Guru dari Kolong Tol

Di bawah bentangan beton jalan tol dan tenda terpal, dua ibu guru kembar ini tetap setia mengajar anak-anak penduduk miskin.

 

SINAR MATAHARI sedang terik-teriknya pada suatu siang di medio Juli 1995 itu. Di langit pun hanya terlihat sedikit gumpalan awan. Makin siang, makin panas. Tapi hembusan semilir angin sesekali menerpa kulit. Membuat siapa pun tergoda untuk bermalas-malasan, dan memilih berselonjor istirahat.

Di pinggir kota Magetan, Jawa Tengah itulah, Sri Irianingsih berada. Tepatnya di lokasi proyek pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Rian, panggilan akrabnya, adalah pemilik perusahaan properti yang menjalankan proyek itu.

Karena merasa lelah dan tak kuat lagi menahan kantuk, ia pun duduk bersandarkan pada batang pohon yang rindang. Dalam hitungan detik, ia langsung terlelap. Dan tiba-tiba saja, Rian sudah berada di suatu tempat yang asing.

Kini di hadapannya sudah terbentang jalan tol yang di kolongnya penuh sesak oleh ratusan gubuk. Tanahnya becek. Hawanya agak pengap. Di situ, Rian berdiri dan dikerubuti oleh puluhan anak kecil. Agak jauh di sebelah kanannya, Rosi, saudari kembarannya, juga berdiri sambil dikerumuni anak-anak kecil.

Sejurus kemudian, seorang anak laki-laki kecil mendekati Rian. Tampangnya kucel dan berpakaian kumal. “Saya ikut ibu saja,” ucap si anak kecil, merengek-rengek sambil menarik-narik baju Rian.

“Terus saya langsung terbangun, kaget,” kata Rian. Ternyata ia sedang bermimpi dalam tidurnya yang sepintas itu. Semua tampak begitu nyata dalam mimpinya.

Setahun berselang, Rian hijrah ke Jakarta, mengikuti jejak Rosi yang sudah lebih dulu tinggal di ibukota. Suatu hari di pertengahan tahun, dua saudara kembar ini ingin berjalan-jalan ke Mega Mal Pluit. Meluncurlah mereka dengan mengendarai mobil sedan hitam keluaran Mercedes Benz dari rumahnya di daerah Kelapa Gading.

Untuk menghemat waktu, mereka lewat jalan tol Prof. Sedyatmo. Saat menuruni jalur keluar di pintu tol Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara, ternyata tak jauh dari situ sedang terjadi tawuran pelajar. Tak ingin mobilnya rusak akibat terkena lemparan batu, Rosi buru-buru membelokkan mobilnya ke sebuah gang sempit di kiri jalan.

Saat semakin masuk ke dalam gang, mereka melihat ada sebuah gudang kosong. Rian dan Rosi sepakat menitipkan sebentar mobilnya di situ. “Saya masukin gudang. Dititipin ke Pak Jamin, orang yang jaga. Saya kasih 5000 perak,” cerita Rosi, yang bernama lengkap Sri Rosiati ini.

Melangkah keluar dari gudang, ia dan Rian kaget melihat gubuk-gubuk yang terbuat dari triplek dan seng bertebaran di kolong jalan tol. Mereka saling berpandangan, karena tak pernah menyangka ada manusia yang mampu hidup di tempat seperti itu.

“Lho, kok ada gubuk-gubuk kecil-kecil. Masa sih ada orang yang tinggal di situ,” kata Rian, terheran-heran. Seumur hidup, belum pernah mereka melihat pemandangan tersebut.

Saking penasarannya, kedua perempuan ini lalu berjalan mendekati pemukiman di kolong tol. Karena haus, mereka mampir sejenak di warung kecil untuk membeli minuman dingin. Ada seorang ibu muda di warung itu sambil mengendong anak kecil. Rosi menerka usianya belum sampai kepala dua. Sambil iseng, Rosi bertanya kepada ibu itu, “Kamu tinggal di kolong itu?”

“Iya.”

“Ibu-ibu di sini banyak nggak?”

“Lumayan banyak.”

Dari obrolan itu, mereka mengetahui bahwa ternyata ibu-ibu yang tinggal di kolong jembatan umumnya bekerja sebagai pengemis dan pemulung. Niat baik Rosi dan Rian pun muncul. Mereka ingin mengajarkan keterampilan khusus kepada para ibu itu.

“Kamu mau nggak ikut sekolah sama saya?” ajak Rosi kepada ibu muda tadi.

“Sekolahan apaan bu?” Si ibu muda, penasaran.

“Nanti saya ajarin jahit, misalnya bikin mukena. Mau ndak?”

“Mau tapi bayar nggak bu?”

“Ya ndak. Gratis kok.”

“Nanti kain untuk jahitnya, nggak bayar juga?”

“Iya. Pokoknya ndak bayar. Jadi sekolah jahit. Mau ndak?”

“Mau deh bu.”

“Ya udah. Kalau begitu besok aku adain sekolah jahit. Tolong bilangin ke ibu-ibu yang lain yah.”

Kala mengobrol itu, anak-anak kecil mulai berdatangan menghampiri Rosi dan Rian. Karena mendengar isi percakapan mereka secara sekilas, tiba-tiba salah satu anak kecil laki-laki berteriak ke temannya yang lain.

“Bisa ngomong Indonesia. Bisa ngomong Jawa malah. Bukan orang Jepang,” teriak bocah itu, sambil cengengesan.

Ternyata Rosi dan Rian dikira turis Jepang oleh anak-anak itu. Mungkin karena pakaian yang dikenakan, sehingga mereka dianggap begitu. “Waktu itu saya pakai topi dan celana pendek. Memang biasa kayak gitu. Kan 11 tahun yang lalu. Masih muda saya kan,” ucap Rosi, yang kini berusia 57 tahun, tersenyum.

