Aku Ada dan Berdaya

SUATU MALAM sebulan yang lalu. Di depan kami, pak profesor sedang asyik menjelaskan materi ekonomi: keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan bersaing (competitive advantage). Di tengah-tengah sesi, beliau bertanya kepada kami, “Sebenarnya, produk apa yang bisa menjadi keunggulan Indonesia?”

Beberapa teman lalu memberikan jawaban yang masuk akal. Tetapi belum ada yang sesuai dengan harapan beliau.

“Seni budaya kita,” jawab pak profesor, “Lihatlah. Begitu melimpah. Kalau ini dikelola dengan baik pasti bisa menjadi devisa yang besar bagi negara.”

Namun, tak lama muncul gurat kekecewaan di paras beliau ketika melanjutkan omongannya, “Saya sudah berkali-kali menyampaikan peluang ini ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Yah, tapi belum ada perubahan nyata. Masih begitu-begitu saja.”

Meski beliau seorang ekonom, saya yakin dasar ucapannya itu bukanlah murni bermotif ekonomi, karena kebijakan pemerintah di bidang kepariwisataan ini sebenarnya sudah ada. Tetapi sayang, seperti apa yang dikatakan sastrawan Radhar Panca Dahana, program-programnya lebih bersemangatkan pragmatisme dan akhirnya jatuh pada sifat populer. Kegiatan seni budaya dijadikan komoditas berlabel pariwisata demi meraih profit. Melupakan hal yang lebih esensial.

Dalam artikelnya “Negeri Bebal Budaya” (Kompas, 2007), Radhar menuliskan:

“Alih-alih mengembangkan dan memperluas koridor ekspresi, menata infrastruktur yang dibutuhkan, kerja dan produk kultural justru mereka baku dan bekukan, lalu diperah seperti jeruk nipis di gelas-gelas pesta. Sementara mereka tidak menyadari, produk-produk kultural itu, seni di antaranya, kini menjadi satu dari sedikit arsenal bangsa ini untuk berbangga dan berargumentasi bahwa ‘aku ada dan berdaya’.”

Kemudian saya pun sedikit tersenyum. Senyuman miris karena mengingat perlakuan kita terhadap seni budaya negeri ini. Seminggu yang lalu, saya membaca berita: Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menghimbau para gubernur di seluruh Indonesia untuk membuat film kepahlawanan di daerahnya masing-masing agar meningkatkan produksi film nasional.

Radhar, Anda benar.

Meski begitu, yang jelas saya masih menyimpan segudang harapan agar seni budaya dan aspek lain negeri ini bisa maju dan berkembang, dan tentu saja untuk itu saya sadar harus selalu optimis dalam segala hal.

 

PADA DETIK BERIKUTNYA di malam sebulan yang lalu itu, pak profesor, dengan raut wajah agak dingin, mengutarakan beberapa kebijakan ekonomi pemerintah dahulu dan sekarang yang menurutnya salah. Beliau jelas kecewa. Makin lama aura pesimis tersirat dari ucapannya.

Optimisme orang seperti saya versus pesimisme seorang profesor? Saya pun garuk-garuk kepala.

Mencermati fakta tentang begitu leluasanya pihak asing menguasai aset-aset penting negara dengan porsi yang kelewat besar, liberalisasi pasar uang dan modal yang dijalankan negara ini, ditambah ucapan pesimis pak profesor—meski saya tidak tahu persis mahzab ekonomi apa yang dianutnya—saya jadi ingat pelajaran moral ketiga belas dari Si Ikal Andrea Hirata: jangan bicarakan keadaan negeri kita dengan seorang ekonom klasik. Pesimis!

Dan, yang parah, lambat laun pesimis itu malah menjelma menjadi putus asa. Yang saya rasakan selanjutnya adalah seorang guru besar ekonomi yang menebarkan hawa keputusasaan kepada para mahasiswanya. Ah, mungkin saya salah mengira. Tetapi ternyata dua orang teman juga menangkap hawa yang sama.

