Cerita Tentang Iblis

“…the world was horrible because evil forces existed that were constantly undermining the quality of existence.” – Charles Derry.

Derry menuliskannya itu dalam bukunya yang terbit tahun 1977, Dark Dreams: A Psychological History of the Modern Horror Film. Potongan kalimat di atas merupakan bagian definisi Derry soal Horror of the Demonic, jenis film horor yang paling kerap kita jumpai di dunia sinema. Dalam horor jenis ini umumnya menyajikan kondisi tentang manusia atau dunianya sedang didera ketakutan, baik secara massal maupun personal, akibat kejahatan atau kekuatan iblis yang mengancam kehidupan. Penampakan kekuatan itu dapat berwujud sosok yang gaib maupun dekat dengan arwah, semisal hantu, penyihir jahat, dan setan.

Dari situ, The Exorcism of Emily Rose (Scott Derrickson, 2005) dan Constantine (Francis Lawrence, 2005) otomatis bisa digolongkan ke dalam ranah film horor ini. Penyebabnya, karena dua film ini mengandung tema-tema yang biasanya terdapat dalam jenis film horor itu, terutama mengenai gagasan balas dendam; perusakan tokoh tak berdosa; fenomena mistik, seperti kerasukan; dan, tentunya simbologi Kristiani berdasarkan tradisi Yudeo-Kristiani. Paling tidak, tiga tema yang disebut terakhir itu hadir secara ekstensif dengan gaya yang berbeda-beda pada dua adegan terpisah di masing-masing film, meskipun memiliki kemiripan aksi.

Dalam The Exorcism of Emily Rose, adegan ini keluar di sekuens keempat (First Culmination) ketika Emily akhirnya pulang akibat kondisinya yang semakin parah, dan di situlah keluarganya beserta Father Richard Moore (Tom Wilkinson) menyaksikan pertama kalinya bagaimana Emily mengalami kerasukan. Adegan yang tak jauh berbeda muncul di Constantine dalam sekuens pertama (Introduction), yakni saat cerita memperkenalkan pertama kali insiden kerasukan yang menimpa seorang gadis muda di apartemennya dan prosesi exorcism yang dipraktekkan John Constantine (Keanu Reeves). Perhatikanlah. Di sepanjang dua adegan itu, aksi yang ditampilkan para tokohnya nyata-nyata merupakan tindakan merusak tokoh yang tak berdosa, lalu juga ada fenomena mistik (kerasukan), dan kemunculan simbologi Kristiani seperti salib, alkitab, holy water, pendeta, dan sebagainya.

Iblis yang Antik dan Edgy

Dalam perspektif Barat, yang diwakili oleh peradaban bangsa Eropa dan Amerika, mitologi iblis pada tradisi Yudeo-Kristiani menulari dan berdampak pada laku jahat, atau yang sering dilabeli dengan sebutan “Evil”. Di tradisi ini jugalah, iblis atau setan mewujudkan bentuk kejahatan secara fisik lewat sosok makhluk yang mengerikan, ada yang berupa monster atau tubuh yang penuh cabikan luka.

Empat tema serta ciri-ciri kehadiran iblis tradisi Yudeo-Kristiani inilah yang kentara dan terasa sangat kental di dua film ini, tidak hanya dalam wujud horor tapi juga teror. Jika horor dapat menjelma secara fisik serta membuat nyali dan diri tak berkutik, maka hawa ngeri dari teror hanya bisa dirasakan. Begitu penafsiran Ann Radcliffe tentang diferensiasi horor dan teror dalam esainya di The New Monthly Magazine (1826). The Exorcism of Emily Rose dan Constantine memaparkan secara gamblang semua itu. Tapi, ada yang berbeda dari tampilan kekuatan jahat atau “Evil”-nya.

The Exorcism of Emily Rose tampak berusaha untuk setia dengan wujud dan perilaku iblis sesuai tradisi Yudeo-Kristiani dari zaman yang antik. Perhatikan saja momen-momen ketika Emily Rose (Jennifer Carpenter) mulai kerasukan sampai akhirnya justru dikuasai oleh kekuatan jahat itu. Wajah “Evil”-nya tidak serta-merta tampil dalam tubuh bak monster, tapi malah lewat mimik muka, delikan mata yang hitam, dan gerak tubuh yang tak biasa, layaknya orang yang kesurupan. Kalau pun ada kelebatan sosok iblis hanya muncul selewat, misal dalam bayangan di kaca, siluet perawakan di ujung selasar, atau sebuah Marian apparition di sekuens terakhir (Resolution). Di sekuens ini, film menyajikan adegan berbau surealis saat Emily menerima pengalaman spiritual dengan menyaksikan dan mendengar ‘penampakan’ Virgin Mary.

Singkat kata, kekuatan jahat di film ini ditonjolkan dengan cara yang sugestif, cukup dengan dialog dan sisa-sisa kabur dari penampakan iblis. Dilengkapi dengan bangunan suasana mencekam, bukti nyata dari cara sugestif ini mengemuka saat enam iblis (Cain, Nero, Judas Iscariot, Legion, Belial, dan Lucifer) yang menguasai tubuh Emily mengaku bergantian ke Father Moore dengan mengucapkan dialog dari asal bahasa yang berbeda-beda.