Esok harinya, Rosi dan Rian menepati ucapannya. Mereka memberi kursus menjahit untuk ibu-ibu yang tinggal di kolong tol itu. Tak tanggung-tanggung. Mereka langsung membawakan mesin jahit, puluhan kain, jarum-jarum, dan peralatan jahit lainnya. Para ibu itu pun menjadi lebih semangat belajar.

Saat para ibu sedang sibuk belajar menjahit, anak-anak kecil juga ikut berkumpul di situ. Kulit mereka cokelat gelap, karena sering terbakar matahari. Pakaiannya juga kotor. Hampir semuanya bertelanjang kaki. Naluri keibuan Rian berbicara saat melihat anak-anak itu. Ia heran kenapa anak-anak ini tidak bersekolah, padahal saat itu masih jam sekolah.

“Kok kamu nggak sekolah?” tanya Rian kepada salah satu anak perempuan.

“Nggak bu. Nggak punya duit,” jawabnya, polos.

“Panggil ibu, ibu guru yah. Kalau begitu, besok kamu sekolah sama bu guru.”

“Bayar bu sekolahnya?”

“Ya ndak bayar. Besok datang bawa badan saja. Sama bawa kardus buat alas duduk. Bilang ke temen-temenmu yang lain ya.”

Benar saja. Esoknya, Rosi dan Rian membuka sekolah di kolong tol itu. Buku tulis, alat tulis, dan perlengkapan mengajar lainnya disediakan secara cuma-cuma oleh dua saudara kembar ini. Sekitar 150 anak langsung datang ke tempat itu, sambil menenteng lembaran kardus. Niat belajar mereka begitu besar.

“Itu ternyata sampai umur 12 tahun ada yang belum bisa baca tulis,” ungkap Rian, sedih.

Semakin hari, murid-muridnya semakin bertambah. Di kolong tol Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara, itulah Sekolah Darurat Kartini pertama berdiri untuk anak-anak yang tidak mampu.

Dalam perkembangannya, sekolah ini beranak-pinak. Beberapa cabangnya muncul di kolong tol Penjaringan, Jembatan Tiga, Rawa Bebek, Tambora, Ancol, dan pinggir rel kereta api Kampung Janis. Rosi dan Rian juga mendirikan tingkat TK hingga SMU. Jumlah seluruh muridnya melonjak hingga 520 orang.

Rosi dan Rian akhirnya punya panggilan akrab: Ibu Kembar.

Dari pengalaman ini, Rian baru paham arti mimpinya dulu. Ia menganggap semua kejadian ini bukan kebetulan belaka, tapi sebagai jawaban atas doanya dulu saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1992. “Waktu itu, saya berdoa supaya saya bisa mengasih orang banyak. Mungkin ini petunjuk dari Allah,” ujarnya, bersyukur.

 

TAHUN 1950. Situasi politik di Indonesia masih belum stabil pasca deklarasi kemerdekaan. Kabinet pemerintahan silih berganti dan masih mencari bentuk. Struktur perekonomian pun sedang dibangun, membuat hanya segelintir kalangan masyarakat saja yang bisa hidup dengan layak.

Dalam masa itulah, Rosi dan Rian lahir di Semarang pada 4 Februari 1950. Rosi lebih tua lima menit dari Rian. Ayahnya, Edi Soeharno, seorang insinyur lulusan De Techniche Hoogeschool te Bandung—kini Institut Teknologi Bandung (ITB). Edi bekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), yang sekarang telah berubah nama menjadi PT KAI (Kereta Api Indonesia). Ibunya bernama RA Soeminah, seorang guru kepandaian putri. Rosi dan Rian dilahirkan sebagai anak keenam dan ketujuh dari sembilan bersaudara.

Boleh dibilang, kondisi ekonomi keluarga Rosi dan Rian jauh lebih baik. Namun meskipun berkecukupan, Rosi dan Rian tetap dididik untuk hidup mandiri sejak kecil. Ayahnya selalu menekankan soal pentingnya bidang pendidikan untuk masa depan mereka. Untuk itu, Edi mempunyai trik khusus dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

Caranya, setiap hari Rosi dan Rian bersama saudaranya yang lain diwajibkan mendengarkan berita radio. Volumenya sengaja dibesarkan oleh ayahnya, jadi semua orang di dalam rumah bisa mendengar. “Itulah pendidikan,” ucap Rosi, mengulang perkataan ayahnya.

Sang ibu juga rajin mengajarkan keterampilan khusus kepada anak-anaknya agar selalu kreatif. Sehabis pulang sekolah setiap harinya, ada saja yang dikerjakan Rosi dan Rian. Dari disuruh menjahit, membersihkan dapur, hingga membuat kue untuk dijual di toko.

Bisa dibilang, ayah dan ibunyalah yang telah memupuk jiwa mengajar Rosi dan Rian sejak usia muda. Soalnya ketika masih duduk di bangku kelas 2 SMP, mereka sudah mengajar keterampilan menjahit dan merangkai bunga untuk warga tidak mampu di salah satu daerah di Semarang. Semakin lama, jenis keterampilan yang diajarkan semakin beragam, seperti memasak, membuat kue, kerajinan tangan, dan merias pengantin.

“Kita ajarkan kalau semua orang harus punya keahlian agar bisa menunjang hidupnya,” kata Rian.

Tahun 1972, mereka menikah. Rosi menikahi Admiral Marzuki, seorang dokter. Sedangkan Rian menikah dengan seorang perwira angkatan laut—suaminya, Laksamana Muda Feisal, sudah meninggal sejak 17 tahun lalu.

Setahun berikutnya, karena mengikuti tugas suaminya, Rosi pindah ke pedalaman Kalimantan. Dan Rian ikut suaminya bertugas di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Mereka berpisah dan hidup sendiri-sendiri, tapi tetap mengajar.

Di Lombok, Rian memulai mengajar baca tulis kepada warga sekitar. Berbagai keterampilan praktis juga ia ajarkan lewat sekolah gratis yang didirikan. Begitu juga saat ia pindah ke Surabaya.

