Bangsa (Ke)Keras(an)

Nyoman sesekali menyeka keringatnya. Pria tua itu terus berjalan dengan pasti menuju suatu tempat yang mustahil baginya untuk dilupakan. Ketika tiba di lokasi tujuan, wajahnya menyiratkan kesedihan sekaligus kemarahan. Tanah di tepi laut itu terlihat kosong dan sepi. Warga setempat sekitar menganggap angker lokasi itu, padahal pemandangan di sekitar cukup indah.

Tiba-tiba saja Nyoman tengkurap, dan kemudian berbisik kepada tanah, “Hai kawan-kawan, kalau keadaan memungkinkan, suatu saat nanti kalian akan kuangkat dari perut sang pertiwi!”

Nyoman ingat betul peristiwa biadab pada malam puluhan tahun yang lalu. Setelah satu per satu turun dari truk, ia bersama ratusan orang lainnya digiring ke tanah kosong. Dengan tangan terikat ke belakang, mereka lalu berdiri berjejer di depan lubang lebar.

Namun, dibantu gelapnya malam, Nyoman berhasil lolos dan bersembunyi di balik semak-semak. Meski takut luar biasa, ia beranikan mengintip ke arah jejeran orang-orang itu. Tak lama ratusan letusan senjata memecah heningnya malam. Malam itu, maut menjemput 220 nyawa manusia, dan membaringkan mereka sekenanya di balik tanah pesisir pulau Bali (Santikarma, 2003).

Penggalan kisah di atas adalah bagian kelam sejarah negeri ini pasca September 1965. Eksekusi besar-besaran terhadap mereka yang dicap berideologi palu arit. Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan bahwa jumlah korban yang tewas mencapai tiga juta orang! Jumlah teramat besar yang membuat negeri ini bersaing ketat dengan Jerman di masa Hitler berkuasa untuk urusan kekejian. Kekerasan fisik berujung maut ini dilakukan secara ‘legal’ oleh rezim yang berkuasa saat itu.

Kekerasan. Inilah menu hidangan utama untuk masyarakat negeri ini. Tiap hari ada saja bentuk kekerasan yang kita lihat, alami, atau mungkin dilakukan. Hidup di zaman yang katanya semakin edan ini toh tak berarti memaklumi tindak kekerasan apapun bentuknya. Apapun alasannya. Siapapun subjek dan objek kekerasan itu, perseorangan maupun kelompok.

Namun hari-hari belakangan ini, tindak kekerasan yang dilakukan kelompok semakin bar-bar saja. Mulai dari aksi protes mahasiswa terhadap naiknya harga BBM yang hampir selalu berujung kekerasan, baik karena diprovokasi aparat atau dipelopori oleh mahasiswa sendiri (aksi blokir jalan dan bakar ban bagi saya sudah termasuk kekerasan). Hingga tindak kekerasan yang paling mutakhir tahun ini, penyerangan dan kekerasan fisik yang dilakukan Komando Laskar Islam (KLI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Sebenarnya, ada satu kelompok lagi yang kerap melakukan kekerasan dan sedang (mungkin juga selalu) disorot publik, yakni aparat keamanan. Tetapi saya emoh membahasnya di sini. Biarlah itu menjadi urusan Komnas HAM. Kelompok mahasiswa dan KLI bagi saya lebih menarik untuk ditelusuri karena beragam paradoksnya.

Para mahasiswa di negeri manapun, kita tahu, kerap menjadi barisan terdepan ketika dilakukan aksi massa. Mahasiswa juga selalu menjadi pelaku sejarah dari perjuangan bangsa dan revolusi negeri ini. Karena mahasiswa identik dengan sifat intelektual, dan kaum intelektual memang dibutuhkan oleh republik ini kala masih di dalam kandungan, sekarang pun tentu masih. Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, Soe Hok Gie, adalah beberapa nama yang seharusnya menjadi panutan bagi mahasiswa sekarang sebelum bergerak melakukan protes.

Namun yang terjadi kini adalah proses membuat malu terhadap sejarah para mahasiswa pendahulu. Lihat bentrokan aparat dengan mahasiswa. Betapapun saya tidak suka dengan perlakuan kekerasan dari pihak aparat, tetapi tindakan mahasiswa melempar botol atau bom molotov ke arah aparat, bahkan memukuli seorang aparat yang kebetulan lewat dan mungkin saja sedang menabung sisa gajinya agar anaknya bisa mengenyam bangku kuliah, itu juga tidak bisa diterima dengan nalar saya. Begitu juga aksi blokir jalan yang dilakukan para mahasiswa di beberapa wilayah. Itu cara-cara seperti itu tidaklah elok, malah merugikan rakyat yang katanya dibela mahasiswa itu.

Kok rasa-rasanya itu bukan kelakuan para kaum muda (yang diharapkan dan katanya) intelektual. Apakah para aktivis mahasiswa itu tidak lagi membaca Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie?

