Cinta Mati

Bau tanah sehabis hujan kadang menyenangkan. Tetapi tidak pada malam itu. Baunya kalah oleh bau asap ratusan knalpot. Malam itu, dengan perut yang kosong, tubuh yang lelah, ditambah kelakuan pengendara bermotor yang semakin liar saja, membuat saya kangen masa lalu. Saat saya berjalan kaki sendirian di jalanan Jatinangor dan Bandung malam-malam. Saat mencari martabak manis atau roti bakar untuk disantap sambil merenung. Saat sekedar menikmati hawa dingin malam kota itu.

Malam itu, romantisme menyembul dengan tiba-tiba ketika berjalan kaki di atas trotoar yang rusak dan becek milik kota modern.

Dengan gontai, dengan lambat, akhirnya saya sampai juga di halte tujuan. Tak lama, bus TransJakarta datang. Saya pun masuk. Di dalam tidak terlalu sesak. Saya berdiri membelakangi pintu. Ada dua pria di sebelah kiri saya. Rambutnya agak gondrong, masih muda dan berpakaian sepertinya anak kuliahan: bercelana jeans, yang satu berkaos oblong, satu lagi memakai polo shirt, masing-masing memanggul tas punggung.

Ooo… Mereka sedang mengobrol seru rupanya. Di tengah penumpang lain yang sunyi, bunyi obrolan mereka cukup membuat siapa pun sulit untuk tidak menghiraukannya.

“Gua heran. Kok lu bisa berbuat kayak gitu sih? Bisa sampe kayak gitu?”

“Gua juga nggak tau. Gua juga bingung. Tapi kan gua nggak salah.”

“Buat gua, itu salah Mo. Lu nggak bisa kayak gitu lah. Nggak habis pikir gua Mo.”

“Aahh ..sialan, lagian, kenapa harus gua sih yang harus ngalamin ini.”

“Yah Mo. Kan lu yang milih sendiri situasi ini. Kalo gua, semakin gua disakitin sama cewe, semakin cepet lah gua ngelupainnya. Semakin gampang gua maju jalanin hidup gua lagi.”

Oke, ini menarik. Masalah cinta. Sudah lama saya tidak mendengar perbincangan masalah cinta antara dua orang pria. Dua anak muda curhat soal cinta dengan seru dan tanpa perlu malu di tengah orang banyak seperti ini, tentu tingkat keseriusan problematika cintanya cukup tinggi. Seketika, saya bersemangat kembali. Rasa lapar dan lelah terlupakan. Daun telinga kiri saya kembangkan lebih lebar supaya ocehan mereka dapat saya dengarkan dengan jelas.

“Lu nggak ngalamin yang gua rasain sih. Lu nggak tau gimana itu rasanya kalo udah cinta mati.”

“Bimo, nggak ada itu yang namanya cinta mati! Gua nggak percaya itu ada.”

“Ada! Lu aja yang belum ngerasain.”

“Nggak ada!”

“Ahhh. F**k lah!” ujar Bimo sambil mengetuk-ngetuk kaca pintu. Matanya menatap ke luar bus. Menerawang dengan diam.

Di luar, dunia seakan berjalan melambat. Kendaraan-kendaraan melaju pelan. Macet. Karena di Jakarta, kota modern ini, musim hujan membuat jalanan cepat rusak. Di satu ruas jalan, lapisan aspal yang sudah bolong-bolong sedang dihancurkan oleh para pekerja kasar dengan mesin-mesin besarnya. Diganti dengan aspal yang baru. Sudah banyak cerita tentang para pengendara roda dua tewas di jalan karena lubang yang menganga. Sesuatu yang rusak dan membuat orang lain merugi memang sudah sepantasnya diganti. Itulah hukum jalanan di kota besar ini. Serba mekanis. Dan manusia-manusia yang hidup lalu-lalang di atasnya seakan takluk dengan yang serba mekanis itu. Suatu hari, satu nyawa tiba-tiba melayang di satu ruas jalan yang berlubang. Esoknya, tragedi itu sudah dilupakan oleh manusia lainnya; atau, manusia lainnya sudah melupakan tragedi itu.

