I Love You Everyday and Twice On Sunday

Kalau memiliki hutang, hidup tidak tenang rasanya. Seperti yang saya alami hari-hari belakangan ini, karena hutang tulisan kepada Susan, Tya, dan Tussie. Okelah. Saya lunasi hutang tulisan mengenai diri saya ini. Agak sulit sebenarnya mengumbar fakta soal diri sendiri. Bukan karena malu, tetapi karena saya teringat obrolan sok serius dahulu kala dengan seorang kawan, Gama. Saat itu dia berkata kepada saya, “Kayak lo tau aja apa yang sebenarnya lo mau!”

Apabila dikaitkan dengan isi tulisan ini, bagi saya, ucapan si manusia rumit satu itu bagaikan sentilan, karena proses mencari tahu tentang diri sendiri itu tak pernah berhenti di suatu titik. Pencarian jati diri yang tak pernah usai, kata orang bijak, selalu berjalan hingga akhir hayat. Jadi kawan, sepuluh fakta yang terkait dengan diri saya dan yang akan saya umbar ini sesungguhnya sebuah proses.

1.  Kuple

Orang-orang yang baru kenal dengan saya, pasti penasaran dengan arti nickname saya ini, bagaimana riwayatnya bisa dipanggil “Kuple”. Kalau sudah begitu, saya cuma bilang,”Tanya aja Kakak gue!”

Semua memang bermula dari kakak saya dan di SMA 28. Sejak SD hingga SMA, saya dan kakak memang selalu masuk di sekolah yang sama. Perlu diketahui, banyak kawan yang bilang kalau saya dan kakak teramat mirip. Padahal saya merasa tidak begitu. Nah, tahun 1998, saat hari-hari pertama sekolah dan sedang duduk-duduk di depan kelas, teman-teman kakak saya menyapa saya, ”Eh, ada Kuple Junior!” Saya balas dengan cengar-cengir saja sekaligus penasaran.

Hanya dalam hitungan hari, nama “Kuple” pun menyebar di kawan-kawan seangkatan saya. Saya sangat benci dengan nama itu sebenarnya. Jelek sekali kedengarannya. Ketika lulus SMA dan masuk Fikom Unpad, saya yakin sekali kalau nama Kuple tidak akan disebut-sebut lagi. Ternyata gagal total. Ada Qiqi, teman SMA saya, yang juga masuk Fikom Unpad. Nama “Kuple” pun menyebar lagi. Begitu juga saat lulus kuliah dan mulai masuk kerja. Ada saja teman kuliah yang menjadi rekan sekantor. Pindah kerja, situasi yang sama terjadi lagi. Lingkaran setan. Sulit sekali lepas dari nama itu.

Suatu ketika, saya menanyakan arti nama “Kuple” ke kakak saya. “Gue juga nggak tau artinya hehehe…” jawabnya sambil cengengesan. Ah, semoga nama itu bukan kutukan.

2.  Salon

Sejak kecil, saya punya masalah dengan rambut. Bukan karena rambut saya jelek. Tetapi karena sampai sekarang pun saya belum bisa menemukan model rambut yang pas. Ini membuat saya selalu deg-degan setiap mau potong rambut. Bukan apa-apa, tetapi saya takut potongan gaya rambut yang dikreasikan si pemotong akhirnya malah membuat tampilan saya menjadi cupu. Kalau sudah begitu saya menjadi tidak pede. Termasuk untuk potongan rambut saya sekarang ini yang tampak tertinggal sepuluh tahun.

Gara-gara ini pula, saya pernah memotong rambut di barbershop hingga empat kali dalam sehari. Tiga kali potong hasilnya tidak ada yang memuaskan. Walhasil, sambil kesal saya datang untuk yang keempat kalinya ke barbershop dan bilang, “Plontosin aja Mas!” Sekarang, saya sudah kapok potong rambut di barbershop. Saya lebih memilih salon. Ya, saya memang pria salon, tetapi cuma untuk potong rambut. Bukan untuk creambath, pijat refleksi, apalagi meni-pedi.

3.  Harum

Salah satu obsesi saya adalah berbadan harum kapan saja dan di mana saja. Motivasinya sederhana saja: saya menghormati orang lain yang berdekatan dengan saya. Siapa sih yang betah dengan orang yang berbau badan tidak enak? Sejak mengalami puber, beragam cara untuk menghilangkan bau badan saya coba. Mulai dari bedak BB, She Cologne (tak peduli itu untuk cewek), Axe, segala merek deodorant (Rexona for Men, Gatsby), parfum milik orangtua (Davidoff), dan lain-lain.