Lalu, ada kelompok yang mengatasnamakan Islam tetapi menyerang saudara-saudaranya sesama Islam, hanya karena mereka membela hak-hak warga negara lainnya. Siapapun tahu kalau Pancasila dan konstitusi negara ini menjamin kebebasan beragama dan berpendapat. Kini, siapapun di dunia ini yang melek informasi dan berakal sehat juga mulai memahami kalau Islam pun mengajarkan agar hidup damai dan rukun dengan orang lain.

Tetapi KLI, dengan unsur FPI dan ormas Islam lain di dalamnya, meyakini betul bahwa hajar-hantam-jotos adalah solusi sempurna untuk melawan kemurtadan (baca: Ahmadiyah), jadi tak lagi memedulikan hukum negara ini. Mereka membela Islam dengan cara memukuli orang-orang yang juga menganut agama Islam, pria maupun wanita. Mereka menyerang saudara setanah air di hadapan Monumen Nasional (Monas).

Monas dibangun saat pemerintahan Soekarno dengan gagasan mulia, yakni membangun sebuah tugu yang bisa mengingatkan perjuangan nasional bangsa Indonesia. Bisa dikatakan bahwa Monas adalah monumen perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda. Dan, saat kekerasan itu berlangsung, Monas akhirnya menjadi penonton sekaligus panggung yang sedang memainkan drama nyata tentang mulai lunturnya cita-cita luhur para founding fathers negeri ini untuk menyatukan warga nusantara yang sangat beragam menjadi satu kesatuan bangsa Indonesia yang kokoh.

Kekokohan bangsa memang sedang digerogoti dari dalam. Paling tidak, saling melakukan kekerasan antar kelompok adalah salah satu bentuk gerogotan itu yang lumayan berbahaya. Mahasiswa dan aparat bentrok karena kedua pihak sama-sama bilang bahwa mereka diprovokasi duluan. KLI melakukan kekerasan guna membela diri dan juga karena diprovokasi oleh AKKBB. Sebaliknya, AKKBB merasa LKI lah yang menyerang duluan.

Kalau sudah begini, siapa yang salah dan mana yang benar pun jadi membaur. F. Budi Hardiman pernah menuliskan bahwa semakin banyak pelaku kekerasan semakin gigantis massa yang bertindak destruktif, maka semakin kurang personallah motif kekerasan dan semakin merasa benarlah para pelaku kekerasan itu.

Yang jelas, beragam tindakan kekerasan ini merefleksikan bahwa tampaknya urat kekerasan masih menarik kencang di dalam tubuh masyarakat negeri ini. Bagi masyarakat Indonesia, kekerasan memang bagian dari sejarah. Masyarakat kita dibesarkan dalam budaya dendam dan kekerasan (Mujiran, 2002).

Para raja Jawa zaman dulu sebelum naik tahta kekuasaan selalu membunuh raja yang tengah berkuasa untuk meraih kekuasaan. Praktik kekerasan berulang di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Begitu juga pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan sampai saat ini pun masih terus menjalankan ‘tradisi’ itu.

Dalam praktik kekerasan, yang berbicara adalah okol (kekuatan) dan otot (keperkasaan) ketimbang pengetahuan, akal budi, dan kedewasaan. Padahal, budaya kekerasan hanyalah budaya para preman yang terancam untuk mempertahankan diri. Praktik premanisasi semacam ini hanya dikenal dalam masyarakat kuno dan primitif. Lalu, jika dalam masyarakat modern seperti saat ini masih saja terjadi praktik-praktik kekerasan, sudah jelas terdapat persoalan dalam diri pelaku-pelaku tindak kekerasan tersebut.

Jika mengaitkan dengan tindak kekerasan mahasiswa dan LKI atau kelompok lain, bisalah dibilang kondisi ini mencerminkan adanya kemerosotan moral, hilangnya nurani, kurangnya rasa saling menghargai dan menghormati, minimnya kesadaran budaya, serta luluhnya nilai kesatuan dan persatuan. Maka persoalan ini menjadi pelik dan tidak bisa dianggap remeh bagi kelanjutan bangsa ini.

Dan sebetulnya, kalau kita cermati, permasalahan bangsa ini makin hari makin gawat saja. Sadarkah kita kalau hidup di negeri ini makin tidak aman. Makin tidak baik untuk generasi mendatang. Bukan cuma gara-gara tindakan kekerasan yang makin lumrah dilakukan masyarakat kita, tetapi juga karena banyak hal.

Agak keluar dari konteks, beberapa hari yang lalu, saya mendengar dari berita radio bahwa pemerintah akan menjual 40 lebih perusahaan BUMN ke investor asing. Yang membuat miris, umumnya perusahaan-perusahaan BUMN itu menguntungkan negara dan aset penting untuk masyarakat.