Karena di pedalaman Kalimantan belum ada sekolah formal, Rosi mengajarkan baca tulis kepada anak-anak. Ia membangun TK dan SD dengan dibantu oleh bidan, perawat, dan dokter lain yang bertugas. Kini, sekolah yang telah dirintis Rosi sudah menjadi sekolah negeri.

Ia juga mengajarkan para ibu di sana untuk membuat udang kering, telur asin, ikan asin, dan keripik pisang. Makanan ini lalu dijual kepada awak kapal kayu dari Madura atau Surabaya yang kerap merapat di dermaga sungai di sana. “Kalau mereka nggak ada uang, barter sama tempat tidur, kursi, baju. Jadi masyarakat punya semua itu,” kenang Rosi.

Lama-kelamaan, pendapatan masyarakat meningkat. Begitu juga isi dompet Rosi. Ia memang harus kreatif, karena kalau tidak, tak akan memiliki uang. Sebagai dokter di daerah pedalaman yang penduduknya masih miskin, suaminya kadang bekerja tak dibayar. Tapi dengan usahanya itu, ia bisa menabung hingga mencapai Rp 5 juta. Saat pulang ke Semarang pada tahun 1979, uang itu dipakai untuk membeli sebuah rumah.

Di kota itu pula, Rosi membuat sekolah keterampilan untuk ibu-ibu dan remaja putri putus sekolah. Empat tahun kemudian, ia pindah ke Pemalang dan membuat Sanggar Kartini yang mengajarkan keterampilan gratis untuk kalangan kurang mampu.

Bahkan, berkat jasa dan dedikasinya itu, Rosi dianugerahi penghargaan Upakarti pada tahun 1990.

“Kalau saya dulu nggak nurut sama ibu saya. Mungkin saya nggak kayak sekarang,” ucap Rosi, tersenyum.

Kini, ajaran-ajaran orangtuanya juga diterapkan ke dalam kehidupan anak-anak Rosi dan Rian. Hasilnya lumayan. Pendidikan anak-anak mereka bisa dibilang sukses.

Rosi memiliki empat buah hati. Dua anak perempuannya, Mira Kusumo Astuti dan Susanti Kusumo Budiarti, mengikuti jejak ayahnya menjadi dokter. Sedangkan Indro Kusumo Subekti dan Ariawan Kusumowibowo, masing-masing adalah sarjana teknologi informasi dan teknik arsitektur.

Dua anak Rian sendiri, Yuli Rianawati juga seorang arsitek, dan Edwin Riansyah sarjana ekonomi. “Si Yuli mau dikirim sama Depdiknas untuk sekolah doktor di Inggris,” kata Rian, bangga.

Yuli baru setahun bergabung sebagai pegawai negeri sipil di Depdiknas. Ia masuk ke departemen itu karena peduli dengan pendidikan, mewarisi sifat ibunya. Setiap Sabtu, ia juga ikutan mengajar pelajaran eksakta di Sekolah Darurat Kartini.

“Saya terapkan ke anak-anak. Nggak cuma akademis aja. Nggak ada yah, harus kerja juga,” kata Rosi.

Mira dan Santi misalnya, saat akan wisuda pendidikan dokternya, harus merias sekitar 500 orang. Upahnya dipakai untuk membiayai wisudanya. Mereka melakukannya tanpa protes, karena sudah dibiasakan hidup mandiri oleh orangtuanya sedari kecil.

Malah saat masih tinggal di Pemalang, Jawa Tengah, Rosi dan suaminya mendirikan Rumah Sakit Astuti. Di situlah, Rosi menerjunkan anak-anaknya yang masih di bangku sekolah dasar untuk membantu operasional kecil-kecilan rumah sakit. Sepulang sekolah, keempat anaknya punya tugas berbeda.

Ada yang membuat kue dan teh untuk dibagikan ke pasien. Ada yang membantu mencuci segala peralatan medis dan non-medis. Ada yang membantu jaga di kamar bayi. Mira dan Santi kebagian tugas yang terakhir ini.

“Kita kan hidup rumah tangga, satu keluarga. Harus kerjakan sama-sama. Kalau nggak gitu, nggak kaya kita,” tutur Rosi, tegas.

Ajaran hidup mandiri ditelan oleh anak-anak Rosi dan Rian. Mereka memang ingin anak-anaknya tidak hidup dimanja.

 

HIDUP BERPINDAH-PINDAH sudah lumrah dijalani Rosi karena mengikuti tugas suaminya. Awal tahun 1990, mereka pindah ke Jakarta. Petualangan barunya pun dimulai. Di daerah Kelapa Gading tempat tinggalnya, Rosi sering melewati pemukiman kumuh di bantaran kali, yang sekarang sudah dibangun Mal Artha Gading.

Suatu hari, ia masuk ke dalam pumukiman itu dan banyak mendapati anak-anak yang buta huruf. Tak tahan melihat itu, Rosi lalu membuat sekolah darurat di pemukiman kumuh bantaran kali itu.

Sejak Rian mulai tinggal di Jakarta dan menemukan kehidupan di kolong tol pada tahun 1996, mulailah sejarah ‘resmi’ Sekolah Darurat Kartini.

Di tahun yang sama, datang surat dari Erna Witoelar, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah saat itu, yang mengizinkan Sekolah Darurat Kartini memakai kolong tol. Perlahan-lahan, Rosi dan Rian membangun sarana infrastruktur untuk sekolahnya hingga menguras kocek hingga sekitar Rp 20 juta.

Selama aktivitas sekolah berlangsung, Rosi dan Rian tetap menerapkan pakem-pakem akademis yang baku layaknya di sekolah resmi. Dari tes akademis hingga cara pengajaran. Untungnya, latar belakang pendidikan Rosi dan Rian turut membantu proses ini.

“Bu Rosi itu memang seorang guru, sedangkan saya seorang psikolog. Jadi sudut pandang saya dari psikologi, kalau Rosi dari teknik mengajar,” jelas Rian, yang lulusan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya.

