Cuma Cinta, Kalian Takut Apa?

“Kenapa harus melakukan kekerasan kalau bisa berkesenian!” ujar Pak Toto (Manahan Hutauruk) di atas panggung, yang langsung disambut oleh tawa dan riuh tepuk tangan penonton teater musikal Onrop! Musikal di Teater Besar Teater Jakarta TIM pada Senin, 15 November 2010 lalu. Pak Toto merupakan tetua dari para penduduk di Pulau Onrop, tanah untuk orang-orang terbuang yang dianggap tak bermoral oleh otoritas sosial dan hukum Indonesia di tahun 2020.

Syahdan, berselang 10 tahun yang akan datang, kondisi negeri ini dideskripsikan dengan kalimat plesetan oleh bocah narator bersetelan jas hitam saat membuka pertunjukan: “Habis gelap, terbitlah gelap.” Tirai panggung pun disingkap, kita lalu melihat set Jakarta lengkap dengan replika halte busway dan patung kebanggaan ibukota. Para menari sambil menyanyikan lirik jenaka yang mengantarkan latar belakang kisah Onrop! Musikal.

Bram (Giandra Hartajaya) dan kekasihnya, Sari (Ary Kirana), lalu masuk panggung dan menjadi fokus pandangan penonton di antara belasan penari. Bram adalah penulis novel religi tenar yang taat aturan dan norma, gentar pada Polisi Moral, sampai-sampai tak berani menyentuh Sari dan kerap merasa sungkan untuk mengakuinya sebagai kekasihnya jika berada di depan publik.

Bagaikan antitesanya, Sari adalah seorang kritis dan pemberontak yang tidak meyakini penerapan hukum berdasarkan ukuran moralitas pada saat itu. Ia tidak takut memakai rok dengan jarak dari ujungnya ke permukaan tanah melebihi 20 sentimeter—sebuah pelanggaran berat terhadap norma kesusilaan dalam kisah Onrop! Musikal. Indonesia tahun 2010 dalam kisah fiksi ini memang merupakan mimpi buruk bagi pendukung kemajemukan dan perbedaan, entah ada di mana pemahaman tentang falsafah “Bhinneka Tunggal Ika” ketika itu.

Sial pun akhirnya datang ke Bram. Ditemani Sari dan Amir (Ario Bayu dengan akting sebagai gay feminin yang mampu menguasai atensi penonton) saat meluncurkan novel terbarunya, karena hanya dianggap kiasan, ia memasukkan kalimat, “Aku ingat kata-kata yang pernah aku dengar dulu: kita mesti telanjang dan benar-benar bersih.” Ketika ia membacakannya, para undangan dan wartawan terhenyak. Tanpa ampun, trio Polisi Moral (Ferouz Avero, Arif Dharma dan Jasfintara N) datang dan meringkus Bram.

Di Indonesia masa depan, mengucapkan kata “telanjang” adalah aib dan sama berbahayanya dengan meneriakkan kata “penis” atau “vagina”. Maka berdasarkan Undang-Undang Onropgrafi dan Onropaksi, hukumannya dibuang ke Pulau Onrop, bergabung bersama para homoseksual dan seniman yang dituduh keblinger; pulau nista yang kehidupannya kejam dan tidak berperikemanusiaan. Bram terlempar ke sana.

Namun Pulau Onrop tak seburuk yang dibayangkan, karena sejak awal pun kita sudah disodori pernyataan oleh para pembuatnya bahwa Onrop adalah kisah komedi satir. Justru di sanalah surga bagi para pecinta perbedaan, di mana toleransi menjadi norma kehidupan yang utama.

Seperti pada film-filmnya, Janji Joni, Kala, dan Pintu Terlarang, dalam Onrop! Musikal pun bertebaran pernyataan-pernyataan Joko, baik sosial, politik, maupun personal, untuk menyikapi berbagai isu panas kontroversial (pornografi, kekerasan fisik dan homoseksual) yang meramaikan kehidupan masyarakat Indonesia kiwari. Cara yang serius ditinggalkan. Joko bahwa sadar untuk menyampaikan pesannya, humor dan satir adalah jalan yang lebih tepat.

“Saya melihat ide cerita ini tepat untuk sebuah pertunjukan musikal dan cocok digambarkan dalam bentuk parodi dan musik,” kata Joko.

