Indonesia yang Kuimpikan

Tiap pikiran salah yang kita turut berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yang akan datang – Rubashov, dalam novel Arthur Koestler.

 

PUKUL 23.00. Delapan jam menuju pemilihan umum. Saya turun dari angkot di mulut gang rumah saya dengan disambut gelap. Listrik rupanya sedang padam. Ini kedua kalinya pemadaman terjadi di pemukiman saya dalam minggu yang sama. Untungnya langit sedang cerah, jadi saya masih bisa berjalan menerobos kegelapan tanpa harus takut jatuh tersandung polisi tidur.

Jarak dari mulut gang ke rumah saya sekitar 800 meter. Kontur jalan gang saya itu cukup menantang, dengan menuruni dan menaiki lembah yang sudutnya cukup curam. Di sebelah kanan-kiri dasar lembah itu, ada berpetak-petak empang yang kini menjelma menjadi kolam pemancingan.

Malam itu saya berjalan kaki melewati empang-empang tersebut. Di satu empang yang luasnya paling besar, belasan orang masih asyik memancing di tengah kegelapan. Bukan satu kali ini saja saya melihat pemandangan seperti ini. Tapi yang saya tahu pasti, empang besar yang sedang dipancing itu bukan merupakan bagian dari kolam pemancingan yang dikomersilkan. Saya tidak tahu para pemancing itu sudah meminta izin atau belum kepada si empunya empang.

Kalau mereka belum meminta izin, jelaslah itu sebuah pencurian. Tapi kalau mereka ternyata sudah diizinkan oleh si empunya empang, saya pikir ada suatu anomali dalam kehidupan masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal saya. Memancing ikan di tengah malam, di saat semua orang sedang tidur lelap, jelas suatu ‘hobi’ yang aneh. Para pemancing itu, sebagian besar saya kenal, mereka adalah para tetangga saya.

“Mungkin mereka malas kena panas jika memancing di siang hari. Mungkin mereka iseng karena tidak bisa tidur. Atau, mungkin mereka penggangguran. Mungkin mereka sedang butuh makan,” pikir saya mencari jawabannya. Di jalan menuju rumah itu, saya tiba-tiba murung.

 

PUKUL 21.00, di Plaza Semanggi, saya bertemu dengan tiga teman. Harusnya kami sudah dapat bercengkerama sejak sekitar pukul 19.00. Tapi jalanan ibukota semakin tidak bersahabat. Macet di mana-mana, dan semakin hari semakin parah saja. Kemacetan ini, saya pikir, lebih menyengsarakan para warganya yang mengandalkan hidupnya pada transportasi publik, seperti saya dan tiga teman saya ini.

Di lantai yang penuh oleh tenant-tenant penyedia aneka makanan dan minuman, kami berempat mengobrol.

“Gimana? Besok lo milih nggak?” tanya satu teman saya.

“Nggak kayaknya.”

“Milih aja lagi. Daripada hak suara lo dipake sama ‘oknum’. Dicurangin. Mending milih kan?”

“Tetep nggak ah.”

Teman saya tidak salah beralasan seperti itu. Saya sangat menghargai pendapatnya. Saya tahu betul alasan mendasar kenapa ia memilih, yakni karena memang haknya dan ingin berpartisipasi terhadap proses kemajuan negara ini, meski ia tahu ada ketidakberesan di dalam penyelenggaraan pesta demokrasi ini.

Ya, dari pernyataannya itu, saya menangkap kalau ia sebetulnya sadar kalau sistem pemilu di negeri ini belum berjalan dengan benar. Potensi kecurangan sangat besar terjadi. Akhirnya, kondisi ini menjadi dilematis bagi orang-orang yang memahami pentingnya pemilu bagi negara, seperti teman saya itu.

Begitu pula saya. Dengan amat terpaksa, kali ini saya memilih berpartisipasi untuk kemajuan negara ini dengan tidak memilih, tidak datang ke TPS. Karena bagi saya, memilih satu pilihan dalam pemilu adalah suatu proses penentuan yang amat panjang. Penentuan ini melibatkan sebuah perdebatan panjang di dalam diri sendiri. Melibatkan pula sebuah interaksi antara para calon yang layak dipilih dengan para calon pemilihnya, dan ini harus dibangun dengan intensif dan dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Saya tidak mau salah memilih. Semuanya ini tak jauh berbeda dengan mencari teman akrab atau menemukan pasangan hidup. Ujungnya sama, yakni kepercayaan.

Bagi saya, kepercayaan untuk memilih salah satu calon legislatif atau partai politik tidak bisa dibentuk lewat serbuan iklan di televisi atau gambar dua dimensi raut wajah yang marak di pinggir jalan-jalan raya; tidak bisa juga didasari semata-mata oleh kekhawatiran akan munculnya oknum yang menyalahgunakan hak suara saya yang tidak terpakai; tidak pula dapat didorong oleh rayuan secangkir kopi Starbucks gratis; atau, ancaman bahwa tidak memilih itu haram di mata Islam. Kalau memang ternyata hukumnya haram, biarlah itu menjadi urusan saya dengan Tuhan. Saya akan tanggung dosanya.

Surat suara yang tidak diambil calon pemilihnya, atau surat suara yang ternyata tidak dicontreng sedikit pun oleh pemilihnya, saya yakin sebenarnya tetap memiliki suara: ketidakpercayaan.

Sayang, dalam tabulasi, ini tidak masuk hitungan, apalagi dimaknai. Kini, pentas politik memang dekat dengan angka. Matematis.