Karena itu, Rosi dan Rian kerap berdiskusi untuk membahas materi pelajaran. Mereka juga mempelajari silabus dan buku-buku yang dipakai oleh Departemen Pendidikan Nasional. Pembagian tugas pun diatur. Rosi kebagian mengajar bahasa Indonesia, sedangkan Rian mengajar matematika.

Kebetulan, dua bersaudara ini menguasai tiap pelajaran itu. Rosi yang lulusan jurusan Bahasa Indonesia dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Semarang, dan Rian yang menyukai matematika. “Dari SD, nilai matematika saya selalu 10,” ungkap Rian.

Rosi dan Rian mengajar dari TK sampai SMA. Meski sibuk, mereka tak khawatir akan kewalahan, soalnya ada guru lain yang dipekerjakan untuk mengajar. Dari guru agama, fisika, kimia, ilmu sosial, dan sebagainya. “Sekarang ada 14 guru, termasuk saya dan bu Rosi,” kata Rian.

Murid-murid sekolah darurat pun diajarkan keterampilan khusus, seperti kerajinan tangan, menjahit, memasak, dan berkebun. Ini diajarkan sejak dini, dengan alasan agar anak-anak itu juga bisa mencari uang sendiri dengan halal. “Tanpa melacurkan diri atau meminta-minta di jalanan,” ujar Rian, lirih.

Murid-murid Sekolah Darurat Kartini memang banyak yang menghidupi dirinya dari keras dan panasnya aspal jalanan. Ada yang mengamen, mengemis, hingga melacurkan diri. Itu yang membuat hati Rosi dan Rian teriris, prihatin.

 

PUKUL 3 PAGI pada suatu hari di awal bulan Desember 2006, Rian berangkat mengantar Yuli ke bandara Soekarno-Hatta. Pesawat yang akan mengantar anaknya itu ke luar kota itu lepas landas satu setengah jam berikutnya. Dalam perjalanan pulang, Rian berpikir untuk langsung datang ke sekolah. Karena pukul 7 paginya, ia harus sudah mengajar. Ia malas bolak-balik. Mobil pun diarahkan ke kolong tol Jembatan Tiga.

Setiba di dekat sekolah, mobil diparkir dan Rian berniat tidur sejenak. Matanya masih mengantuk. Pulas belum didapat, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara teriakan seorang perempuan.

“Mana uangnya? Tiap make gua nggak bayar,” damprat si perempuan itu, marah.

Rian yang penasaran, mengintip dari dalam mobil. Si perempuan sedang marah-marah kepada seorang sopir truk. Rupanya, si perempuan itu baru saja selesai memuaskan hasrat seks si sopir truk, tapi tak dibayar.

Karena masih gelap, mulanya Rian tak melihat terlalu jelas wajah si perempuan. Tapi perlahan-lahan, ia mulai menangkap utuh wajah itu. Matanya terbelalak saat tahu kalau ternyata si perempuan itu adalah salah satu murid SMP-nya.

Rian hanya bisa terdiam di dalam mobil dan tak bisa tidur lagi. Dalam hatinya, ia menangis.

Siang harinya, kelar jam sekolah, Rian menceritakan kejadian itu ke Rosi. “Waduh gawat ini Ros. Jadi pelacur itu anak,” katanya, prihatin.

“Ya udah, sekarang harus kita gembleng terus keterampilannya. Biar mereka cepet cari duit, kerja,” balas Rosi.

Baru setengah tahun lewat, kisah yang lebih memilukan terjadi lagi pada anak didik Rosi dan Rian. Pada akhir Agustus lalu, sehabis jam sekolah usai, Rosi didatangi oleh salah satu murid perempuan SD-nya, Yuli (bukan nama sebenarnya).

Usia Yuli baru jalan 11 tahun. Kulitnya bersih. Rambutnya hitam dan lurus sepundak. Wajah ovalnya didukung dengan bibir tipis. Siapapun yang melihatnya tak akan menyangka kalau dia masih anak baru gede dan dibesarkan oleh kerasnya kehidupan di pemukiman kumuh.

“Anaknya cantik, baik, sifatnya juga halus, pinter lagi. Saya tahu karena dia juga sering ke rumah saya,” tambah Rosi.

Yuli bekerja sebagai pemulung, sama seperti ibunya. Ayahnya sudah lama almarhum. Beberapa bulan terakhir, ibunya bertemu dengan seorang pria. Pemulung juga. Mereka pacaran dan tak butuh waktu lama untuk memutuskan hidup bersama di dalam rumah, yang mirip bedeng dari triplek dan beratapkan seng. Yuli pun punya bapak tiri yang tidak sah.

“Kalau mereka kebanyakan hidup bersama tanpa hubungan perkawinan. Bisa hanya beberapa bulan, lalu mereka berpisah. Itulah kehidupan mereka,” jelas Rosi.

Sejak itu, hidup Yuli berubah kelam. Malam hari sering menjadi saat yang menakutkan baginya. “Kadang kalo ibunya udah tidur, bapaknya berhubungan seks sama dia,” cerita Rosi.

Belum lama ini, ibunya meninggal karena sakit. Karena tak ada pilihan lain, Yuli ikut hidup dengan ‘bapak tirinya’ itu. Mulai saat itu, ia juga tak pernah lagi bertandang ke rumah Rosi. Ternyata Yuli disuruh melacurkan diri oleh bapaknya, dengan dalih untuk biaya hidup. Tiap kali pulang tanpa membawa duit, wajah Yuli jadi biru lebam kena tempeleng bapaknya.

“Setor uangnya dan setor juga badannya ke bapaknya,” ucap Rosi, pelan.

“Tidak dilaporkan ke polisi saja?” tanya saya.

“Saya udah bilang ke dia supaya lapor ke polisi. Tapi dia kayaknya takut laporin bapaknya. Saya cuma bisa itu. Saya nggak bisa kasih pembelaan. Kalo saya macam-macam bisa digolok sama bapaknya,” kata Rosi.

Siang hari di penghujung Agustus itu, Rosi mendengarkan semua pengalaman pahit Yuli dengan serius. Tidak banyak yang bisa dilakukan Rosi, kecuali hanya memberi saran-saran.