Cara yang berbeda ditunjukkan dalam Constantine. Jika sosok Emily dan iblis dalam The Exorcism of Emily Rose tampil mengerikan tanpa menerapkan banyak polesan efek visual, wujud Angela (Rachel Weisz) yang mengalami kerasukan dan iblis justru memakai teknologi CGI untuk menciptakan efek ngeri. Jadi dapat dibilang bahwa Constantine jelas memodifikasi tampilannya sesuai dengan semangat zaman yang kekinian, bahkan terkesan edgy. Adegan turunnya Lucifer ke bumi di sekuens terakhir Constantine mencerminkannya. Alih-alih berwujud monster, Lucifer ditampilkan secara necis, lengkap dengan setelan jas putih berkelas dan rambut klimis. Namun, tetap ada kengerian yang terasa.

Rasionalitas versus Supranatural

Dengan unik sekaligus berbeda, laju dua film ini ibarat seperti mengarah ke arah kiblat yang sama tapi dari kalangan umat yang berbeda mahzab. Karakterisasi dan bangunan plotnya lah yang menunjukkan perbedaan itu. Memang, semenjak lahirnya The Poetics, karya masyhur Aristoteles, dramatika dalam storytelling makin berkembang pesat. Modifikasi dan variasi terjadi, terutama dalam film, dan skenario The Exorcism of Emily Rose dan Constantine memperlihatkannya.

Kedua film ini menaruh kekuatan karakter dan plot di posisi penting untuk menciptakan efek horor dan teror. Karakter dan plot di sini berkembang secara beriringan sambil mempertentangkan rasionalitas dan supranatural. Dalam sejarahnya, kelahiran genre horor di Eropa tak bisa lepas dari kemunculan produk sastra Gothic di abad 18 yang terkait erat dengan dominasi rasionalisme dan perkembangan sains yang menjunjung tinggi objektivitas. Menurut Noël E. Carroll dalam bukunya, The Philosophy of Horror, Or, Paradoxes of the Heart (1991), sastra Gothic ini merupakan representasi kegelapan yang menyembunyikan berbagai kecenderungan imajinatif, irasional, subyektif dan berbau supranatural dari abad pencerahan.

Nah, bangunan cerita dalam dua film ini pun mempertentangkan rasionalitas dan supranatural tersebut. Lewat John Constantine dan Angela turut mewakili pertentangan dua nilai itu, walaupun tak seluruhnya murni . Karena berbeda dengan Angela yang religius, sebenarnya John tak terlalu peduli tentang relasi transendentalnya. Ia hanya menjalani tugas yang dibebankan kepadanya: mengembalikan iblis ke neraka. John melakukan itu demi mendapatkan ampunan untuk masuk surga, karena dulu ia pernah berupaya bunuh diri.

Sedangkan, karakter Father Moore yang religius dan pengacaranya yang agnostik, Erin Bruner (Laura Linney), lebih mencerminkan pertentangan dua nilai itu. Apalagi konteks dan setting yang diciptakan untuk karakter-karakter itu ada di ruangan persidangan—sebuah lokus di mana rasionalitas lebih diagungkan ketimbang hal-hal supranatural. Padahal kita sadar sepenuhnya bahwa kisah Emily Rose kental dengan religiusitas.

Di sinilah tampak kompleksitas skenario dan sisi menariknya The Exorcism of Emily Rose. Dengan alur yang tak bergerak linear (flashback), dramaturgi cerita film ini lebih mengena, apalagi bagi penonton film horor yang mempunyai “kenikmatan paradoksal”. Karena, menurut Carroll, dalam menonton film horor seorang penonton berpotensi mengkonfirmasi keraguan mereka atas sesuatu hal yang dianggap mustahil terjadi di dunia nyata.

Seram yang Dramatis

Mungkin sekarang muncul pertanyaan soal mana yang lebih mengerikan dari dua film ini. Sudah pasti jawabnya berbeda-beda di kepala setiap penontonnya. Karena setiap masa di mana masyarakat dan budaya itu hidup akan melahirkan dan menentukan dengan sendirinya mana saja kisah yang dianggap menyeramkan. Namun jika dikaitkan dengan budaya lokal kita, paling tidak fenomena spiritual dan mistis yang tampil dalam kisah The Exorcism of Emily Rose memiliki kedekatan tradisi dengan masyarakat kita yang kebanyakan masih tertanam cerita-cerita hantu, dunia supranatural dan takhayul.

Apa pun itu, semua yang disuguhkan oleh kisah The Exorcism of Emily Rose dan Constantine ini berupaya untuk menyebarkan kengerian melewati batas waktu dan budaya dengan menggunakan formula baku storytelling, salah satunya adalah penerapan dramatic tension dengan baik. Inilah yang membuat penonton penasaran dan menantikan dengan setia apa yang akan terjadi di akhir cerita, sehingga melahirkan keterlibatan emosi antara penonton dengan karakter-karakternya.

Maka wajar jika pengorbanan yang dilakukan oleh Emily dan John di penghujung cerita bukan hanya menjadi solusi yang dramatis, tapi juga memuaskan rasa penasaran dan keraguan penonton terhadap kemustahilan hal-hal yang supranatural. Lagipula, tak boleh dilupakan dua film ini bagian dari gaya cerita Hollywood, di mana yang baik hampir selalu menang melawan yang jahat.

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Versus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s