Adil dan Benci

JIN-TAE hanyalah pria sederhana yang sangat mencintai keluarganya. Sejak ayahnya almarhum dan ibunya tuli, ia lalu menjadi tumpuan keluarga. Jin-tae tahu betul kalau mendiang ayahnya mempunyai impian: menyekolahkan anaknya laki-laki bungsunya, Jin-seok, hingga ke universitas.

Maka, demi adiknya yang ia kasihi dan impian itu, Jin-tae banting tulang dengan bekerja sebagai penyemir sepatu. Sementara ibunya dengan dibantu Young-shin, tunangan Jin-tae, membuka warung mie untuk membantu menyambung hidup keluarga.

Hidup tampak berjalan lancar hingga akhirnya petaka itu datang. 25 Juni 1950, perang pecah antara Utara dan Selatan, antara dua ideologi yang tidak pernah akur. Keluarga itu terpaksa mengungsi.

Dalam perjalanannya, Jin-seok yang masih remaja, dipaksa ikut wajib militer. Negaranya butuh serdadu-serdadu baru untuk memenangkan perang. Jin-tae, yang gagal mencegah adiknya ikut wajib militer, akhirnya juga harus ikut menjadi serdadu. Ia ingat impian ayahnya. “Aku akan membawanya pulang Bu,” janji Jin-tae kepada ibunya, yang menangis karena tak rela kedua anak tercintanya dipaksa menghadapi maut.

Di tengah terjangan peluru dan pecahan mortil dari pihak Utara, Jin-tae berusaha keras memulangkan adiknya dengan beragam cara. Termasuk dengan ikut berbagai misi bunuh diri demi mendapatkan medali. Sang komandan menjanjikan, jika ia mampu mendapatkan medali, adiknya akan dipulangkan. Berkat tekad kuat dan keberaniannya, Jin-tae akhirnya dianugerahi medali dan dianggap pahlawan. Namun saat akan dipulangkan, adiknya menolak. Jin-seok tak ingin meninggalkan kakaknya sendirian di medan perang.

“Lagipula aku bukan anak kecil lagi,” Jin-seok beralasan.

Sementara itu di pengungsian, Young-shin dan ibunya hidup dengan derita. Nasib naas rupanya tidak pernah menjauh dari orang-orang kecil. Ketika para kelompok anti-Utara menangkapi para pendukung Utara, Young-shin ikut diciduk. Penyebabnya sepele, Young-shin tercatat beberapa kali ikut rapat-rapat besar yang diselenggarakan simpatisan pihak Utara. Padahal Young-shin mau mengikuti rapat-rapat itu karena diberikan beberapa liter gandum.

Ketika Young-shin akan dieksekusi, Jin-tae dan Jin-seok datang untuk mencegah. Dua bersaudara ini berusaha menjelaskan bahwa Young-shin bukanlah pengkhianat negeri. Namun sayang, peluru tetap menembus tubuh wanita muda itu. Sedangkan Jin-seok, yang terlanjur dianggap pengkhianat karena berniat menolong calon kakak iparnya, disekap dalam gudang bersama pengkhianat lainnya. Gudang itu dibakar.

Jin-tae menyaksikan pembantaian itu. Kehilangan dua orang yang disayanginya membuat ia kalap. Ia membenci negerinya dan ideologi yang dianutnya. Ia mendendam. Jin-tae pun berubah haluan. Ia menjadi komandan pasukan elit pihak Utara. Sang pahlawan telah berkhianat, kata para komandan perang pihak Selatan.

Tetapi ternyata Jin-seok lolos dari maut. Ia berhasil keluar dari gudang saat itu. Kakaknya tak tahu kabar ini dan sudah terlanjur berkhianat. Lantas, karena cinta dan untuk menunjukkan kalau ia masih hidup, Jin-seok mendatangi perbukitan di mana pasukan elit pimpinan Jin-tae bermarkas. Ketika bertemu, Jin-tae, yang sudah dendam kesumat juga hilang akal, tidak percaya begitu saja dan malah menghajar Jin-seok. “Dasar bajingan Selatan. Matilah!”

