Hari Untuk Amanda: Kemarin, Hari Ini, atau Besok

“Santai kayak di pantai, slow kayak di pulau.”

Mendengar ucapan Hari (Oka Antara), mantan kekasihnya yang pernah dipacarinya selama satu dekade, Amanda (Fanny Fabriana) akhirnya sadar dan meyakini pilihannya. Malam itu, 11 hari menjelang akad nikahnya dengan Doddy, ia sudah memutuskan, tidak bimbang lagi. Hari dan Doddy (Reza Rahadian) pun menerima keputusan Amanda, tentunya dengan luapan emosi yang berbeda-beda.

Hari Untuk Amanda adalah sebuah road movie menyambangi masa lalu yang tertinggal di Jakarta. Dalam kisah hampir sehari penuh ini, Amanda terpaksa (atau memaksa?) ditemani Hari untuk menyebarkan beberapa undangan pernikahannya ke orang-orang yang dianggap penting. Doddy, tunangannya, tak bisa menemani karena supersibuk menuntaskan utang pekerjaannya demi mendapatkan cuti bulan madu. Dan sejak pagi hingga malam itulah masa lalu tanpa sengaja hadir dengan wujudnya yang paling cantik untuk menggoda iman Amanda dan membikin Hari makin bernyali merebut cinta Amanda.

Mungkin kisah semacam itu terdengar klise dan familiar. Tapi bukankah lewat kejadian atau momen yang suka menimpa banyak orang seperti itu kita justru kerap menyepelekannya dan juga lalai mengambil pelajaran darinya. Jadi film ini berupaya untuk membisikkan perihal itu kepada kita dengan caranya yang halus.

Skenario Hari Untuk Amanda, yang ditulis oleh pasangan suami-istri Salman Aristo dan Ginatri S. Noer ini, memang menyuguhkan sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan film-film drama romantis serupa lainnya. Ada kesederhanaan dan unsur lokalitas yang tampil dominan di dalamnya, karena penulisnya semata-mata ingin bercerita dengan alami tanpa dibuat-buat, tak dibebani tendensi pada apapun, dan jauh dari niatan untuk berkhotbah soal benar-salah. Inilah yang seringkali luput digambarkan film-film drama romantis di negeri ini paling tidak selama 10 tahun terakhir.

Juga pada titik tersebut, konten skenario Hari Untuk Amanda malah tampak jauh lebih cemerlang ketimbang karya lain yang dibikin oleh Aris dan Gina, Ayat-Ayat Cinta—kebetulan juga berkisah mengenai perebutan cinta. Dengan meniadakan adegan-adegan stereotipikal yang sering muncul dalam kisah cinta segitiga lain (ingat adegan interaksi penuh kecemburuan yang terjadi antara Fahri, Aisha, dan Maria di Ayat-Ayat Cinta ), Hari Untuk Amanda mampu mengantarkan konfliknya dengan efektif, meski tanpa pertemuan ketiga tokoh utamanya (di film ini Hari dan Doddy tak pernah sekalipun bertatap muka maupun kontak bicara). Atau, simaklah dialog-dialog antara Amanda dengan Hari yang seperti balas-membalas celetukan dan mirip me-mocking, tapi malah terdengar manis dan bisa membuat kita tersenyum.

Hasilnya, cerita film ini pun merendeng erat dengan kenyataan sehari-hari, sehingga terasa akrab. Dan dengan eksekusi yang penuh penghayatan dan sadar momentum dari sutradara Angga Dwimas Sasongko, kita pun diajak untuk menyelami satu hari yang berujung pada tipping point tiga tokoh utamanya melalui plot dan unsur dramatik yang tersusun apik. Segala unsur mise-en-scene yang dibangun Angga di sini juga terasa pas untuk menyeimbangkan kesederhanaan kisahnya.

Persoalan tentang dilema manusia-manusia yang berada di persimpangan jalan seperti ini mampu diterjemahkan Angga melalui berbagai adegan bermakna kuat. Seperti adegan fitting baju pengantin, yang walau sekilas terlihat tipikal dengan adegan dalam film 27 Dresses tapi tertolong berkat motif karakter dan latar belakang kisahnya lebih kokoh; lalu sewaktu Hari pura-pura buang air kecil di balik pohon—di sini Oka Antara cukup baik menampilkan imej pria macho, sedikit liar, easy-going, dan malu-malu menitikkan air mata; atau, ketika Doddy sudah hilang akal dan malah ‘curhat’ ke polisi, ya akhirnya saya akui Reza Rahardian memang pantas mendapat Piala Citra kemarin.

Di sebuah persimpangan jalan dekat ujung cerita—yang sayangnya digambarkan dengan banal dan sebetulnya tak perlu, saat Amanda mengucapkan selamat tinggal, kita diingatkan bahwa sebuah momen, bahagia atau sedih, pasti selalu menghampiri kita sebagai salah satu jalan untuk memastikan sesuatu.

Entah momentum itu sudah terjadi kemarin, hari ini, atau besok, yang jelas tak ada kata telat untuk memastikannya. Caranya dengan selalu mau mencurigai dan bertanya pada diri sendiri. Lagipula secara dasariah, segala tindakan manusia tak pernah bermula dari titik nol, tetapi dari proses meniru, yakni belajar dari yang telah diperbuat dengan mendengar, melihat, atau membaca pengalamannya.

Amanda, Hari, dan Doddy sudah memastikannya dengan cara itu. Kamu?

 

PS: Ditulis pada akhir Januari 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s