15

Inilah 15 film yang akan selalu saya kenang:

1. ELIana,eliANA (Riri Riza, 2002)
Bunda, Eliana, dan Bungaran, si supir taksi, mengelilingi Jakarta semalaman. Mereka adalah wakil dari mayoritas warga kota Jakarta yang sedang mempertaruhkan, mempertahankan bahkan melacurkan prinsip dan impiannya demi hidup di kota sekeras Jakarta. Dan Riri berhasil menyuguhkan sudut-sudut termuram kota Jakarta dengan riil. Oh ya, waktu itu saya menonton film ini berdua saja dengan ibu saya di PIM…Jadi kangen ibu.

2. Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1988)
Pertama menontonnya di TVRI dulu, saya langsung jatuh cinta. Saya kagum dengan cerita, visual, karakter-karakternya, dan tentu saja akting Christine Hakim. Maklum, soalnya di dalam kepala murid sekolah dasar seperti saya saat itu sudah jejal dengan pesan-pesan propaganda dari film perjuangan dan sejarah. Jadi ketika menonton film ini langsung terasa ada yang berbeda. Hingga sekarang, saya tidak pernah bosan menyaksikan penampilan Christine Hakim di sini.

3. Kramer vs Kramer (Robert Benton, 1979)
Kisah ayah yang harus mengurus anaknya sendirian gara-gara ditinggalkan sang ibu yang merasa tak sanggup dan terlalu takut soal masa depan anaknya. Ayah yang tidak akrab dan tidak becus mengurus anaknya, anak yang masih terus memanggil ibunya karena rindu, perebutan hak asuh, hingga akhirnya si anak tidak ingin lepas dari ayahnya. Mata saya pun jadi sembab. Ini adalah drama yang nyaris sempurna.

4. No Country for Old Men (Joel & Ethan Coen, 2008)
Saya memutuskan untuk menjadi fans Coen Brothers setelah melahap Fargo (1996). Cerita dan penuturan mereka selalu dipenuhi kejutan, tidak bisa ditebak. Apalagi ditambah dengan gaya humor mereka yang satir tapi menghujam dan menyindir perilaku manusia. No Country for Old Men menambah satu lagi ciri karya mereka: absurditas. Film ini memberikan salah satu ending terbaik yang pernah saya tonton.

5. Little Miss Sunshine (Jonathan Dayton & Valerie Faris, 2006)
Film indie yang memikat karya debut pasangan suami-istri ini jelas merupakan kritik terhadap relasi dan bentuk keluarga di Amerika atau bahkan di mana saja. Ceritanya dan dialog-dialognya menggelitik dengan karakter-karakter unik. Sadar atau tidak, karakter kita pun sebetulnya terwakili oleh salah satu tokoh di film ini. Salut untuk sajian adegan penutupnya yang mampu menyatukan keluarga ini dengan amat konyol. Ah iya, dua jempol juga untuk soundtrack-nya.

6. Amores Perros (Alejandro González Iñárritu, 2000)
Bagi saya, menemukan VCD film ini di sebuah rental pada tahun 2001 ibarat tiba-tiba berada satu lift dengan Ladya Cheryl. Lebay sekali bukan. Tapi film ini memang pantas disanjung. Tiga segmen cerita berbeda yang kemudian (ternyata) saling terhubungkan dalam satu kejadian pilu. Bukan rumus baru memang, tapi yang menguatkan film ini karena di dalamnya tampak jelas adanya konsep triangle Jean-Luc Godard: life, science, dan religion. Hasilnya, pesan dan makna film ini menukik amat dalam.

7. Y tu Mamá También (Alfonso Cuarón, 2001)
Dua remaja haus seks tapi awam melakukan perjalanan ke pantai impian dengan ditemani seorang wanita dewasa cantik nan seksi yang baru saja patah hati. Road trip yang sensual, seksi, dan kaya hasrat sekaligus lucu. Alfonso Cuarón dan para pemainnya mampu menyuguhkan nafsu seksual manusia dengan kegairahan yang semu.

8. Michael Clayton (Tony Gilroy, 2007)
Momen epifani bagi Michael Clayton adalah melihat seekor kuda di atas bukit pada suatu pagi. Dan apa yang terjadi pada dirinya menyatakan pada dunia bahwa nurani manusia dapat mengalahkan keburukan apa pun. Inilah film yang kisahnya, bagi saya, sangat abu-abu, bahkan dalam penuturannya sekalipun. Batas baik dan buruk hampir terlihat tidak ada. Dan ya, akting George Clooney juga Tilda Swinton menyempurnakan kelabunya film ini.

9. The Dark Knight (Christopher Nolan, 2008)
Film dengan plot berdaya kejut tinggi ini berhasil memberikan konsep baru mengenai superhero. Yang terutama, tanpa mengurangi rasa hormat dan simpati kepada para korban ledakan bom, namun agaknya saya akan jauh lebih gentar kalau motif tindakan para pelaku teror itu sama dengan alasan Joker meneror warga kota Gotham: menciptakan keseimbangan, karena ‘yang baik’ tidak akan sempurna jika tidak ada ‘yang buruk’. Makanya saya terpikat bercampur ngeri saat Joker berkata sambil cengengesan kepada Batman, “I don’t want to kill you! What would I do without you? Go back to ripping off mob dealers? No, no, no! No. You… you… complete me..”

