimpulkannya setelah perjalanan selesai.

Bagaimana sejarah akan usai, itu tak mudah dijawab. Sebab kita adalah anjing diburu dalam tamsil Catetan Th. 1946 Chairil Anwar, yang—hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang

Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang.

Usia boleh ada batasnya, jalan hidup juga tak bisa diketahui arahnya, tetapi persahabatan antar-manusia tidak dibatasi oleh apapun. Persahabatan tidak akan hilang digerus zaman, juga tidak berakhir di balik tanah.

 

PS:

Tulisan yang dibuat pada Januari 2009 ini untuk Susan, untuk para sahabat saya, dan untuk siapa saja yang menjalin persahabatan. Judul tulisan ini saya comot dari kalimat Atmakusumah Astraatmadja dalam buku Jurnalisme Sastrawi, Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (Pantau, 2005) guna menerangkan jurnalisme sastrawi, yang berbunyi lengkap, “Laporan-laporan ini ibarat kawan lama datang bercerita.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s