“Kamu udah besar, udah bisa masak. Ya udah, kamu bisa kerja di warung makan kan,” ucap Rosi kepada Yuli.

“Kalo gitu saya minggat aja bu?” balas Yuli.

“Ya nggak apa-apa minggat. Kamu mau tidur di mana aja, semuanya juga bukan ‘rumah’ buatmu kok. Nanti kalo udah kerja kan bisa dapet duit buat hidup kamu sehari-hari. Nggak jual diri lagi,” jawab Rosi.

Ini salah satu sebabnya mengapa Rosi dan Rian juga mengajarkan keterampilan khusus. Jadi, jika ada anak muridnya yang mengalami kasus seperti Yuli, ia bisa langsung keluar dari lembah hitam itu dengan bekal keterampilannya. Setidaknya jalan keluar seperti ini yang ditawari Rosi dan Rian.

“Tapi tentu pertama caranya lewat perut dulu. Kasih makan dulu, mereka kan makannya susah. Abis itu baru diajari pelajaran akademis dan keterampilan. Setelah terampil ya disuruh kerja,” jelas Rian.

Di Sekolah Darurat Kartini, setiap pagi murid-muridnya memang diberi makan dan minum susu oleh si ibu kembar. Yang memasak adalah para muridnya sendiri secara bergantian, seperti tentara lakukan.

“Dikasih susu biar pinter,” ujar Rian.

“Saya yang nyiapin belanjanya, beras, lauk pauk, sayur, minyak goreng, sardin, dan kornet. Jadi belanjanya tiap hari,” tambah Rosi. Jika perut sudah kenyang, mereka pun bisa menyerap pelajaran dengan baik.

Rosi dan Rian juga rajin menyalurkan anak didiknya ke dunia kerja. Banyak di antara muridnya yang dimasukkan kerja di beberapa cabang Carrefour di Jakarta. “Kerja di Carrefour dapet gaji 1,2 juta. Makan dikasih sana, tiap kali hadir dapet 5.600. Daripada jadi pelacur, dibayar 5.000-10.000, kadang malah nggak dibayar,” kata Rosi.

Bahkan, demi menghindarkan para murid perempuan terperosok ke lembah nista, Rosi dan Rian tak jarang memberikan KTP palsu pada mereka agar cepat mendapat kerja. “Bayar 200 ribu per kepala, daripada jadi pelacur murahan. Saya bilang ke murid saya, kalau ditanya bilang umurmu 18,” kata Rian.

Selain semua upaya itu, sedikit demi sedikit, ditanamkan pula oleh Rosi dan Rian kalau pekerjaan seperti itu tidak baik. “Kamu harus punya harga diri. Kamu kan sudah dikasih tangan, kaki, dan pikiran sama Tuhan untuk bekerja,” begitu nasehat Rian kepada anak didiknya.

Ajaran agama juga diterapkan kepada murid-muridnya yang muslim. Kini, anak didiknya sudah bisa shalat dan mengaji. Yang pasti, untuk meluruskan jalan hidup dan menaklukkan perangai buruk anak didiknya, dua perempuan ini juga memanfaatkan sifat keibuannya ditambah dengan sikap disiplin yang penuh kasih.

“Apalagi, sama yang miskin, karena dia udah nggak punya apa-apa. Kalau galak tapi nggak pake kasih sayang, ya muridnya kabur semua. Itu yang paling penting, karena kita orang Indonesia, masih orang timur,” jelas Rian.

Rosi dan Rian memang masih memegang erat prinsip bahwa guru adalah orangtua dari anak didiknya di sekolah. Peran ini dipandang penting, karena anak didik dari masyarakat kelas menengah ke bawah ini cenderung bebas dalam kehidupannya. Sejak kecil mereka sudah dihadapkan pada beratnya beban hidup. Kurangnya pendidikan dari orangtua di rumah juga menjadi penyebab.

Cara-cara yang ditempuh Rosi dan Rian itu ternyata manjur. Kini, banyak anak murid mereka yang bekerja dengan halal. Dari jualan empek-empek, menjual air bersih, tukang cuci, tukang masak, tukang kebun, hingga bekerja di Carrefour.

 

SABTU, 16 Juni 2007, hasil Ujian Nasional di Jakarta diumumkan. Sebanyak 4.676 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 2.232 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta tidak lulus ujian itu. Tingkat kelulusan siswa SMA mencapai 96,19 persen. Sedangkan, tingkat kelulusan siswa SMK mencapai 91,972 persen.

“Alhamdulillah, kita 100 persen lulus Ujian Nasional. Dan nilainya tidak kalah dengan negeri. Nilai rata-rata matematika di sini 7,5. Di negeri cuma 4,25. Malah, nilai 9,8 didapatin anak SMP di sini,” ucap Rian, bangga.

Dengan begitu, prestasi akademis para murid Sekolah Darurat Kartini tak kalah dengan murid sekolah negeri ataupun swasta. Bahkan, salah satu muridnya, Friska, mendapat beasiswa di Ghandi Memorial International School, sekolah internasional terkemuka di Jakarta. Sekarang, Friska sudah duduk di kelas 6 SD dan berhasil meraih nilai tertinggi untuk bahasa Inggris dan Mandarin.

Demi prestasi anak didiknya, Rosi dan Rian juga rela merogoh dalam-dalam koceknya untuk membayar biaya Ujian Nasional murid-muridnya, mulai dari SD hingga SMA. “Kita yang bayarin. Kalau SD Rp 100 ribu, SMP Rp 150 ribu, SMU Rp 250 ribu. Jadi, kalau pas mau ujian, saya ngeluarin uang banyak,” ungkap Rosi.

Tak sedikit memang uang yang dihabiskan Rosi dan Rian. Tapi agaknya ini bukan menjadi masalah bagi mereka, karena Rian memiliki perusahaan properti. Meskipun kini perusahaan itu sudah ditutup, tapi uangnya didepositokan di bank. Bunganya lah yang membiayai segala kebutuhan Sekolah Darurat Kartini.