Saking ingin selalu harum, akibatnya saya suka menyemprotkan parfum secara berlebihan, bukan cuma di permukaan badan tetapi juga di kaos dalam dan baju luar. Boros memang dan parfum pun menjadi cepat habis. Belum lagi diprotes orangtua, karena baunya menjadi terlalu menusuk. Kini saya sedang memakai parfum refill entah merek apa pemberian pacar.

4.  Televisi

Bicara soal televisi, yang muncul dari saya adalah masa kelam pada tahun 2006, saat saya bekerja di salah satu stasiun televisi swasta selama sekitar seminggu. Cuma sebentar memang, karena saya merasa sangat tidak betah. Saya merasa salah bekerja di stasiun itu. Saya seperti pendosa. Banyak sekali pertentangan nilai dalam diri saya ketika itu. Ibarat menjilat ludah sendiri. Saya benci sekali hal itu. Akhirnya, saya keluar. Untungnya saat itu belum tanda tangan kontrak.

Setelah itu, banyak kawan yang mempertanyakan soal keluarnya saya itu. Banyak yang menyayangkan. “Kenapa nggak lo coba dulu aja lebih lama?” kata mereka. Pihak keluarga saya, kecuali ibu-ayah-kakak, pun menyayangkan. Alhamdulillah, hingga kini saya tidak pernah menyesal. Bagaimanapun keputusan saya waktu itu sudah bulat. Bahkan sampai sekarang pun, saya merasa tidak cocok dengan pola industri televisi swasta negeri ini.

Meski begitu, harus saya akui bahwa sekitar tiga bulan yang lalu, saya sempat mengikuti tes masuk ke salah satu stasiun televisi lokal. Himpitan usia dan tuntutan kehidupan urban akhirnya memaksa saya untuk mencoba-coba lagi segala kesempatan kerja yang ada, termasuk berkarir di industri televisi. Namun Tuhan rupanya maha tahu. Tak pernah ada lagi panggilan tes lanjutan dari stasiun televisi lokal tersebut. Untuk coba-coba ini, saya menyesal sekali telah melakukannya.

5.  Melankolik-Dramatik

Entahlah melankolik-dramatik ini ada hubungannya dengan zodiak saya atau tidak. Yang jelas saya adalah pria Virgo. Coba simak fakta-fakta ini. Meskipun sudah lebih dari lima kali menonton Click (Frank Coraci, 2006), tetapi sepasang bola mata saya selalu terasa menghangat saat Michael Newman (Adam Sandler) berucap lirih kepada anaknya, Ben, sebelum meninggal, “Ben…family…family comes first.”

Namun yang paling saya herani adalah saat menangis parah ketika menonton Green Mile (Frank Darabont, 1999) dan E.T (Steven Spielberg, 1982); serta saat membaca Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft (Chik Rini) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata).

Melankolik-dramatik, saya juga gampang terbawa emosi sendu saat sedang sendirian, misal menonton film sendiri di bioskop. Atau, saat mendengar senandung para pengamen jalanan yang memainkan lagu-lagu populer, kecuali dangdut. Ini terutama sering saya alami saat masih di Bandung, tepatnya saat berada di dalam bus Damri jurusan Dipati Ukur-Jatinangor. Dari dalam bus, melihat orang-orang lalu lalang di jalan raya dengan beragam tingkah polahnya sambil diiringi lagu-lagu si pengamen merupakan pemandangan yang dramatis sekali. Begitu juga di dalam buskota, menyenangkan sekali melihat raut-raut wajah para penumpangnya yang seolah-olah tampak ekspresif itu.

Melankolik-dramatik, mungkin ada kaitannya dengan rasa tidak tegaan saya, terutama terhadap binatang. Tetapi saya bukan pet lover. Ketidaktegaan ini saya wujudkan dengan tidak suka memelihara binatang. Bagi saya, binatang berhak hidup bebas dan tidak di dalam kerangkeng. Termasuk di kota besar ini, asal teratur dan dikontrol. Bingung yah. Sering kali di rumah, ayah saya menangkap tikus lewat perangkap. Saat saya diperintahkan untuk memberikan tikus itu kepada si kucing, yang ada saya malah bengong menatapi si tikus. Kasihan. Dan saya pun melepasnya. Biarlah si kucing menjalankan titahnya sebagai pemangsa tikus dengan cara yang jantan dan sesuai kaidah alamiah.

