Transformers

Imajinasi anak-anak itu kreatif dan kadang tanpa memedulikan logika. Itu salah satu momen yang membuat masa kanak-kanak menjadi riang. Masa kala mainan menjadi pelampiasan dan kelanjutan dari imajinasi anak-anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Bagi para anak laki-laki, umumnya terbiasa memainkan mobil-mobilan atau mainan lain yang merupakan representasi mesin mekanik. Misalnya, pesawat, kapal laut, motor, dan sebagainya. Bukan boneka-bonekaan.

Mungkin, secara tak sadar, perilaku maskulin saat itu dibentuk. Itulah yang saya alami. Saat masa kecil itu pula, serial kartun The Transformers ditayangkan di televisi. Saya termasuk yang menontonnya dan mengkhayalkannya. Hebat sekali tampaknya jika robot-robot itu menjadi teman saya.

Saat itu, tak terpikir kalau pada tahun 2007 ini akan muncul film layar lebar Transformer versi live-action. Teknologi CGI memang membuat visualisasi khayalan itu menjadi mungkin dan “dekat” dengan kita. Maka, pengalaman menonton film arahan Michael Bay ini menjadi pemuasan imajinasi kanak-kanak saya sebagai mantan bocah laki-laki.

Film ini memang penuh unsur maskulin dan lebih “dekat” dengan para lelaki. Lihat saja para robotnya, tak ada yang merepresentasikan tubuh perempuan. Suara para robot itu berat layaknya laki-laki dewasa. Juga kamuflase para robot itu sebagai benda mekanik. Umumnya, berupa mobil, pesawat tempur, helikopter. Benda-benda yang kerap dimainkan laki-laki saat bocah dulu. Jadi, sosok Mikaela (Megan Fox) memang cukup untuk menjadi pemanis dan pelengkap saja. Penambah sisi feminin dalam cerita film ini.

Adanya Stephen Spielberg yang bercokol sebagai produser dan kepala tim teknis para animator CGI membuat saya percaya pada film ini jauh sebelum jadwal rilisnya. Dan, akhirnya saya memang benar-benar dibuat melongo saat para robot dari dua kelompok, Autobot dan Deception, beraksi dan bertarung. Opening film ini menampilkan kekhasan gaya gambar dari Bay dan Spielberg. Juga, aksi yang bertensi tinggi saat film dibuka.

Ada dua adegan unik dalam film ini. Yaitu, saat kelompok Autobot (Bumblebee, Jazz, Ratchet, Ironhide, dan Optimus Prime) mengawal Sam Witwicky (Shia LeBeouf) yang membawa The Cube, sumber energi yang direbutkan para robot itu, menyusuri ruas jalan di gurun Amerika. Saya langsung teringat dengan TLOTR jilid satu, Fellowship of The Rings. Atau, saat Sam sedang menjajal calon mobil pertamanya, Bumblebee, yang saat itu parkir bersebelahan dengan VW kodok. Perilaku Bumblebee yang menyepak si VW Kodok dengan pintunya, seperti meledek film Herbie Fully Loaded.

Selain itu, untuk urusan chemistry, agaknya yang paling terasa ada pada relasi Sam dengan Bumblebee. Walau antara robot dengan manusia, gerak-gerik keduanya cukup menimbulkan emosi. Begitu juga pada robot lain, khususnya pada kelompok Autobots, karakter-karakter mirip manusianya agak terlihat. Jadi, meski penuh dengan robot-robot, tapi film ini tak jatuh pada eksebisi efek spesial hasil olah CGI saja. Sedikit banyak, interaksi antara manusia dengan robot itu cukup memanusiakan film ini.

Bagi saya, film ini lebih wah daripada trilogi Spiderman, trilogi The X-Men, franchise Batman, Fantastic Four, dan film hasil remake dari kartun atau komik lain. Yah, walau dalam segi plot dan cerita, film robot ini banyak menyisakan bolong dan terlihat memaksa, tapi saya rela tak memedulikannya kali ini. Kepuasan saat melihat mobil-mobil itu bertransformasi menjadi robot-robot, membuat saya takjub dan lupa bolong-bolong film ini.

 

PS: Ditulis pada Juli 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s