Sedangkan, Rosi menyumbangkan sebagian pendapatan dari Rumah Sakit Astuti milik keluarganya. “Uangnya dimasukin ke bank. Bunganya untuk sekolah ini juga,” tutur Rian.

Selain itu, Rosi dan Rian juga memiliki deposito milik keluarga yang dihibahkan oleh ibunya, khusus untuk orang miskin. Dana itulah yang dipakai Rosi dan Rian untuk mengajarkan keterampilan bagi orang tidak mampu sejak tahun 1972.

“Memangnya berapa besar biaya yang ibu keluarkan untuk keperluan sekolah ini tiap bulannya?” tanya saya kepada Rosi.

Rosi tak mau memberi angka pasti, tapi malah memberi perumpamaan. “Tergantung, yah kira-kira kalau jalan-jalan ke mal, paling bisa lima kali baru habis,” jawab Rosi, sambil tertawa kecil.

Bicara soal jalan-jalan, terkadang aktivitas ini melahirkan sekolah darurat baru di daerah luar pulau Jawa. Rosi dan Rian memang suka menyambangi daerah-daerah terpencil. Baik dengan biaya sendiri maupun dengan menumpang pesawat TNI Angkatan Udara.

Tahun 2001 menjadi awal bagi Rosi dan Rian hingga menjadi suka berkeliling keluar pulau Jawa. Saat itu, Rian berkesempatan mendatangi Aceh. Ia berkenalan dan bercakap-cakap dengan para pilot TNI AU di sana.

“Bunda mau kalo pergi ke Papua?” tanya seorang pilot TNI AU kepada Rian.

“Emangnya kenapa kalo di sana?” balas Rian.

“Oh..kalo di sini sih nggak miskin bunda…Di sana lebih miskin lagi.”

“Ah masa..”

“Ayo ikut bunda sama saya, kalo nggak percaya.”

Mendengar informasi dan ajakan itu, hati dan pikiran Rian sontak tergerak untuk mendirikan sekolah lagi di sana.

Seminggu setelahnya, Rian bersama Rosi berangkat naik pesawat Hercules TNI dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Ia sekalian membawa banyak barang, seperti buku-buku, seragam sekolah, meja, kursi, alat peraga, dan mesin jahit. Tujuan mereka saat itu: perbatasan Papua dengan Papua New Guinea.

Setiba di Jayapura, mereka dijemput oleh Kolonel Anang, Danlanud Jayapura. Di sana ternyata sudah disediakan helikopter untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa wartawan ikut serta. Sekitar satu jam lebih mereka terbang di udara Papua.

Tiba di lokasi, Rosi dan Rian kaget begitu turun dari helikopter. Mereka disambut beberapa serdadu TNI Angkatan Darat dengan memanggul senjata lengkap.

“Saya kaget. Apa mau perang. Ternyata daerah saya tuju itu belum pernah diinjak sama orang luar, kecuali TNI. Masih ada orang yang dibakar, dicincang, OPM-nya banyak. Itu daerah masih gawat, masih merah,” kenang Rian.

Tak mau membuang banyak waktu, Rosi dan Rian langsung mulai mengajar. Sekolah dibangun, dibantu oleh anggota TNI dan masyarakat setempat. Perlahan-lahan, masyarakat di sana diajari beragam keterampilan. “Mereka pinter merajut makanya saya bawain alat untuk merajut, benang. Jadi bisa bikin syal dan bisa dijual,” ucap Rosi.

Di daerah itu, ada 16 tentara TNI AD yang bertugas. Mereka membantu menerjemahkan bahasa untuk Rosi dan Rian. Selain itu, para tentara ini juga dilatih oleh Rosi dan Rian agar juga bisa mengajari masyarakat. Ini penting karena Rosi dan Rian tak mungkin tinggal di daerah itu dalam waktu yang lama.

“Jadi saya tatar dulu mereka. Habis itu pengelolaan sekolah itu saya serahkan sama Koramil dan kepala adat di sana,” jelas Rian.

Hingga kini, sudah ada 65 sekolah yang didirikan ibu kembar di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya berada di Papua, seperti di pegunungan Yahukimo, lalu ada juga di Kepulauan Mapia. Dalam proses pendirian berbagai sekolah ini, Rosi dan Rian tak bergerak sendiri, terkadang pihak lain juga dilibatkan, seperti TNI, mesjid, atau gereja.

“Untuk sumber biayanya dari mana dan berapa besarnya?” tanya saya.

“Dari saya sendiri. Satu sekolah di sana, bisa habis Rp 50 jutaan,” ungkap Rian.

 

7 AGUSTUS 2007. Si jago merah mengamuk di kolong tol Penjaringan. Ratusan rumah hangus dilalap api, termasuk Sekolah Darurat Kartini. Peristiwa kebakaran itu menyebabkan konstruksi jalan bebas hambatan itu rapuh. Mulai saat itu, warga yang bermukim di semua kolong tol digusur oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Dua minggu setelah kebakaran, tepatnya pada 22 Agustus, datang surat dari Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara ke tangan ibu kembar. Isinya memerintahkan semua cabang Sekolah Darurat Kartini untuk angkat kaki dari kolong tol dalam waktu tiga kali 24 jam.

“Tanggal 25 saya angkat kaki. Makanya sebelum trantib datang, saya sudah pergi. Saya bukan orang kolong tol. Kalau saya sampai dibongkar, harga diri saya yang malu. Makanya saya pergi duluan,” tegas Rian, berapi-api.

Karena ingin sekolahnya terus berjalan dan tak ingin mengecewakan para muridnya, hari itu juga Rosi dan Rian langsung mencari lokasi lain dengan berjalan kaki. Mereka masuk ke daerah Kampung Bandan. Mobil mereka diparkir di pinggir jalan.

“Saya datang ke sini sambil tanya-tanya. Sedih banget hati saya waktu itu,” ucap Rian, lirih.

