A Mighty Heart

“All right, i gotta roll…I’ll call you. Leave your phone on,” kata Danny kepada Mariane, istrinya yang sedang hamil lima bulan, sambil bergegas memasuki taksi dan tersenyum. Ucapannya siang itu seperti pesan terakhir. Membuat ponsel Mariane tetap terjaga selama 24 jam hingga sekitar sebulan ke depan. Tetapi kabar dari Danny tidak pernah datang. Ponselnya pun tidak bisa dihubungi.

23 Januari 2002, Daniel Pearl, Kepala Biro Asia Selatan Wall Street Journal yang menetap di Karachi, Pakistan, pergi untuk melakukan wawancara dan tidak pernah kembali. Kabar yang dinanti-nanti akhirnya datang beberapa hari setelahnya. Danny diculik dan berita pun tersebar ke seluruh pelosok dunia. Nasibnya kemudian menjadi jelas pada 21 Februari. Malam itu Danny dipastikan telah tewas. Kepalanya dipenggal oleh para penculiknya dan tubuhnya terpisah menjadi sepuluh bagian. Proses eksekusi itu terekam dalam video (belakangan rekaman itu tersebar luas lewat internet).

Kisah A Mighty Heart ini pernah terjadi dan dibuat berdasarkan memoar Mariane Pearl selama suaminya diculik. Hari-hari yang menegangkan dan penuh ketidakpastian bagi Mariane (Angelina Jolie). Namun di tengah situasi itu, Mariane tetap berusaha tenang, meski sukar, apalagi dengan kondisi kehamilannya. Emosinya kadang naik-turun. Sesekali amarahnya meledak, tetapi lekas lembut dan hangat kembali.

Rasa cinta yang begitu besar membuat ia tetap mengirimkan pesan pendek “I love you” ke ponsel Danny (Dan Futterman) di malam hari, walaupun ia sadar bahwa kecil kemungkinan pesannya akan dibaca Danny. Ia juga tidak pasrah dan berusaha optimis dengan ikut aktif mencari Danny. Mariane memang menunjukkan bagaimana ketangguhan hatinya, sehingga tetap berusaha rasional dan objektif dalam mengutarakan opininya saat diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi berita.

Tetapi tidak ada yang sempurna di dunia ini. Mariane tetap manusia biasa yang bisa rapuh mendadak. Karena di balik wajahnya yang menyiratkan harapan, sebetulnya menyimpan raut kelelahan dan rasa frustasi yang ia sembunyikan sebisa mungkin sampai akhirnya batas pertahanannya jebol. Maka adalah hal yang wajar saat kabar keji mengenai Danny sampai di telinga Mariane, ia langsung masuk kamar dan menangis. Ya, meskipun keadaan sudah tidak bisa dihindari lagi, Mariane bersikukuh untuk tidak meratapi nasib naas itu. Tangisan yang begitu menyayat hati itu ia sembunyikan di dalam kamar. Ia mencoba menelan kesedihannya sendiri saja.

Entahlah, apakah tangisannya akan senestapa itu jika bukan Jolie yang memerankan Mariane. Entahlah, apakah film ini mampu menyuguhkan kisah mengenai kekuatan hati perempuan jika tidak ada Jolie. Yang pasti aksi perannya di film ini mengingatkan kembali kalau Jolie dulu pernah membuat saya betah menonton Girl, Interrupted (selain karena manisnya Winona Ryder). Jolie sebagai Mariane juga tampak lebih meyakinkan daripada sebagai Lara Croft atau Jane Smith. Memang sudah lama Jolie tidak berakting sekuat ini, sehingga akhirnya jatuhnya pilihan kepada Jolie menjadi tepat, apalagi A Mighty Hearth jelas menaruh sosok Mariane sebagai pusaran arus kisah.