10. Up (Pete Docter & Bob Peterson, 2009)
Saya adalah pencinta berat semua film animasi Pixar, termasuk short animation-nya. Mereka selalu selangkah lebih maju studio animasi lainnya. Film-film Pixar selalu kokoh pada elemen cerita, karakter, dan pesan moral yang diusungnya. Mereka, para jenius di Pixar, tahu betul bagaimana memanfaatkan sifat animasi untuk menampilkan kisah-kisah beraroma fantasi secara pol dan lengkap. Ada humor, ada romansa, ada kritik sosial, ada kemasukakalan cerita dari yang sebetulnya tidak mungkin. Dan kini, petualangan kakek tua berkepala batu ditemani bocah pramuka menuju air terjun idaman dengan menerbangkan rumah yang diikat ribuan balon membuktikan lagi keunggulan animasi ala Pixar. Kita yang pernah menjadi anak kecil dan yang (mungkin) akan menjadi tua pasti tersenyum simpul menonton film ini. Saya yakin Pixar meraih Oscar lagi.

11. 4 Months, 3 Weeks and 2 Days (Cristian Mungiu, 2007)
Salah satu bagian sejarah tergelap dan terdingin Rumania terungkap di sini. Realisme adalah pakemnya. Dialog, gerak kamera, warna, pencahayaan, dan akting para pemeran utamanya sangat padu dalam menampilkan keterpojokan yang mendera tokoh-tokohnya. Di awal film Anda masih buta tentang apakah film ini akan bercerita, tapi perlahan tensinya meninggi, meninggi, dan Anda pun lalu akan meringis, atau memalingkan muka, bahkan—bagi Anda yang tidak kuat—amat mungkin tidak ingin menontonnya sampai habis. Mengerikan. Bukan, ini bukan film gory atau slasher yang dibanjiri darah. Justru imaji mengerikan dari film ini muncul akibat kita masih memiliki rasa kemanusiaan dan moralitas.

12. Nagabonar (MT Risyaf, 1987)
Satu film terpuji karya anak bangsa yang sampai sekarang, menurut saya, belum ada tandingannya dalam membahas nasionalisme. Asrul Sani menunjukkan bahwa nasionalisme hadir di sanubari siapa saja, termasuk pencopet. Film ini juga memperlihatkan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan dan kepahlawanan di zaman revolusi tidak mempermasalahkan catatan kriminalitas seseorang. Jadi, Nagabonar pun bisa menjadi jenderal. Sebuah parodi yang turut membentuk dan memaknai Indonesia tercinta. Wahai, para filmmaker Merah Putih sepertinya kalian harus lebih banyak belajar lagi dari Nagabonar.

13. Tokyo Sonata (Kiyoshi Kurosowa, 2008)
Menyaksikan film ini, saya menjadi tahu kultur masyarakat Jepang, meski tidak mengelotok. Inilah film yang berhasil mengangkat sisi sosiologis dan psikologis masyarakat di mana latar film itu dibuat. Film drama keluarga yang sunyi tapi menohok siapa saja yang menempatkan ego besar di atas segala-galanya. Ujung film ini begitu pamungkas dan menjadi penuntas yang manis.

14. E.T.: The Extra-Terrestrial (Stephen Spielberg, 1982)
Saat film ini dirilis, saya bahkan belum lahir. Saya menontonnya saat masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Banyak adegan memorable dalam film ini, baik yang riang maupun sedih. Seperti, saya tertawa ngakak saat melihat Gertie (Drew Barrymore) yang imut itu terkaget-kaget menatap E.T.; atau ketika E.T. dipakaikan didandani oleh Gertie. Begitu pula adegan perpisahan yang menyayat hati itu. Yang pasti, saya akan selalu ingat quote terbaik dari film ini, “E.T. phone home.”

15. Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008)
Sebuah film adaptasi terbaik. Menerpa sangat efektif untuk penonton anak-anak dan dewasa. Film penting yang mengharu-biru dan amat emosional. Kerja luar biasa dari Mira Lesmana, Riri Riri Riza, dan Salman Aristo. Persoalan pendidikan dan kesenjangan sosial dituturkan dengan gaya yang halus. Oh iya, belum lama ini Ifa Isfansyah, sutradara Garuda Di Dadaku, menulis di twitter-nya, “Just saw SANG PEMIMPI teaser, they did it again! is it tears in my eyes?”…Wah, jadi tidak sabar menyaksikan adu akting antara Lukman Sardi (Ikal) dengan Nazriel Irham a.k.a Ariel Peterpan (Arai).

 

PS: Ditulis pada November 2009.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s