Hingga akhirnya, mereka tiba di satu tanah lapang seluas lapangan bola. Letaknya ada di samping Pos Polisi Mangga Dua, Jalan Kampung Bandan, Pademangan, Jakarta Utara. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari lokasi Sekolah Darurat Kartini yang pertama.

Tanah itu milik seorang pengusaha. Kebetulan pada siang hari itu juga Rosi dan Rian langsung bertemu dengan Bondan. Pria paruh baya ini adalah orang yang dikuasakan oleh si pengusaha untuk menjaga dan mengelola tanah lapang itu.

“Pak, saya dari sekolahan di kolong tol, kan digusur dan saya nggak punya tempat lagi. Apa saya boleh menempati tanah lapang ini?” tanya Rian.

“Ya boleh saja bu.”

“Ya sudah pak, saya dipinjemin pak. Wong saya sekolahannya nggak bayar kok, gratis.”

“Iya, saya sudah tahu ibu kok. Ibu yang ada di teve itu kan?”

“Iya.”

“Ya sudah. Ibu pakai tanah ini dari sini sampai sana,” kata Bondan, sambil menunjuk ke arah kiri dan kanan dari tanah lapang, untuk menunjukkan batasnya. Rosi dan Rian dipinjami sepertiga dari luas tanah kosong itu.

Di atas lahan kosong itu, kini berdiri lagi Sekolah Darurat Kartini. Bertetangga dengan pemukiman padat warga miskin dan jalan raya. Berseberangan dengan jalur rel kereta api. Belum jauh mata memandang ke utara, masih bisa terlihat jalan tol dari lahan kosong itu.

Namun, tak seperti dulu yang beratapkan jalan tol, sekarang sekolah ini dipayungi oleh terpal warna biru dan ditopang batang bambu. Ratusan kursi dan bangku ada di dalamnya. “Jadi, ini kita bangun lagi pelan-pelan, semampu kita dulu,” ungkap Rosi.

Dengan hanya beratapkan tenda terpal dan terbuka di sisi kiri kanannya, tentu akan merepotkan jika hujan tiba-tiba turun. Belum lagi, di sebelah belakang tenda terdapat timbunan sampah berbau menyengat hidung. Tapi kondisi itu tak menyurutkan animo murid-muridnya untuk belajar. Mereka sudah biasa menerima kondisi seperti itu, bahkan lebih parah.

Dulu, saat masih di kolong tol, sekolah ini sering kena banjir. Tapi aktivitas sekolah tetap berjalan. Semua murid tetap bersikeras masuk. “Makanya kasian kalau nggak masuk. Melas aku. Kalau aku datang saja udah penuh anak-anak, kasian,” ungkap Rian.

Setelah kebakaran dan Sekolah Darurat Kartini dibongkar, para muridnya memang kocar-kacir. Tapi sekarang hampir semuanya sudah balik lagi, walau jumlah muridnya berkurang menjadi 300-an. Murid yang tinggalnya jauh dari lokasi baru ini datang dengan naik sepeda atau jalan kaki.

 

PAGI HARI awal bulan September lalu, Rian sedang dikelilingi oleh beberapa orang ibu. Ia sibuk membagi-bagikan pakaian seragam untuk para murid TK yang baru masuk sekolah itu. Tahun ajaran baru memang belum lama dimulai.

Di belakang Rian berdiri, ada ratusan murid yang belajar tumplek jadi satu di dalam tenda. Tanpa dibatasi sekat untuk membedakan jenjang kelasnya. Hanya papan tulis yang menjadi penanda kelasnya. Satu papan tulis berarti satu jenjang kelas tertentu. Semua murid, dari TK sampai SMU, berseragam sama. Atasan berwarna putih, bawahannya biru.

Suara bising dari kereta listrik yang lewat. Raungan knalpot kendaraan bermotor. Keramaian penduduk sekitar. Asap dari pembakaran sampah lari tak menentu ditiup angin. Kondisi itu tak memengaruhi murid-murid Sekolah Darurat Kartini dalam menyimak pelajaran. Rosi dan Rian pun begitu. Mereka sudah kebal dengan suasana seperti itu sejak masih di kolong tol.

Bagi Rosi dan Rian, guru yang baik adalah yang bisa mentransfer materi pelajaran ke murid. Tak peduli apapun hambatannya. Guru juga harus mampu menghadapi berbagai karakter murid dan mampu membuat murid tertarik untuk menyimak pelajaran. Keahlian ini tidak gampang diperoleh.

“Bisa dengan ketawa. Bisa dengan disiplin. Bisa dengan santai. Setiap guru, kalau dia lolos sertifikasi, dia harus punya treatment tersendiri untuk menghadapi murid. Dan setiap guru akan berbeda metodenya,” jelas Rian. Sertifikasi guru dipandang penting oleh Rosi dan Rian, karena menjadi ukuran kualitas guru.

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru sebagai bukti formal pengakuan tenaga profesional. Syaratnya, harus memenuhi kualifikasi akademik S1 atau D-IV dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) legal dan terakreditasi. Serta, memiliki sertifikat pendidik dari hasil pendidikan profesi dan memiliki kompetensi sebagai agen pembelajar—baik secara pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial—setelah diadakan pengujian sertifikasi.

Bedjo Sujanto, Rektor Universitas Negeri Jakarta, berpendapat bahwa mutu pendidikan sangat tergantung pada mutu staf pengajar yang menjadi subyek krusial dalam proses pembelajaran terhadap siswa. Sertifikasi guru menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan mengajar para guru di Indonesia.

Hingga Agustus lalu, sebanyak 1,2 juta guru di seluruh Indonesia belum disertifikasi. Kendalanya klasik, yaitu akibat minimnya jumlah anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan yang ada saat ini hanya cukup untuk melakukan sertifikasi terhadap 19 ribu guru per tahun.

Tahun ini, Depdiknas berencana akan mensertifikasi 180 ribu guru di seluruh Indonesia. Targetnya, pada 2008, sebanyak 200 ribu guru telah memiliki sertifikasi standar kualitas pendidikan.

