Ironi di Balik The Social Network

Begitu bunyi tagline film The Social Network yang akan tayang di Indonesia pada 30 Oktober nanti. Di Amerika Serikat sendiri, film ini sudah membuka New York Film Festival dan dirilis ke publik pada awal Oktober lalu. Inilah biopik yang mengisahkan tentang Mark Zuckerberg (diperankan oleh Jesse Eisenberg) saat menciptakan Facebook, situs jejaring sosial terbesar di dunia sekaligus mesin raksasa pendulang uang dari dunia maya. Zuckerberg sendiri dikenal sebagai pria yang tertutup. Dia jarang berbicara dengan wartawan dan selalu tampak tak nyaman jika tampil di depan publik.

Dalam wawancaranya dengan Majalah Wired, Aaron Sorkin mengaku amat tertarik menulis skenario film ini sebab, “Tema yang diangkat setua usia storytelling itu sendiri. Persahabatan, kecemburuan, kesetiaan, kekuatan, cinta, dan pengkhianatan. Hal-hal seperti itulah yang akan ditulis Aeschylus.”

Aeschylus adalah dramawan Yunani Kuno. Namanya sendiri berasal dari kata aiskhos dan bermakna ‘malu’. Ia juga dikenal sebagai bapak tragedi.

Lalu, apakah kisah The Social Network juga dekat dengan tragedi? Yang pasti ada polemik di balik cerita pembuatannya, sehingga menyebabkan pihak Facebook tak mau bekerja sama dalam produksi film ini. Bahkan sejak jauh-jauh hari pun, Zuckerberg sudah memutuskan untuk tak menonton film ini. Meski sebelumnya, Scott Rudin, produser kaliber Oscar yang menangani film ini telah mengirimkan salinan skenario finalnya dan menunjukkan beberapa adegan pada pejabat senior Facebook.

Alasan penolakan ini tertera dalam pernyataan tertulis dari Facebook yang mengatakan bahwa cerita The Social Network tak sesuai dengan realita yang sebenarnya dan sengaja dikreasi seperti itu untuk menarik orang-orang datang ke bioskop ketimbang menuturkan cerita yang akurat. Juru bicara resmi dari Facebook kemudian mengkritisi skenario film ini dengan ucapan, “Setiap mitos diciptakan membutuhkan seorang penjahat.” Sorkin rupanya suka dengan kalimat itu, dan malah dimasukkan ke dalam skenario.

Diadaptasi dari buku “The Accidental Billionaires” karya Ben Mezrich, rencana produksi The Social Network memang langsung membetot perhatian publik. Tak sedikit pula yang mengkritik secara pedas dan mencibir buku ini. Soalnya metode yang diterapkan Mezrich dalam menulis bukunya adalah dengan membuat baru peristiwa, menggabungkan karakter-karakter, dan menciptakan ulang dialog. Mezrich pun membela diri dengan mengatakan bahwa bukunya ini merupakan kisah nyata dari Zuckerberg yang sebaiknya tak diceritakan.

Wajar apabila publik menjadi sangsi, apalagi kemudian datang penolakan dari Facebook dan Zuckerberg terhadap film ini. Persoalannya terletak pada sumber cerita yang dianggap tidak seimbang dan sepihak. “The Accidental Billionaires” memang bersandar sepenuhnya pada penuturan dari Eduardo Saverin, yang dalam film diperankan oleh Andrew Garfield, teman dekat dan manajer bisnis saat Facebook awal berdiri yang pecah kongsi dengan Zuckerberg sehingga akhirnya mengajukan tuntutan hukum.

Namun Sorkin, dalam artikel di The New Yorker edisi September lalu, menekankan bahwa tujuan The Social Network bukan untuk menyerang Zuckerberg. Bagaimana pun, kilah Sorkin, porsi cerita mahasiswa drop-out Harvard University ini di film menghabiskan satu jam lima-puluh lima menit sebagai antihero dan lima menit terakhir berbalik menjadi tragic hero.