Saya mengerti jika akhirnya pak profesor ini merasa kecewa, karena curahan kritik dan saran ilmiahnya tidak disimak baik-baik oleh mereka yang rutin melaksanakan rapat kabinet di Istana Negara. Tetapi kalau ujung kekecewaan itu berbuah putus asa, lalu disebarkan oleh para intelektual kepada orang lain yang relatif masih berusia muda, itu tentu tidak baik. Meskipun wajah negeri ini masih murung dan badan republik tercinta belum bisa berdiri sepenuhnya dengan tegak, tetapi janganlah salah satu virus mental mematikan bernama putus asa itu dibiarkan menyebarluas dan merusak kita.

Saya tahu ada profesor lainnya yang juga kecewa dengan keputusan para pejabat. Tetapi bukan cuma profesor yang kecewa. Ada banyak akademisi, budayawan, seniman, mahasiswa, dan sebagian besar masyarakat yang juga bersilang pendapat dan kecewa dengan para pejabat. Namun kekecewaan itu tidak harus dibayar dengan putus asa, karena kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Bagi para pemangku jabatan eksekutif, cobalah pahami saran kritik para pemikir yang hidup di luar lingkaran kekuasaan. Janganlah biarkan masyarakat terus kecewa yang berujung kepada putus asa karena kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Janganlah malah membuat masyarakat tambah putus asa akibat menonton iklan di televisi yang berisi keluhan dan apologi salah satu ibu menteri di bidang ekonomi karena tidak bisa menurunkan harga-harga kebutuhan pokok.

Janganlah demi alasan kemajuan ekonomi lantas martabat bangsa digadaikan agar mendapat hutang luar negeri. Janganlah bebani lagi masa depan keponakan saya yang masih balita dan bayi-bayi yang baru lahir kemarin untuk membayar bunga hutang luar negeri yang jumlahnya bakalan lebih besar dari jumlah hutang itu sendiri. Janganlah membebani generasi berikutnya dengan masalah yang semestinya bisa dihindari dan dipecahkan di masa kini.

Saya bukan mahasiswa ekonomi. Saya mahasiswa pemalas dan banyak melamun. Tetapi saya cukup sadar dan tahu bahwa ada yang tidak beres dengan laju negara ini yang makin lama malah mengarah makin jauh dari kemandirian. Dan saya yakin tidak sendiri merasakan hal ini. Maka, bapak ibu yang dipercaya (dan akan dipercaya) oleh rakyat, janganlah meneruskan dan membiasakan masyarakat dengan segala ketidakmandirian itu. Percayalah kalau masyarakat bisa dan berani untuk mandiri.

Tentu jauh lebih baik membiasakan diri dari sekarang untuk bertindak mandiri ketimbang terus hidup menyandarkan diri pada pihak asing yang akhirnya bisa membuat keputusasaan menyebar di masyarakat. Karena jika yang terjadi keputusasaan, saya kira itu adalah pertanda buruk untuk masa depan kita.

 

YANG SELANJUTNYA terjadi malam itu adalah saya resah. Pikiran saya campur aduk di dalam sedan Soluna merah milik teman yang saya tumpangi. Rupanya pemandangan sepanjang jalan pulang malam itu menawarkan hiburan yang satir bagi saya. Semacam kilasan gambar-gambar diam penuh makna tetapi merekam kenyataan pahit dan manis yang saling bertautan satu sama lain.

Sudah lewat dari jam sembilan malam ketika mobil menyusupi ruas jalan pemukiman elit Menteng dengan rumah-rumah bertingkatnya yang sepi. Dekat Taman Suropati, ada puluhan mobil, yang kebanyakan mewah, terparkir di depan rumah besar yang dijadikan markas sebuah partai politik baru. Tampaknya beberapa mantan jenderal sedang sibuk merapatkan barisan di sana.

Lalu mobil membelah kawasan perkantoran Kuningan. Menyusuri jalan di tengah menara-menara beton yang berusaha mencakar langit malam, saat itu saya merasa seperti liliput yang sedang diawasi raksasa dengan badan penuh pernak-pernik menyala. Liliput pun berlari-lari kecil agar cepat bebas dari jangkauan mata para raksasa.