Tapi malah muncul masalah baru. Ribuan guru honorer yang telah mengabdi sejak bertahun-tahun memprotes kebijakan ini. Proses sertifikasi dinilai tak adil, karena syarat-syaratnya memberatkan bagi para guru honorer ini. Mereka meminta diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Rian dan Rosi punya pandangan lain atas masalah ini. Sikap mereka boleh dibilang keras jika menyangkut soal mutu guru. “Kalau dia mampu, dia ikut sertifikasi, saya juga ikut kok. Kalau nggak lulus karena nggak bisa, ya nggak usah jadi guru, gitu aja,” ucap Rian, tegas.

Mereka juga mempermasalahkan tentang tersendatnya penyaluran dana pendidikan untuk anak-anak dari masyarakat miskin. Padahal, pemerintah pusat dan daerah telah mengalokasikan dana itu dalam anggarannya. Seperti, dana program wajib belajar dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari APBN, serta Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dari APBD.

“Tapi murid saya tetap tidak mendapatkan haknya, padahal itu sudah diatur pemerintah. Jangan malah saya yang terus dibantu. Kalau saya orang kaya, nggak perlu dikasih dan tidak perlu dikasihani,” tutur Rian.

Hingga saat ini pun, pemerintah belum dapat mengalokasikan 20 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk dana pendidikan, walaupun sudah ada regulasi yang mengaturnya, yaitu Pasal 49 UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945.

Dalam RAPBN 2008 pun, pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp 48,3 triliun. Besar itu hanya 5,7 persen dari total belanja pemerintah dalam RAPBN 2008 yang mencapai Rp 836,4 triliun. Belum terpenuhinya angka 20 persen ini, karena ada kebutuhan lain yang mendesak. Begitu alasan pemerintah dan DPR.

Tak usah heran jika Rosi dan Rian bisa bicara dan tahu banyak soal pendidikan di Indonesia. Pendapat dan saran mereka memang sering diminta oleh Depdiknas dan wakil rakyat di Senayan. Namun mereka kecewa, karena hingga kini belum ada solusi nyata dalam hal pendidikan untuk masyarakat miskin ini. Setidaknya status quo masih dialami oleh para murid Sekolah Darurat Kartini.

“Jadi konsultan untuk Depdiknas, tapi cuma ini saya aja yang dipake,” kata Rosi, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke kepalanya.

“Saya juga sudah sering complain soal ini. Bolak-balik bosen. Karena DPR, birokrat dan yang lain pura-pura tutup mata dan telinga. ‘Ya nanti saya uruskan’ kata mereka. Uruskan apanya?” tambah Rian, dengan raut wajah kesal.

“Apakah ibu Rosi dan Rian masih optimis akan terjadi perbaikan dalam dunia pendidikan kita?” tanya saya.

“Kita optimis kalau semua orang pada sadar. Birokrat, eksekutif, wakil rakyat pada sadar. Jangan malah uangnya diambilin untuk menyekolahkan anaknya sendiri ke luar negeri, tapi anak bangsa ini nggak sekolah,” kata Rian, lagi-lagi dengan wajah kesal.

 

SAYA berkesempatan menemui Ibu Kembar di ‘kantornya’ yang baru, di daerah Kampung Bandan pada awal September lalu. Saat itu, mereka mengenakan pakaian yang juga kembar. Baju terusan berwarna pink yang dipadu dengan celana panjang warna hitam. Rambut mereka panjang hingga hampir sepinggang, dan diikat lalu diselempangkan ke depan dari arah kanan kepalanya.

Dengan gaya berpakaian seperti itu, sekilas, Rosi dan Rian tampak tak ada bedanya. Namun, penampilan terkadang menipu, karena ternyata Rosi dan Rian tak bagaikan pinang dibelah dua. Jika diperhatikan dengan seksama, perbedaan di antara mereka dapat terlihat.

Perbedaan paling kentara tampak pada pembawaan sifatnya. Ini tampak dari cara berbicara dari kedua bersaudara ini. Rosi selalu berbicara dengan nada yang rendah, kadang lambat, dan halus. Bicaranya juga lebih hati-hati. Berbeda dengan Rian yang lebih cepat, ekspresif, dan meledak-ledak bicaranya, apalagi jika menyangkut masalah pendidikan.

Meski begitu, mereka tetap kompak dalam hal mencintai anak-anak dan peduli soal pendidikan.

“Saya suka pendidikan, karena untuk memajukan bangsa ini ya lewat pendidikan. Kadang saya suka mikir, kalau saya mati terus sopo yang lanjutin ngasih pendidikan ke anak-anak miskin ini? Belum tentu ada yang memberikan pendidikan penuh kasih dan mikir ini anak makan atau nggak? Ini anak sopo?” ungkap Rian.

Kini, di masa tuanya, Rosi dan Rian, hanya berniat menikmati hidup yang tersisa. “Saya akan selamanya ngajar. Apa lagi. Di rumah saja cuma berdua sama bapaknya,” kata Rosi, terkekeh.

Itu pula sebabnya kenapa dulu, saat era pemerintahan Gus Dur, Rian menolak pinangan dari salah satu partai politik untuk menjadi Menteri Pendidikan. “Saya tidak ikut politik-politikan. Saya tidak mau, saya lebih senang mengajar di kolong tol,” ujarnya.

Mereka mengaku sekarang hanya tinggal mempersiapkan diri untuk kembali ke hadapan Tuhan. Itu saja prinsipnya.

“Saya menidurkan hati saya sejak tahun 1996. Sudah nggak cari harta lagi. Saya harus mengasihi orang lain dan mengikhlaskan harta saya untuk diberikan ke orang lain, agar mereka bisa hidup layak. Caranya lewat pendidikan kayak gini,” ucap Rian.

“Dan itu sudah jadi kebahagiaan bagi hidup kita berdua,” kata Rosi, menimpali.***

 

PS: Ditulis pada Oktober 2007 dan dimuat dalam Majalah 69++.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s