Kepercayaan dan ketidakpercayaan pun menjadi dua kata yang rumit, apalagi jika dikaitkan dengan pemilihan umum. Kalimat Goenawan Mohamad dalam tulisan terakhirnya membuat hati saya terenyuh, Saya memandang potret-potret pemilihan umum itu. Ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.”

Yang dimaksud ‘orang-orang keji’ adalah individu-individu yang bertanggungjawab terhadap penyiksaan para aktivis yang diculik militer pada tahun 1998, dan akhirnya empat di antaranya tidak pernah kembali lagi. Mereka adalah Herman Hendrawan alias Sadeli, Bimo Petrus Anugerah alias Marcel, Suyat, dan Wiji Thukul. Empat aktivis ini tidak pernah pulang. Dan, Hr. Bandaharo dalam sajaknya memaknai para pejuang, “tak berniat pulang, walau mati menanti.”

Wahai para calon wakil rakyat, para calon presiden, sudah layakkah Anda disebut pejuang?

Ini pertanyaan penting, karena beberapa tahun belakangan, Indonesia kerap dikejutkan dengan polah para wakil rakyat dan pejabat pemerintahan yang sudah amat keterlaluan.  Dikejutkan oleh mantan kepala negara yang melupakan silahturahmi dan etika politik demi dendam kesumat.

Saya bayangkan para wakil rakyat yang sudah mendekam di balik jeruji akibat terbukti melakukan penyuapan, korupsi, tindak asusila, dan delik pidana atau perdata lainnya. Saya bayangkan mereka berada di dalam satu kompleks penjara yang sama dengan para pelaku tindak kriminal lainnya, seperti maling ayam, jambret, penipu, pembunuh, dan pemerkosa. Tampaknya benar apa yang dikatakan novelis Rusia Fyodor Dostoevsky, “The degree of civilization in a society can be judged by observing its prisoners.”

Ah, tapi saya tidak mau pesimis. Saya bukanlah orang yang putus harapan. Bukan Indonesia seperti ini yang kuimpikan. Maka saya pulang dari Plaza Semanggi dengan banyak merenung sepanjang jalan. Sedang asyik dengan pikiran sendiri, tiba-tiba dari atas buskota yang melaju kencang ugal-ugalan, saya melihat pemandangan naas yang hampir setiap hari saya temui di jalan raya: pengendara sepeda motor terjatuh.

Kali ini, si pengendara motor tersungkur di tengah jalan. Entah apa sebabnya dia terjatuh. Yang jelas, ada suasana satir di situ. Pengendara sepeda motor lainnya menepi, ikut menolong yang terjatuh. Padahal, pada saat jam-jam sibuk di atas aspal jalan raya, sesama para pengendara sepeda motor saling kebut tak mau kalah, saling menelikung, bahkan beberapa kali akhirnya berujung perkelahian. Kalau sudah begitu emosi pun mendidih. Persis seperti pentas perpolitikan negeri ini, begitu teori singkat saya.

 

PUKUL 24.00, saya telpon-telponan dengan seorang teman dekat. Awalnya hanya mengobrol biasa, soal remeh-temeh, tapi mendadak topik beralih tentang pemilihan umum.

“Lu milih nggak besok?” tanyanya.

“Nggak.”

Lalu kami berdebat. Kami saling mengutarakan alasan-alasan. Ironisnya, perdebatan ini malah berujung pada nada-nada bicara yang keras, agak bertengkar. Dia setengah memaksa saya untuk memilih siapapun dan apapun yang paling dekat dengan harapan saya. Saya menolak keras. Tahu saya bersikukuh untuk tidak memilih, saya pun dituduh tidak peduli terhadap bangsa dan negara ini. Dibilang orang yang pesimis.

Dalam hati, saya sedih dikatai seperti itu oleh teman dekat yang tadinya saya pikir bisa menerima keputusan saya untuk tidak memilih. Akhirnya, saya agak mengalah sambil mendengarkan saja perkataannya. Hari sudah larut, dan fisik saya sudah lelah.

Ketika omongan teman dekat ini sambung-menyambung masuk ke telinga, entah kenapa saya terbayang Soe Hok Gie yang beraut muka melankolis dan sedang duduk di dalam bus tua, di pinggir jendela kaca sambil menatap ke arah pendaran sinar lampu-lampu jalan raya di Jakarta tahun ’60-an. Malam itu adalah beberapa malam sebelum Gie tewas dengan tragis di atas Gunung Semeru.

Buku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie yang pertama kali saya baca tahun 2002 sangat membekas dalam pikiran saya hingga kini. Gie, pemuda cerdas itu, memilih menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Sikapnya yang kukuh membuatnya ia sendirian. Akibat keteguhan pikirannya pula, seorang humanis ini bernasib malang dalam hubungan percintaan. Saya suka deskripsi Linda Christanty mengenai hubungan asmara Gie ini, ”Ada orangtua Tionghoa yang tak merestui anak perempuannya berhubungan dengan Hok Gie karena dia aktivis. Ada juga yang tak setuju justru karena Hok Gie Tionghoa.”

Tiba-tiba, obrolan terputus. Suara teman dekat saya itu hilang. Selidik punya selidik rupanya batere ponsel saya habis. Selesai sudah. Listrik belum mengalir, jadi tidak bisa mengisi ulang batere.

 

PUKUL 03.00. Empat jam menuju pemilihan umum. Gelap. Listrik masih padam. Saya masih juga belum bisa lelap. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa kesepian. Sangat kesepian.

 

 

PS: Ditulis pada April 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s