Ketika melewati daerah Mampang hingga Warung Buncit, ada markas sebuah partai politik baru. Berbeda dengan pesaingnya yang bermarkas di lokasi bergengsi dekat Taman Suropati itu, markas partai politik baru satu ini menempati bangunan ruko bertingkat tiga. Cuma ada satu Kijang kapsul yang parkir di depan ruko itu. Sisanya sepi belaka.

Makin lama, makin masuk ke pelosok selatan. Ritme kehidupan malam masyarakat pinggiran Jakarta makin terasa. Jam sepuluh malam lebih di perempatan Cilandak adalah waktu bagi puluhan pekerja muda dari sebuah mal besar dan hypermarket asal Perancis di Lebak Bulus menunggu angkutan umum untuk pulang ke rumah.

Malam itu, lagi-lagi saya seangkot dengan para pekerja ini. Seperti malam-malam sebelumnya, kebanyakan dari mereka adalah perempuan berusia muda. Lonjakan harga minyak dunia yang terus meninggi, isu global warming, atau kekayaan alam Indonesia yang diboyong oleh pihak asing, bukanlah topik obrolan mereka di dalam angkot.

Mereka bicara soal keseharian, seperti dimarahi bos, perilaku aneh rekan kerja dan customer, perihal uang receh untuk kembalian di kasir, hingga gosip rekan kerja dan para selebritas. Dari obrolan itu, jelas bahwa mereka hanya ingin bisa tetap bekerja, tak peduli beragam masalah menghadangnya. Upaya para pekerja ini agar bisa bertahan hidup di kota megah dengan biaya hidup yang makin besar, saya pikir adalah bentuk kecil dari kemandirian.

Atau coba lihat rakyat kecil di kota ini. Ketika uang makin sulit didapat, mereka menjadi pemulung. Mengais tumpukan sampah dan mengubah botol plastik bekas menjadi uang. Mereka, entah sadar atau tidak, memiliki kemampuan untuk hidup mandiri. Rakyat kecil memang mengeluh, tetapi tampak tidak putus asa, buktinya mereka masih berharap. Lihatlah saat kampanye pemilu atau pilkada, mereka masih memupuk harapan pada calon pemimpinnya.

Maka, para profesor, para decision maker di pemerintahan, dan para legislator di Senayan, seharusnya menyadari kalau masih banyak orang dari berbagai lapisan di negeri ini yang memiliki kemandirian dan tidak mudah putus asa. Dua hal itu adalah modal bagi bangsa ini, seperti yang dituliskan Radhar, untuk mengatakan dengan lantang pada dunia, “aku ada dan berdaya”.

 

SESAMPAINYA di rumah malam itu, saya teringat satu artikel bagus yang ditulis seorang warga negeri gingseng. Isi tulisannya, saya yakin, bisa membangkitkan semangat siapapun orang Indonesia yang membacanya. Sudah berkali-kali saya membacanya.

Lalu saya membongkar tumpukan kliping berita dan artikel. Ketemu. Judulnya, “Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia” (Kompas, 2008). Ditulis oleh Koh Young Hun, seorang profesor di program studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea.

Di penutup tulisannya, Koh Young Hun mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut.

”Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. ”Sungguh mengherankan burung garuda itu!” ujarnya kepada pemburu.

”Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap.

”Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu.

Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.

”Betul, kan?” ujar si pemburu. ”Dia bukan garuda lagi!”

Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.

Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: ”Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membumbunglah!” Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.

 

YA. Koh Young Hun mengingatkan bahwa darah burung garuda sebenarnya mengalir di tubuh setiap manusia Indonesia, dan bangsa Indonesia mampu menjadi bangsa besar jika kita yakin dan berani.

Koh Young Hun, mendiang Bung Karno dan Bung Hatta pasti tak sabar ingin memelukmu dengan erat di alam baka sana.

 

PS: Ditulis pada Juni 2008.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s