Idealis atau Apatis

Semalam ada perkelahian, antara saya dan dia.

Adu omongan. Adu argumentasi. Adu pintar, meski keduanya mungkin sama-sama bodoh, tak tahu diri.

Bagi kamu, mungkin persoalannya sepele, tak penting, dan bukan sesuatu yang pantas untuk membuat kening berkerut.

Tetapi, bagi saya dan dia persoalan itu sangat layak diperdebatkan. Karena menyangkut posisi diri terhadap kehidupan, negeri, bahkan mungkin dunia.

Tadi pagi, akhirnya diputuskan. Saya diperbolehkan mengutip catatan Soe Hok Gie ini:

“Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang-kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah. Apatiskah atau anarki. Moga-moga tidak menjadi kedua-duanya.”

“Huh, bisanya kok cuma mengutip-ngutip tulisan orang!” hardik dia. “Rasakan kamu! Sekarang, seisi dunia tahu, kalau kamu tidak kreatif!”

Tak apa, saya ambil resiko itu.

Dia, kalau tenaganya lebih kuat atau jumlahnya ada dua, mungkin saya sudah menghilang dari dunia ini.

Bagaimana pun, apa pun yang terjadi, dia sudah melengkapi saya.

 

PS: Ditulis pada awal tahun 2009, saat sedang bimbang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s