Kacau

Kesal. Itu yang saya rasakan sekarang. Terhadap siapa? Tak ada. Tak ada sasarannya. Tak ada pula pelampiasannya. Untungnya, karakter kesal ini tak berdempetan dengan dendam. Sang penyebabnya adalah ego yang besar. Jadi, lebih baik saya terima saja akibatnya. Menggerutuinya.

Kehidupan saya baru saja diputar ulang. Satu ruas memori yang lampau itu ternyata masih membuntuti saya. Tanpa saya sadari. Kejadian tiga hari terakhir ini membangunkan tidur saya. Juga membangkitkan ingatan saya pada film Butterfly Effect. Jadi, permisi, saya ingin meracau.

Tentu, banyak orang yang sudah tahu film ber-tagline, “Change one thing, change everything,” ini.

Pada awal film terjelaskan kalau sesuatu sebesar kepakan sayap kupu-kupu dapat menyebabkan sesuatu yang besar di tempat lain. Itu bunyi sederhana dari chaos theory sekaligus ide besar film ini yang dijabarkan lewat cerita berkonsep time travel.

Kecuali Butterfly Effect dan Donnie Darko, saya sebenarnya bukan penyuka film-film tentang time travel. Kekhasan menjadi poin pemicu kekaguman saya. Khusus untuk Butterfly Effect, kecocokan dengan memori saya bisa jadi poin plusnya.

Dengan mengusung ide chaos itu, film ini bertutur. Apakah makna kekacauan? Apakah makna dari kekacauan itu bisa sejalan dengan realitas kekacauan aslinya? Bisa jadi sama, bisa juga tidak. Begitu pula pikiran saya tentangnya. Tergantung dari versi kamus yang memuat definisi kata itu, dan pada kenyataan yang ada.

Konsep tak selalu sama dengan realitasnya. Kadang berbenturan dan harus selalu diperbarui sesuai makin majunya waktu. Jika sudah saling bertabrakan, bagi saya, itu termasuk dari kekacauan.

Harapan memang tak harus melulu dikabulkan.

Apa yang berubah kadang terjadi karena sudah niat manusia dan desakan kehidupan. Tak peduli itu bernilai positif atau negatif. Lalu, bagaimana menyikapi perubahan yang tak bisa diprediksi dan tak diharapkan seperti itu. Jenis perbuatan apa yang harus dilakukan.

Bagi yang percaya takdir dan Tuhan, mungkin percaya kalau semua kekacauan itu datang tanpa permisi dengan membawa tujuannya ke hadapan manusia. Tentu banyak yang tidak hanya berdiam diri melihat kekacauan itu. Pasti banyak juga yang pasrah atau bahkan putus asa.

Kekacauan memang bertujuan untuk diatasi.

Dalam Butterfly Effect, Evan berulang kali berusaha untuk mengubah masa depan dengan balik ke masa lalu. Walau dengan resiko otaknya yang akan rusak. Isi kepalanya itu menyusun ulang memori-memori yang telah berubah. Atau tepatnya diubah secara paksa.

Perjalanan waktu untuk mengubah kenyataan itu tak berjalan lancar. Ada saja yang terjadi dan mengacaukan apa yang telah dianggap ideal. Tapi, Evan tak menyerah, hingga akhirnya ia berhenti mengubah jalan hidupnya. Penyebabnya, ia sadar suatu kesalahan dan karena cintanya pada Kayleigh.

Evan tak pasrah dan putus asa, justru dia menang karena menyadari ego besarnya hanya makin menghancurkan orang lain. Evan rela untuk membiarkan hal yang terbaik untuk Kayleigh terjadi. Walau imbalannya, Evan tidak akan bersama-sama lagi dengannya.

Evan tetap melawan dan mengatasi kekacauan itu. Ia tidak kalah, karena ia tetap bertemu dengan Kayleigh dalam situasi yang berbeda sama sekali. Evan masih menyimpan memori itu, tapi tidak bagi Kayleigh. Keterasingan yang tanggung. Dan, Evan tak menoleh ke belakang. Ia tetap berjalan lurus dengan alunan suara si bengal Liam Gallagher, “..and stop crying your heart out.”

Absurditas menjadi solusi masalah kekacauan yang terjadi. Sesuatu yang imajiner dan mustahil menjadi penuntasnya.

Ah, enak sekali si Evan. Coba itu benar-benar terjadi di dunia nyata. Sial.

 

PS: Ditulis pada medio tahun 2005.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s