Pilihan Joko tak keliru. Dalam sejarah seni tontonan di Indonesia, antusiasme terhadap pertunjukan panggung sebenarnya telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Sebab seperti yang dikatakan Antariksa (2005), teater rakyat tradisional dan dasar-dasar teater modern (tonil) sudah lebih dulu mapan dan menjadi salah satu bentuk pengucapan gagasan. Ambil contoh seni panggung ketoprak yang ceritanya penuh dengan humor sehingga begitu digandrungi oleh masyarakat Jawa tradisional.

Pertanyaannya adalah mampukah format teater musikal ini menyusupkan pesannya ke target penonton yang terbatas dan berasal dari middle class masyarakat urban kita yang umumnya belum terbiasa menonton teater musikal? Jawabnya: berhasil.

Inilah kepiawaian strategi pemasaran tim produksi Onrop! Musikal. Sejak jauh hari promosi disebar lewat internet, khususnya Twitter, apalagi menurut hasil riset Hewlett-Packard Social Computing Lab menyebutkan bahwa Joko termasuk pengguna yang berpengaruh besar di Twitter. Ada pula faktor lain, yaitu kejenuhan masyarakat terhadap tontonan yang ada sekarang. Teater musikal dapat memberikan alternatif yang menyegarkan. Dan untuk menyiasati sekaligus mengedukasi para calon penonton baru drama musikal, Joko mengandalkan kemampuan naratifnya. Skenario Onrop! Musikal karangannya memang patut diacungi jempol, karena mampu bertutur secara jenaka, cerdas, kritis, dan terkadang nakal. Alhasil, penonton betah menyaksikan teater musikal ini.

Terlepas dari tata suara Teater Besar yang bekerja tidak maksimal, namun hal tersebut tidak menggoyahkan alunan 18 lagu pop-jazz ciptaan music director Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro dalam mendukung menciptakan drama. Lirik bikinan Joko yang ringan berfungsi sebagai dialog berupa singing text yang turut mengalirkan kisah. Didukung oleh set panggung dan tarian dari arahan koreografer Eko Supriyanto Onrop! Musikal yang meminjam konsep sub-genre Broadway-musical juga mampu menghidupkan pertunjukan. Terbagi menjadi dua act, ada 17 adegan dengan tujuh buah set realis yang sangat efisien dieksplorasi Joko untuk akting dan gerak tari para pemainnya. Apalagi, mengingat dana yang dihabiskan ini hanya Rp 3 milyar, angka yang terhitung kecil untuk produksi drama musikal.

Tidak terbantahkan lagi, kisah Onrop! Musikal jelas merupakan parodi terkini tentang Indonesia. Sebuah Indonesia hasil gubahan Joko Anwar ini kelak bukanlah menjadi negeri yang ramah terhadap perbedaan dan pluralisme. Kehidupan masyarakat di masa depan tersebut dibangun oleh paksaan dan monopoli atas penafsiran tunggal terhadap norma kesusilaan dan harmoni, suatu kondisi yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketika rezim Orde Baru masih berkuasa.

Mungkin lebih tepatnya adalah mistifikasi harmoni. Karena seperti yang pernah diungkap oleh pakar filsafat Budiarto Danujaya dalam artikelnya Keragaman, Konflik, dan Harmoni (2006) bahwa ada kecenderungan kuat untuk mengamuflasekan pengabaian dan bahkan penumpasan perbedaan, antagonisme, serta konflik lewat mistifikasi harmoni.

Lebih lanjut, menurut Budiarto, mistifikasi harmoni yang berlebihan bukan saja tidak realistis karena mengabaikan perbedaan dan keragaman, melainkan berbahaya karena berpotensi untuk tergelincir mengambil bentuk-bentuk yang justru agresif terhadap mereka yang dianggap berpotensi menimbulkan disharmoni.

Dan dalam kisah fiksi drama musikal ini, Bram, Sari, Amir juga seluruh penduduk Pulau Onrop menjadi tertuduh pencipta disharmoni. Tuduhan yang salah sasaran sebetulnya apabila dikaitkan dengan analisa Budiarto. Semoga dalam kisah Indonesia yang sebenarnya, kondisi ini tidak terjadi. Sebab, seperti yang dinyanyikan oleh seluruh pemain dan penari di Onrop! Musikal di penghujung pertunjukan, kisah ini “Cuma Cinta, Kalian Takut Apa?”

Artikel ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi Selasa, 30 November 2010. Ini adalah versi yang sebelum di-edit pihak redaksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s