Dilupakan dan melupakan. Keduanya merupakan pilihan. Bisa sulit, bisa gampang.

Saya melirik Bimo yang matanya masih menatap ke luar sana. Saya tahu pikirannya sulit untuk melupakan rasa cintanya. Tragedi nyawa melayang karena kecelakaan memang tak sama dengan kasus patah hati. Cinta sendiri tidak bisa berlaku mekanis layaknya mesin. Cinta itu anugerah Tuhan, kata orang bijak. Yang pasti, meski sub topik mengenai cinta itu kadang klise, tetapi saya percaya kalau cinta itu tetaplah merumitkan.

Lagi, saya lirik Bimo yang juga masih menatap. Wajahnya berjarak cukup dekat dengan kaca bus. Seperti mengetahui salah satu penghuninya sedang murung, alam pun menitikkan kembali air hujannya. Membuat butiran air hujan yang mengalir di kaca seolah mewakili raut kesedihan Bimo. Ibarat air mata.

“Lu nggak tau gimana rasanya nemuin orang yang seperti udah ditujuin buat lu. Yang cocok banget sama diri lu.” Matanya masih saja menerawang ke luar sana. “Gua cuma bisa berharap, suatu hari nanti, gua bisa ketemu lagi sama Lia. Lia yang berbeda dengan yang sekarang, membuka lembaran hidup baru lagi sama dia, mulai lagi dari nol. Cuma itu!”

“Ya ampunn. Lu tuh udah disakitin sama dia. Kenapa masih juga cinta sih? Masih juga mengharap kayak gitu?”

“Nggak tau lah. Tapi yang gua tau, gua nerima Lia apa adanya. Gua mau maafin dia kok. Gua pengen dia tau itu.”

“Ah, gila. Kasian gua jadinya sama lo Mo. Kasian banget gua.”

“Lu orang kesekian yang ngomong gitu.”

Teman Bimo ini pun tertawa miris. “Ya udahlah, mo gimana lagi. Bagaimanapun ini semua pilihan lu kan?”

“Iya.”

Tak lama, prosesi curhat itu selesai. Karena, teman Bimo sampai di halte tujuan. Ia pamit. Selepas itu, Bimo diam sepanjang jalan. Melamun. Mungkin memikirkan Lia.

Malam itu, dunia tampak berupaya berlaku adil. Di tengah himpitan orang-orang yang lelah di dalam  bus, di antara gerak mesin-mesin bermotor di jalanan yang padat, ternyata masih ada sepenggal kisah cinta yang mampu memanusiawikan manusia sibuk ibukota.

Curhatan Bimo dengan temannya membuat saya teringat pada kehidupan lima tahun yang lalu. Ketika masih kuliah; ketika sepertiga lebih sedikit dari porsi hidup saya dihabiskan untuk masalah cinta; ketika sepertiga lagi untuk urusan kuliah dan tugas; dan kurang dari sepertiga sisanya dihamburkan untuk khayalan dan foya-foya. Lagi-lagi romantisme, pikir saya sambil tertawa dalam hati.

Di satu halte menjelang penghabisan, penumpang yang keluar dari bus cukup banyak. Saya termasuk di antaranya. Sambil berjalan pelan menuju pintu keluar halte, di depan saya ada pria dan wanita bergandengan tangan. Mungkin sepasang kekasih, atau suami-istri.

Di luar, gerimis rupanya masih betah turun, menyambut saya yang mendadak menjadi sentimentil.

Curhatan Bimo. Cinta mati. Pria dan wanita bergandengan tangan. Gerimis yang tak kunjung berhenti. Ah, Paris pun menjadi terasa dekat sekali.***

 

PS: Ditulis pada Desember 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s