“Ini Jin-seok. Sadarlah!”

Jin-tae tak peduli, dan terus menyerang adiknya dengan membabi buta.

“Apa kau tidak ingat pada Ibu? Kau harus mengurus makan Young-shin. Kau tidak bisa mati di sini. Kau harus hidup untuk melihatku pergi kuliah!” kata Jin-seok berusaha menyadarkan kekhilafan kakaknya.

Mendengar perkataan itu, barulah Jin-tae tersadar bahwa adiknya masih hidup. Namun, saat itu tubuhnya sudah penuh luka, sementara di perbukitan itu kontak senjata antara pihak Utara dan Selatan sedang berlangsung sengit.

“Pergi, cepat!” Jin-tae menyuruh adiknya menyelamatkan diri.

“Aku tak mau meninggalkanmu sendiri.”

“Pergilah. Aku akan menyerah dan pulang setelah perang. Kau boleh memiliki sepatu yang kubuat untukmu kuliah nanti. Aku belum menyelesaikannya, jadi aku takkan mati.”

Dengan berat, Jin-seok akhirnya pergi. “Kau harus kembali,” kata Jin-seok kepada kakaknya. Mereka berpelukan.

Namun, Jin-tae tidak pernah pulang. Hingga akhirnya datang tahun 2001.

“Kau janji untuk kembali dan menyelesaikan sepatunya. Tapi apa yang kau lakukan di sini. Aku sudah menunggu lama. Apa yang terjadi dengan janjimu?….Sudah 50 tahun aku menunggu untuk bertemu denganmu….Seharusnya kau tak kutinggalkan saat itu…” ucap Jin-seok sambil menangis kepada tulang-belulang milik Jin-tae yang telah terkubur lama di perbukitan tempat mereka terakhir bertemu.

 

KETIKA berbagai informasi mengenai perkembangan konflik di Jalur Gaza memborbardir saya, entah kenapa cerita film Tae Guk Gi (Kang Jegyu, 2005) di atas selalu muncul di kepala saya. Semalam, saya menontonnya kembali.

Kisah Tae Guk Gi bukanlah tentang kecamuk perang Korea, tetapi drama keluarga yang kemudian dengan sendirinya juga merepresentasikan drama kemanusiaan. Drama yang selalu nyata dan terjadi ketika perang berlangsung, termasuk di Gaza. Drama yang akhirnya selalu membuat manusia-manusia tidak berdaya dan tidak berdosa menjadi korban.

Sebenarnya, saya tidak terlalu ingin membuat tulisan tentang konflik Gaza. Saya agak malas untuk ikutan menulis tentang perang perih pembuka awal tahun ini. Alasannya, saya takut salah menuliskannya; dan saya juga takut menjadi ikutan membenci bangsa lain berikut agamanya. Lagipula, “Saya bukan orang yang religius-religius amat,” pikir saya saat itu.

Sampai akhirnya, datang hari Jum’at siang pada 9 Januari lalu—yang membuat saya memutuskan untuk menulis ini, walaupun prosesnya agak lama. Pada Jum’at itu, di dalam musholla yang di dindingnya dipasang foto-foto para korban di Gaza, khotib menyampaikan ceramahnya. Isinya tidak menghujat kekejaman perilaku tentara Israel, juga tidak untuk mengajak berjihad dengan jalan kekerasan. Khotib hanya ingin mengajak kita merenung, selalu berdoa, dan terutama berkontribusi dengan jalan apapun—kecuali kekerasan—terhadap penderitaan bangsa Palestina di Gaza. Semua demi alasan kemanusiaan. Bukan akibat dendam yang muncul karena saudara-saudara sesama muslim terbunuh.

Dendam, kita tahu, tidak akan menyelesaikan masalah.