Apa yang dialami Mariane selama penculikan Daniel Pearl dan kemudian berujung tragis ini adalah sebuah tragedi kemanusiaan dari rentetan kejadian yang muncul silih berganti pasca tragedi yang lebih besar: 9/11. Dan, sutradara Michael Winterbottom seolah ingin menampilkan bahwa Mariane dan Daniel Pearl lah yang menjadi korban akibat kondisi dunia sekarang. Atau kalau mau ditarik lebih lebar lagi, warga Pakistan dan dunia juga layak disebut korban. Winterbottom rupanya sangat apik dalam menuturkan kisah ini tanpa banyak menyinggung hal-hal yang sensitif, misalnya dengan tidak memperlihatkan rekaman pemenggalan Danny.

Lebih jauh lagi, Winterbottom murni ingin bercerita dengan apa adanya soal kejamnya kehidupan akibat panasnya pertarungan politik dan ideologi di dunia, tanpa mempermasalahkan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Dengan begitu, ia tampak mengambil jarak, misalnya, dengan cara tidak membahas perihal konflik antara kelompok jihad dengan negara adidaya. Alhasil, sedari awal, narasi tentang kebencian terhadap Amerika Serikat, terorisme, konflik Pakistan dengan India, bahkan hingga kasus pelecehan para tahanan di penjara Guantanamao, yang dijadikan motif penculikan Danny, ditampilkan secukupnya untuk latar belakang kisah. Tidak ada pendalaman di area-area sensitif itu, karena memang semua itu dirasa tidak perlu. Winterbottom, bagaimanapun, ingin menampilkan sosok ketangguhan hati seorang perempuan yang juga manusia biasa.

Cara Winterbottom berkisah memang bak reportase. Layaknya tulisan feature, seolah ia sedang mengamati kejadian, sekaligus menjelaskannya secara detil tanpa lupa membubuhi dengan sisi yang humanis, tetapi tetap berdiri netral. Maka, ia beberapa kali menyelipkan adegan-adegan lampau dan juga berbagai footage dari berita televisi. Lalu untuk membangun human interest-nya, dimasukkan adegan kecil, misalnya saat Asra (Archie Panjabi)—rekan kerja Danny—curhat dengan Mariane karena bertengkar dengan kekasihnya akibat ia disangka intel India yang sedang memata-matai Pakistan. Bahkan untuk alasan yang sama pula, Winterbottom tidak alpa memasukkan banyak adegan pendek, seperti perbincangan singkat kapten Javev Habib (Irrfan Khan) dengan pria penjaga rumah mengenai lama kerja dan anak.

Tak dinyana, adegan-adegan ringan semacam ini selain mampu menjelaskan karakter tokoh, juga malah menjadi penting untuk menampilkan bahwa adanya korban lain yang muncul akibat ketegangan politik dunia, meskipun memiliki kaitan yang jauh. Winterbottom dengan pintar memakai cara berkisah seperti ini demi menciptakan suasana yang realistik, apalagi ditambah dengan penggunaan the shaky-cam yang membuat kenyataan itu hadir di depan mata tanpa ragu-ragu—selain dengan penataan set seadanya, pencahayaan sangat minim, dan musik yang tidak bombastis.

Menariknya film ini tak bisa dilepaskan dari sosok Michael Winterbottom memang. Saya sendiri belum menonton semua film buatannya. Kalau tidak salah baru tiga film saja, yaitu Welcome to Sarajevo, 9 Songs, dan satu lagi saya lupa judulnya—yang saya tonton di Indosiar saat lewat tengah malam sekitar medio Juli 2006. Sepertinya semua ini yang membuat saya begitu menggandrungi film ini. Selain karena kisah apapun tentang jurnalistik selalu menarik perhatian saya. Maklum saya dididik di kampus jurnalistik. Mungkin itu punya pengaruh.

Tidak bisa disangkal lagi, sebagai film yang punya kaitan dengan keadaan tegangnya iklim politik global, A Mighty Heart memberikan ide alternatif dan pesan yang kuat. Di penghujung cerita, saat jamuan makan malam, Mariane menunjukkan kekuatan hatinya di hadapan para koleganya yang sudah bekerja keras memulangkan Danny.

“I am not terrorized. And you can’t be terrorized,” ucap Mariane, yakin.

 
PS: Ditulis pada Januari 2008.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s