6.  Perbuatan Maha Tolol

Usia 11 tahun seharusnya sudah lebih dari cukup untuk mengetahui dan menyadari reaksi-reaksi fisika, setidaknya dari pelajaran IPA yang diajarkan di SD. Tetapi tidak dengan saya. Karena saya dengan sengaja malah melakukan perbuatan maha tolol. Kisah masa kecil ini terjadi di malam hari yang gerah. Sehabis berlari-larian, saya masuk ke rumah dan membuka kulkas. Mengambil air di botol, menegaknya bergelas-gelas. Belum puas dan karena masih kegerahan, saya mendinginkan badan di depan kulkas.

Masih terasa gerah, saya buka freezer-nya. O la la, ternyata ibu saya baru saja mengganti kotak-kotak es batu, dan tetesan airnya masih menggenang di permukaan freezer. Tetesan air itu menggoda sekali. Entah sedang dirasuki pikiran macam apa, saya menjilati genangan air itu. Tak butuh sedetik, selanjutnya yang tampak adalah pemandangan ala film kartun. Mulut menganga, lidah menempel di freezer, dan saya bersuara, “aaaee..aaaee..aaaee.”

Ayah saya yang melihat kejadian itu, langsung tertawa dan menyiram permukaan freezer dengan air hangat. Bebaslah lidah saya. Dan hingga kini, perbuatan maha tolol itu menjadi bahan olok-olok di keluarga saya.

7.  Mutia A.H

Ha ha ha. Ya ampun, saya tidak tahu mendapat keberanian dari mana hingga berani menulis nama ini. Soalnya, saya itu laki-laki pemalu terhadap wanita. Serius! Apalagi kalau berurusan dengan masalah pedekate. Mutia adalah wanita yang akan saya kenang selalu. Dia yang pertama kali mengenalkan kepada saya makna jatuh cinta. Gara-gara dia saya menjadi susah makan, susah tidur, NEM jeblok, rambut botak, merasa was-was, ah pokoknya hidup tak tenang rasanya kalau tidak cepat-cepat melihatnya lagi di keesokan hari.

Tuhan memang berkerja dengan caranya yang aneh. Sejak kelas satu hingga tiga SMP, saya sering sekali pulang bareng seangkot dengan Mutia. Rumah kami memang dalam satu wilayah. Namun, sebulan menjelang ujian EBTANAS, barulah sadar kalau saya jatuh cinta kepadanya. Semua gara-gara tatapan matanya ke saya yang terjadi di tangga gedung sekolah pada pagi hari. Sayangnya, saya tak punya nyali. Tidak berani mendekatinya sedikit pun. Hasilnya, penyesalan. Lulus SMP, dia masuk SMA yang berbeda dengan saya.

Selama tiga tahun masa SMA, hanya dua kali saya bertemu dengannya di angkot. Tetapi percuma saja pertemuan tak disengaja tetapi diharapkan itu, karena yang ada lidah saya menjadi kelu, badan keringat dingin, dan super salah tingkah. Tahun lalu, saya sempat bertemu dengannya lagi di angkot. Bedanya, saya sudah cuek. Tak ada lagi perasaan seperti dulu. Cuma penasaran saja sih. Dia tentu tidak ingat saya. Semasa SMP, saya adalah tipe cowok yang mudah terlupakan.

Dahulu Cupid hanya melepas anak panahnya ke saya saja. Cupid (sengaja) tidak memanah dia.

Siapa tahu Mutia baca tulisan ini, saya mau bilang, “Hai Mutia…”

8.  Maritza Mayreen Ayshadila

Artinya: Anak Perempuannya Yudi dan Meila, yang Secantik dan Seterang Matahari dan Diberkahi Allah. Maritza Mayreen Ayshadila, panggilannya Dila, adalah keponakan pertama saya. Usianya 1 tahun 4 bulan. Baru bisa berjalan dan sedang lucu-lucunya. Kalau subuh, kadang suka membangunkan saya dengan bicara bahasa bayi atau dengan tiduran di tempat tidur saya.

Dila, ayah ibunya pasangan sibuk. Ayahnya pegawai bank. Ibunya penegak hukum. Dulu, ketika masih di kandungan, ibunya sempat demam tinggi berhari-hari dan dirawat di rumah sakit. Karena kakak saya dinas di Pangkal Pinang, saya yang menunggui kakak ipar saya. Jam tiga pagi di rumah sakit itu, badan kakak ipar saya menggigil hebat. Ia pun panik, saya juga menjadi ikutan panik. Kekhawatirannya cuma satu: takut terjadi apa-apa dengan kandungannya. Bagusnya semua baik-baik saja.