Meski begitu, rasa sangsi dan cibiran tetap makin mengemuka ketika publik mengetahui bahwa ternyata Sorkin paham sedikit sekali mengenai situs-situs social media dan ranah blog. “Mendengar kata ‘Facebook’ itu seperti mendengar kata ‘karburator’, yang kalau saya membuka kap mobil saya tak akan tahu letaknya di mana,” ungkap Sorkin, yang juga menulis skenario A Few Good Men dan drama seri TV tenar The West Wing. Akibat itu jugalah, ia mengaku bahwa menciptakan karakter Zuckerberg adalah tantangan tersulitnya.

Seruan bernada negatif terhadap film ini mulai mereda ketika akhirnya David Fincher menandatangani kontrak sebagai sutradara. Fincher bukan sutradara sembarangan. Film-film arahannya, seperti Se7en (1995), The Game (1997), Fight Club (1999), Panic Room (2002), dan Zodiac (2007), selalu disambut baik oleh penonton dan kritikus. Sebelum menerima proyek The Social Network, Fincher mengantongi nominasi sebagai sutradara terbaik pada ajang Academy Award 2008 untuk kisah romansa absurd-tragis The Curious Case of Benjamin Button. Tak pelak, duet Sorkin dan Fincher pun kemudian mengubah cibiran menjadi rasa penasaran.

Tugas Fincher di sini sebetulnya cukup berat, sampai ia sempat berseloroh bahwa ia seperti sedang membuat, “the Citizen Kane of John Hughes movies.” Isi skenario bikinan Sorkin yang lebih mengungkapkan soal konflik tuntutan hukum yang membelit Zuckerberg harus diterjemahkan oleh Fincher tanpa boleh tergelincir pada penuturan yang stereotipikal. Apalagi dengan bertolak dari unsur biopiknya, skenario yang ditulis Sorkin sendiri berpotensi kuat untuk menjadi film yang bersifat character-driven. Begitu pula penciptaan para tokohnya yang dapat memuat karakter-karakter arketipal. Jadi, sudah dipastikan pula Fincher akan membawa gaya khasnya dalam The Social Networks, yakni menguak endapan-endapan sisi emosi tergelap dari para karakternya yang dibalut dengan adegan-adegan bernada thriller, seperti yang lazim terlihat dalam film-film Fincher sebelumnya.

Fincher sendiri paham betul tuntutan yang dibebankan kepadanya itu, sehingga ia pun tak asal dalam memilih aktor-aktrisnya dan mengarahkan aktingnya secara presisi. Seperti pada tokoh Sean Parker, yang diperankan oleh Justin Timberlake. “Tugas karakternya adalah untuk mengirim jalinan kisah dalam film ke dunia Gordon Gekko,” tutur Fincher. Gekko adalah tokoh utama di film Wall Street arahan Oliver Stone yang berkarakter tamak, picik, dan oportunis.

Bagaimanapun, apa yang dilakukan Sorkin dan Fincher dalam menuturkan kisah film ini sebenarnya sah-sah saja. Karena dalam mengadaptasi kisah hidup seseorang, seperti dalam film biopik, selalu terjadi penyeleksian fakta sejarah, pengembangan karakter, dan penyesuaian antara dramatika dengan konteks cerita. Dan, The Social Network akan menyuguhkan semua itu.

Dapat berdirinya Facebook dengan megah seperti sekarang ini sendiri pun tak mulus. Zuckerberg sendiri mengakui ada masalah-masalah serius yang membuat perjalanan Facebook naik-turun selama ini. Pertama kali diciptakan di kamar asrama Zuckerberg di Harvard University enam tahun yang lampau, hingga kini Facebook telah memiliki 500 juta pengguna dari seluruh dunia. Jika nanti Facebook memutuskan untuk go-public, maka Zuckerberg akan menjadi salah satu orang terkaya di bumi, sekaligus salah satu yang termuda.

Mencermati semua itu maka tampak bahwa, baik dalam produksi film ini maupun kisah pendirian Facebook itu sendiri, sama-sama menyimpan polemik dan ironi. Kata Sorkin, “Faktanya tentang sejarah pendirian Facebook memang ironis. Situs jejaring sosial tersukses di dunia ternyata merupakan hasil kerja dari seorang yang asosial.”

Padahal di profil Facebook-nya, Zuckerberg menulis pendek, “Saya berupaya untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih terbuka.”

Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat edisi 24 Oktober 2010. Ini versi sebelum di-edit oleh pihak redaksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s