Ayat-Ayat Cinta

Fahri (Fedi Nuril) mengetuk pintu flat itu dengan tergesa-gesa sambil memanggil nama Maria (Carrisa Puteri). Gadis muda Kristen Koptik itu pun membuka pintu. Raut wajah Fahri terlihat begitu khawatir. Ada apa gerangan?

Rupanya Fahri hendak meminta tolong Maria untuk mengecek file proposal tesis berbahasa Arab yang telah diketiknya dengan susah payah. Virus jahanam ternyata sudah merusak file itu. Maria lalu menawarkan jalan keluar untuk Fahri yang sedang menyesali diri. Tak butuh waktu lama bagi Fahri dan teman-temannya plus Maria untuk bahu-membahu mengetik ulang proposal itu.

Dari sekilas rangkaian adegan pembuka film Ayat-Ayat Cinta ini, tampak kalau sutradara Hanung Bramantyo sejak awal sudah memilih untuk menuturkan cerita dengan longgar.

Rol film pun terus berputar. Dengan ritme yang cepat, penonton disuguhkan cerita mengenai sosok Fahri, Maria, Aisha (Rianti Cartwright), Nurul (Melanie Putria), dan Noura (Zaskia Mecca), beserta segi-segi kecil kehidupan mereka. Fahri lalu menjadi tokoh sentral film ini, apalagi ternyata ia dicintai oleh empat wanita sekaligus.

Dari segala penggambaran yang terjadi sekitar 30 menit pertama, itu adalah elemen pembangun kisah asmara penuh intrik dengan nuansa kehidupan masyarakat Islam di Mesir sebagai jubahnya saja. Karena apabila jubah itu dilepas atau diganti, toh cerita tak akan berubah drastis. Dengan begitu, bisalah dikatakan kalau Ayat-Ayat Cinta adalah film drama romantis murni.

Perlahan, pilihan untuk melonggarkan penuturan cerita menjadi jelas tujuannya, yakni agar semua jalinan kejadian dalam film ini nantinya bisa berjalan lebih fleksibel, tanpa perlu diembel-embeli nilai keagamaan secara ketat. Materi cerita pun menjadi cair. Hal ini makin tak terbantahkan, misalnya, jika melihat adegan beberapa mahasiswi muslimah berkasak-kusuk membicarakan Fahri secara terang-terangan. Akhirnya, nilai-nilai Islam tidak menjadi basis penting di film ini dan kalah bersaing dengan nuansa romantika fiksi yang seolah diciptakan untuk mencucurkan airmata. Nilai kerohanian itu samar-samar dan tertutupi oleh kisah asmara yang sebenarnya sederhana ini.

Di sinilah ada kegamangan dalam proses penyampaian cerita dan gagasannya. Pembuat film terlihat ingin menyodorkan kisah dramatis yang diimbuhi nilai agama, tetapi malah cenderung menggambarkan perilaku keduniawian yang agak menjemukan. Memang rasa penyesalan, patah hati, kasih sayang, dan keikhlasan ditampilkan dengan impresif dan sangat baik di film ini. Namun sayang, porsi dan penyajiannya masih kalah dengan perasaan dengki, frustasi, dan cemburu yang kerap digelontorkan dengan energi kelewat batas, sehingga kadang membuat adegan dan akting menjadi terlalu teatrikal. Seperti pada beberapa adegan yang terjadi di dalam bui dan ruang persidangan.

Kegamangan ini tampak pula dalam penuturan persoalan poligami dalam film ini. Ia diniatkan untuk menjadi jalur penuturan kisah bermuatan moral dan menyampaikan pandangan Islam tentang poligami. Maka sejalan dengan semangat filmnya, praktik poligami di sini dipertontonkan secara lebih halus dibandingkan, misalnya, dengan kehidupan Pak Lik dan empat istrinya dalam Berbagi Suami (Nia Dinata, 2006).

Namun, masalah dalam praktik poligami dalam Berbagi Suami terlihat lebih nyata dan bisa diterima karena dipengaruhi oleh egosentris kelaki-lakian Pak Lik tanpa perlu dipertentangkan dengan aspek relijiusitas. Sedangkan di Ayat-Ayat Cinta, yang nyata-nyata mengandung nilai relijius, suguhan masalah praktik poligaminya malah menjadi terlalu enteng karena lebih diakibatkan oleh ketidakberdayaan bersikap si tokoh laki-laki. Situasi yang memaksa Fahri untuk berpoligami memang tak terelakkan. Namun akhirnya menjadi ironis karena dalam Islam laki-laki dituntut untuk lebih tegas tentunya. Dan, maaf, saya tak melihat karakter ini pada sosok Fahri yang notebene menjadi idaman empat muslimah. Alih-alih ia justru lebih pasif.

Pergulatan batin dan kompleksitas masalah yang diusung dalam sekuens praktik poligami di film ini pun menjadi terlalu dibuat-buat dan terasa dipanjang-panjangkan demi memancing emosi. Karena sudah dipanjang-panjangkan, kematian yang semestinya menjadi puncak, malah menjadi penyelesaian masalah yang tampak simplisitis. Poligami di film ini pun gagal menjadi gagasan penting dan sukar untuk menyebutnya sebagai bentuk komentar sosial.

Saya sadar hal ini sangat mungkin terjadi karena film ini ingin berbicara dengan sederhana dan agar lebih dekat dengan penonton. Persoalan poligami bagaimanapun masih menjadi isu panas untuk dibicarakan di ruang publik negeri ini, sehingga dengan sendirinya ia menjadi pas untuk mengantarkan cerita yang sarat nilai moral. Namun rasanya tak perlu disajikan sampai sedangkal itu. Apalagi ketika akibatnya membuat storytelling film ini tak ubahnya seperti tipikal tayangan film televisi (atau sinetron) di negeri ini, saya lalu melihatnya sebagai sebuah masalah pelik.

Semua ini sangat mungkin terjadi akibat materi cerita yang cair, sehingga bisa lebih mudah dinikmati banyak orang. Tetapi kemudian, sifat cair ini lalu merembet ke soal lain, seperti identitas tokoh yang serba berbau lokal dan karakter yang tidak berkembang. Melihat cerita film ini (satu pria diperebutkan empat wanita), seharusnya kompleksitas karakter para tokoh utamanya mampu menjadi modal penting.

Sayang, untuk soal ini, penulis skenario Salman Aristo dan Ginatri S. Noer kurang berani bertaruh. Karakter para tokoh utamanya tampak embedded begitu saja dari sananya. Jika saja setengah atau sepertiga awal durasi digunakan untuk pengembangan karakter, saya yakin selanjutnya film ini akan semakin menarik untuk ditonton. Penonton tentu bisa lebih merasakan pergulatan batin yang terjadi pada tiap tokohnya.

Di luar catatan-catatan itu, film ini tetap menghibur dan menyodorkan poin penting untuk direnungkan: rasa cinta dan keikhlasan wajib berjalan berdampingan dengan akur.

PS: Ditulis pada Maret 2008.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s