Mendengar ceramah itu, seketika terbayang wajah keponakan saya yang kecil nan lucu dan jalannya masih terseok-seok, juga teringat email kiriman teman saya yang isinya beberapa foto anak-anak di Gaza, yang tubuhnya penuh luka dan dibalut kain kafan. Siang itu, di tengah puluhan orang lainnya, saya hanya bisa menunduk lama. Melindungi wajah saya dari tatapan orang-orang.

Tiba di ruang kantor. Entah kenapa, tangan saya gemetar. Makan siang yang sudah dibelikan seorang teman hanya saya bisa tatap sembari bertanya-tanya, “Makan apa mereka di sana?”

Malamnya, saya mengadu kepadanya, “Tadi siang aku nangis pas Jum’at-an.” Kenapa, dia bertanya. “Anak-anak di Gaza.” Saya diam. Dia juga diam.

 

BOMBARDIR bom-bom Israel ke warga Palestina di Gaza diduga kuat oleh para analis adalah bermotif kepentingan politik. Sejarah panjang konflik antara dua bangsa ini pun telah melebar bukan lagi karena alasan membela agama ataupun merebut tanah yang dijanjikan. Ada banyak kepentingan yang bermain, baik di internal Israel maupun Palestina, ataupun mungkin kelompok-kelompok di negara Arab lainnya. Mereka ingin unjuk kekuatan.

Analisa-analisa dikeluarkan. Serangan Israel bertujuan untuk melemahkan kekuatan politik dan militer Hamas, yang selama ini selalu mengancam stabilitas Israel. Serangan Israel juga untuk menaikkan popularitas Partai Kadima, yang kini berkuasa di Israel dan dianggap kurang tegas dibandingkan pesaingnya Partai Likud. Ideologi politik pun ikut menjadi dasar pertikaian. Partai Kadima yang memiliki ideologi politik berbeda dengan Partai Likud. Di Palestina pun sama, ideologi politik Hamas berbeda dengan Fatah.

Itu semua kata para pakar. Saya memang tidak mampu menganalisa seperti mereka, tetapi saya masih mampu mencerna analisa mereka. Namun, karena—seperti yang sudah saya bilang—saya takut menjadi ikutan membenci bangsa lain berikut agamanya, maka saya berusaha sekuat mungkin untuk berpikir adil. Seorang kawan di-blog saya mengingatkan saya mengenai petuah Pramoedya:

Seorang terpelajar harus belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

Namun saya tidak tahu akan mampu atau tidak untuk berlaku adil.

Ironis pun mungkin adalah menjadi kata yang tepat untuk saya. Karena, beberapa hari yang lalu, teman saya mem-posting tulisan berjudul “The Diameter of the Bomb.” Di kotak komentarnya saya tulis, “Kalau sudah begini, sulit rasanya untuk tidak ikut membenci.”

Baru mau belajar berlaku adil, rupanya langsung ditantang oleh kenyataan kontradiktif yang pedih dan sulit untuk tidak dihiraukan. Di Gaza, muncul fakta-fakta bahwa peledak-peledak berteknologi baru dan berefek lebih mematikan ciptaan Israel telah dijatuhkan di tanah Gaza. Menewaskan anak-anak, para wanita, dan manula lebih banyak lagi.

Israel, tahukah kalian sebuah potongan sejarah yang mengatakan bahwa setelah bom atom meledak di Hiroshima, Albert Einstein pun lalu menyesal karena menemukan rumus atom? Israel, kalian mungkin telah membuat leluhur jeniusmu itu semakin menyesal di alam baka sana.

Meski berat, tetapi perlu diakui bahwa benih kebencian itu mulai muncul di dalam hati. Tetapi bagaimanapun, saya mencoba menghalang agar kebencian itu tidak berkembang lebih masif.

Saya jadi teringat ucapan Yong-man, satu karakter dalam film Tae Guk Gie, kepada teman-temannya sesama para serdadu, “Apa ideologi cukup penting untuk buat kita saling bunuh?”

 

PS: Ditulis pada Januari 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s