Sedangkan kekayaan alam dan energi negeri ini, minyak bumi terutama, diboyong ke luar secara berjamaah oleh korporasi asing. Membuat kita kini kesulitan di tengah naiknya harga minyak dunia. Di saat harta negara ini dirampok negara lain, kita menyaksikan tim KPK ke kantor Bea Cukai di Tanjung Priok berhasil menemukan amplop-amplop berisi uang yang diduga sogokan tersebar secara ajaib di berbagai sudut kantor, mulai dari di tong sampah hingga di balik karpet mesjid!

Dari balik tembok ruang sidang paripurna para wakil rakyat di Senayan, kabar mengejutkan muncul: anggota dewan dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu staf wanitanya. Ingatan saya pun melayang ke kasus skandal seks heboh anggota dewan lainnya, antara YZ dan si penyanyi dangdut. Dan sangat mungkin masih ada YZ versi lain yang juga sedang berasyik masyuk.

Di lapisan bawah masyarakat, orang-orang makin banyak yang memaksakan kehendaknya tanpa memedulikan kepentingan dan hak orang lain. Mereka berkata dengan paksa tanpa kesopanan, “Turun pak, bu, cepet! Hari ini angkot mogok semua. Kita mau demo gara-gara BBM naik,” sambil menyetop angkot lainnya, juga dengan memaksa.

Mereka juga bilang, “Pilkada kemarin harus diulang! Ada kecurangan. Kami tidak rela calon kami kalah begini,” sambil melempari kantor pemerintah dengan batu. Dan, akhirnya rakyat kabupaten atau propinsi itulah yang lebih banyak merugi, karena jalannya pemerintahan baru menjadi terhambat.

Tiba-tiba perkataan singkat Bu Eliza, guru Tata Negara di SMU dulu, terngiang-ngiang di telinga saya. Kata beliau, “Hak kita dibatasi oleh hak orang lain.”

Masalah negara ini sudah bersifat multi-dimensional, begitu kata para pakar. Negeri dan bangsa ini sedang sakit parah, itu kata saya. Dan menurut saya, untuk mengobati negeri ini, pertama kali adalah harus berawal dari diri kita dulu. Kita harus menggunakan akal sehat sebelum dan ketika bertindak.

Maka, untuk kawan-kawan sesama mahasiswa, saudara-saudara dari berbagai agama dan aliran kepercayaan apapun, saudara-saudara sebangsa setanah air, janganlah lupa kalau di dalam batok kepala kita bersemayam dengan sempurna sebuah organ yang bernama otak, bagian tubuh yang sangat patut kita syukuri dan manfaatkan secara maksimal.

Janganlah kita lebih suka memakai memakai kepalan tangan, dengkul, dan emosi belaka dalam mengatasi semua masalah. Maukah kita disamakan dengan hewan buas? Maukah sakitnya negeri ini tidak sembuh-sembuh? Kalau saya jelas tidak mau.

Siapa lagi kalau bukan kita yang membenahi negeri dan bangsa ini. Tetapi di sisi lain, apa pula yang bisa diharapkan dari kaum muda negeri ini jika mereka lebih memilih menggunakan kekerasan daripada akal sehatnya?

Menyimak kondisi Indonesia terkini, saya jadi teringat film In The Valley of Elah (Paul Haggis, 2007) yang katanya berdasarkan kejadian nyata itu. Film ini menyuguhkan cerita seorang pensiunan polisi militer, Hank Deerfield (Tommy Lee Jones), yang curiga saat anaknya, Mike (Jonathan Tucker), tidak kembali ke markas militer meski batas pelesir habis.

Ketika akhirnya mendapati kenyataan bahwa Mike dimutilasi oleh teman-temannya sesama tentara yang baru kembali dari Irak, Hank sadar kalau yang sebenarnya membunuh anaknya adalah perang di Irak itu sendiri. Perang yang gunanya hanya menebalkan kekerasan sesama tentara Amerika. Hank mengerti kalau moralitas Mike, teman-temannya, dan para tentara muda yang pulang bertugas dari Irak sudah hancur berantakan. Mereka mengalami stres berat, trauma, dan patriotisme semu.

Maka, di akhir cerita, saat perjalanan pulang, Hank mampir ke sekolah lokal dan sengaja memasang bendera negaranya dengan posisi terbalik. Melakban tali tiang bendera itu dengan kuat. Lalu menyuruh penjaga sekolah untuk membiarkan saja posisi bendera terbalik seperti itu, jangan diturunkan, bahkan saat malam pun.

Padahal di awal cerita, saat Hank belum tahu kenyataan pahit soal nasib anaknya, ia membetulkan posisi bendera negaranya yang dipasang terbalik oleh si penjaga sekolah karena ketidaktahuannya. Kepada penjaga sekolah yang merupakan imigran asal El Salvador itu, Hank menjelaskan makna bendera yang dipasang terbalik, “It is international distress signal. It means we’re in a lot of trouble so come save ourself, becouse we don’t have a prayer in hell of saving ourselves.”

Lalu, apabila nantinya ternyata kekerasan selalu mengambil tempat dalam masyarakat kita, apakah bendera Merah Putih juga harus dipasang terbalik?

 

PS: Ditulis pada Juni 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s