Suatu malam minggu di awal Mei 2007, saya sekeluarga pelesir ke mal untuk menonton Spiderman 3. Dapat tiket untuk pertunjukan jam 11 malam, itupun duduk di dua baris dari depan. Rupanya, ketika sepanjang film berjalan, tanda-tanda Dila akan lahir muncul. Jadi, beres menonton, kami meluncur ke rumah sakit di Depok. Kakak ipar saya ternyata sudah harus menginap di rumah sakit. Besok siangnya Dila lahir lewat operasi cesar.

Karena kakak ipar saya bekerja, sejak jabang bayi Dila diurus oleh seorang nanny: mba Irma. Sebenarnya mba Irma bukan nanny, dia aslinya asisten rumah tangga keluarga kami. Empat hari yang lalu, mba Irma pulang ke kampungnya dan tidak akan kembali lagi. Ia akan menikah.  Terbayang oleh saya, anak sekecil itu ditinggal oleh salah satu orang terdekatnya yang mengurusnya hampir setiap hari.

Saat mba Irma pamit, katanya Dila diam saja, bengong. Entah kelak memorinya akan bisa mengingat profil mba Irma dengan jelas atau tidak. Yang pasti, dua hari setelah mba Irma pergi, muncul tatapan kosong di mata Dila setiap pagi. Seperti menyiratkan ada yang hilang. Saya tak tega melihat tatapan mata yang kosong itu.

9.  Sandiaga Salahuddin Uno

“Di usia kayak kita ini harusnya udah mulai bisnis. Ayolah kita bisnis Ple,” kata Gama (lagi-lagi). Ide untuk memulai berbisnis akhirnya memang muncul terus di benak saya, meski belum tahu mau berbisnis apa dan mulai dari mana.

Bicara soal bisnis dalam perspektif saya, nama Sandiaga S. Uno pasti muncul. Kenapa? Sebelumnya, saya beberapa kali membaca artikel-artikel buatannya, dan saya suka. Isinya kritis, tetapi tetap inspiratif. Hingga akhirnya, minggu lalu saya bisa melihatnya langsung dalam suatu acara mengenai good corporate governance. Kesan pertama yang saya dapat, orangnya ramah dan low profile.

Saat gilirannya untuk berbicara di mimbar saya “merinding”. Di depan kami para audiens, dia mengatakan tentang pentingnya bermimpi juga kerja keras bagi seorang pengusaha. Dia juga membacakan puisi ciptaannya yang isinya mengajak generasi muda untuk berwirausaha demi kemajuan bangsa dan negeri ini. Puisi itu membangkitkan semangat anak-anak muda, setidaknya saya merasakannya. Katanya, “Saya sering membacakan puisi ini di ceramah-ceramah saya sebelumnya di depan forum-forum pengusaha.”

Dari ceramah singkatnya itu, tampak Sandi merupakan pengusaha nasionalis dan cukup punya idealisme. Dalam suatu kesempatan, saya kutip ini dari blognya Dian Sastro, Ir. Ciputra mengatakan bahwa untuk menjadi negara maju, diperlukan paling sedikit 2 persen dari penduduknya adalah entrepreneur. Di Singapura ada sekitar 7 persen, Amerika punya 5 persen, sementara di Indonesia cuma kurang dari 0,18 persen saja yang entrepreneur. Dan Sandi berobsesi meningkatkan 0,18 persen itu menjadi 5 persen pada tahun 2025.

“Yang diperlukan bangsa saat ini adalah pengusaha,” kata Sandi. Dua wanita teman kantor saya yang duduk di sebelah kanan pun berdecak kagum. Ya, saya juga ikut kagum dengan orang ini.

10. I Love You Everyday and Twice on Sunday

Saya bukan pria romantis. Saya juga tidak terlalu suka berbasa-basi. Itu sebabnya saya tidak bisa lama-lama mengobrol di telepon. Saya lebih bisa bertahan lama mengobrol tatap muka langsung. Pacar saya kebalikan sifatnya. Dia ingin saya lebih romantis meski tak memaksa. Dia juga doyan mengobrol berjam-jam di telepon. Menguntungkan operator telepon saja. Akhirnya, kami malah kerap ribut di telepon.

Saya cuma bisa berkata, “I love you everyday and twice on sunday,” kepadanya lewat sms atau langsung. Karena saya bukan pria romantis, tentu kalimat ini bukan asli karangan saya. Tetapi saya kutip dari sebuah film serial, dan saya suka kalimat ini.

 

PS: Ditulis iseng pada September 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s